
Sekembalinya dari villla bibi Fang terakhir kali, aku dan Kak Rey kembali ke posisi masing-masing. Dingin, tidak saling mengenal dan berusaha menjauhi satu sama lain. Bukan dalam artian yang sebenarnya tapi lebih kepada menjalankan peran kami.
Sore itu kami langsung bertolak dari Jogja menuju Jakarta. Sudah tak ada mata mata lagi yang mengawasi gerak-gerikku selama di bis. Meskipun agak leluasa tapi aku dan Kak Rey memilih tetap waspada. Dengan notebook yang kubawa, aku berusaha mengawasi setiap perkembangan dan pergerakan yang dilakukan oleh kedua perusahaan besar itu yang hampir dikatakan Pailit.
"Mungkin secara teoritis, kedua perusahaan ini sudah pailit. Tapi bisa saja ini jebakan untuk memancingku keluar. Mereka berdua terkenal licik. Aku harus memastikan sendiri kalau mereka benar-benar bangkrut" masih terus berpikir keras.
Drrrtttt drrrtttt... panggilan dari nomor tak dikenal.
"Hallo, siapa ini???" tanyaku sedikit berhati-hati.
"Hallo, hallo,,, kau niat bicara atau tidak sih. Kalau nggak aku tutup. Ganggu orang tidur saja" ucapku kesal. Ketika akan mematikan ponselku tiba-tiba dia memulai percakapan itu.
"Liliana, apa kau sudah puas bermain-main denganku???" bagai petir disiang bolong aku bisa mendengar sekali lagi suara pamanku.
Banyak sekali pertanyaan dalam benakku. Haruskah aku berperan sebagai Sherin keponakannya ataukah sebagai Liliana Putri angkatnya. Apakah selama ini dia tau dan ingin menjebakku. Segera kulacak keberadaannya diam diam. Ternyata kali ini dia berada di Bandung.
"Oh tunggu... Apa dia sengaja mengancamku??? Mama Papa kumohon bertahanlah!!!" pikirku meraba apa yang sebenarnya terjadi.
"Ayah angkat, benarkah kamu ayah angkatku??? ohhh sungguh aku merindukanmu ayah angkat. Bisakah kita bertemu???" tanyaku mencoba bernegosiasi dengannya secara tidak langsung.
"Ha ha ha ternyata tak perlu repot-repot bicara, kau sudah tau maksudku. Tak salah jika kau masuk dalam jajaran manusia super genius. Apa kau yakin kalau aku ini adalah pamanmu??? Aku takkan berbasa basi lagi, temuilah aku di hotel World besok malam. Jangan mencoba bermain trik denganku kalau kau berani menipuku maka ayah dan ibumu langsung kukirim ke neraka" ucapnya memutus telpon.
"Sial... Dia sudah mulai bergerak. Baiklah aku mengalah untuk maju beberapa langkah. Akan kupastikan kau membayar setiap kejahatan yang kau lakukan besok malam" ucapku mulai meradang.
"Vi, mari kita berpesta!!!" aku mengirim email pribadi kepada Vanya.
Tanpa kusadari kak Rey berjalan mendekat ke kursi belakang. Kebetulan Nia sudah kembali duduk disamping kak Rian. Sedang kak Rey duduk di bangku si Raka. Jadi sampingku adalah bangku kosong. Itu lebih membuatku leluasa dalam mencari informasi terbaru.
Aku masih sibuk mengotak Atik dan terus berpikir bagaimana aku bisa menghadapi monster licik ini besok malam. Aku yakin pasti Roy dan Raka akan ada disana juga.
"Mong geser!!!" suara kak Rey mengagetkanku. Mau tak mau aku memberinya ruang disampingku.
"Kau bercanda kak??? kita bisa ketahuan" kataku berbisik pelan.
"Tenang saja, mereka semua sudah pada tidur. Katakan!!!" pintanya mengerti keadaanku. Mungkin dari tadi kak Rey melihat kekhawatiranku.
"Besok malam akan ada pesta di World hotel, kuharap kakak tak ikut" kataku mencegahnya ikut campur.
"Siapa, Benedict atau Sunjaya pamanmu???" tanyanya langsung memahami situasi.
"Belum tau si ular licik ini. Kukira besok akan ada kejutan besar" kataku menerka dan jelas sangat cemas.
