
Sehari sebelum pernikahan kukira aku takkan melakukan apapun. Rencananya mau tidur seharian sampai puas. Gara-gara semalaman dikerjai kak Rey dengan masakan yang amat sangat beracun. Hampir tiap menit bolak balik ke kamar mandi sampai dehidrasi. Dendamku masih membara untuk yang satu ini. Untungnya hari ini aku takkan bertemu dengannya. Hidupku bebas. Untuk masalah ini aku memang harus banyak berterima kasih kepada Papa.
Ngomong-ngomong soal Papa, aku sudah berbaikan dan memaafkannya. Hanya karena mereka memiliki wajah yang sama, bukan berarti aku akan menerima dia sebagai Mamaku. Itulah kesalahan terbesar Papa. Untunglah, Papa sudah bisa berpikir jernih, kembali ke jalan yang seharusnya dan mulai membuka hatinya untuk bibi Fang. Seperti peribahasa kejatuhan durian runtuh. Dapet Mama dapet kakak juga. Lengkap sudah.
BRAKKKKK...... PYARRRRRRR..... Jendela kamar pecah seperti biasa. Siapa lagi kalau bukan dia.
DUGGGGGG......
"Arghhhhhh..... Jangan lagi lagi..... Siapa yang berani memecahkan jendela dan mengganggu tidurku" teriakku marah disela kantukku. Untuk membuka mata saja beratnya minta ampun malah kedatangan perusuh.
"Halllo Lili, Dasar tukang tidur. Jam berapa woyyyy...." teriak suara yang sangat amat paling tidak kuharap kedatangannya. Siapa lagi kalau bukan kak Richie.
"Ahhhh.... kak bisakah kau bertamu kerumah orang lewat pintu depan??? Bereskan sendiri kekacauan yang kau buat. Jangan ganggu tidurku!!!" kataku segera menarik selimut dan menutup rapat-rapat telingaku dengan bantal.
"Astaga, ini anak. Woiyyyyy.... bangun!!!! Banyak hal yang harus kau kerjakan hari ini. Cepat bangun!!! Liliana...." teriak kak Richie seperti monster menarik beberapa kali selimut yang menutupi tubuhku.
"Haaaahhhh..... Kak Richie bisakah kau mencari mangsa lain. Yang aku butuhkan saat ini cuma tidur..." kataku lesu membanting tubuhku ketempat tidur sekali lagi.
BUGGGGGG.....
"Dasar Richie.... hyaa begitukah caramu membangunkan adik bungsu. Sampai ntar sore pun anak ini nggak akan bangun. Lihatlah caraku" satu perusuh lagi datang. Entah kenapa ingin tidur dengan damaipun rasanya susah.
"Lili... lihatlah... Aku membawakanmu benda yang pastinya kau suka. Hyaa... apa kau tak mau???" teriak kak Kitty menggoyangkan tubuhku berulang kali.
"Haaahhhh.... kakak.... hiks hiks biarkan aku tidur" rengekku kembali menarik selimut.
"Adik bungsu.... bangunlah.... Lihatlah ini!!! Aku membawakanmu hadiah pernikahan. Senapan Cornershot. Senapan paling canggih yang bisa melepaskan tembakan dari sudut siku tanpa terlihat lawan yang ada disisi lain. Bukan hanya itu saja, adik bungsu senapan ini juga bisa kau fungsikan sebagai senjata otomatis, peluncur granat, bahkan kau bisa memisahnya menjadi unit pistol semi-otomatis. Aku sudah mengurus surat kepemilikan atas namamu juga. Lili.... bangunlah.... Oh ya ada satu lagi manfaatnya, jika kau bosan dengan suamimu kau bisa juga menembaknya dengan pistol ini ha ha ha.... " kata kak Kitty sengaja.
"Mana??? Biar kulihat, awas kalau sampai bohong" kataku dengan malas terpaksa bangun. Kubuka kotak hitam wadah senapan itu. Seketika rasa kantukku hilang.
"Woahhhh... seleramu sungguh bagus kak. Aku menyukainya. Ku akui kau sangat cerdas kali ini kak Kitty. Kau sungguh tau seleraku" jawabku senang melihat setiap detail senapan yang dihadiahkan untukku.
"Bagaimana kakak bisa tau aku menginginkannya???" tanyaku heran.
"Tentu saja. Coba tebak" katanya seperti biasa penuh teka teki.
"Kakak bertukar info dengan kak Long benar kan???" tanyaku balik.
"Heemmmm... seseorang yang sangat tampan dan baik hati yang memberitahuku" jawabnya ambigu.
"Lihatlah matamu sungguh berbinar kak, siapa lagi coba kalau bukan kak Long. Hati-hati ada yang panas" ejekku menatap kak Ichie.
"Kenapa kau harus menatapku. Long Yi Yan bagiku hanya masa lalu. Awas saja jika kau kait-kaitkan" ancam kak Ichie langsung membuang muka.
