Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Menikah


__ADS_3

Baggg... buggggg... bagggg... buggggg


Kudekap tubuhnya erat mencoba menghalangi setiap pukulan yang diarahkan kepadanya.


"Sudah sudah!!!" teriakku kesal sendiri.


"Sherinnn... Kau memang benar-benar anak Papa" celoteh Om Angga dengan senyum tersungging.


"Nay, anakmu memang nakal" ejek ibu yang juga sedikit kesal.


"Sini Mama beri kamu pelajaran!!!" ucap Tante Nay berusaha memukul Sherin tapi si Mong cepat sekali bersembunyi dibalik punggungku.


"Jangan pukul lagi Tante. Badan Rey udah sakit semua" keluhku memelas.


"Mama..." ucap Mong menunjukkan raut muka menyesal juga memelas dari balik punggungku.


"Turun semua. Ada pengumuman penting yang mau Papa dan Mama utarakan" kata Om Angga membuat kami terkejut.


"Apa jangan-jangan Sherin mau punya adik???" pikirku asal.


"Mama sama Papa mau Honeymoon lagi??? gitu aja ngumuminnya kenapa harus nunggu dibawah sih??" celoteh Mong langsung dibalas tatapan tajam kami semua. Dia menelungkupkan kepalanya kedalam sela tangan dan punggungku.


"Trus, siapa dong yang membersihkan ini semua??" tanya Mong santai.


"Kamu" jawab kami semua berbarengan.


Mong hanya bisa mendengus kesal dan menghela nafas berat sampai terdengar ditelingaku.


"Alamat dah, bantuin bersih-bersih" ejekku dengan suara sedikit keras. Dia mencubit kecil pinggangku.


Semua orang terkecuali aku dan Mong segera turun ke bawah. Aku memandangnya gemass. Ingin sekali kumakan bocah kecil ini. Dengan wajah super cute dan manjanya dia berusaha merayuku.


"Sayang, bisa bantuin kan??" gak ada petir gak ada hujan ni anak bisa juga memanggilku sayang tanpa paksaan.


"Hn..." jawabku singkat dengan raut wajah pura-pura marah tapi sebenarnya sih berbunga-bunga.


"Sayang, kak Rey..." panggilnya mesra dengan wajah masih seperti mbak kunti menarik-narik kecil bajuku.


"Mau dibantu??" tanyaku berpikir. Mong mengiyakan dengan anggukannya.


"Cium pipiku dulu!!!" kataku menggodanya.


Lama sekali dia berpikir sebelum mengiyakan.


"Tutup mata kak. Aku malu" katanya malu malu. Tumben banget tak ada penolakan apalagi marah marah. Segera kututup mataku.

__ADS_1


Cup... Cup...


"Bibirnya lembap sekali. Ahhh terserahlah yang penting dia menciumku" batinku.


"Benarkah dia mencium pipiku?? Mimpikah ini??" tanyaku dalam hati masih tak percaya.


"Cuci mukamu sana!!! Biar aku yang membersihkannya" ucapku segera membereskan kekacauan demi kekacauan ini. Padahal aku sendiri saja sudah kacau. Banyak sekali cream menempel di rambutku.


Kubereskan semua dalam waktu setengah jam karena kamar ini tak terlalu besar. Aku sudah sangat terlatih kalau soal bersih membersihkan. Cepat, bersih dan wangi.


Si Mong menatapku lama sekali. Sesekali dia melemparkan senyumnya yang begitu menggoda. Kalau tak ingat dosa sudah kulumat dirinya sampai habis.


"Hey, jangan memancingku!!!" kataku menatapnya gemas.


"Aku tak memancing ikan ganas sepertimu kwikkiiikii" jawabnya membuatku ingin memakannya sekarang juga. Kulangkahkan kakiku mendekat kearahnya. Lagi-lagi dia mencoba kabur.


"Diam disitu kak!!! Kalau tidak kuobrak abrik lagi kamar ini" katanya menghentikan kejaranku. Tak mau sia-sia pengorbananku membersihkan kamar ini menjadi kacau gara-gara satu gadis nakal ini.


"Udah sana kak mandi dulu. Lihatlah mukamu. Berantakan sekali seperti rumah diboulduzerr. Sisanya serahkan padaku!!!" kata Mong mengambil alih tugasku. Sebenarnya ini sih tugasnya.


"Awas jangan diberantakin!!!" kataku segera mandi untuk kedua kalinya.


