Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Mulai Misi


__ADS_3

"Hanya itu yang bisa Mong ceritain kak. Lainnya kakak bisa cari tau sendiri. Tapi jangan pernah menarik benang yang sudah terikat dengan kencang karena semakin kau eratkan tarikannya ada kemungkinan itu akan putus".


Seperti kata bunda Iris, "Cinta itu seperti sebuah sulaman. Tidak semua cinta terajut dengan indah. Suatu saat kita mungkin akan kehabisan benang dan harus berhenti ditengah jalan. Mungkin pula ketika tangan ini merajut akan terluka bahkan tertusuk jarumnya. Janganlah menyerah, jika benang habis maka sambunglah, jika terluka maka obatilah dan jangan biarkan terus terluka. Percayalah rasa sakit itu akan menghilang perlahan seperti itulah cinta" ucapku sedikit memberi gambaran. Kuharap dia mengerti lebih.


"Baiklah sayang. Meskipun IQku tak sepadan dengan IQmu tapi aku juga termasuk genius. Tenang dan percayalah. Aku terus mendukungmu dan melindungimu dari belakang" ucap kak Rey memeluk dan mengusap lembut kepalaku.


"Ahhhh So sweet... he he he... Kalau gitu bisa lepas sekarang?" tanyaku ambigu.


"Apanya???" kak Rey masih bingung. Tak kusangka baru tadi dia bilang genius Sedetik kemudian menjadi lola lagi.


"Pelukannya kakak..." jawabku gemas.


"Ahhh... Gak mau lima menit lagi. Aku bisa mati merindukanmu setelah ini. Lima menit oke!!!" pintanya manja seperti anak bayi. Aku sendiri hanya bisa mengiyakan.


Kulihat jam di tanganku. Kali ini, waktuku sangat berharga. Tak ada main main lagi. Banyak nyawa yang dipertaruhkan dalam pertarungan ini. Dia hanya sebagai benteng pertahanan. Tapi jika bentengnya kuhancurkan, bukankah rajanya akan keluar dengan sendirinya??? Aku terus memutar otakku berharap segera tau dalang dibalik semua ini.


Keterkaitan antara kematian bibi, kepulanganku ke indo, kemunculan James, penculikanku yang kukira karena kak Rian yang begitu terobsesi dan perang bisnis yang membabi buta semua saling terkait dan pelakunya sama. Jika dia belum mati maka hidup kami takkan tenang. Tiga tahun, ternyata batas waktu yang dia rencanakan. Begitupun aku, tiga tahun bagiku lebih dari cukup menariknya keluar dari sarangnya.


"Mong Mong apa yang kau pikirkan??? Kenapa terlihat begitu cemas??" tanya kak Rey melepas pelukannya.


"Ha ha Om Tejo, mau tau aja. Yang jelas lagi mikirin kamu" ucapku dengan senyum mengembang untuk menghilangkan kekhawatirannya.


"Kak, 15 menit lagi pak Brojo nyuruh kita kumpul. Aku keluar dulu. Habis ini carilah persembunyian. Kau kan tentara aku yakin teknik penyamaranmu sangat baik. Keluarlah sampai ada seorang wanita blasteran masuk ke kamar ini. Anggaplah ia penggantiku. Kau bisa memeluk dan menciumnya. Good luck, bye!!!" kataku berbisik pelan di telinganya.


"Apa maksudmu Mong, kau sudah gila" teriaknya marah. Aku hanya menjawab dengan isyarat agar dia tak berisik.


Seperti dugaanku Raka tak mungkin diam saja kalau tau aku menghilang cukup lama. Untung aku berhasil memasukkan berbagai macam virus berbahaya kedalam handphonenya.


"Ahhhh.... nikmatnya tidur siang. Tak ada yang menggangguku woammmm..." teriakku keras.


Sementara itu di kamar 1551


"Periksa semuanya!!!" teriak seseorang yang jelas kukenal suaranya.


"Ternyata memang benar dia" ucapku dalam hati.