"Intinya, Aku mendapatkan ini dengan susah payah jadi kau harus menurut padaku sekarang. Simpan itu baik-baik. Dasar gadis aneh. Bagaimana bisa kau mengoleksi berbagai jenis senjata api. Dimana-mana cewek tu biasanya ngoleksi baju, sepatu, tas kosmetik. Ini, kalau nggak baju zirah, senjata api, granat apalagi coba. Apa kau tak takut rumahmu meledak. Apa si Reynan tahu dengan kegilaanmu ini???" tanya kak Kitty panjang lebar.
"Untuk apa dia tahu. Bisa disita semua barang koleksiku. Apalagi kalau lihat wataknya sekarang. Seram, galak, bossy, otoriter, mau menang sendiri, cemburuan dan yang jelas tak ada kata no cuma boleh bilang yes. Harus jadi anak penurut. Sangat sangat berubah drastis. Malahan ni ya, dia berharap aku jadi wanita yang anggun, lembut dan sopan. Membayangkan saja sudah membuatku frustasi hehh...." Jelasku dengan nafas berat lumayan kesal jika harus mengingat setiap ancamannya.
"Hyaa, kau berani bergosip dibelakangnya. Rey itu kan calon suamimu. Awas kau bisa kualat" ejek kak Ichie mencoba menjadi baik. Kamipun saling tatap dan tertawa.
"Ha ha ha...." tawa kami mendengar penuturan kak Ichie.
"Sudah sudah. Hey Adik bungsu, apa kau yakin menikah dengannya??? Apa kau tak apa kehilangan masa remajamu. Kau baru saja menginjak usia 17 tahun tapi kau malah memilih menikah daripada bersenang-senang. Apa kau yakin???" tanya kak Kitty cemas.
"Kalau itu sih yakin tapi sekarang aku sedikit ragu dengan calon suamiku. Boleh ganti dengan yang lain???" gurauku.
"Sudah mulai gila ni anak. Emang dikira barang bisa Gonta ganti kalau nggak tukar tambah. Ckckck......" jawab kak Kitty tak percaya.
"Lili, dengarkan. Aku saja yang sudah hampir kepala tiga membayangkan untuk menikah saja harus berpikir ulang. Kau yang masih kecil hehhh.. berani sekali. Apa kau tak takut Reynan akan menyiksamu dimalam pertama??? masih mau kau lanjutkan???" ejek kak Richie seperti biasa dengan senyum sinis dan kata pedasnya.
"Tenang saja jangan khawatirkan aku. Dengarkan aku baik-baik. Sini... Apa kalian pikir dia bisa menindasku seenaknya he he he...." tawaku mengejek berbisik dengan kedua Kakak angkatku.
"Hyaaa... apa yang kau rencanakan???" teriak kak Kitty histeris.
"Hehhh... sudah kuduga. Habislah si Rey.... ckckck...." kata kak Ichie menggelengkan kepalanya dan menatapku.
Ceklekk..... pintu kamar terbuka.
"Kalian ternyata berkumpul disini. Turunlah sarapan sudah siap. Kebiasaan kakak adik yang sangat aneh. Richie ini pasti kelakuanmu. Jangan lupa kau harus mentransfer biaya perbaikan jendela. Oh ya... Bibi lupa memberitahumu kalau Reynan menunggumu dibawah... Aku beritahu kalau kalian bergosip sebaiknya kecilkan suaramu, lihatlah ada yang marah ha ha ha...." kata bibi Fang membuat kami kaget setengah mati.
"Mampuslah kau Lili.... Aku turun duluan" kata kak Ichie langsung melarikan diri.
"Adik bungsu, lebih baik kau segera mandi dan segera turun. Minta maaflah sebelum terlambat. Semoga beruntung, Fighting!!!" ucap kak Kitty meninggalkanku juga.
"Tamatlah... tamatlah kau Sherin.... Astaga... kenapa dia tak bisa melepaskanku sehari saja. Oh Tuhan.... selamatkan aku..... Tidak tidak.... apa tadi kak Rey beneran mendengarnya atau apa cuma akal-akalan bibi Fang saja. Arghhhh....." teriakku frustasi mengacak-acak rambutku.
"Sherinnn.... cepat turun...." teriak bibi Fang mungkin sedang tersenyum penuh kemenangan.
"Iya 10 menit lagi, kalian makanlah dulu" teriakku keras seperti penghuni hutan.
"Arghhhhhhhhh.... tunggu... aku kan tidak bersalah. Yang kubicarakan tadi kan semua sesuai fakta. Apa yang perlu kutakutkan" kataku mencoba menenangkan diri dan yakin.
"Sayank... kubawakan sarapan untukmu. Bukalah pintunya!!!" ucap kak Rey sontak membuatku melompat kaget.
"Ahh... gawat gawat dia datang... Sherinnn kenapa kau seperti orang bingung.... ayolah dia takkan membunuhmu" kataku tak yakin bisa lepas darinya kali ini.
