Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Dia


__ADS_3

Apotek Rumah Sakit


"Tuan Gunanto..." panggil petugas apotek.


"Iya" jawabku.


"Ini obat anda. (sambil memberikan obat yang ku tunggu). Ini diminum sehari 3 kali sesudah makan. Semoga lekas sembuh", imbuhnya.


Akupun memasukkan obat papa ke dalam tas kecil.


"Halo, assalamu'alaikum" kataku di telepon.


"Wa'alaikumsalam. Ada apa nak?" tanya ibu diseberang telepon.


"Obat Ayah sudah Rey tebus. Ayah dan ibu mau pesan apa? biar nanti sekalian Rey belikan" tanyaku.


"Ndak usah nak. Pulang saja. Hati-hati nyetirnya, ya udah ibu tutup. Assalamu'alaikum,," pinta ibu.


"Wa'alaikumsalam" jawabku. Segera kumasukkan ponselku ke dalam saku.


Dari jauh aku melihat sosok gadis yang kukenali ditarik paksa seorang dokter perempuan seumuranku. "Siapa dia?? Apa yang terjadi??" tanyaku dalam hati penasaran.


Ku ikuti mereka. Hingga sampai disebuah ruangan paling pojok dan benar-benar sangat sepi bahkan mungkin tak ada yang berani sekedar jalan-jalan didekat sini karena disamping persis ruangan ini adalah kamar jenazah.


Betapa terkejutnya aku. BRAKKKKK... Wanita itu menutup pintu dengan kerasnya. Mungkin kalau ada mayat dikamar jenazah itu bisa kaget dibuatnya. Sebenarnya tak ingin mendengarkan apa yang mereka bicarakan tapi hati ini, pikiran ini berkata lain. "Aku harus mendengarkan pembicaraan mereka" kataku dalam hati.

__ADS_1


Belum selesai kekagetanku tadi, sekarang kulihat gadis baik dan manis itu ditampar dengan kerasnya. "Ya Allah, apa lagi ini??, Astagfirullah", pekikku tak percaya.


Hatiku terasa sesak, panas, mukaku merah padam menahan amarah. Ingin sekali segera kubalas perempuan itu dengan tamparan yang lebih keras dari tanganku. Gadis itu tersungkur di lantai. Dia hanya menangis. perih rasanya. Entah kenapa hatiku juga merasakan sakit yang begitu hebat. Dadaku seperti tertusuk benda tajam bahkan sekalipun itu benda tajam asli atau bahkan timah panas, rasanya lebih sakit ini. "Oh Tuhanku, bisakah aku menghampirinya dan menenangkannya?" tanyaku frustasi.


Ku dengar satu persatu apa yang mereka bicarakan. Sungguh telinga ini sudah tak mampu dan tak ingin lagi mendengar makian dan cacian dari mulut perempuan itu. "Oh ya Allah, bisakah kau cabut nyawa kakaknya itu?? Bisakah kau menghukumnya di nerakamu?? Astagfirullah pikiran apa ini??" batinku.


Aku tak sanggup, benar-benar tak sanggup melihat gadis baik itu diperlakukan tidak adil seperti ini. Aku mendengar semuanya. Rahasia keluarga mereka. Sungguh miris. Gadis yang tak tau apapun harus menanggung kesalahan orang tuanya, ketamakan saudara dan ibu tirinya.


Gadis itu keluar menahan tangisnya. Dia berjalan limbung sampai di ujung koridor rumah sakit. Mungkin kakinya sudah lemas tak kuat lagi menopang tubuh kecilnya. Baru saja ingin kuhampiri, tiba-tiba ada seorang pria yang mendekatinya. Aku benar-benar tak suka.A ku berusaha mendekatkan jarakku dengan mereka agar aku bisa tau apa yang mereka bicarakan.


Agar mereka tak curiga, ku ambil majalah kututupi wajahku dengan majalah itu seakan aku membacanya padahal tidak.


"Sherin.." panggilnya.


"Lho.. kamu nangis??", katanya dan tangan itu mau menghapus air mata di pipi gadis itu tapi langsung dihempaskan kasar.


Belum selesai disitu, laki-laki itu yang ku tahu namanya Roy mencoba menarik paksa dan mencengkeram pergelangan gadis itu sampai dia merasa kesakitan.


"Lepas. lepaskan. Kak Roy!!!" bentaknya.


"Ahh.. aww sakit.." ucapnya meringis."


"Aku takkan pernah melepaskanmu Sherin, karena kau tau aku menyukaimu dari dulu", ucapnya menolak.


Aku benar-benar sudah tak tahan melihat gadis itu kesakitan karena lukanya tadi pagi belum sembuh.

__ADS_1


"Hey, bung. Lepaskan tangan gadis itu!!", perintah ku memaksa.


"Ini bukan urusanmu, pergilah!!", katanya mengusirku.


Dengan cepat ku pukul wajahnya dan segera melepaskan tangan gadis itu.


"Kamu tak apa??" tanyaku khawatir. Diapun hanya mengangguk.


Kamipun keluar dari rumah sakit itu. Aku meninggalkan si brengsek Roy di koridor tadi setelah dia jatuh tersungkur ke lantai.


"Terima kasih om" katanya lembut.


"Tolong jangan panggil Om!!" pintaku.


"Reynan Gunanto" kataku memperkenalkan diri tanpa berjabat tangan.


"Sherin om" katanya sekali lagi membuatku kesal.


"Tak bisakah dia tak memandangku sebagai Om Om. Bahkan akupun belum menikah, usiaku masih muda. Hadehhhh..." batinku.


"Panggil aja kak Rey" pintaku.


"Baiklah, om. maksudku Kak. Terima kasih sudah menolongku berkali-kali. Lain kali saya akan membalas kebaikan kakak. Terima kasih", ucapnya sambil membungkukkan badannya.


"Kalau gitu, saya permisi dulu kak. Assalamu'alaikum", pamitnya.

__ADS_1


Diapun sudah berlalu ke halte bus diseberang rumah sakit ini. belum sempat aku menjawab salamnya dan menawarkan untuk mengantarnya pulang, dia terlebih dahulu naik bus. Mungkin hari ini benar-benar hari yang melelahkan untuknya. "Wa'alaikumsalam", jawabku terlambat.


__ADS_2