
Reynan Gunanto
Sekembalinya dari membelikan si Mong bakso dan boneka, aku segera bergegas, berlari ke kamar. Tak disangka gadisku menghilang entah kemana.
"Assshhhh... kemana Sherin pergi??" kataku sambil berlari-lari seperti orang gila mencari kesana kemari. Bahkan hampir seluruh kamar di lantai itu aku datangi tapi tetap saja hasilnya nihil.
Seperti orang bingung terus saja aku berjalan bolak balik entah sudah berapa kali putaran sampai Tak terhitung. Tak selang berapa lama Yuna memapahnya masuk ke dalam kamar.
"Sherin, apa yang terjadi?? Yuna kau!!!" teriakku kesal.
"Apa??? Berantemnya ntar kalau Sherin udah tidur. Cepetan jangan kayak banteng ngamuk aja loe. Bantu gue mapah sherin!!!" teriak Yuna gak sopan.
"Minggir!!!" teriakku langsung menggendong Sherin kurebahkan di atas ranjang sementara si Yuna melirik sadis ke arahku.
Gara-gara Yuna gadisku menangis. Segera kuhapus air matanya.
"Mong jangan nangis. Kak Rey gak mau kamu sedih. Ntar kak Rey balas tu nenek sihir" mataku melirik tajam ke arah Yuna.
"Apa yang loe kasih ke Sherin??? gak gak boleh ntar calon istri gue jadi linglung lagi dah. Loe urus aja pasien loe yang lain. Biar Sherin dirawat Aldo" cegahku.
"Apaan sih loe. Mau gue bius loe, biar bisa diem tu mulut. Adek gue udah lemes kayak gitu masih aja kebanyakan complain. Ada juga loe yang gue buat lupa ingatan selamanya biar gak nempel sama adek gue terus. Awass!!!" teriak Yuna mendorongku kasar lalu membetulkan selang infus dan menyuntikkan sesuatu lewat selang infus itu.
__ADS_1
Ada perasaan takut kalau Sherin bakal diapa-apain. Sekilas bayangan Sherin memanggilku dengan kata EMBAHH membuatku bergidik ngeri.
"Nggak nggak boleh. Bakalan aku bales ni nenek sihir" ancamku dalam hati.
Tak lama akhirnya Sherin tertidur pulas. Sepertinya saat aku pergi tadi, ada sesuatu yang buruk terjadi. Aku harus bertanya ke siapa. Gak mungkin ke nenek sihir ini kan?? Mataku terlihat jelas sangat sinis sekali ketika memandangnya.
"Apa loe liat liat. Gak pernah liat cewek cantik apa??" teriaknya sok kepedean. Ada juga cantik kan Mong Mong ku.
"Cihhh. Iya cantik tapi dikit banyakan Sherin" ejekku tak mau mengalah. Tapi memang dari segi manapun kalau dilihat Sherin jauh lebih cantik dari wanita manapun yang pernah kulihat.
"Eittsss... Berhenti!!! mau loe bawa kemana tu bakso?? Enak aja main bawa. Gue belinya jauh tau, itupun cuma buat Mong Mong bukan loe. Bawa sini!!!" cegahku mencoba merebut bungkusan yang berisi bakso itu dari tangan nenek sihir.
"Hisshhhhhh sial. Dasar nenek lampir, bukan pantesnya tu orang emang jadi nenek sihir" umpatku sambil berjalan mengambil kertas yang dimaksud Yuna.
"*Kak Rey, maaf merepotkanmu dan maaf juga sudah berpura-pura. Ada hal yang harus aku urus sendiri. Aku tak mau kakak khawatir dan aku tak mau kakak terlibat lebih jauh lagi karena aku sangat menyayangimu.
Terima kasih karena kakak selalu ada buatku. Dan terima kasih karena kakak tak pernah mengeluh dan selalu berada disampingku. Aku sayang kak Rey. Mijah sayang Om Tejo. Mong Mong sayang kak Panpan.
Nb : kakak Rey yang baik, tolong nanti itu bakso pesenan Sherin dikasihkan ke kak Yuna ya!!! Kak Yuna sangat ingin sekali makan bakso itu. Please jangan marah!!!
tertanda : Mong Mong yang menyayangimu"*
__ADS_1
"Hehhh... apa apaan ini. Dasar nenek sihir. Berani beraninya dia memperalat Mong Mong ku. Tau gitu ogah banget dah jauh jauh cuma beliin bakso dia" kataku kesal.
"Mong istirahatlah. Kumohon Jangan sakit lagi. Kakak sayang kamu" kataku lembut mengusap kepalanya. Kuletakkan boneka panda besar dan imut seperti diriku disampingnya.
"Tidur yang nyenyak. Love you" kataku berbisik lembut padanya.
Segera kurebahkan badanku di sofa kamar ini. Sesekali kupandangi wajah gadisku yang damai. Perlahan kupejamkan mataku melepas segala penat yang dirasa.
Tok tok tok...
"Sherin kakak masuk ya!!!" suara orang itu sungguh sangat familiar. Dengan malas aku bangun melihat siapa yang berani memanggil gadisku dengan mesra.
"Kamu..." kataku kaget melihat laki-laki yang tak kuharapkan datang menjenguk gadisku.
"Hehhh ternyata loe. Minggir!!!" katanya kasar menerobos masuk.
"Keluar!!! Gue bilang keluar!!!" kataku pelan menahan marah takut jika Sherin terbangun.
Kamipun saling menatap penuh dendam lama sekali. Tak ada satupun dari kami yang bergeming.
"Hahhhh. Satu lagi orang yang tidak diharapkan muncul. Baiklah. Jangan salahin jika gue berbuat kasar sama loe. Jangan macam-macam" ancamku dan dibalas dengan senyum mengejeknya.
__ADS_1