"Kakak nanti aku turun. Tak perlu repot-repot.... he he he eh..." jawabku masih mondar mandir tak jelas dalam kamar yang sudah kukunci rapat.
"Senapan Cornershotku. Dia tak boleh melihatnya. Sembunyikan... Sherin cepat sembunyikan...." ucapku gugup entah kenapa terasa seperti penjahat yang takut tertangkap.
"Mong Mong bukalah aku takkan memarahimu. Sayank...." kata kak Rey terdengar begitu lembut tapi kenapa malah membuatku terancam.
"Sebentar lima menit, kalau tidak tinggalkan saja sarapannya didepan pintu. Kak aku mau mandi dulu" kataku mencari alasan yang tepat. Segera saja aku berlari ke kamar mandi tanpa menghiraukannya. Entah masih menunggu didepan pintu atau sudah turun kebawah lagi.
"Sherin Sherinn kenapa kau tak bisa menjaga mulutmu. Kenapa kau harus menjadi tukang gosip. Arghhhh.... Apa yang akan dia lakukan??? Mungkinkah aku akan dibunuhnya??? walah walah.... Sekarang mandi saja dulu. Mungkin otakku bisa normal lagi" gumamku sendiri. Entah bagaimana nasibku nanti.
BYURRRR BYURRR.... BYURRRR....
"Ahhh segarnya.... Sherin semangat!!!" ucapku penuh semangat.
KREEEEEKKKK..... pintu kamar mandi terbuka.
"Sudah mandinya???" tanya kak Rey mengagetkanku.
"Bagaimana dia masuk ke kamar. Astaga apa dia sengaja menjebol pintu kamarku. Tapi tak ada yang rusak. Jadi apa dia punya serep kunci kamarku hah......" gumamku dalam hati tak percaya. Bahaya mengintaiku.
"Astaga kakak kau mengagetkanku.... Hehhhh.... Kak... ke..kenapa bisa ada dikamarku???" tanyaku tergagap masih diam mematung menepuk dadaku berkali-kali sambil memandang kak Rey yang dengan santainya duduk ditempat tidurku dengan tatapan menyelidik. Untungnya aku sudah berpakaian lengkap di kamar mandi.
"Kenapa apa tak boleh??? Kenapa kau ketakutan??? Kau melakukan kesalahan" tanyanya beruntun berjalan mendekat kearahku lalu berbisik. Aura yang sangat dingin dan mematikan.
"Tidak... sama sekali aku tidak takut. Kenapa kau berpikiran seperti itu he he he..." jawabku melangkah mundur.
"Kakimu gemetaran sayank, apa perlu bantuanku???" tanyanya lagi membuatku terpojok.
"Ahhhhh.... Kakak kenapa kau bisa masuk. Bukankah pintunya sudah kukunci dan kenapa kau kemari lagi bukannya sama Tante kita nggak boleh ketemu. Cukup jangan mendekat...." tanyaku bertubi-tubi tak sengaja mendorongnya dan menjauh.
"Sambutan yang begitu hangat...." ucap kak Rey dengan senyum menyeringai.
"Tunggu.... Kenapa kakak begitu horor...." ucapku tanpa sadar.
"Jadi kau takut??? Bukankah sudah kubilang untuk menjaga Tutur katamu" katanya mengingatkan dengan tatapan dingin.
BRUKKK... seketika aku berlutut menyesal.
"Sial.... adegan ini seharusnya cuma ada di drama kenapa aku harus melakukannya" umpatku.
"Maaf kak.... Maaf.... aku menyesal... sungguh benar benar minta maaf.... Kakak...." kataku tertunduk tapi dalam hati mengumpat.
"Jadi kau sudah tau salahmu???" tanyanya segera kujawab dengan anggukan.
"Katakan"
"Maaf karena telah mengumpatmu dan berbicara buruk di belakangmu" Jelasku masih tertunduk.
"Lalu..."
"Lalu.... tak ada lagi. Beneran cuma itu saja" kataku sambil mengingat-ingat.
"Apa kau mau mengganti suamimu???" tanyanya membuatku membelalakkan mata.
"Bagaimana dia bisa dengar??? Astaga apa dia punya indera keenam atau telinga kelinci" batinku menerka.
"Ha ha ha Kakak itu cuma bercanda seriusan bercanda..." jawabku gugup berkali-kali memutar bola mata.
"Berdirilah sayank sudah kubilang aku takkan memarahimu. Kemarilah, duduk disampingku" pintanya melunak bahkan tatapannya sangat meneduhkan kali ini.
Aku segera bangkit dan duduk disampingnya.
"Mong Mong... jika kau punya unek unek katakanlah sekarang, aku takkan marah. Semua ini memang berat untukmu. Usiamu juga masih sangat muda. Aku mengerti keraguan dan ketakutanmu. Apapun itu katakanlah sayank" ucap kak Rey tak kusangka bisa sangat mengerti perasaanku.
