
Drrrtttt... drtttt...
"Halo Ma, ada apa??" tanyaku sedikit cemas karena Mama menangis.
"Sherin Papa... Papamu... Kecelakaan hiks hiks hiks" kabar yang mengejutkan. Ini pasti terjadi cepat atau lambat. Aku tak menyangka bisa secepat ini, pikirku.
"Gimana keadaan Papa??"
"Papa masih diruang operasi. Mama harus gimana Sherin hiks hiks" Mama sangat terlihat sedih dan putus asa.
"Mama tenang jangan cemas. Ingat Mama sedang hamil. Kalau papa bangun lihat Mama sedih seperti itu papa pasti tidak senang. Kalau Mama sayang papa maka Mama harus kuat. Dengerin Sherin Ma. Mama harus kuat, kuat dan kuat. Tetaplah disamping Papa sampai Sherin kembali. Jangan pulang kerumah!!!" jawabku memberi motivasi sekaligus melarang.
"Baiklah Mama mengerti" jawab Mama memutus telepon.
Tring... Tring...
**"Sayang tolong minta Tante May nemenin Mama di rumah sakit kak Aldo yang di Bandung. Nggak perlu khawatir. Gak ada apa apa cuma Papa kecelakaan" Sherin
"Kamu gila Beb??? Ayo balik sekarang!!!" Rey
"Kamu minta dihajar!!! Ternyata IQ seseorang mewakili emosinya. Kamu bisa tenang tidak!!! Siapa yang menyuruhmu ikut???" Sherin berteriak marah.
"Memang IQmu berapa?" Rey kesal
"105 sudah lebih cukup untukku. Kakak kalau kau sampai mengacaukan semuanya aku tidak segan segan mencabik cabikmu mengerti!!!" Sherin geram
"Tenang sayang tenang. Baiklah aku mengerti. Jangan marah lagi ya he he he" Reynan ketakutan.**
"Sher, ada apa?? Muka lu agak sedih gitu?? Apa gara-gara cowok brengsek itu kamu jadi seperti ini??" tanya Nia khawatir.
"Cowok brengsek itu masih tunanganku Nia" teriakku dalam hati. Kembali pura-pura.
"Gak kok Ni. Tenang aja. Gimana kalau gue deketin Raka aja mungkin gue bisa jatuh cinta ama dia. Raka kan orangnya baik, lembut, perhatian lagi" pujian yang bisa buat orang salah paham.
"Gila lu Sher. Yang bener aja. Lu baru putus ama tunangan lu mau nemplok sama orang lain. Perlu gue bawa priksa ke rumah sakit jiwa ni anak. Mumpung besok sampai Jogja kan Deket tu sama RSJ Magelang" teriak Nia membabi buta.
"Ha ha ha tapi jiwa menggodaku memanggil manggil. Bagaimana ini aku sudah tidak kuat lagi Nia??"
"Sherin kamu jangan jadi gila dong. Sherin jangan jadi cewek gampangan atau kamu mau buat Rey cemburu iya biar balikan lagi sama kamu?" tanya Nia
"He he gak lah. Sama kaya layangan. Kalau udah putus akan sulit dikejar. Bisa bayangin nggak Ni, lu ama gue ngejar tu layangan putus ha ha ha. Lari lari sampai jatuh manjat pohon sampai tenaga lu habis layangan itu bakal bisa kekejar nggak ya??? Bisa jadi gue ama lu babak belur dah he he he rindunya main layangan" Jelasku membuat Nia bingung.
"Gue mah ogah deh sampai kayak gitu. Kurang kerjaan amat" sangkalnya.
"Hey Hyaaa... Lu sama kak Rian gimana ceritanya bisa jadian??? Bukannya lu bilang takut sama tu Psyco, galak, gak ganteng, gak ada yang bisa dibanggain, kasar, mmammmm" Jelasku langsung dibungkam tangan Nia.
"Kepo banget sih lu"
"Ayolah Ni... masak lu tau kisah gue, gue gak boleh tau kisah lu sih. Gak adil banget. Mana sisi peripertemanan lu??" tanyaku mendesak.
Padahal sebenarnya all readers juga pada penasaran iya kan... iya kan... Ngaku aja!!! 😄😄😄✌✌✌
"Semuanya berawal waktu lu menghilang sehabis ujian" jelasnya.
