
Perasaanku hari ini benar-benar sangat gelisah. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Aku segera bergegas memacu mobilku ke sekolah Mong Mong. Tak butuh waktu lama untuk sampai di sekolahnya. Sudah kuduga Rian akan terus mencoba mendekati Mong Mong.
Aku mengancam Rian agar tidak mendekatinya lagi. Iya dia hanya tersenyum. Tapi aku tau senyumnya terlihat jahat sesuai dengan rencana jahat didalam otaknya.
Jika aku disuruh memilih antara dia dan Mong Mong tentu aku tetap memilih Mong Mong karena hubunganku dengan Rian bisa dibilang sama sekali tak pernah ada. Dari kecil pun kami tak pernah bersama. Itu karena perangainya. Tapi kenapa dia harus menyukai wanita yang sama?? Bukankah di dunia ini banyak wanita yang cantik dan menarik. Kenapa dia harus mencintai gadis yang aku cintai juga???
Didalam mobil, Mong Mong hanya tertunduk, diam tak berani bicara. Aku tau aku salah. Aku terlalu protective menjaganya. Aku benar-benar tak mau kehilangannya. Apakah aku terlalu egois??? Pikiran ini terus saja membuatku gelisah.
"Mong Mong apa Rian berbuat sesuatu padamu?" kataku lembut membuka pembicaraan terlebih dahulu.
"Kak. Apa kak Rian seorang Psycopath??" tanyanya membuatku menginjak pedal rem mendadak. Untung saja jalanan yang kulewati sepi.
BUKKK.....
"Awwwww... Kakak kalau ngerem mendadak bilang dulu napa. Sakit banget ni!" katanya kesal sambil meringis sakit.
"Maaf. Kamu sih ngagetin kakak. dahimu gak pa pa? perlu ke rumah sakit?" tanyaku khawatir.
"Iya perlu. Tapi ke rumah sakit jiwa. Dari tadi pagi ni kepalaku sudah stress tingkat dewa. Eh malah ditambahin kejedot dasboard mobil hiks hiks" katanya membuatku ingin tertawa melihatnya merajuk manja seperti itu.
"Kakak minta maaf. Lain kali jangan ngagetin lagi. Sini biar kakak tiup" godaku.
"Sudah dimaafin. Gak perlu ditiup ntar malah tambah parah. Jawab aja pertanyaanku?" katanya sedikit kesal.
"Hehhh bocah ini.... Nggak bisa kalau nggak penasaran" gumamku dibalas tatapan tajamnya bukan terlihat menakutkan tapi lebih membuat orang gemas.
Kulajukan mobilku ke cafe terdekat.
"Kita bicara sambil makan ya!! Kakak laper dari tadi pagi belum makan!!" ajakku mengalihkan pembicaraan juga dan memang dari tadi pagi gak nafsu makan sama sekali. Mong Mong hanya menganggukkan kepalanya sambil mengelus elus dahinya yang sedikit agak merah.
Kalau diperbolehkan menyentuhnya sudah kuelus dari tadi tu dahinya. Bukan aku tidak bisa menyentuhnya seperti kebanyakan laki-laki yang mencintai wanitanya. Aku sama seperti kebanyakan laki-laki ingin bersikap romantis, berjalan berpegangan tangan, merangkul pundaknya tapi sebagai seorang laki-laki yang tulus mencintainya aku benar-benar berusaha mengerti dan menghormati prinsipnya. Aku harus bisa mendalami lagi jurus pengendalian diri dan hawa nafsu ha ha ha.
"Mong mau pesan apa?" tanyaku lembut.
"Samain kakak aja, aku mau ke belakang sebentar" katanya meninggalkanku. Ada yang mencurigakan dari gerak geriknya.
"Nasi ayam geprek 2, sama jus strawberry 2. itu saja mba makasih" kataku sopan pada pelayan itu.
"Lama banget si Mong ke belakangnya" kataku melihat jam. Padahal baru juga 5 menit tapi terasa lama sekali. Karena terlalu khawatir aku menyusulnya ke belakang. Dia sedang berbicara dengan teman karibnya, Nia.
"Sher, loe gila ya??" katanya sedikit kasar.
"Loe ajak tu pak Rian kesini??? Katanya suruh bantuin loe menghindar. Ini malah loe bawa kesini. Kalau dia tau cafe ni punya gue bisa aja kan dia mampir kesini terus ama loe, gak boleh Sher, gue gak mau, sumpah gue takut banget ama pak Rian. Aura cafe gue bisa berubah horor ntar" kata Nia nyerocos terus tanpa tau aku mendengarkan pembicaraan mereka.
"Apaan sih loe Ni. Buka mata loe lebar-lebar. Dia bukan kak Rian tapi kak Rey" jelas Mong pada temannya. Gubrak... Seorang pelayan menjatuhkan kardus entah apa isinya membuat dua pasang mata membelalak kepadaku.
"Maaf aku gak denger apa-apa kok. Toilet prianya dimana ya?" tanyaku pura-pura.