"Ehmm... ehmm... Kakak yakin tak marah sekalipun kali ini aku mengumpat kasar he he he..." kataku pelan tersenyum kecil.
"Hanya kali ini. Tapi mulai besok setelah jadi istriku kau tak boleh mengumpat kepadaku ataupun orang lain lagi. Apa kau tau, setelah ijab qobul dan kau sah menjadi istriku, semua yang kau lakukan baik ataupun buruk semua menjadi tanggung jawabku bukan lagi kedua orang tuamu. Akulah pemimpinmu yang akan menanggung semuanya kelak. Sayank bisakan kau membantu meringankan bebanku???" tanyanya penuh harap mengelus kepalaku sangat sangat lembut.
Semua yang dikatakannya benar. Tanggung jawab yang dipikul berpindah kepadanya. Aku tak mau menyusahkannya baik urusan dunia dan akhirat. Aku hanya harus jadi istri yang patuh.
"Apa ada yang masih mengganjal dalam hatimu???" tanyanya sekali lagi.
"Iya ada. Sepertinya aku tak cocok menjadi istri tentara" kataku membuatnya menatapku tajam.
"Maksudmu kau mau membatalkan pernikahan ini??? Mong, kau tau aku sudah merencanakan ini jauh sebelum melamarmu waktu itu bahkan aku sudah mengurus berkas tanpa kau tahu atas persetujuan ayahmu. Berikan aku alasannya" katanya begitu marah.
"Bukan bukan seperti itu. Aku tak ada niat membatalkan pernikahan ini. Tapi Kakak kau tau aku mencintaimu sejak dulu. Bukan karena profesi ataupun jabatanmu. Tapi setelah proses yang kulalui menjadi calon istri tentara waktu itu sangatlah berat. Apa kau ingat waktu kita mengurus berkas. Hanya berkas saja rumitnya minta ampun padahal Kau sudah mengurusnya sendiri terlebih dulu. Sampai harus bolak balik kayak komedi putarpun kau tak mengeluh tapi hatiku sangat amat mengeluh. Pusingnya Astaga ini mau menikah atau mau perang saham pikirku waktu itu. Trus ada lagi yang membuatku kesal, Mau menikah saja harus pakai surat izin menikah yang ditandatangani komandanmu padahal Ayahku dan Om Gunanto saja tak perlu minta tanda tangan" kataku kesal sebenarnya orang tuanya siapa.
"Ha ha ha dasar gadis bodoh jadi kau kesal gara-gara ini. Bukankah aku yang mengurusnya kau kan tak repot. Lagian komandan itu adalah orang tuaku di kesatuan. Sudah tentu harus minta izinnya" jelasnya sebenarnya sudah tau tapi hatiku masih saja kesal.
__ADS_1
"Kalau kau orang biasa kita tak perlu mengurus surat sampul D, dokumen N 1, N 2, N 4, SKCK, dan surat lainnya bahkan fotopun harus pakai pakaian PDH dan Persit. Okelah yang itu masih bisa kuterima. Tapi masih ada yang lain kayak pemeriksaan litsus, pemeriksaan kesehatan apalagi test keperawanan, pembinaan mental ahhhh semuanya membuatku frustasi. Kau tau bagaimana para atasanmu menanyakan bahkan kesannya mengejekku. Rasanya waktu itu juga mau kuledakkan tempat itu. Apalagi kalau mereka tanya tujuanku menikah padahal Kau tau waktu itu umurku baru 17 tahun lebih sedikit. Bagaimana mereka mengolok-olokku. Mungkin akulah wanita termuda yang menikah dikalangan calon istri tentara. Apa kau lihat saat diruang tunggu, mata mereka memandangku seolah aku kegatelan, kecil kecil sudah kebelet nikah, padahal kan aku sudah memintamu mundur lima tahun tapi kau terus saja menolak. Lihatlah apa besok masih ada yang mengejekku lagi...." jelasku tanpa henti mengeluarkan semua unek unekku.
"Sudah sudah kan semua sudah berlalu. Ha ha ha... gadis ini. Kalau sifat kekanakannya keluar ampun ampun... ha ha ha" kata kak Rey bukan menenangkan malah tertawa senang.
"Kak aku belum selesai" kataku menginterupsi.
"He he he.. baiklah katakan apa ada lagi???" tanyanya masih senyam senyum.
"Ada banyak. Kau tau kan jika aku menikah denganmu maka mau tak mau harus menjadi bagian dari ibu Persit. Pasti banyak kegiatan, belum lagi kalau ketemu. Iya kalau ketemu nggak dijaili kalau mak Mak dah kepo plus rempong apa nggak ni telinga harus kebal. Kakak kan tau sendiri kalau aku orangnya nggak bisa ditindas trus ntar kalau aku jaili mereka gantian kan kakak juga yang kena. Belum lagi besok acara di gedung bukannya ada tradisi pedang pora. Lah aku aja pakai kebaya apa gaun girly nggak suka ni malah ditambah pake heels dan jalannya ampun dah pelan Amir trus gimana nasibku. Boleh nggak sih nikah di KUA aja trus selesai ya ya...." pintaku sembari menarik ujung tepian kemejanya.