"Iya. Waktu lu di bawa paksa cowok. Gue kira dia kak Rey. Tapi ternyata dia kak Rian"
"Lu udah tau gue dibawa paksa kok malah diem aja sih Ni??? Gue menderita banget waktu itu hiks hiks"
"Lebay. Lu mau gue cerita apa nggak??? Makanya jangan bawel" galaknya mulai kumat.
"Terusin cerita lu, gue dengerin mumpung gue belum ngantuk!!!"
"Dikira gue meninabobokan lu. Hehhh... Dasar Sherin"
"Gue udah diem nih. Kapan lu ceritanya woy... Dari tadi nggak jadi terus" mulai emosi.
__ADS_1
"Pada malam itu..."
"Pagi kali, ujian aja cuma satu doang... seinget gue balik jam sembilan dah"
"Lu bisa diem nggak sih. Beneran Ni gue mau cerita" emosi tingkat 70.
"Pagi itu gak sengaja abis dari toilet, gue liat lu dibekap tu mulut ember lu ama si Rian. Nah sisi peripertemanan gue muncul. Gue ikutin dah tu mobil. Yang aneh, tu mobil punya mantan lu. Keliatannya ada yang janggal. Sisi detective gue melambai lambai kali ya ha ha"
"Serius Nia..."
"Oke oke. Nah pas sampai di perkebunan tengah hutan kali ya. Gue juga nggak tau itu tempat apaan. Banyak banget preman yang jaga. Gue nggak bisa masuk dah. Kan gue feminim gitu jadi mau berkelahi harus jaga image juga kan, jadi gue cuma nunggu sampai sore. Kira kira bakalan ada orang yang dateng nolong lu nggak?? pikir gue waktu itu. Kalaupun nggak ada yang penting gue bisa nemuin mayat lu. Udah bersyukur banget gue"
"Sial lu. Jadi lu doain gue mati gitu. Perlu gue kasih pelajaran??" marah level 70.
"Sorry sorry, yah mau gimana lagi gue nggak bisa ngapa-ngapain. Lanjut nggak nih??"
"Lanjut!!!"
"Keliatannya jam tigaan gue liat orang pake baju hitam sama semua mukanya ditutup topi dan masker hitam masuk. Mereka cuma berlima kalau gak salah bisa ngalahin penjaga seabrek gitu. Gue tunggu dah sampai mereka keluar. Syukur syukur kalau lu selamat. Jam setengah lima gue liat mobil yang dibawa kak Rian tadi pagi keluar. Tapi aneh deh Sher???"
"Apanya yang aneh Ni?"
"Kayaknya tu yang nyopir baru pertama naik mobil dah. Masak mobil jalannya bentar kayak kura kura bentar lagi lompat lompat kayak kelinci. Yang parah udah tau ada pohon mau ditabrak juga ama tu orang. Ha ha ha. Udah gitu cuma naik tanjakan doang kayak nenek nenek kehabisan nafas padahal kalau diliat dari mobilnya tu mobil mesinnya bagus dah. Kalau keinget gue jadi mau tau siapa tu orang gila yang nyupir??? puftttt..." ceplas ceplos.
"Lu niat nyeritain kisah lu ama Rian. Apa mau uji kesabaran gue???" mulai meradang.
"Oke oke. Tapi biarin gue ketawa dulu abis keinget itu bawaannya ketawa mulu. Ha ha ha hahhhh"
"Nia gak boleh tau kalau waktu itu gue yang nyetir" batinku meronta.
"udahan ketawanya??"
"Udah udah... nah gue ikutin dah tu mobil sampai rumah sakit. Gue kaget setengah mati, ternyata kelima ditambah kak Rian udah gak berbentuk sama sekali. Muka hancur, darah dimana-mana. Awalnya sih gue kasian sama kak Rian tapi lama kelamaan gue jadi suka sama dia. Lu kenal gue kan??? Kalau gue orang yang kalau udah terpaku sama satu orang bakalan gue perjuangin dengan halus maupun paksaan"
**Flashback
Hari 1**
Tok tok tok...
"Boleh masuk kak??"
