Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Masa Lalu dan Masa Depan


__ADS_3

Di Taman


Kami hanya saling pandang dan suasananya benar-benar canggung.


"Kak.." "Sher" ucap kami bersamaan.


"Kakak duluan!" terlihat kak Rey menatapku dalam.


"Maaf... selama ini tidak jujur padamu. Sejak Kakak tahu kalau kamu itu Mong Mong seharusnya tidak kakak tutupi. Kakak kira kamu lupa dengan kakak, jadi kakak berusaha mendekatimu perlahan agar kita bisa akrab seperti dulu. Itulah niat kakak sebenarnya. Sudah lama sekali... Kamu masih imut dan manis seperti dulu" kata Kak Rey menjelaskan.


"Sherin juga minta maaf. Jika Sherin tau kak Rey kakak Pandanya Mong Mong pasti Sherin lebih baik sama kakak. Sherin gak bakalan jahat ngasih nomer kakak ke orang-orang. Sherin sangat berharap bisa bertemu dengan kakak tapi tak disangka kita malah bertemu dengan cara seperti ini" kak Rey memandangiku tanpa berkedip.


"Kalau gitu ngapain kakak sembunyikan lama lama mending langsung bilang aja ya ke kamu. Pasti kejadiannya nggak bakalan seperti ini. Yahhh... nasi sudah menjadi bubur..." Kak Rey menghela nafas dengan senyum manisnya.


"Maaf soal yang dirumah sakit waktu itu" kataku menyesal.


"Jadi kamu nyesel nih??? Tuh kan dibilangin gak percaya. Pesona kakak Pandamu ini benar-benar membuat semua wanita terhipnotis ha ha ha" senyum Kak Rey puas menggodaku.


"Mulai dah narsisnya. Buktinya mana? Wong kakak aja masih jomblo? Gak inget umur tu udah 27 tahun masih sendiri?? Gak laku pak??" godaku membuat kepalaku dijitak mendadak.


"Ni bocah. Lama-lama ngelunjak juga ya!!" Sini kamu!!" teriak kak Rey mengejarku kesana kemari mengenang masa saat kami pertama kali bertemu.


Flashback


Aku menangis dibawah guyuran hujan. Saat itu umurku baru 8 tahun. Setelah acara pemakaman nenek, aku berlari tak tentu arah dan berakhirlah ditaman kecil ini.


"hiks hiks Mama sekarang nenek sudah pergi menyusul Mama. Sherin sendiri Ma. Nenek jahat sama Sherin, kata nenek mau nemenin Sherin terus tapi nenek bohong sama Sherin... hiks hiks nenek jahat!!! huu huuu huaaaa" aku melampiaskan kesedihanku yang sangat dalam.


Kurasakan seseorang mendekat dan dia memayungiku. Seorang anak laki-laki yang jauh lebih tua dariku yang sempat terlihat di pemakaman nenek.


"Hey bocah cengeng!!" panggilnya membuatku jengkel.

__ADS_1


"Dasar cengeng!!! Bangun!! Kamu mau mati kedinginan??" aku meliriknya tajam. Tak ku jawab sama sekali ocehannya.


"Ayolah!!! Kamu itu benar-benar lemah ya!! Apa kabar nenekmu yang sudah dikubur ngeliat cucunya lemah, cengeng, mau ikut-ikutan mati lagi!!" ejeknya membuat darahku mendidih.


"Kakak siapa? Emang kakak tau apa yang aku rasain? Apa kakak pernah kehilangan orang yang disayang? Satu-satunya yang menyayangiku cuma nenek. Tapi sekarang nenek sudah pergi. Kakak tau gak gimana sedihnya!!! hiks hiks hiks" teriakku marah padanya.


"Dasar lemah. Cuma ditinggal gitu aja nangis. Manusia ya bakal mati mana ada yang hidup terus. Pikir!!! Lagian nenekmu udah tenang disana. Udah seneng kali ketemu sama Allah. Kalau kamu gitu sama aja kamu menentang Allah, tau gak??" ucapannya begitu kasar tapi semuanya benar.


"Ayo ikut kakak!!" ajaknya menarik tanganku secara paksa ke sebuah cafe didekat taman tadi.


"Makan!!! Ntar kalau udah ganti bajumu!!" aku menatapnya sekilas.


"Kenapa kakak baik sama aku?? Toh Ayahku aja gak peduli" aku coba mencari tau tujuannya mendekatiku.


"Bukannya sama orang harus baik ya?? Kamu aja yang aneh. Dasar bocah. Mana ada ayah yang gak peduli sama anaknya?" kata kakak itu tak percaya.


"Ada. Ayahku memang gak peduli kok. Kalau mau bukti lihat aja sendiri. Lihat mobil yang di pemakaman itu!!" Kataku sambil menunjuk sebuah mobil sedan hitam yang terlihat agak jauh dari dalam cafe. Kakak itupun cuma mengangguk.