"Anak ini keluhannya banyak banget. Ha ha ha.... Sayank bisakan berkorban satu hari aja jadi wanita yang anggun cukup sehari aja oke" ucapannya tak sesuai dengan yang tadi. Percuma dong ngomel-ngomel nggak jelas ujung-ujungnya ngalah lagi.
"Sherin Sherin terimalah nasibmu hiks...." gumamku sebal sendiri.
"Kok diem, udahan ngomelnya, apa masih ada lagi???" tanyanya masih bisa tersenyum disaat emosiku ke level 1000.
"Nggak ada" kataku singkat berjalan keluar mencari udara segar.
"Mong Mong mau kemana???" tanyanya sembari mengejarku.
"Apaan sih kepo banget. Jauh jauh... Sana pulang jangan dekat-dekat lagi bisa-bisa naik darah akunya" kataku masih kesal.
"Darah tinggi kali... Naik darah ha ha ha" ejeknya.
"Tunggu... Apa apaan ini, kenapa jadi banyak orang dirumah???" ucapku heran segera menghentikan langkah kakiku.
"Papamu, bibi Fang dan mbok Darmi yang mengatur semua ini. Wajar kan sayank??? Namanya orang punya hajat masak sepi kayak kuburan. Kan nggak lucu he he he" jelas kak Rey membuatku malas turun. Kenapa juga harus ribet segala. Astaga apa orang menikah harus seperti ini.
"Mau kemana lagi??" tanya kak Rey masih tersenyum semaunya.
"Jangan ngikutin...."
"Ngambek ya??? kalau ngambek gini rasanya pengen nabok pake bibir dah he he he" ejek kak Rey membuat darahku mendidih.
"Sayank.... Jangan cemberut dong. Ayolah semuanya kan sudah berlalu masak ngambeknya sekarang sih???" rayunya sangat biasa.
"Kakak apa kamu lagi nggak punya kerjaan ya???" tanyaku dengan nada kesal.
"Punya. Kerjaanku ngikutin kemanapun kamu pergi Tuan putriku" jawabnya semakin tak tau malu.
"Nggak lucu"
"Terserah yang penting aku padamu sayank" godanya lebih parah.
"Sherin kemari!!!" teriak bibi udah kayak maknya Tarzan aja main teriak.
"Tuan putri mari kuantarkan" goda kak Rey lagi dan lagi. Segera saja aku turun tanpa mempedulikannya.
"Ada apa bi???" tanyaku bingung melihat bejana yang terbuat dari tanah liat berisi air kembang yang berwarna warni.
"Mandi kembang sayank, biar wangi he he he" sahut kak Rey tanpa dikomando.
"Tuh udah dijawab calonmu. Cepat sini, biar bibi yang menyiramimu biar tambah berakar dan bercabang ha ha ha" jawab bibi Fang asal.
"Lili udah sana, kenapa malah melotot tu mata. Kurang kembangnya, mau ditambahin biar wanginya nggak hilang tujuh hari tujuh malam Kwikikwikkkkiii" ejek kak Richie tertawa puas.
"Rey, kamu ngapain masih disini. Udah sana pulang" omel Papa dengan nada khasnya.
"Syukurin..." ejekku pelan.
"Sayank aku pulang dulu... ingat nanti malam aku kembali kesini. Tunggu aku" katanya sangat yakin.
"Rey, kau kemari bukan untuk ketemu Sherin tapi ketemu Om tau tidak. Dasar..." keluh Papa kesal. Kak Rey ngeloyor pergi gitu aja. Tapi sesekali menoleh menatapku hanya untuk memberikan ciuman jauh dan melempar hatinya seperti anak alay.
"Astaga. lihatlah kelakuannya. Nggak anak nggak mantu semua aneh bin ajaib. Astaghfirullah....." ucap Papa berkali-kali nyebut.
"Ha ha ha Om kau harus extra sabar. Gimana ntar jadinya cucumu Om jika mewarisi sifat emak bapaknya kayak gitu ha ha ha" kata kak Ichie nggak sadar main ceplas ceplos aja.
"Angga, bentar lagi prosesinya akan dimulai sana ganti kostum. Lihatlah kau sendiri saja juga aneh masih ngatain orang ckckck" sahut bibi Fang tak menyangka menjadi bagian keluarga unik.
"Sherin ganti bajumu dengan kebaya itu" perintah bibi memberikanku kebaya tertutup plus hijabnya. Di baki terpisah ada rangkaian melati yang dibuat sedemikian rupa membentuk anyaman baju ala pengantin.
"Bibi kenapa kau melakukan ini padaku???" rengekku.
"Sudah sudah ganti sana" perintah bibi menarikku ke kamar ganti.