"Maaf aku tak bisa berbuat apa-apa. Besok timku akan bertugas mengawal tamu VVIP" kata kak Rey sedikit lesu.
"Tak usah khawatir. Aku pasti baik baik saja" kataku tersenyum menyakinkan.
"Kembalilah, sebelum kita ketahuan" pintaku lembut.
"Mong istirahatlah, jaga kesehatanmu. Aku tau ini berat tapi yakinlah apapun yang terjadi, percayalah aku akan selalu berada di pihakmu. Ingatlah kata-kataku ini" kak Rey menatapku lama dan memelukku lembut.
"Aku percaya padamu. Pasti akan selalu kuingat. Sudah sana, kembalilah!!!" kataku mendorongnya kembali ke tempat duduknya semula. Sungguh berat beban yang kupikul saat ini tapi setidaknya ada kak Rey yang terus mendukungku.
"Mungkin kita akan bertemu dalam situasi yang sulit. Bukan sebagai pasangan tapi sebagai lawan. Kuharap saat itu kak Rey bisa mengambil keputusan yang tepat. Aku mencintaimu kak Panpanku" kataku mengalun pelan menatapnya dalam.
Keesokan Paginya,
"Dah Nia, kak Rian duluan!!!" pamitku kepada mereka tapi juga menatap dalam kak Rey yang dari kemarin malam mencemaskanku.
Segera aku bergegas ke rumah yang di Bandung. Sengaja tidak memberitahu kepulanganku kepada Mama dan Papa. Aku yakin mereka baik-baik saja.
Hampir Tiga jam untuk sampai di rumah Papa yang di Bandung. Aku segera masuk ke ruang kerja.
"Ada info dari Jerman. Astaga apa ini??? Mungkinkah sekarang saatnya??? Baiklah kalau begitu, tak ada jalan untuk lari lagi. Aku harus berani menghadapinya" kataku segera meminta bantuan ke kantor pusat.
Tak memakan waktu lama, mengumpulkan semua bukti dan juga daftar orang yang terlibat dalam kejahatan ini. Hampir satu jam aku berada didepan komputer.
"Selesai. Aku harus bersiap-siap menyambut pesta nanti malam" kataku segera ke kamar merubah keseluruhan penampilanku menjadi Liliana.
PYARRRRRRR.... kaca jendela kamarku pecah.
"Hallo bocah, kita bertemu lagi" sapa kak Richie agen 51, dialah kakak pertama di tim kami.
"Hyaa kak Richie apa kau tak bisa masuk dengan cara baik baik??? Lihatlah kelakuanmu. Kupastikan mengirim tagihan perbaikan padamu. Lihat saja dan ingat jangan memanggilku bocah lagi. Aku sudah dewasa" kataku kesal tak suka dipanggil bocah dan caranya masuk yang tak biasa.
DUGGGG.....
"Hey hey hey adik bungsuku ini memang masih temperamen sekali. Ck ck ck..." sahut kak Kitty Agen 97 masuk dengan melompat lewat jendela juga seperti biasanya.
"Nona, kantor pusat sudah melapor pada interpol. Menurut informasi yang kudapatkan Seluruh keluarga besar Bumi Prakasa yang terlibat sudah diamankan. Begitu juga dengan Presdir Jo dan anak buahnya. Ini laporan sementaranya. Mereka diamankan petugas dengan tuduhan penjualan senjata api ilegal, kasus penculikan dan eksperimen kloning manusia, serta perdagangan obat terlarang. itu semua cukup buat mereka mendapatkan hukuman mati. Untuk kasus hilangnya para peneliti genetik masih didalami" jelas Vanya memberi beberapa file dan rekaman.
"Baguslah. Kita hanya perlu menangkap aktor utamanya saja, bukankah begitu kak???" ucapku sedikit lega tapi juga tak bisa meremehkan dia. Karena yang tertangkap baru pion dan bentengnya saja.
"Hey adik bungsu apa kau tak tau kami kemari adalah untuk menangkap ikan besar. Baiklah... Mari kita bagi tugas. Aku dengar nanti malam ada pertemuan antara staff kementerian luar negeri dengan Dubes Jerman di World hotel" kata kak Richie membuatku berpikir sekali lagi.
"Kak, bisa kau lacak keberadaan Dubes Jerman yang bertugas saat ini. Kurasa akan ada pertunjukan yang menarik" kataku sedikit menjawab teka teki ini.