"Cari toilet apa Sherin Om? Sher Omnya gak mau ditinggal lama-lama tuh" ejek Nia padaku membuatku salting.
"Beneran cari toilet? Bisa tunjukkan!!" kataku menahan malu.
__ADS_1
"Makanya Om udah tuir belum kawin juga. Hobinya dengerin cewek ngerumpi sih. Tu sebelah kanan toiletnya" ejek Nia sekali lagi.
"Apaan sih loe Ni, jangan digodain terus ntar Om omnya nangis loh" seloroh Mong meninggalkanku sendiri menahan malu.
Akupun kembali ke meja tadi. Ternyata pesanan kami sudah datang. Ada yang aneh dengan pesanan kami karena bertambah 1 porsi plus si Nia ikut duduk bersama kami.
"Om... Jika kau mau mendekati temanku maka kau harus mentraktirku untuk mendapatkan restuku karena aku walinya ha ha..." kata kata anak kecil yang sulit ditebak.
"Kumat dah ni anak. Maafin kak. Emang Nia biasa begitu. Gak usah diambil hati!" kata Mong malu. Aku hanya tersenyum geli melihat tingkah lucu mereka.
"Udah di makan keburu dingin. Kali ini kakak yang traktir" kataku setuju.
"Om... Seharian tadi Pak Rian mencari Sherin kemana-mana loh" kata Nia membuatku tersedak.
"Huks huks..."
"Nia... Minum dulu kak!!" teriak Mong sedikit kesal sambil menyodorkan minuman untukku.
"Maksud kamu??" tanyaku penasaran. Kulihat Sherin mengedipkan mata berkali-kali tapi tak dihiraukan sama Nia.
"Nih makan aja ayamnya.... enakkan pedes gak tuh...." kata Mong tersenyum jahat sambil memasukkan ayam secara paksa ke mulut Nia.
"Mong Mong kau bisa membunuhnya" teriakku tak percaya dengan yang kulihat.
"Nggak pa pa om. Tenang aja. Glukk... Gini Om, dari pagi pak Rian nyuruh Sherin ini itulah dan yang paling mengherankan dia nyari Sherin sampai ke toilet wanita. Heboh dah tu satu sekolah. Padahal anak yang dicari ngumpet di perpus ha ha" ceritanya membuatku senang dan juga cemas.
"Udahan laporannya. Makannya udah belum Om, ayo balik!!" teriak Mong kesal. Aku hanya tersenyum melihat sifat anak-anaknya keluar.
"Ayo ah balik ntar kemaleman. Mama sama papa nyariin!!" kata Mong mengalihkan suasana yang dia rasa sudah tidak nyaman lagi.
"Ngambek dah tuh.... Sherinn...." panggil Nia tapi masih dicuekin juga sama Mong Mong.
"Nia makasih ya buat infonya. Tenang aja, nggak usah cemas. Ntar juga balik lagi kalau udah nggak ngambek" kataku mencoba menengahi.
"Tenang aja Om. Aku sama Sherin dah biasa ngambek ngambekan kok. Palingan dianya yang nggak betah lama-lama ngambeknya" jawab Nia tersenyum.
"Kami pergi duluan" pamitku.
"Oke Om... titip anak manja itu ya Om" teriak Nia sengaja. Sherin menoleh dan menjulurkan lidahnya seperti anak kecil. Sangat lucu.
Akupun membayar tagihan. Tapi Mong masih saja marah sama Nia. Mau tak mau aku juga kena imbasnya. Selama diperjalanan sama sekali hening. Akupun tak berani bersuara. Hingga sampailah kami di rumah Om Angga.
"Mong, kakak mau bicara sama Om dan Tante. Bisa antarkan kakak bertemu Papa Mamamu?" pintaku lembut.
"Iya nanti Sherin panggilin. Kakak masuk dulu aja!!" jawabnya sambil membuka pintu. Meskipun Sherin sekarang sudah hidup lebih dari kata berkecukupan tapi kebiasaannya masih sama. Sederhana, itulah yang Kusuka darinya.
"Kakak duduk dulu!! Sherin panggilin Mama Papa" katanya seraya bergegas masuk ke dalam.
10 menitan aku menunggu di ruang tamu. Tapi Om Angga dan Tante Nay belum muncul juga. Yang ada Mong Mong sudah membawakan minuman dan beberapa camilan untukku.
"Loh Papa belum kesini kak?" tanyanya heran.
__ADS_1
"Gak pa pa Mong. Mungkin om sama Tante masih ada sesuatu yang harus diselesaikan di dalam" kataku menenangkan.
"Non, Tuan sama Nyonya masih ada hal serius yang dibicarakan. Kata beliau Tuan Rey kalau mau boleh menunggu kalau sedang terburu-buru boleh kembali lain waktu. Kalau tak ada lagi saya kembali bekerja" kata pelayan muda yang diberi pesan tuannya.
"Makasih kakak... Jangan kecapean istirahat saja toh rumahnya juga sudah bersih" kata Mong begitu akrab dengan pembantunya.