"Trus, kamu pulangnya?? Apa dia Ayah tirimu?" tanyanya mencari tau.


"Pulang apa nggak pulang sama aja kak. Aku gak bakal dicariin. Aku juga masih punya kaki buat jalan" jawabku lesu.


"Mau main sama kakak??" ajaknya mencoba menghibur. Aku menganggukkan kepalaku mengiyakan.


"Bentar kakak telpon orang tua kakak dulu" katanya pamit diri.


Setelah kakak itu pergi menelepon. Ada rasa gelisah di hatiku. Bukan karena aku mengharapkannya untuk menghibur ku tapi aku takut dia melarikan diri sebelum membayar makananku.


"Ya Allah. Aku gak bawa uang. Kakak tadi balik gak ya?? Trus kalau gak balik gimana? Apa aku bantu-bantu cuci piring disini buat bayar, boleh gak ya??" pikirku gelisah dalam hati. 15 menit kemudian sungguh melegakan. Kakak itu kembali dengan membawa plastik. Entah apa isinya.


"Maaf lama ya?" tanyanya tapi aku cuma diam. Dia menyodorkan plastik yang dibawanya tadi. Kubuka plastik itu, ternyata setelan pakaian untukku.

__ADS_1


"Ganti baju sana!! Abis itu kita pergi jalan-jalan. Lupain semua kesedihanmu lalu melangkah ke depan jangan nengok belakang lagi!" katanya. Ku gelengkan kepalaku berpura-pura tak mengerti.


"Dasar bodoh. Gini ya bocah kecil, maksud kakak yang sedih tu dibuang gak usah diinget lagi. Jangan mikirin hal yang gak berguna bisa hancur hidup kamu ntar. Sudah ngerti!!" kuanggukkan kepalaku menandakan jika aku mengerti.


Kamipun pergi ke sebuah tempat hiburan. Apalagi kalau bukan main Timezone. Mulai saat itu kami menjadi sangat dekat.


Dia selalu menemani saat aku berkunjung ke makam Mama dan nenek. Habis dari makam seperti biasa dia mengajak bermain di taman dan Timezone. Hari-hariku sangat bahagia bersama kakak itu. Dia benar-benar menjadi kakak yang baik untukku. Saat kelulusannya kakak pamit untuk sekolah yang lebih tinggi lagi dan tempatnya jauh. Aku benar-benar sedih. Sekarang aku harus mandiri. Aku tak mau mengecewakan orang-orang yang menyayangiku. Kata nenek, aku harus menjadi kuat, berdiri dengan kakiku sendiri dan tak boleh mempercayai orang lain. Jika aku kuat maka tak ada yang berani menindasku.


"Mong Mong, maafin kakak Pandamu ini ya!! Kakak harus sekolah lagi ditempat yang jauh, jadi kakak tidak bisa menjagamu lagi. Tapi kakak Panda janji nanti saat ulang tahunmu yang ke 17 kakak akan mencarimu dan pasti bisa menemukanmu" katanya menyesal.


"Hm. Kakak belajar aja yang baik. Mong Mong bisa jaga diri kok. Gak usah khawatir. Mong Mong udah bukan anak cengeng lagi" kataku tersenyum tapi sebenarnya hatiku tak rela ditinggal kakak Pandaku.


Flashback off


"Mau main Timezone?" ajak Kak Rey.


"Mau mau kak!!!" mataku berkedip kedip sambil kepalaku mengangguk-angguk dengan tatapan manja.


"Dasar bocah nakal. Jangan menggodaku!!! Tunggu disini, pokoknya jangan kemana-mana!! Kakak Pandamu mau ambil motor dulu. Mengerti ????" aku menggodanya lagi dengan mengedip-ngedipkan mataku lagi. Memasang wajah manja dan super cute. Kak Rey tersenyum gemas.


10 menit aku menunggunya di taman. Sungguh hatiku benar-benar berbunga. Tak pernah kurasakan rasa yang membuat dadaku sesak bahagia. Ingin rasanya tertawa keras, berlari bahkan melompat-lompat kegirangan. Ternyata kakak Panda ganteng banget sekarang.


"Ahhh. Mimpi apa aku? Pandaku ganteng banget. Ihhh gemes banget" selorohku sambil senyam senyum tak menyadari orangnya sudah datang.


"Siapa yang ganteng??" tanyanya mengagetkanku.


"Apaan sih kak Rey? Ya jelas Ayahku lah yang ganteng?" jawabku mengelak.


"Bukannya kamu bilang Pandaku ganteng, ha ha!!" godanya tersenyum melihat pipiku sudah memerah kayak tomat.


"Kak Rey, apaan sih" aku berlari menjauhinya dan diapun mengejarku dan tak berhenti menggodaku. Kamipun jalan-jalan menuju tempat favorit kami yaitu bermain timezone.

__ADS_1


__ADS_2