Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Masih Bersamanya


__ADS_3

Pukul 02.30 dini hari


"Woahhmmm..." Kulihat jam weker.


"Masih terlalu pagi. Tidur lagi ahh..." kataku sambil menarik selimut. Kudengar derap langkah kaki menuruni tangga. Dengan terpaksa bangun mengikuti suara itu. Kubuka pintu kamar dengan sangat hati-hati.


Ada pemandangan berbeda kali ini yang bisa membuatku tersenyum dan seketika rasa kantuk ku hilang.


Kulihat Sherin memasuki kamar mandi. Secepat kilat aku berlari ke kamar. Kuambil air wudhu. Setelah itu kupakai sarung dan peci kemudian bersembunyi di kamar tamu disamping kamar mandi.


"Sungguh ganteng dan alimnya diriku" kataku memuji diri sendiri. Pintu kamar mandi dibuka pelan, aku bergegas membuka pintu kamar ini bersamaan. ceklekk..


"Mau sholat tahajud bareng, Sher??" kataku mengagetkannya. Padahal jarang sekali mau sholat tahajud. Kalau bersamanya jadi semangat '45.


"Astagfirullah. Omm.. oh.. Kak Rey... Bisa tidak gak ngagetin gitu" katanya yg masih mengelus dadanya.


"Sial. Dia masih manggil Om lagi" kataku kesal dalam hati.


"Gimana Sher, jadi sholat bareng gak? Kalau gak ku tinggal" tanyaku.


"Please please mau ya!!" kataku dalam hati penuh harap. Diapun mengangguk tanda setuju. Kamipun sholat tahajud bersama di ruang sholat.


"Assalamu'alaikum warohmatullah" sambil tengok kanan.


"Assalamu'alaikum warohmatullah" sambil tengok kiri.


Kumajukan tanganku tepat didepan wajahnya, agar dia mencium tanganku. Dia masih bingung, belum tau maksudku.


"Salim Sher!! Cium tanganku!!" kataku.


"Haaa" pekiknya.


"Cepetan pegel tau!!" kataku tak sabar.


Dengan lesu dia mencium tanganku. Kurasakan halus dan lembut tangannya. kuelus kepalanya seolah olah dia sudah menjadi istri Sholihah. Oh ya Allah. Perasaan apa ini. Jadikanlah ia istriku dunia dan akhirat. Ingin rasanya ku nikahi Dia sekarang juga. Kamipun selesai berdoa. Diapun membereskan mukenanya kemudian pergi.


Kukira dia mau tidur lagi. Ternyata dugaanku salah. Dia mengambil sapu dan pel.


"Gadis ini calon istri Sholihah" batinku. Akupun dengan sengaja duduk di ruang keluarga agar bisa memandanginya terus.


"Mau bersih-bersih Sher??" tanyaku padanya tapi tak dihiraukan.


"Ni sini masih kotor. Apa kamu gak liat tu masih ada debu" kataku membuatnya kesal.

__ADS_1


"Awas kakinya!! Angkat dong, Kak!!" teriaknya kesal yang semakin membuat aku jatuh cinta. Kulempar bungkus permen, agar dipungutnya.


"Sher, ni masih ada kotoran!! cepetan bersihin!!" perintahku.


"Hiisss. Bisa gak sih Kak Rey kalau buang sampah di tempatnya!!" teriaknya kesal.


"Minggirin kakinya!!!" katanya seraya menendang kakiku tapi malah tersandung dan jatuh dipangkuanku. Mata kami saling memandang. Terdengar jelas nafas dan detak jantungnya. Diapun segera berdiri.


"Dasar mesum!!" katanya kesal.


"Ya elah. Situ yang jatuh sendiri malah sini yang dikatain mesum. ha ha. Itu namanya bukan mesum Sher. Itu namanya kualat. Salah sendiri nendang-nendang kaki orang" kataku mengejek. Dia memandangku dengan tatapan tajam.


Sekali lagi dia sengaja menginjak kakiku.


"Aww.. ah.. ah. Sherin... sakit tau" teriakku mengejarnya ke arah dapur.


"Mau masak apa cantik?" tanyaku menggodanya. Diapun tak menjawab.


"Mau Oppa Rey bantu?" godaku.


"Oppa??? ogah deh. Dengar ya Kak Rey, menggoda anak dibawah umur itu ada undang-undangnya. Kak Rey mau kulaporin?" tanyanya kesal.


"Oh semakin Dia kesal semakin Aku tak bisa berpaling untuk tidak mengganggunya" batinku.