Hampir lima belas menit hanya untuk mengenakan kebaya tradisional ini. Sangat ketat dan susah buat jalan.
Dalam semalam rumah nenek dipenuhi dekorasi khas pernikahan. Prosesi pertama tak lain dan tak bukan prosesi pasang Tarub, bleketepe, dan tuwuhan yang dilakukan oleh Papa. Tak kusangka Papa melakukan ini semua.
"Sherin proses lanjutnya sungkeman. Kau tau kan??" kata bibi menuntunku ke ruang yang sudah disiapkan. Sudah ada Papa yang duduk disana kemudian disusul bibi Fang. Aku sengaja didudukkan dilantai.
"Main ala keratonan.... Sherinnn kau abdi dalem.... patuhlah...." batinku.
Kukedipkan mataku berkali-kali mencari tau apa yang harus kulakukan.
"Hallo juga anak Papa, Sekarang kamu apa nak????" tanya Papa dengan senyum liciknya.
"Minta maaf Lili...." sahut kak long tiba-tiba datang ntah dari mana.
"Pah sherin minta maaf kalau banyak salah. Sudah tak ada dusta diantara kita bukan. Jadi mulai sekarang kosong kosong. Kapan kapan buat dosa lagi he he he... Pah apa Papa mau menangis???" tanyaku kebingungan kenapa Papa harus menangis.
"Ember mana ember, kak... Papaku mau menangis takutnya banjir ha ha ha" godaku tanpa tahu apa-apa.
"Om anakmu sangat unik. Bukankah seharusnya moment paling terharu ya ini kok malah ha ha ha" kata kak Long malah tertawa terbahak-bahak.
"Sherin anakku, bukan begitu caranya sungkeman. Mendekatlah...." Kata Papa Tumben sangat halus. Akupun mendekat.
"Nak mulai besok kamu sudah ada yang menjaga, melindungi. Bukan lagi Papa tapi imammu sendiri. Jadi istri yang baik, jangan bandel lagi. Nurut sama suami. Jangan buat dia darah tinggi ya hiks...." pesan Papa.
"Papa nggak perlu cemas, Sherin nggak bandel lagi kok kalaupun iya berarti khilaf. Sherin nggak bakalan buat kak Rey darah tinggi, Papa tenang aja palingan hanya buat spot jantung he he he" kataku jujur apa adanya.
Takkkkk.... Papa menyentil kepalaku.
"Pah Kau berbuat dosa lagi loh, hayo Papa harus minta maaf sama Sherin" kataku menatap Papa. Bibi Fang dan lainnya hanya tertawa.
"Anak ini.... hahhhh..... Baiklah Papa minta maaf nak... Papa khilaf" kata papa menghela nafas panjang.
"Oke Pah tenang aja Sherin maafin. Oh ya lupa Papa mau ngasih hadiah apa nih???" tanyaku berbisik pelan.
"Sini... Dekatkan telingamu... Hadiahmu adalah doa restu nak...." kata Papa berbisik.
"Sini Pah, Kalau itu Nggak nanya.... ha ha ha..." jawabku gantian.
Sekarang giliran sungkeman sama bibi Fang yang sudah kuanggap sebagai mamaku.
"Hallo bibi...." sapaku tersenyum lebar.
"Hallo sayang.... Kamu mau ngapain???" tanya bibi dengan gaya khasnya.
"Bi jika selama ini Sherin punya salah Sherin pohon maaf sama bibi" kataku pelan.
"Sayang kamu nggak ada salah sama bibi jadi bibi pohon jangan lagi mengerjai bibi" jawab bibi tak mau kalah.
"Bi pohon jaga Papa jangan nakalin dia tapi hajarin saja" kataku balik.
"Sherin anak baik pohon jangan minta aneh aneh lagi ya karena bibi tak kuasa menjadi orang yang lebih aneh lagi"
"Ha ha ha...." tawa kami bersama.
"Astaga gue sampai tepuk jidat lihat nyokap lu sama adik lu Long ckckck....." kata kak Ichie heran.
"Baiklah sekarang acaranya mandiin Sherin, siapa yang punya dendam boleh tuh nyiram dia pake air kembang" kata bibi udah mulai cari gara-gara.
"Fang Yue...." Papa geram.
"Darling... emmm" jawab bibi Fang sangat manja. Sejak kapan mereka bisa sedekat itu.
"Cuit cuit..... Kwek Kwek Kwek... Ada Pete dibalik udang nih" ejekku melihat kearah Papa dan bibi.
"Sudah sudah sherin bangun cepetan" pinta Papa dengan muka merona.
"Bibi jangan liatin Papa terus, bantuin berdiri napa" teriakku kesal berkali-kali hampir jatuh karena ketatnya nih kebaya.
"Ayo bibi bantu.... Cepetan kamu berat amat sih...." kata bibi menarik tanganku.