"Heyy, lihatlah kemari, bukankah ini utusan Jerman yang datang. Coba lihat saat dia memasuki hotel. Dan lihat saat dia keluar dari lift. Apakah kalian menemukan sesuatu yang berbeda" kami semua menatap layar proyektor yang ditunjukkan kak Kitty.
"Tentu saja. Baiklah jika kalian sudah mengerti hanya ada satu cara membuktikannya. Aku dan Richie akan menyamar kesana sebagai pelayan hotel. Kau si bungsu dan Vanya datang satu jam sebelum acara dimulai. Jangan bergerak sebelum aku menemukan ikan besarnya. Kurasa teka teki ini mulai terkuak" jelas kak Kitty.
"Hey bungsu, kaulah yang paling cerdas dan kompeten disini. Kuharap kau bisa mendahulukan kepentingan bersama daripada egomu" ucap kak Richie memperingati.
"Aku tau apa yang kulakukan. Tenang saja. Aku bekerja secara profesional" jawabku jelas mengerti apa yang dia maksud.
"Kali ini memang aku harus berhadapan dengannya" ucapku dalam hati menguatkan diri.
"Lihatlah akan ada tiga Ring pengamanan. Jarak 100 meter sebelum hotel, di pintu masuk dan di ballroom hotel. Kalian lihat ini, bukan hanya polisi, tentara, PM tapi lihatlah ada regu tembak jitu dan pembunuh bayaran yang disewa seseorang untuk menyambut kita. Mereka ditempatkan di berbagai titik. Kita harus bisa menangkapnya dalam keadaan hidup" jelas kak Kitty tersenyum licik.
"Baiklah kita mulai operasi. Siapkan peralatan kalian. Bungsu kau tau harus apa sebelum pesta" ucap kak Richie yang selalu memandangku remeh.
"Tentu saja aku tau. Jangan meremehkanku lagi" kataku segera mengambil berbagai peralatan yang dibutuhkan.
Kamipun menjalankan tugas masing-masing. Kak Richie dan kak Kitty langsung menuju hotel. Aku dan Vanya menuju ketitik yang sudah kami tandai.
Sementara itu di World Hotel,
Reynan Gunanto
"Arka, bagaimana situasi disana, kuharap kau tak lengah" kataku mengecek sekali lagi.
"Aman terkendali Kapten" jawabnya singkat.
"Kita bertugas melakukan pengamanan di dalam ballroom hotel. Kuharap tak ada kesalahan sama sekali. Kalian mengerti!!" kataku tegas melalui earpiece.
"Mengerti Kapten" jawab mereka semua.
"Kuharap kau tak mencoba menerobos ke sini Mong" batinku agak cemas.
"Lakukan pemeriksaan ulang dan tetap waspada dan hati-hati" kataku memberi perintah.
"Tunggu. Siapa mereka??? Rendy kau ikut aku ke lantai tujuh sekarang. Lainnya tetap waspada. Sial kemana mereka??" kataku mengikuti dua lelaki berjas hitam dengan menarik seorang lelaki tua seperti tamu penting kami.
Dari atap gedung lain
__ADS_1
Bushhh... Dashhh... Bukkkk....
"Titik lima dan tujuh berhasil dikendalikan" Liliana
"Titik empat dan enam sudah aman" Vanya
"Tinggal Enam titik lagi, kita harus bergegas. Kita hanya punya satu jam dari sekarang" Liliana.
"Baik nona, saya ke gedung B ada tiga titik disana" kata Vanya mencoba ke gedung B itu sendiri. Padahal menurut info yang kudapat diatap gedung itu terdapat ahli bela diri dan penembak jitu kelas dunia.
"Sial Vanya mematikan alat komunikasinya" kataku kesal segera berlari ke gedung B.
Bakkk... Trakkkk... Dashhhhh...
"Berani sekali Hey kau wanita melawan kami, sudah bosan hidup kau??" teriak marah laki-laki dari atap gedung.
"Sial, Vanya..." umpatku segera melompat, berlari dan memanjat sangat cepat.
"Semoga aku tidak terlambat!!"
Dashhhh.... satu peluru bius berhasil mengecohnya. Mengira kalau temannya mati.
"Temanmu sudah mati, letakkan senjatamu sekarang juga!!!" teriakku marah melihat dia menindas Vanya setelah melumpuhkan salah satu temannya.