"Tak ada orang bos. Semua kosong"


"Periksa plafon kamar mandi, cepat!!!" teriak Raka seperti orang gila.


"Sial, aku tak boleh ketahuan kalau tidak rencana Mong pasti berantakan" umpatku sambil memikirkan rencana cadangan.


"Ahhhh.... Qui etes-vous les gars??? (Siapa kalian ; bahasa Perancis). Sortir jerk!!! (keluar brengsek)" teriak seorang wanita blasteran yang sangat marah. Aku sendiri tak tau apa artinya itu. Tapi dari tatapan dan cara bicaranya bisa kupastikan dia tak suka.


"Keluar. Kita salah kamar" teriak Raka dengan tatapan sadis tanpa rasa bersalah berlalu pergi.


BRAKKKKK... pintu tertutup.


"Hey kau!!! sampai kapan kau bersembunyi disitu??" teriaknya mengagetkanku.


"Dia tau aku disini. Dia bisa bahasa Indonesia??" batinku bingung.


"Turunlah!!! Aku masih banyak kerjaan" perintahnya memaksa.


BRUKKK...


"Merci (Terima kasih) karena sudah membantuku" ucapku berterima kasih.


"Pas de probleme (Tak masalah). Pakailah ini dan jangan banyak tanya!!! Aku tak suka orang cerewet" teriaknya galak.


Tak mau badan kekarku terekspose didepan wanita ini aku berlari ke kamar mandi untuk mengganti baju .


"Yang boleh melihat, memegang dan memilikiku hanya Mong Mong seorang" kataku tegas.


"Hey Hyaaa... apa kau perempuan??? kau bisa ganti disini. Aku ingin melihat tubuhmu yang sexy" teriak wanita itu menggoda.


"Tak perlu. Aku tak tertarik menunjukkannya padamu" jawabku tegas.


"Kau... kenapa kita memakai baju couple??? Sial dia mengerjaiku" umpatku segera berbalik ke kamar mandi mencari bajuku tadi. Tapi sudah terlambat, dia membakarnya didepan mataku.


"Heyyy beraninya kau!!!" teriakku mencekik lehernya.


"Aku suka permainan kasarmu" kata yang menjijikkan keluar begitu saja dari mulutnya. Segera ku lepaskan tanganku.


"Jangan macam-macam kau!!" ancamku marah.


"Ha ha ha... ternyata benar kau seperti macan dengan wanita lain tapi imut seperti kelinci didepannya. Ba ha ha ha..." tawanya mengejekku.

__ADS_1


"Dengarkan baik-baik Tuan Rey. Kau harus menjadikanku pacar bohonganmu selama disini. Tak ada penolakan, tak ada protes. Kalau kau mau membantu kekasihmu maka lakukanlah dengan baik. Kau boleh memelukku, mencium bahkan.... aku sangat terbuka demi acting yang sempurna" katanya mencoba merayuku.


"Tak perlu. Aku tak mau melakukannya. Jangan macam-macam kepadaku!!!" tolakku tegas.


"Oke. Kita hanya bergandengan tangan tapi dalam keadaan terdesak kau harus menuruti perintahku. Kau mengerti??? Kenalkan aku Vanya Frederich" ucapnya berusaha mencium pipiku tapi aku berusaha menghindar.


"Why??? Ini hanya salam dari teman. Ini sangat biasa di Perancis. Ohhh Astaga Sherin kau punya lelaki yang unik. Vraiment envie de le manger (Ingin sekali aku memakannya)" umpatnya.


"Kami ini asli Indonesia oke. Kalian dengan budaya barat kalian dan kami dengan budaya timur kami. Tolong hargailah" Jelasku tegas.