"Ma Minggir, biar Long aja" kata kak Long tiba-tiba menggendongku dengan sangat lembut.
"Sherin kamu cantik hari ini. Kakak berharap kamu akan bahagia dengannya. Jangan bersedih lagi. Cukup sudah penderitaanmu. Maaf selama ini belum bisa jadi kakak yang baik buatmu" kata kak Long membuatku tersentuh. Dengan lembut kakak mendudukkanku di tempat siraman.
"Kakak berbahagialah dengan kak Kitty" kataku sangat sangat penuh harap.
"Baiklah saatnya kamu mandi Sherin....Taraaaaa" kata bibi tanpa basa basi memakaikan baju yang terbuat dari anyaman bunga melati. dan ada tujuh ember besar air kembang.
"Tunggu bi hanya tujuh siraman kan??? Bukan tujuh ember itu???" tanyaku mulai khawatir sepertinya mereka punya rencana berbeda.
"Tenang saja..." Kata bibi tersenyum licik.
"Darling.... Kau yang pertama" kata bibi Fang tersenyum manis.
"Nak bersiaplah.... Byurrrr....." kata papa bukan pake gayung tapi seember embernya disiramkan ke tubuhku.
BERRRR....
"Dinginnya.... Papa.... Kau kejam...." teriakku kesal.
__ADS_1
"Giliranku.... ha ha ha bersiaplah sayang.... Byurrrr......"
"Bibi.... Ahhh dinginnya..."
"Long giliranmu..."
"Maaf ya adik kecil...."
"Kak Long jangan.... jangan.... Byurrrr......"
"Hyaaa.... ini bukan sesuai prosedur...."
"Sherin sekarang giliranku bersiaplah..... BYURRRR......" ucap kak Richie langsung menyiramku tanpa jeda.
"Hupppp.... mmmm.... Tunggu biarkan aku bernafas...."
"Ha ha ha... sangat mengasyikkan.... Bibi mau lagi dong" kata kak Richie senang.
"Kak Ichie.... awas kau" teriakku marah.
"Kitty giliranmu....." kata bibi Fang tersenyum lebar.
"Adik bungsu tahan ya....."
"Kakak.... Jangannnnn..... Byurrrr......"
"Opps maaf Liliana...."
Begitulah tujuh ember sampai habis semua. Bukan wangi tapi Wuanginan kalau gini... Udah kayak bebek kecebur kali wek wek wek wek........
HACHIIII.....
Tak kusangka kalau acaranya begitu banyak dan menyiksa. Dan Masih ada prosesi lainnya.
"Aku mau tidur..... Cukup.... tak sanggup lagi.... siapapun tolong......" jeritku tak percaya hariku lebih buruk dari kemarin.
Akupun mengganti baju dan memakai selimut tebal gara-gara ulah mereka.
"Lili, kau tak apa???" tanya kak Kitty penuh perhatian setelah dia menyiksaku dengan seember penuh air kembang.
"HACHIIII... hemmm tak apa. Kakak kesanalah. Aku mau tidur.... hiks hiks hiks" jawabku.
"Baiklah. Istirahatlah. Aku turun dulu ya!!" kata kak Kitty berjalan keluar dan menutup pintu pelan.
HACHIIII..... HACHIIII.... Kutarik selimut dan membenamkan tubuhku dalam dalam.
"Hangatnya...." kataku merasa nyaman.
"Benar sangat hangat....." suara yang sangat familiar sekali lagi mengagetkanku. Kubalikkan badan kearah kiri. Betapa terkejutnya.
"Kak Rey.... Kau sudah gila..." teriakku berusaha menjauh.
"Sayank kau mengumpat diriku lagi???" ucapnya dengan senyum menyeringai.
"Ohh tidak tidak... Kakak kenapa kau kemari, bukankah kau sudah disuruh pulang sama Papa. Dan kenapa kau berani tidur disampingku" tanyaku sangat heran dengan kelakuannya.
"Sayank sini... bobo bareng..." pintanya dengan senyum anehnya. Seperti pernah mengalami adegan ini sebelumnya.
"Kakak...." teriakku menepi sejauh-jauhnya.
"Apa sayank... Jangan usir aku. Aku sungguh tak bisa berpisah darimu. Kau membuatku selalu merindukanmu. Sayank hari ini kau sangat cantik" ucapnya tanpa rasa malu.
"Kakak... Kau mau dihajar..."
"Kalau kau yang menghajarku aku sungguh sangat rela sayank.... Kemarilah...." tiba-tiba tangannya menarikku hingga jatuh terduduk.
"Kau tau sayank, aku tak pernah sebahagia dan sesedih ini bersamaan. Aku ingin Hanya ada kau dan aku. Seperti sandal jepit. Hanya ada sepasang tanpa ada yang ketiga" ucapnya mulai melantur.
"Kakak apa kau sakit??? Kenapa bicaramu aneh??" tanyaku menatapnya tetapi tak ada yang aneh darinya kecuali otaknya.