"Siapa kamu??? Maaf ruangan ini sedang disterilkan. Jadi orang luar dilarang masuk" kata salah satu pasien tapi tampangnya sangar.
"Tuan tolong saya. Bagaimana nasib anak ini Tuan. Dia bakalan lahir tanpa ayah jika tuan tak mengizinkan saya masuk. Ayah anak ini sudah kalian siksa. Lihatlah dia sakit tapi masih kalian ikat hu hu hu. Tuan kalau calon suami saya salah Anda tangkap silahkan tapi biarkan saya bertemu dengan ayah anak ini huaaahhaaaaa" Aku bersimpuh memegang dan menarik narik celana tentara itu kasar sampai kelihatan burung perkututnya. lelaki itu mulai kebingungan. Kemudian datanglah kaptennya.
"Lapor kapten. Gadis ini menerobos masuk. Saya bersalah silahkan hukum saya!!!" kata lelaki itu yang baru kutahu bernama Arka.
"Kamu" Kami saling menunjuk.
"Apa yang kamu lakuin disini??? bukannya kamu Nia ya??? Kalau nggak salah tadi kamu bilang kamu mengandung anaknya Rian gitu???" tanyanya menyelidik.
"Mampus gue. Ternyata gebetannya si Sherin kaptennya" aku cuma tertunduk malu tak berani menjawab. Tak disangka kak Rey ngebolehin gue buat jenguk Rian terus.
"Khusus wanita ini diperbolehkan menjenguk kapan saja. Kalian mengerti!!! Berdirilah Ni!!!" katanya sontak membuatku senang.
Kudekati kak Rian kupandangi wajahnya dengan tangan terikat. Sungguh benar benar tak tega.
"Pak bolehkah tangannya jangan diikat??"
"Nona kau sudah diperbolehkan menjenguk trus kau masih minta kami ngelepasin borgol ditangannya. Kau mau kami seret keluar!!!" teriak lelaki satunya lebih garang.
"Nggak nggak maaf"
Kuusap lembut wajahnya. Kuseka setiap bagian tubuhnya. Woyyy jangan mesum cuma bagian yang tampak aja oke. Dan hari itu dia membelalakkan matanya untuk pertama kalinya.
__ADS_1
"Nia buat apa kamu disini. Pergi!!!" Kak Rian berteriak dan mengamuk ngamuk sampai tempat tidurnya bergerak tak beraturan saking kuat tenaganya.
"Baik aku pergi" kataku tanpa penolakan.
Tapi aku tak pernah menyerah dan begitulah sampai hari ketujuh tanpa kusadari dia pura-pura tidur saat aku menyeka wajahnya.
"Kak Rian, tak bisakah kau memandangku. Bukan sebagai muridmu tapi sebagai seorang wanita. Aku jatuh hati padamu. Entah kenapa tapi ini yang kurasakan. Aku Benar benar tak bisa melupakanmu. Saat kau marah, tertawa, kesal, mengamuk atau mengusirku pergi berulang kali. Aku tetap saja tak bisa membuang rasa ini. Di hatiku sudah terukir satu nama yaitu namamu. Sekalipun aku tau kau sangat mencintai sahabatku tapi aku tetap akan menunggumu. Bahkan aku bisa menunggumu sampai ajal yang menjemputku. Kak jika kau bisa mendengar ini, aku adalah orang yang sangat kesepian. Orang tuaku tak pernah menganggapku ada. Mereka hanya mencukupi materiku saja. Apa yang aku mau pasti mereka beri. Tapi aku juga mau mendapatkan kasih sayang sama seperti teman-temanku. Mereka disayang dan dimanja. Setiap pulang pasti ditanya, bagaimana sekolahmu, sudah makan atau belum, mana yang sakit Mama obati. Tapi kedua orangtuaku setiap bertemu hanya berkata uangnya sudah Mama transfer. Papa Mama lagi sibuk jangan diganggu. Urus saja urusanmu sendiri. Begitulah hahhhh... Tapi tidak apa kak. Karena aku selalu punya Sherin yang bisa berbagi luka, sedih, tangis dan tawa. Dia anak yang ceria, baik dan sangat sempurna. Padahal hidupnya lebih buruk dari apa yang aku alami. Tak sepantasnya aku mengeluh tapi hiks hiks sekarang Sherin sudah ada yang mencintainya setulus hati. Aku tak mau terus mengganggunya. Karena suatu hari dia juga akan membina rumah tangga. Tapi aku... hiks hiks" tak terasa air mataku berlinang. Tiba-tiba ada tangan kekar yang kesusahan mengusap setetes air mataku.