"Fine, no problem. Baiklah aku jelaskan rencananya. Kau harus menjadi kekasihku selama disini. Dengan kata lain kau juga harus tidur dikamar yang sudah aku siapkan tentu saja akan ada Sherin disana. Nanti malam dia akan pergi bersamaku menemui Presdir Royal yang penuh misteri. Tapi tak perlu cemas, aku akan melindunginya. Jadi malam ini kau bebas. Ingat jangan mengikuti kami. Actinglah dengan benar, banyak nyawa yang dipertaruhkan, kau mengerti?? gandeng tanganku, kita ke alam bebas, Honey" jelasnya memuakkan tapi mau tak mau aku mengikutinya. Ternyata Diapun menyamar dengan merubah penampilan rambutnya menjadi hitam bukan pirang lagi.


Di Pantai


"Sherin kau gila??? Apa yang kau lakukan??? kemari ombaknya besar!!!" teriak Nia frustasi melihatku berenang ketengah.


"Baiklah. Sekarang saatnya. Ohhbbbb... tolong... kakiku kram... bleb blebbb tolong blebbbbb..." teriakku berharap rencana kali ini berhasil.


"Yank, Sherinnn!!! berenanglah kesana!!! tolong dia!!!" teriak Nia mendorong Rian ke laut.


"Tunggu,,, aku datang!!! Byurrr...." teriak Raka langsung nyebur ke laut.


"Umpanku berhasil!!!" pikirku senang.


"Kau tak pa pa Liliana... Liliana bangunlah!!!" tanya Raka sampai tak sadar memanggil nama Jermanku.


Kamipun berenang ke tepi.


"Sherin.... Sherinnn bangunlah!!! Raka minggirlah!!! Ku bilang Minggir!!!" teriak Nia mengamuk. Dia berusaha memberiku nafas buatan.


"Oh astaga ni anak makan apaan sih baunya huek huek" batinku tersiksa.


"Huks huks huks.... Ni... a" ucapku pura-pura lemah tak berdaya.


"Hahhh syukurlah. Sherin.... Kalau kau mau bunuh diri bilang padaku akan kuracun makananmu. Kau memang gila. Jangan cuma karena pria brengsek itu Kau jadi seperti ini. Tunggu saja kalau kita pulang kita bilang ke Ayahmu biar dia dicincang habis tak bersisa sama bodyguard Papamu kalau perlu kita kasih buat makanan ikan hah hah hah..." teriak dan umpatan Nia benar-benar sadis. Kasian juga kak Rey jadi kambing Hitam lagi.


"Yank, Rey juga adikku. Kenapa kau mengumpatnya didepanku??" protes Rian.


"Diam. Apa kau juga mau dicincang??" teriak Nia sangat galak. Seketika itu Rian terdiam.


"Sudah sudah... cepat naik bis. Kita akan ke pantai selanjutnya. Sherin kau bisa beristirahat dipenginapan sampai lukamu sembuh. Biar pak Rian yang mengantarmu dengan mobil sewaan" kata Bu Lina panitia studytour kali ini.


"Baiklah. Kau memang belahan jiwanya Nia" jawab Bu Lina menggoda.


"Baik Bu. Terima kasih Ka. Maaf merepotkan" kataku tertunduk lemah.


"Jangan dipikirkan istirahatlah. Aku ke bis dulu sudah ditunggu" kata Raka pamit. Aku hanya mengangguk.


Sekitar sepuluh meter kulihat kak Rey menggandeng mesra Vanya. Mataku terus menatapnya lama. Tiba-tiba Raka memukul wajah kak Rey tapi berhasil dihindari. Entah apa yang mereka perdebatkan. Tapi yang jelas Raka tampak kecewa sekali.


Tanpa banyak bicara kak Rian menggendongku ala bridal ke mobil sewaan. Kak Rey menatapku tanpa bisa berbuat apa-apa. Tapi dengan kerlingan mataku aku yakin dia sangat mengerti.


PLAKKKKK...


"Ini dari Sherin karena kamu menyakitinya" teriak Nia menampar keras kak Rey.


"Oh astaga Nia. Kalau kau tau yang sebenarnya??" teriakku frustasi dari lubuk hati terdalam. Dia mengedipkan matanya berbicara seolah tak apa.