"Apa kepalanya terbentur???" pikirku.
"Aku sakit hati,,, Disini rasanya seperti kau menghujam jantungku berkali-kali. Harusnya hanya aku yang boleh menggendongmu tapi tadi...." kata kak Rey menarik tanganku menyentuh dadanya.
"Kakak kau melihatnya??? Bukan seperti bayanganmu... Disana ada banyak orang.... aku tak mengkhianatimu.... beneran... Jadi kakak kesini karena marah gara-gara kak Long menggendongku??? Kakak.... maaf..." jelasku tak mau ada salah paham.
"Iya aku cemburu. Sangat cemburu.... Mong bisakah kau tak dekat dengan laki-laki lain. Hatiku bagai teriris sembilu" jawabnya sangat berbeda.
"He he he.... Baiklah...." jawabku mengerti.
"Sayank tatapanmu sangatlah sederhana tapi dapat mengalihkan dunia"
"Beginikah kalau dia mulai cemburu ha ha ha bagaimana aku harus mengatasinya..... Apa aku harus mengikuti permainannya"
"Kakak... saat bertemu denganmu jantungku serasa berhenti berdetak, tapi kenapa nggak mati mati ya???"
Takkk... dia memukul kepalaku.
"Husss... aku tak mengizinkanmu mati karena merindukanku karena aku akan selalu ada disampingmu...."
"Ha ha ha... cukup.... cukup.... kau terlalu gombal ha ha ha" ejekku tertawa.
"Sayank apa bedanya kamu sama cabe???" Kak Rey mulai menggila lagi.
"Ha ha ha Kakak bukannya sudah jelas aku manusia kalau cabe kan taneman" jawabku.
"Bukan sayank, kalau cabe pedasnya hanya sampai dibibir tapi kalau kamu pedasnya sampai kehati"
"Hueekkkkk ha ha ha.... Ampun......"
"Sayank karena kau menyakiti hatiku kau harus mendengarkan untaian kata yang terucap dari bibirku untuk hukumanmu..."
"Astaga bakalan lama nih nggak kelar kelar...."
"Sayank, kamu tau nggak madu sama racun itu rasanya sama" kataku memberi pesan moral.
"Kok bisa sama sayank, bukannya madu itu mengobati kalau racun mematikan" jawab kak Rey penuh penasaran.
"Ya iyalah sama. Karena di madu rasanya sama kayak diracun ha ha ha" jawabku penuh makna tersirat. Aslinya mah nggak mau diselingkuhin.
"Kau mulai nakal.... Yang terbaik tidaklah selalu yang terindah. Tapi aku menemukan yang terbaik dan terindah di dirimu tak mungkin aku akan mendua karena tentara selalu setia"
"Ho ho ho..... Astaga narsisnya mulai kumat. Udah sana pulang...."
"Jangan kau mengusirku sayank, karena biarpun aku terusir pergi, hatiku tetap akan tinggal disini...."
"Astaga Omo Omo Omo ..... Sudah sana pulang..... pulang...." pintaku mendorong tubuhnya pergi tapi tetap aja masih duduk nyaman disampingku.
"Sherinnn kau bicara dengan siapa????" teriak Papa mulai curiga.
"Dengan menantumu om...." jawabnya pelan sengaja menggoda.
"Nggak Sama siapa siapa Pa..."
"Sayank tak baik berbohong karena itu sebuah tossa..."
"Dosa kak Rey... ampun dah.... Ssutttt diam jangan berisik..."
"Sherinn......" panggil Papa sekali lagi.
"Sayank aku rela ditangkap Papamu asal tuduhannya atas pencurian hatimu"
"Oh My God.... Kakak pulanglah minum obat..."
"Sayank kau sungguh perhatian, kau tau obat yang paling kubutuhkan saat ini adalah kamu"
"Mama....."
"Biarpun sekarang kau berteriak memanggil Mama tapi hanya satu yang pasti kau adalah Mama dari anak anakku"
"Hergggg...."
"Sayank...."
"Hnnn..."
"Ada jamu diatas kuku, tawamu sungguh membekas dihatiku"
"Aargghhh.... Kakak sampai kapan kau mau disini menggodaku"
"Sampai aku tak lagi bernafas dalam pelukanmu...."
"Kak Rey....."
"Sayank kau harus selalu pakai wifi agar hati kita selalu terkoneksi...."
"Papa.... ada penyusup...." teriakku memanggil bantuan.
"Cepat keatas...." teriak Papa.
"Kau sungguh tega sayank.... Kaulah yang sudah menyusup ke hatiku.... Rindukan aku.... Muachhh sebanyak apapun untukmu...." ucap kak Rey melempar ciuman jauh dan keluar lewat jendela.
"Papa........"
"Jangan lupa mimpikan aku ditidurmu oke sayank..... mongku....." ucap kak Rey kembali lagi.
__ADS_1
"Papaaaaaaaaaa.............." teriakanku menggelegar.