"Kak kau mau menunggu atau pulang??? Terserah padamu saja" kata Mong sangat santai sambil makan camilan yang sebenarnya ditujukan buatku. Gadis ini sangat berbeda. Tak ada kata jaim dimanapun juga.
"Kakak tunggu saja" jawabku tersenyum sambil mengamati gerak gerik gadis yang Kusuka. Mulai dari membaca majalah, memainkan ponsel entah milik siapa yang jelas bukan punyanya. Sampai menghabiskan camilan sampai tak bersisa. Inikah sisi dirinya yang belum kutahu.
"Oopsss... maaf kak habis he he he...." katanya tersenyum malu.
"Bentar aku ambilin lagi" katanya segera berdiri dan masuk ke dalam.
"Kak dimakan, kalau cuma didiemin ntar habis sendiri lagi loh...." ejeknya.
"Bukannya kamu yang ngabisin" ejekku gantian.
"Bukan aku, tapi tangan sama mulutku ha ha ha...." jawabnya tertawa lepas.
15 menit, 30 menit, 1 jam kemudian barulah Om Angga dan tante Nay keluar.
"Sudah lama nunggunya, Rey?" tanya Om Angga sedikit mengejek. Apa iya Om Angga balas dendam padaku.
"Lumayan Om. Yah kira-kira hampir 1 jam" jawabku tak perlu berbohong.
"Papa sengaja tuh biar kak Rey nunggu 1 jam ya kan??" kata Mong agak sinis.
"Sherin... ya gak lah. Papa gak seperti itu" kata Tante Nay membela.
"Mama sekarang belain Papa terus sih?? Pasti ada maunya ya kan???" protes Mong Mong.
"Udah udah yang penting Papa sama Mama sayang sama kamu. Oh ya... Ada keperluan apa Rey?" tanya Om Angga membuatku sedikit gugup. Darimana aku harus mulai bicara. Kami terdiam sejenak. Sherin terlihat sangat tenang sekali sambil mengotak Atik ponselku ditangannya.
"Begini Om Tante, saya mau minta izin dan restu Om dan Tante agar bisa lebih mengenal Sherin dan bisa lebih dekat lagi dengan anak Om dan Tante" kataku pelan namun jelas.
Sherin melongo tak percaya dengan apa yang aku ucapkan. Dia masih terpaku tak bisa berkata-kata. Tapi kenapa sorot matanya malah kelayar hp???
"Maksud kamu?" tanya Om Angga seperti belum mengerti.
"Maksud saya, Om dan Tante berkenan merestui hubungan kami. Bukan seperti yang Om Tante bayangkan, Saya ingin direstui sebagai calon suami Sherin. Kami tidak akan berpacaran dan saya akan menunggu sampai Sherin siap untuk menikah, saya juga tidak akan menuntut apapun pada Sherin. Tapi mohon izinkan saya untuk menjaga Sherin dan berada disampingnya dalam suka dan duka. Om dan Tante tak perlu khawatir inshaAllah saya bisa amanah menjaga kepercayaan Om dan Tante" jelasku pada mereka. Sherin masih heran dengan apa yang aku katakan. Dia benar-benar terkejutkah???
"Kalau Om dan Tante, terserah pada Sherin. Jujur saja Om dan Tante tak akan mengizinkan kalian berpacaran. Tapi jika kamu benar-benar serius mau menjaga Sherin bawa orang tuamu kemari untuk melamar Sherin. Saat ulang tahun sherin besok sebulan lagi kita adakan pertemuan keluarga. Bagaimana apa kamu bisa?" tantang Om Angga.
"InshaAllah Om saya akan mengajak orang tua saya untuk melamar Sherin sebulan ke depan. Terima kasih om dan Tante sudah merestui hubungan kami" kataku sedikit lega beribu langkah lebih maju dari Rian.
"Sher, kenapa kamu diam?? Apa kamu keberatan dengan lamaran nak Rey" tanya Tante Nay membuat aku jadi deg degan. Tapi wajah Sherin kenapa terlihat seperti menahan sesuatu.
"Bagaimana kalau Sherin menolak, dia kan masih belum cukup dewasa, pasti dia mencari alasan lainnya. Apakah terlalu cepat aku melamarnya, kan dia masih belum lulus SMA?? Ahhhhh... kenapa tadi aku tidak bertanya dulu padanya?? Bagaimana ini, akankah aku ditolaknya? Tidak tidak kami sudah bersama sejak dia kecil. Aku yakin dia menerimaku. Oh ya Allah tapi perasaan takut apa ini? Aku kekanak-kanakan sekali, Aku benar-benar ceroboh. Tolonglah ya Allah biarkan Sherin menerimaku, Please Mong Mong terima aku!!!" kataku penuh harap dengan segala kegundahan dan kegalauan di hatiku.
"Maaf.... Maaaf......" hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Tanpa menoleh dia berlari ke dalam.
__ADS_1
"Apa dia menolakku????? Kenapa Sherin...." pikiranku kacau sekali. Seakan semua berbaur jadi satu.