30 menit waktu yang kubutuhkan membersihkan tubuhku dari cream lengket ini. Kutengok ke kamar ternyata tak sia sia aku mengajarinya. Kamar bersih bersinar. Kucari si Mong tapi lagi-lagi menghilang.


Segera ku turun kebawah. Ternyata semua sudah berkumpul.


Aku duduk disamping Mong.


"Geser!!" pintaku sedikit memaksa. Memang hanya ada celah sedikit saja di sofa yang diduduki si Mong.


"Sana!!! tuh disana masih ada tempat duduk" kata Mong pelan dan kesal tapi tetap tak mau bergeser.


Semua pasang mata memandang kami.


"Sherin,,, geser!!!" Pinta Om Angga membelaku.


"Sudah kubilang kan, dasar Mong Mong" kataku menang.


"Huhhh... Dasar Om Tejo" pekiknya masih tak mau kalah.


"Sudah sudah. Dengarkan pengumuman Om Angga. Pokoknya tidak boleh ada yang menentang keputusan ini. Semua sudah dipikirkan masak-masak oleh kami berempat" jelas ayah.


Si Mong dari tadi usil banget nginjek kakiku mulu. Pelampiasan rasa kesalnya.


"Sakit tau!!!" bisikku pelan.

__ADS_1


"Bodo. Salah sendiri" jawabnya berbisik juga.


"Rey, Rian juga kamu Sherin Nia" panggil Om Angga mengejutkan kami.


"Kami sebagai orang tua sudah memutuskan kalau kalian akan MENIKAH sebulan lagi" jelas om Angga membuat mata kami membelalak lebar.


"Sebulan Pa??? Papa Mama....." keluhnya bingung. Menatap Mama dan Papanya tak percaya.


"Kalau aku sih oke aja Om, Tante" jawab Nia santai.


"Bagaimana kamu Rey??" tanya ayah gantian.


"Aku juga gak masalah. Awwww" kataku setuju tapi kakiku menjadi korban kekesalan Mong sekali lagi. Mata kami saling menatap seakan bisa bicara. Aku tau Mong pasti menolak.


"Sebulan. Akhirnya waktu itu akan datang. Tunggulah kau Mong!!! Habislah dirimu!!!" kataku senang dalam hati.


"Rian oke oke aja. Ya kan yank!!!" kata Rian menatap mesra Nia.


"Irinya. Si Rian aja yang baru jadian ama Nia bisa semesra ini. Aku sudah dari umur dia delapan tahun masih aja bertengkar. Kemana mana masih aja kayak kucing tikus hiks hiks hiks" batinku.


"Om Tante,, mah pah... Bisa tidak kak Rian dulu yang nikah. Kalau aku ntar lima tahun lagi" katanya mengagetkan kami semua. Tapi mata tajam semua orang membuatnya menciut.


"Baiklah" jawabnya lesu.


"Baiklah kalau gitu semua akan dipersiapkan Ibu sama Tante Nay. Untuk Nia. jangan khawatir, kami sudah menghubungi orang tuamu Kemungkinan mereka hanya bisa datang saat upacara pernikahan saja. Gak papa kan Nia??" tanya Ibu sedikit sedih.


"Gak pa pa kok Tante. Nia tau kok Papa Mama sedang sibuk" jawabnya tersenyum tapi hatinya mungkin sedih. Rian menggenggam tangan Nia menguatkan.


Si Mong jangan ditanya, mukanya ditekuk udah kayak kertas lungset.


"Puas!!" katanya singkat tapi tajem.


"Sangat puas sayang" jawabku berbisik lembut. Sekali lagi dia melampiaskan kekesalannya dengan menginjak kakiku.


"Tunggulah!!! Sebulan lagi kau seutuhnya menjadi milikku Mong ha ha ha..." kataku tersenyum puas.


**Flashback


Sherin**


"Enaknya main minta cium" Cling... Ideku muncul begitu saja.


"Tutup matamu kak. Aku malu" kataku menipunya.


Segera kuambil ikan kecil didalam aquarium dan kuciumkan ikan itu ke pipi kanan kirinya.

__ADS_1


"Rasakan kau kak!!! he he he" kataku senang. Segera ku kembalikan ikan kecil itu ke aquarium yang terletak dimeja sampingku berdiri.


"Tenang saja masih ada ikan yang lain kalau kau mau minta cium kak, ha ha ha... Kau telah menodai ikan itu... Ahhh kau jahat jahat kak Rey" tawaku senang.


__ADS_2