"Kalian memang sehati. Suka mengerlingkan mata" ejek Vanya lumayan keras.


Setelah Dua puluh menit akhirnya kami sampai juga dipenginapan.


"Istirahatlah. Jangan banyak bergerak. Dengarkan kata kataku. Aku ini pengganti ibumu" ucap Nia tak mau berhenti.


"Baiklah mami. Aku sayang mami" kataku memeluknya erat dan manja.


"Mam, istirahatlah. Aku bisa sendiri kok. Tenang aku tak akan bunuh diri. Kelihatannya kak Rian agak marah sama kamu loh. Hiburlah dia. Jangan sampai kau putus gara-gara aku" bujukku berusaha mengusirnya secara halus.


"Baiklah. Aku pergi" pamit Nia terpaksa.


"Oke terima kasih Mam. Take care" teriakku bersemangat.


"Keluarlah!!!" pintaku kepada seorang wanita yang posturnya mirip denganku.


"Nona muda. Apa yang harus saya lakukan??" tanya Sareti sedikit pemalu.


"Jangan takut. Kau hanya harus memakai ini dan tidur Disini sampai aku kembali. Jangan khawatir Ayahmu baik baik saja. Aku akan menyelamatkannya. Aku janji" kataku meyakinkan.

__ADS_1


"Baiklah nona. Tapi aku pasti ketahuan. Aku takut"


"Sereti, kau harus berani. Disini kau aman. Banyak teman-temanku yang akan menjagamu. Gunakan topeng kulit ini juga alat perubah suara ini. Kau takkan ketahuan. Dan panggil aku Sherin saja, oke!!" Jelasku memberikan topeng wajah hampir 99% mirip dengan wajahku dan alat perubah suara yang sudah kusetel menyerupai suaraku.


"Tapi.. tapi... aku takut. Aku mau mundur saja" katanya putus asa.


"Sereti Dominique, dengarkan aku. Jika kau mundur maka bukan hanya Ayahmu Professor Dominique saja yang akan terbunuh tapi kita semua akan mati sia sia. Kuatlah!!!" teriakku sedikit memaksa.


"Baiklah Sherin aku percaya padamu. Tolong selamatkan Ayahku hiks hiks" ucapnya menangis. Aku berusaha memeluknya seperti seorang ibu.


"Aku harus pergi sekarang. Aku akan kembali nanti jam 10 malam. Bertahanlah sampai saat itu. Aku percaya padamu" ucapku segera bergegas dengan penyamaran.


15 menit kemudian di hotel Ritz


"Aku sudah dilobi. Katakan berapa nomor kamarmu!! Baiklah tunggu aku" kataku memutus telpon.


Tok tok tok...


"Woahhhh Tu es tres belle, Liliana (kau sangat cantik ; bahasa Perancis)" ucap Vanya tak kalah mengejutkan dengan penyamarannya kali ini.


"Vous supreneze aussi (kau juga mengejutkan)" kamipun saling berpelukan dan cipika cipiki.


Dari sudut sofa dia tak mengenaliku dengan penampilan yang seperti ini. Dengan blazers panjang dipadukan wig rambut panjang berwarna darkblue serta riasan dewasa kurasa ini cukup menipu mereka semua termasuk kak rey. Kulihat dia begitu dingin dan angkuh. Jiwa jailku meronta-ronta melihat mangsa yang begitu menawan.


"Woahhhh.. Ce mec est si beau (Lelaki itu tampan sekali)" godaku berbahasa Perancis.


"Ha ha ha kau bisa saja. Jangan!! dia makanan segar yang sulit kau cerna" jawab Vanya tak kalah mengerjainya. Dia hanya mendecih dan membuang muka.


Semakin merajuk semakin aku ingin mengerjainya lagi.


Aku duduk disampingnya seperti wanita genit.


"Oh My God, baunya benar-benar harum aroma yang menenangkan. Hey tampan kau menggunakan parfume Givenchy ya??? seleramu benar-benar bagus" kataku manja mencoba menyentuh pundaknya tapi dihempaskannya begitu saja.