"Ha ha ternyata ada kucing liar yang cantik. Tak kusangka agen mata-mata merekrut wanita yang begitu menggoda. Baiklah mari kita bertarung secara adil" dia melempar senjatanya.
"Ho ho ho kau terlalu bersemangat sayang. Baiklah silahkan maju, aku takkan segan segan menghabisimu" kataku menyulut emosinya.
Menendang, memukul, menangkis, meninju, menyerang dan bertahan. BRUKK.. BLASHHH... DUGGG.... beberapa kali pukulanku mengenai wajahnya.
"Ternyata kau hebat juga gadis manis. Aku semakin bersemangat. Terimalah ini!!" katanya membersihkan darah disudut bibirnya dan memulai lagi.
BAGGG... BIGGG... BUGGG... TRASHHH...
"Hanya segitu kemampuanmu badan besar" kataku memprovokasi.
"Sialan kau, aku takkan mengampunimu hyaaa... terimalah ini" teriaknya mencoba memukul, meninju, menendang perutku tapi semua berhasil aku hindari. Tak sia sia latihanku selama ini.
"Baiklah cukup bermain-mainnya. Terimalah pukulanku ini!!!" teriakku memberinya pukulan dan tendangan memutar sekaligus.
Akhirnya dia tersungkur tak sadarkan diri setelah menerima teknik pukulan dan tendangan memutar kemudian kupatahkan lehernya.
"Vanya kau tak apa??" tanyaku mendekat kearahnya.
"Awas nona dibelakang Anda!!!" teriak Vanya. Aku segera berbalik dan menembaknya dengan senapan bius. Sebagai agen aku berjanji pada diriku untuk tidak membunuh siapapun. Makanya aku berusaha menciptakan formula untuk senapan khususku dengan cairan tembak yang bisa melumpuhkan semua syaraf lawan tanpa harus membunuhnya.
"Ayo kita pergi ke gedung A. Waktu kita tak banyak" segera kami berdua berlari ke gedung A tepat disamping gedung World Hotel.
"Kau ke arah sana, kita akan bertemu diatap kau mengerti!!!" tanyaku cepat.
"Baik nona" Vanya segera berlari ke arah kanan lewat tangga darurat.
Pertarungan sengit pun tak bisa dihindari lagi.
"Gila ni orang benar-benar nekat mau membunuhku. Kenapa harus sampai menyewa pembunuh dan penembak jitu segini banyaknya" kataku heran melihat dari balik dinding ada sekitar Lima orang diatap.
"Vanya, 2-3" kataku berbagi tugas dan mengisyaratkan dengan tanganku. Vanyapun mengerti.
DUGGG... BRAKKKKK... BUGGG...
"Rasakan itu!!!" kata Vanya tersenyum.
"Misi selesai, saatnya kita berpesta. Vanya tutupi lukamu dengan lotion ini. Kau akan kaget setelah memakainya" kataku memberikan lotion penutup luka ciptaan bibi.
"Terima kasih nona" jawab Vanya senang.
"Kita kelantai tujuh" Kitty
"Oke" Richie.
"Apa kau mendengar perkelahian?? Bukankah itu pengawal khusus??" Kitty
"Tenanglah biar mereka selesaikan baru kita curi ikan besarnya. Setidaknya menghemat tenaga kita" Richie
"Mereka sudah keluar, sekarang saatnya!!!" Richie.
"Kau diluar, aku masuk. Waktu kita hanya Lima menit kau bisa cepat!!" Kitty.
"Tuan Flogg. Anda tak apa. Maaf saya harus membuat Anda pingsan" kataku berbicara baik-baik.
"Mach es (Lakukan)!!" Pushhhh...
"Masukkan dia ke dalam keranjang pakaian kotor cepat!!" teriak Kitty tak sabaran.
"Iya iya bawel. Tunggu sebentar dia berat uhhhh ahhhhh... Baiklah kita keluar sekarang!!!" Richie.
"Hampir saja kita ketahuan. Untung pengawal itu tak menyadarinya. Kalau tidak bisa runyam urusannya, puhhhh..." batin Richie.
Dalam Hall pertemuan
"Jangan lengah dan jaga jarak denganku!!!" kataku kepada Vanya.
"Iya nona, arah jam delapan, jam dua jam lima adalah anak buah Tuan Flogg palsu. Dia memakai senjata jenis FN 57 jenis senjata dengan peluru berkaliber 5,7mm" jelas Vanya. Tapi bukan itu yang kucemaskan. Ada seseorang yang tak ingin kusakiti. Dan dia ada di antara pasukan pengamanan.
