Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Cemburu Berat


__ADS_3

Sherin Wiryoatmadja


"Sherin!!!" panggil kak Rey Sedetik sebelum aku melarikan diri.


"Benar-benar dah tu Om Om, tau aja aku mau kabur hehhh" gerutuku kesal sambil berjalan menghampirinya dengan malas.


"Iya Om. Apa??" jawabku kesal.


"Om???" tanyanya menyipitkan mata.


"Pakdhe, Pakcik atau Paklik??? Hmmm kayaknya anggak pantes dah. Om Rey...." jawabku seenaknya tersenyum melambaikan tangan padanya seraya mengejek.


TAKKK.... Kak Rey memukul kepalaku keras.


"Aaaaaa awwww.... Hisshhhhhh....." teriakku kesal.


"Kemari, cepat. Antarkan aku kesana, ini perintah!!!" teriaknya memerintah seenaknya lagi.


"Hergggghhhh....." gerutuku sangat marah tapi tetap saja menurutinya.


"Ekspresi macam apa itu??? Dasar bocah!! Kamu hanya boleh melihat oppa ini!!" katanya mengancam dengan menunjuk dirinya sendiri. Satu-satunya lelaki yang boleh kupandang.


"Huhhh dasar Om Om... Jangan marah-marah terus, ntar cepet ubanan tu kepala botaknya" teriakku mengejeknya. Kak Rey berpaling dan melihatku dengan mata penuh dendam.

__ADS_1


"Kalau aku botak kamu yang harus merawat rambutku sampai tumbuh ingat itu!!!" katanya dengan melingkarkan tangannya dileherku sangat kuat. Hampir saja mati tercekik.


"Iya iya.... Huffftttttttt..... Bisa cepat nggak jalannya, bahuku mulai sakit...." kataku kesal.


Dengan kesal dan juga sangat lelah aku berjalan dengan menopang tubuh kekar kak Rey ke ruang perawatan khusus. Segera saja aku meninggalkan kak Rey dengan perawat ganjen itu.


Langkah kakiku terhenti tepat dipintu ruang inap di samping ruang perawatan tadi.


"Oppa....." gumamku tersenyum manja melihat kakak dokter tamvanku ada disana sedang mengecek keadaaan teman-teman kak Rey.


"Sus, tolong dicek lagi pasien sebelah sana dan ingat jangan lepaskan tali itu, mengerti!!" kata dokter tampan itu yang sampai saat ini belum kutahu namanya.


"Baik Dok" jawab perawat itu dengan tegas.


Baru juga memandangi oppa Jong Sukku dari balik pintu yang tak tertutup. Tiba-tiba saja......


Dengan jahatnya kak Rey mendorong pintunya sampai aku jatuh tengkurap dilantai menahan sakit dan lebih parahnya lagi ini muka mau ditaruh dimana? Oh Tuhan, malunya minta ampun. Kupelototi kak Rey penuh dendam.


"Sherin kamu gak pa pa??" tanya dokter tamvanku itu.


Dengan rasa malu seraya menahan sakit aku berusaha bangkit dan tersenyum manis dan cute ke arah dokter itu.


"Gak apa apa kok kak dokter. He he... Biasa ada panda ngamuk" kataku melirik ke arah kak Rey yang masih tersenyum jahat.

__ADS_1


"Rey, Kamu harus banyak istirahat!!! Jangan memaksakan diri terus. Itu badan dipikirin!!! Jangan sok jagoan lagi!!!" kata dokter itu menasehati.


Kutirukan semua omongan dokter itu dari belakangnya dengan bahasa isyarat. Kak Rey hanya bisa melihat dengan kesal.


"Oke oke. Katanya gue suruh istirahat yang banyak, kenapa loe masih disini Al?" kata kak Rey kesal.


"Al.... Tunggu... Kak Aldo... Astaga bagaimana aku melupakan dia.... Sherinnn.... Dia kak Al....." pekikku sangat marah bisa-bisanya melupakan kakak ini.


"Ha ha ha... Kak Al..... Awas, Singanya mulai lapar. Lebih baik cepetan cabut!!! Mau makan di kantin sama Sherin kak??" ajakku menyela pembicaraan mereka dan mengedipkan sebelah mataku memberi isyarat.


"Ide bagus tu Sher. Ayo!!! Selamat beristirahat Rey!!" katanya meninggalkan kak Rey dengan rasa kesal yang sudah overload.


Reynan Gunanto


"Sial, Sherin abis kesambet apaan sih?? Lama-lama gue gibeng dah tu Aldo. Berani beraninya nurutin ajakan Sherin, calon istriku. Arghhhhhh" teriakku mengacak-acak rambutku sangat frustasi.


"Gak bisa dibiarin ni bocah. Lama-lama aku diblacklist dari daftarnya kalau gini. Sherinnnnn....." teriakku membuat keempat temanku terperanjat dan saling menatap.


Kususuri lorong rumah sakit menuju ke kantin. Sengaja mengikuti mereka. Pemandangan yang sungguh membuatku ingin melempar ini infus tepat ke meja Aldo dan Sherin.


"Wah wah wah, kak Rey ternyata wanitamu pandai menggoda laki-laki lain. Bukankah seharusnya dia merawatmu?? Hehhh... inikah wanita yang kau cintai??? Berani beraninya dia menggoda kakakku. Akan kuberi pelajaran dia" kata Rania dengan niat jahatnya. Segera kutarik tangannya menjauhi mereka.


"Jangan pernah kamu berpikir buat nyakitin Sherin!!! Dia adalah aku, dan aku adalah dia. Kamu camkan baik-baik Rania, Mau Sherin dekat siapapun itu terserah dia, kamu nggak ada hak buat ngelarang dia. Dan ingat, Aku dan Sherin pasti akan menikah karena dia dan aku ditakdirkan bersama" kataku geram meninggalkannya dengan wajah kesal.

__ADS_1


Kudekati meja mereka sekali lagi dengan hati-hati agar tak ketahuan.


"Sebenarnya apa yang mereka bicarakan??? Kenapa Sherin sepertinya nyaman dan senang bercengkrama dengan Aldo?? Ahhrrggghh kenapa juga ni kantin berisik banget??" pekikku kesal.


__ADS_2