"Awww ahhhh... Kau suka permainan kasar ternyata" teriakku mengaduh dengan manja.


"Hey nona jangan macam-macam denganku. Dengarkan dan takkan ku ulangi. Aku sudah bertunangan dan kami akan segera menikah" katanya tegas dan lugas.


"Woow woww Vanya, ternyata mangsaku kali ini sangat menarik. Dia sudah bertunangan. Hey tampan, semakin kau menolak semakin aku ingin memilikimu. Kita lihat apa kau benar-benar setia dengannya setelah kau tau siapa aku, darling" godaku sekali lagi dan lagi. Wajah kak Rey benar-benar sudah merah padam berkobarlah api dalam tubuhnya.


"Dasar cewek gila" dia berusaha menghindar dan pindah keruang tengah. Tapi usahanya sia-sia. Aku berhasil menarik tangannya kedalam pelukanku. Cekrekkk...


"Usaha yang bagus Vanya. Kita bisa memberitahu Sherin jika dia macam macam ha ha ha" kataku mengancam dengan manja.


"Sial... aku benar-benar masuk ke perangkap rubah licik seperti kalian. Jangan pernah mengganggu tunanganku atau kalian rasakan akibatnya" ancamnya menarikku dalam pelukannya kasar. Kubalas dengan belaian lembut diwajahnya.


"Tenang saja. Kita berada di kapal yang sama. Darling istirahatlah disini. Tunggulah Sherin pasti datang kemari. Kami harus mencari mangsa yang lain oke... Muachhh" kataku manja memberi ciuman jauh untuknya. Seperti dugaanku dia langsung memalingkan wajahnya.


"Vanya, lets go. Oopppsss jangan lupa kunci pintunya kalau tidak, akan ada rubah licik lain yang akan menggodamu ha ha ha" ejekku puas.


BRAKKKKK... pintu tertutup.


"Vanya sudah kau atur semuanya??"


"Tentu seperti yang kau mau"


"Apa kau sudah menyelidiki siapa sebenarnya Presdir Royal ini?? infomu sungguh sangat minim" tanyaku berharap dapat info lain.


"Maaf nona Liliana. Semua data mereka dikunci dengan keamanan tinggi"


"Aku membenci anak keluarga kaya. Kenapa selalu saja banyak rahasia hufffttt... Ohhh tunggu berikan laptopmu!!" kataku mencoba meretas data mereka dengan caraku. Tak sampai dua menit aku berhasil mendapatkan nama keluarganya. Jovi. Seperti tak asing.


Tring... lift terbuka.


"Silahkan nona. Helicopters sudah menunggu" Vanya memberitahu secara formal. Begitulah hubunganku dengan Vanya bisa berubah-ubah sesuai kondisi dan situasi.


"Kita lanjutkan nanti" jawabku formal.


"Baiklah nona, silahkan!!" kata Vanya memberi arah dengan hati-hati.


Vanya adalah sekretaris pribadi merangkap asisten dan teman serta saudara rahasiaku. Sejak aku berada di Jerman sampai saat ini. Dia sangat loyal, baik, tanggap, cekatan dan cerdas. Tidak tanggung-tanggung dia juga bekerja sebagai agen rahasia untuk menangkap buronan internasional kelas kakap. Kasus yang ditanganinya kali ini terindikasi berhubungan dengan kasus yang beruntun menimpaku.


10 menit kemudian kami sampai di landasan heli hotel Royal.


"Vanya kau sudah siap???" tanyaku meyakinkan.


"Tentu saja sayang. Aku tak sabar bertemu dengan lelaki tampan ahhhh" jawabnya mendesah manja.

__ADS_1


"Baiklah. Kita mulai perburuan kita kali ini. Jangan lengah, goda, tangkap dan habisi sampai akarnya" kataku percaya diri mencoba merelaxkan hati, jiwa dan pikiran.


"Malam ini dapatkan dia atau kita kehilangan dia selamanya"


__ADS_2