"Kakak kali ini maafkan aku, mungkin kita tak sejalan" batinku.
"Wahh ternyata nona Liliana yang sangat sulit ditemui bisa hadir di acara ini" kata salah satu rekanan bisnis dari Jerman.
"Tentu saja. Mana bisa saya melewatkan acara sebaik ini" jawabku tersenyum.
Dari sudut kananku kak Rey terus saja memantau gerak gerikku. Bukan sebagai kekasih ataupun tunangannya tapi sebagai lawannya kali ini. Inilah keputusanku, jika memang harus berhadapan antara hidup dan mati maka biarkan aku mati ditangannya.
"Lili, Vanya, siap bergerak, ikan sudah kami dapatkan!!!" kata kak Richie siap memulai operasi.
"Tunggu sampai kami menyingkirkan pasukan pengaman dilantai dua kalian mengerti!!!" teriak kak Kitty disela pertarungannya.
Suara musik dan riuh renyah orang orang di hall ini membuat seolah tak ada yang terjadi. Aku sesekali menyapa beberapa pengusaha dalam dan luar negeri begitu juga Vanya. Tapi disela sela itu kami tetap memantau keadaan didalam hall.
"Baiklah, para hadirin semuanya. Ini adalah tamu utama di acara kali ini, sambutlah dia Tuan Flogg Wallzee. Tepuk tangan riuh menggema di dalam Hall ini.
"Vanya sekarang!!!" teriakku memberi aba-aba untuk menembakkan pistol ke atas. Dorrrr.....
Semua tamu yang hadir berlarian ke sudut sudut ruangan bahkan bersembunyi di kolong meja dan dibalik kursi. Sungguh kacau dan dipenuhi ketakutan.
"Ahhhhh, awassss, minggir.... arghhh sialan, Hyaaaa.... aku masih ingin hidup.... jangan bunuh aku" teriakan ketakutan mereka semua.
Vanya terus berkelahi dengan pasukan pengawal khusus begitu juga dengan kak Richie dan kak Kitty. Kami sudah mengunci semua akses masuk dan keluar aula ini dengan tingkat keamanan super tinggi. Takkan ada yang bisa keluar masuk setelahnya sebelum pertarungan ini berakhir.
BRUKKK...TRUKKKK... DASH.... PYARRRRRRR....
"Kakak sebelah kirimu" teriakku pada kak Kitty.
"Terimakasih bungsu" Mengerlingkan mata dan tersenyum. Bisa bisanya kak Kitty menggodaku di sela pertarungan.
__ADS_1
"Belakang Anda nona" teriak Vanya
"Bisa kuatasi" kataku menendang dan memukul para pengawal lainnya.
"Sebaiknya kau cari Flogg sekarang jangan biarkan dia lolos Liliana, bagian sini serahkan padaku!!!" kata kak Richie memberiku jalan.
"Perlu bantuan beruang imutku??" goda seorang laki laki dengan senyum khasnya.
"Kakak Long" kataku tak percaya bisa melihatnya disela sela pertarungan.
"Baiklah, sekarang mereka bagianmu" kataku segera mencari keberadaan Flogg palsu.
"Berhenti atau kutembak, Tuan Flogg yang terhormat" teriakku menghentikan langkahnya.
"Anda mau kemana, kenapa buru buru sekali Tuan Flogg??? Pestanya belum berakhir. Bukankah pestanya menyenangkan???" kataku masih mengacungkan pistol.
"Help me... please help me...." teriaknya minta pertolongan.
"Huhh... sudah cukup sandiwaramu Paman Kent Christoph Sunjaya" kataku membongkar kedoknya.
"Sial... anak ini memang tak bisa dianggap remeh" dia mencoba bangkit dan membuka topeng wajah samarannya dan membuangnya kasar ke lantai.
"Hentikan nona Liliana!!" teriak kak Rey mengacungkan pistol ke arahku.
Tatapan dingin antara aku, kak Rey dan Paman saling menodongkan pistol siap membidik satu sama lain. Siap sedia meluncurkan timah panas tepat di kepala kami.
"Aku takkan mundur. Jika harus mati biarlah mati ditangannya. Tapi biarkan aku membunuhnya terlebih dulu jangan campuri urusanku!!!" teriakku kepada kak Rey tanpa melepas pandangan kepada pamanku.