"Jangan menangis lagi Nia. Maukah kamu menjadi istriku???" tanyanya sontak membuatku kaget, bahagia, atau gila. Bukan pacarnya tapi langsung menjadi istrinya. Baru kali itu kak Rian terlihat begitu sangat lembut. Moment itu disaksikan Arka, Rendy, dan kedua tentara yang belum kutau namanya.
"Benarkah kak??? Aku mau, mau mau" jawabku kemudian memeluknya. Arka kemudian membuka borgol ditangannya. Dia mencoba melawan kaptennya atau memang sudah waktunya dibuka itu borgolnya.
Lama sekali aku memeluknya. Kak Rian juga begitu lembut dan dalam memelukku. Hingga datanglah pengacau itu.
"Sherin...." teriak Arka memberi isyarat kepadaku untuk bersembunyi.
Aku mencoba mencari tempat persembunyian tapi tiba-tiba tangan kak Rian menarikku kedalam pelukannya dan bersembunyi dalam satu selimut dengannya. Dipeluknya erat. Huaaaahhhh romantisnya.
Flashback off
"Udah mengkhayalnya. Pengganggu??? Pengacau???" marah level 100
"Ampun Sher... ampun..."
Drrrtttt... Drrrtttt...
"Kali ini kamu selamat Ni. Aku harus menjawab telepon" jawabku dengan muka serius.
"Bicaralah. Baiklah aku mengerti. Lakukan saja tugasmu. Jangan khawatirkan itu. Dia takkan bermain denganku sekarang" kataku memutus telepon.
"Siapa Sher??? serius amat"
"Biasa... selingkuhanku" jawabku asal.
"Kamu ini bener bener ya!!! cepat hubungi dia lagi. Putuskan dia sekarang!!!" level 1000 marah membabi buta.
"Ahhh... ngantuknya aku tidur dulu. Dadah sayangku babyku manisku muach muach muach" godaku.
"Sherin.... Sherinnn"
"Heh... Nggggrokkk... am am am..."
Sehari Sebelum Studytour
"Pah, Sherin mau bicara serius sama Papa!!"
"Katakan nak!!"
"Sherin sudah tau apa yang sedang Papa hadapi. Papa Ndak usah nutupin lagi. Target mereka perusahaan Papa, Om Gunanto dan perusahaan nenek yang dipegang Om Armanto"
"Darimana kamu tau nak??? Jangan ikut campur. Papa tidak mau kamu terluka. Kamu anak Papa yang paling berharga" Papa memelukku dan menangis.
"Papa dengar Sherin. Percaya sama Sherin. Keluarga Bumi Prakasa takkan dengan mudahnya menjatuhkan kita. Sherin takkan membiarkan orang licik itu menang"
"Sherin..."
"Papa, Sherin mohon percaya sama Sherin"
"Apa rencananya???"
"Buat Papa kecelakaan. Sherin udah mengatur semuanya. Papa tinggal berangkat ke Bandung. Kak Aldo dan kak Yuna yang akan mengurus semuanya. Sherin tak mau jatuh korban di pihak kita. Kalau mereka yang melakukan persentase kemungkinan selamat sangat kecil. Tapi kalau papa percaya sama Sherin maka Papa akan hidup lama, panjang umur, dan bahagia bersama melihat orang licik itu jatuh ke perangkap yang dibuat mereka sendiri"
"Tapi Mamamu??? Dia sedang hamil nak??"
"Jangan khawatir. Tante May pasti bisa menjaga Mama dengan baik. Papa ini pertarungan antara Sherin dan dia. Untuk masalah perusahaan Papa serahkan semua sama Sherin. Papa jangan kaget jika saham perusahaan akan turun drastis bisa sampai 2000 poin. Tapi Sherin janji tidak akan lebih dari itu. Sherin harus mengeluarkan ular yang sebenarnya"
__ADS_1
"Baiklah. Papa percaya padamu" kata papa masih bingung dengan perubahan sikap ku.