"Hisssshhh... Minggir.. minggir... Awas... Kak Rey!!" teriaknya semakin membuatku gemas.


Diapun menanak nasi. Menggoreng ayam, tahu tempe, membuat sayur SOP, membuat sambal tomat dan mencuci buah juga. Sungguh harum masakannya sepertinya lezat sekali.


Sedari tadi Aku hanya mengganggunya sesekali ku ambil tahu yang baru selesai digorengnya. "Hiss.. Kak Rey..." celotehnya kesal. Kapan lagi bisa seperti ini.


Kamipun Sholat subuh bersama.


"Sherin , ini semua kamu yang masak?" tanya Ibu tak percaya.


"Iya Bu. Calon menantu Ibu yang masak. Enak banget rasanya. Kalau soal rasa masakan Ibu kalah jauh" celetukku. Ibu mendorong dahiku seakan tak mau dijelek-jelekkan.


"Cuma ala kadarnya Tante" katanya merendah. Kamipun sarapan bersama.


Kami bersiap-siap. Aku harus ke markas sedang Sherin harus ke sekolahnya. Ibu sudah menyiapkan seragam sekolah Sherin.


"Gadis ini benar-benar sudah membuatku gila. Sangat cantik, baik, ceria dan penuh misteri. Dimana lagi coba, Aku bisa dapat gadis seperti ini?? meskipun masih Belum genap 17 tahun, dari yang kulihat selama ini kedewasaannya melebihi gadis seumuranku yang taunya ngemoll, shoping, kesalon. Padahal kalau aku di posisinya, apa aku sanggup?" kataku dalam hati.


"Sherin... cepat!! Aku bisa terlambat!!" teriakku.

__ADS_1


"Iya. Maaf. Maaf Kak. Sherin dah siap" katanya terengah-engah.


Seperti biasa ritual khusus mengantar Ibu ke TKnya.


"Rey pamit dulu Bu. Assalamu'alaikum" pamitku pada Ibu diikuti Sherin mencium tangan Ibuku juga.


"Hati-hati dijalan. Jangan ngebut-ngebut. Jaga Sherin!!" kata Ibu padaku.


"Oke Ibu" jawabku.


"Sherin ke sekolah dulu Tante terimakasih buat semuanya" katanya sambil mencium tangan ibu lagi. Dibalas Ibu dengan mencium pipi dan dahinya.


"Aku mau" celetukku. "Huss.. belum muhrim" kata Ibu. Dia ingin menginjak kakiku lagi tapi kali ini aku bisa menghindar.


"Assalamu'alaikum" pamit kami berbarengan.


"Wa'alaikumsalam" jawab Ibu.


Di Sekolah


"Makasih Kak" katanya sambil membuka pintu mobil. Belum sempat kujawab dia sudah pergi dulu. Tak diduga teman-temannya memandang Sherin tak senang. Akupun keluar dari mobil untuk mengantarkan bukunya yang tertinggal.


"Sherin biasanya jalan kaki, kalau gak naik bus. Ini dia naik mobil mana mobil mahal lagi" kata temannya sinis.


"Ahhh.. kakaknya ganteng" lanjut teman lainnya.


"Lihat nggak Sherin dianterin Om Om" kata temannya lagi


"Kalau omnya ganteng tajir seperti itu aku mau".


"Ah dasar anak labil" gerutuku kesal. Segera kucari sosoknya. Akhirnya kutemukan juga tu anak. Nggak taunya asyik ngobrol dengan seorang pria seumuran. Oh betapa cemburunya hatiku. Kuhampiri Dia.


"Sherin" panggilku keras.


"Kak Rey, Ada apa???" tanyanya seolah tak ada apa-apa. Padahal kemarahanku sudah sampai diubun-ubun. Kusenggol pria itu keras membuatnya hampir jatuh.


"Ini buku kamu ketinggalan di mobil" kataku lembut sambil memberikan bukunya kemudian kuelus kepalanya tapi mataku menatap sinis ke pemuda itu.


"Makasih Kak" katanya sambil membungkukkan badannya.


"Ayo Ka!! Bentar lagi masuk" ajaknya pada pemuda itu. Pemuda yang akhirnya kutau bernama Raka tersenyum penuh kemenangan dan memandangku sinis.


"Kak Rey duluan ya!! Makasih sudah dianterin" katanya sambil meninggalkanku yang penuh dengan kemarahan.

__ADS_1


"Aishhhh... sial. Sainganku ternyata bukan Roy saja, anak SMA ini juga lebih licik. Takkan ku biarkan Sherin dekat dengan lelaki manapun kecuali Aku" kataku mengancam.


__ADS_2