"Ha ha ha apakah kau bisa membunuhku anak angkatku??? Kau sangat cerdas maka dari itu sejak dulu aku ingin menggunakan otakmu untuk penelitian tapi bibimu mengetahuinya jadi aku membunuhnya terlebih dahulu begitu juga dengan kekasihnya Benedict ha ha ha dan sekarang aku pasti membunuhmu Sherin Wiryoatmadja" kata Paman Chris berusaha membongkar sendiri kejahatannya.
"Tutup mulutmu. Tak pantas kau menjadi suami bibiku. Kau pikir aku akan terkecoh dengan siasatmu. Kau memberi obat halusinogen kepada James malam itu. Kau mencoba memfitnahnya dengan memanfaatkan hubunganku dengannya. Bukankah begitu???" ejekku berusaha meredam amarah.
"Ha ha ha tak bisa dipungkiri kau memang yang terbaik anakku"
"Jaga ucapanmu!!! aku tak punya Ayah angkat yang kejam sepertimu. Diam jangan bergerak kalau tidak kutembak kau sekarang!!!" kataku mengancam.
"Dengarkan aku baik-baik. Bibimu itu pelacur. Dia telah mengkhianatiku maka sudah sepantasnya kalau dia mati bersama selingkuhannya. Dan kau terlalu turut campur dalam hidupku. Kalau bukan karena kau aku sudah bisa menciptakan manusia genius dengan kecerdasan melampauimu bahkan aku bisa menguasai seluruh teknologi dan pusat pemerintahan. Jika bukan karena kau aku bisa mendapatkan banyak keuntungan dari bisnis senjata dan obat obatan. Jika bukan karena kau tak mungkin aku membunuh bibimu karena aku begitu tertarik denganmu ha ha ha semua adalah karena kau Liliana" jelasnya membuatku naik pitam tapi aku tak boleh terprovokasi.
"Diam. Sisakan suaramu untuk menjawab pertanyaan pihak berwajib. Semua bukan karenaku tapi Kau melimpahkan semua kesalahan kepada orang lain karena Kau pengecut. Dengan kejam Kau membunuh bibiku kemudian melempar kesalahan kepada James dan Kau menggunakan wajah Benedict untuk membuat rumor kalau bibiku selingkuh padahal Kau yang sebenarnya merebut bibiku dari kekasihnya. Kau juga menggunakan wajah Benedict untuk melancarkan bisnis ilegalmu sehingga yang menjadi buronan bukan kau tapi Benedict yang sudah Kau bunuh. Hahh... ternyata kau laki laki pecundang bahkan lebih rendah dari kotoran. Kau akan mati perlahan Kent Christoph Sunjaya" kataku menarik pelatuk begitupun dengan kak Rey dan Paman Chris.
Dorrrr... Pushhhtttt... Pushhhtttt... suara peluru ditembakkan menggema disertai jeritan dan ketakutan...
"Sherin awas!!!" Kak Rey berusaha menghalangi peluru yang meluncur kearahku dengan punggungnya.
"Sialan kau Paman" Pushhhtttt.... satu peluru berhasil bersarang di perutnya. Kali ini aku benar-benar menggunakan peluru sungguhan.
"Kak Rey, bangun!!! Sudah kubilang jika ada yang mati itu harusnya aku. Kak kau jahat!!!" teriakku menangis memeluknya.
"Mong Mong sudah kubilang kan, kau harus percaya padaku. Kau memang nakal huks huks huks... Jaga dirimu Mong selamat tinggal" kak Rey menutup matanya.
"Tidak kak... Bangun.... Bangunlah.. Aku akan jadi gadismu yang penurut.... Bangunlah!!! hiks hiks hiks..." tangisku masih memeluknya.
"Kapten!!! Tidak Rey jangan pergi hiks hiks hiks kalau kau pergi aku akan menikah dengan Sherin... hiks hiks hiks..." kata kak Rendy tak tau malu. Aku menatapnya tajam bisa bisanya dia mengatakan akan menikahiku di depan jasad calon suamiku.
"Rendy aku akan membunuhmu jika kau menikahi Sherin!!!" teriak kak Rey bangun tak jadi mati.
"Kau menipuku kak Rey!!! Baiklah aku akan membunuhmu sekarang hiks hiks hiks" teriakku tak percaya ditipu mentah mentah.
"Tuan Kent Christoph Sunjaya Anda ditahan, dan akan diadili di negara asal Anda Jerman" kak Richie melumpuhkan semua anggota vitalnya.
"Liliana, dasar kau bocah ingusan. Selamat atas misimu dan selamat karena kau telah membuat para jomblo menangis karena tak punya pasangan. Sialan berani benar dia memamerkan kemesraannya ditengah-tengah tragedi berdarah seperti ini" kata kak Richie konyol.
"Liliana??? Kapten Anda selingkuh dengan gadis ini??? Berarti Anda melepaskan Sherin. Oh Tuhan terima kasih akhirnya aku bisa menikahi Sherin pujaanku" teriak Rendy sekali lagi tak tau malu. Aku dan Kak Rey menatapnya tajam.
"Selingkuh??? Ha ha ha... Diamlah kau akan mati di tanganku Rendy jika kau berani mengkhayalkan gadisku" teriak kak Rey marah berusaha memukul Rendy dengan tangannya.
"Adik bungsu. Sampai kapan kami semua harus menunggu drama percintaanmu. Kau lupa membuka pintu utama hall ini!!!" kata kak Kitty kesal.
"Astaga aku lupa kak. Sebentar!!!" jawabku mencoba mengingat sandinya.
"Kenapa lama sekali Liliana???" kata kak Richie lebih jengkel lagi.
"Vanya, kau ingat berapa nomor sandinya??? Aku lupa he he he" kataku berbisik pada Vanya. Dia menampakkan wajah yang sangat sulit ditebak.
"Maaf nona saya tidak bisa membantu. Saya tidak melihat Anda menekan nomor berapa saja" jawabnya berbisik.
"Jangan bilang kau mengacak dan lupa nomor sandinya???" tebak kak Richie.
"Adik bungsu kau terlalu hiks hiks hiks tamatlah kita terkurung disini selamanya" teriak kak Richie mengundang perhatian semua mata dalam Hall ini.
"Hawa apa ini??? Dingin dan mematikan" kataku merasakan aura diatas lebih dari pembunuh level A.
Kak Rey menatapku, entah apa yang dipikirkannya.
"Tenang kak. Beri aku waktu sepuluh menit oke!!!" kataku mencoba berpikir dan mengulur waktu.
"Kau sedang apa???" tanya kak Kitty serius.
"Menelpon polisi buat dobrak pintu he he he"
"Liliana kau membuatku frustasi" teriak kak Richie mengacak rambutnya.
"Mong kau beneran lupa??" tanya kak Rey memandangku sendu.
"Kak aku lupa he he he" jawabku tertunduk.
"Mong Mong... Jangan bercanda he he he sekarang bukan waktu yang tepat kau bercanda. Lihatlah semua orang menatap kita dengan tatapan membunuh. Bisa pikirkan caranya, pelan pelan saja sayank!!" pinta kak Rey lembut.
Kuotak Atik ponselku. Mengingat kejadian sebelumnya.
"Bisa minta tolong menyuruh mereka menjauh dari pintu juga yang diluar sterilkan jarak kurang lebih sepuluh meter kak??" kataku mencoba jalan terakhir.
"Apa yang ingin kau lakukan Mong??" tanya kak Rey pelan.
"Meledakkan pintunya he he he" jawabku malu.
"Hahhhhh... beginilah nasib memiliki kekasih genius huhhh" keluhnya lesu.
"Raka, Rendy, Anto dan kau Son sterilkan jarak 10 m dari pintu luar dan dalam" perintah kak Rey melalui earpiece.
"Selesai kapten" jawab mereka.
"Baiklah Mong. Lakukanlah!!!" kata kak Rey mencoba melindungi ku.
"Baiklah aku masukkan sekarang kodenya. 3.. 2.. 1..." mereka semua sudah menutup telinganya masing masing.
NGEIKKKKK..... pintu terbuka tanpa meledak.
"Sandinya benar kak, akhirnya aku selamat ha ha ha..." teriakku senang tapi berbeda dengan mereka.
"Mong Mong...." teriak mereka gemazzzz.
AMPUNNNNNNNNNN....
__ADS_1
Di Ruang Laundry Hotel
"HILF MIR.....HILF MIR... (Tolong aku... Tolong aku..." teriak Tuan Flogg yang masih berada di keranjang cucian kotor. Kak Richie dan kak Kitty melupakannya ha ha ha...