
**Di Kamar Rumah Angga Prayuda
Sherin**
Tok tok...
"Saya masuk non" kata seorang wanita tua yang kutaksir berusia sekitar 65 tahunan.
Kuturunkan pecahan vas dari tanganku yang lemas. Karena memang selama tiga hari ini aku tak pernah menyentuh makanan apapun yang diberikan padaku. Aku bertahan hidup hanya dengan meminum air kran kamar mandi, karena itulah yang kuyakini aman untuk masuk ke dalam perut.
Ku pandangi wanita tua itu sedikit menyelidik. Baru pertama kali ini aku bertemu dengannya. Biasanya hanya pelayan muda saja yang mengantarkan makanan dan baju yang dibutuhkan.
"Makanlah non Sherin!!" pintanya. Aku hanya diam tak menjawab.
"Tuan besar sedih kalau non sampai sakit. Apa non tidak mau ke sekolah? Bertemu teman-teman non?" katanya membujuk.
"Buat apa sekolah. Buat apa aku hidup kalau aku sudah hancur seperti ini" jeritku sengaja mencari keributan. Bibi hanya melihat air mataku yang sudah mengalir deras.
"Non, bisakah Anda baik dengan Tuan besar" katanya membuatku terheran.
"Bisa-bisanya bibi bilang seperti itu dengan mudahnya, tidakkah bibi lihat perbuatan Tuan besarnya padaku" jeritku padanya. Aku pun hanya memandangnya dengan tatapan tajam.
"Bibi tahu, sebenarnya Tuan besar itu baik. Mungkin hanya caranya saja yang keliru. Jika non Sherin mau terbuka, membiarkan Tuan besar berbicara dengan non, bibi yakin takkan ada kesalahpahaman seperti ini. Tuan besar hanya tak mau memaksa non Sherin, Tuan besar hanya mau non Sherin menyayangi Tuan besar tulus" kata bibi yang semakin membuatku bingung.
"Cihhh.... Kenapa juga aku harus menurut padanya. Memangnya siapa dia???? Bibi sudah selesai belum. Kalau sudah silahkan keluar dari sini dan bawa itu makanan, aku tidak akan makan" kataku kasar.
Bibi keluar dengan baki makanan yang tadi dibawanya dengan lesu. Aku benar-benar tak mengerti sama sekali ucapannya.
"Salah paham?? heh.." kataku sinis.
**Di Ruangan Rumah Angga Prayuda yang Lain
Angga Prayuda**
Tok tok...
"Masuk!!" kataku
"Bagaimana bi, apa Sherin mau makan?" tanyaku sopan.
"Maaf Tuan besar. Non Sherin benar-benar bersikeras tidak mau makan" kata bibi menyesal. Aku hanya bisa menarik nafas panjang.
"Hehhhh... ya sudahlah bi. Anak itu benar-benar keras kepala sepertiku. Bibi boleh keluar sekarang!!" pintaku.
Bibi hanya diam, seperti ada yang mau dikatakannya padaku.
"Ada apa bi? bicaralah!!" ucapku.
"Maaf Tuan besar. Tidak bisakah Tuan besar berbicara dengan non Sherin lagi!! Bibi rasa ada kesalahpahaman antara Tuan besar dan non Sherin" katanya membuatku berpikir.
"Kesalahpahaman bi??" kataku tak mengerti.
"Iya Tuan besar. Bibi hanya menerka saja" katanya membuatku menjadi semakin penasaran.
__ADS_1
"Katakan saja bi!!" pintaku padanya.
"Begini Tuan besar. Saat non Sherin pingsan karena Shock dan kelelahan itu, Apa Tuan tidak ingat menyuruh saya mengganti baju non Sherin?" katanya semakin membuatku tidak mengerti.
"Apa Tuan sama sekali tidak mengerti??" Aku hanya menggelengkan kepalaku yang memang tak mengerti sama sekali.
"Lanjutkan!!" perintahku.
"Gadis baik-baik seperti non Sherin dalam semalam menjadi gadis pemberontak bukan tanpa sebab. Bibi tak sengaja mendengar teriakannya waktu itu. Non Sherin bilang siapa yang menyentuhnya, siapa yang tega membuatnya kotor. Jangan harap kau hidup tenang. Aku pasti membunuhmu. Mungkin karena itulah non Sherin tak mau berbicara apalagi dekat dengan Anda" jelasnya padaku.
"Ha ha ha haa" tawaku pecah seketika itu dan benar-benar itu hal yang konyol. Pikiran gadis kecil itu membuatku benar-benar tak bisa berhenti tertawa.
"Apa bibi tak salah dengan ini. Mana mungkin saya berbuat yang tidak-tidak. Bibi sudah merawat saya dari kecil. Bibi tau siapa di dunia ini yang saya cintai. Masak saya mau menghancurkan Sherin tanpa sebab. Padahal bibi tau Sherin adalah satu-satunya yang paling berharga dalam hidup saya" jelasku.
"Kalau begitu saya permisi keluar Tuan besar" katanya pamit undur diri.
"Ha ha ha. Sherin... Sherin... . Ada-ada aja kamu??" kugeleng-gelengkan kepalaku seakan masih tak percaya dengan pikirannya.
**Di Rumah Keluarga Gunanto
Reynan Gunanto**
"Rey, ada apa? kok akhir-akhir ini Ibu lihat kamu murung, mana makanan itu gak kamu makan-makan? Cerita sama Ibu!!" pinta Ibuku.
"Anakmu habis putus cinta kali" sahut Ayahku.
Aku hanya diam sambil melirik Ayahku tajam.
"Kamu ditolak Sherin Rey?" jawab Ibu menerka.
"Ya Allah tow Rey,, masak, buat Sherin cinta sama kamu aja perlu Ibu ajarin sih??" sahut Ibuku sok tau.
"Malu-maluin keluarga Gunanto kamu Rey. Masak anak Ayah yang ganteng ditolak sama anak SMA. ha ha ha..." ejek Ayah yang membuatku semakin kesal.
"Apaan sih Ayah Ibu. Kalau gak tau tu jangan ngomong. Ini bukannya menenangkan Rey malah berdoa supaya Rey ditolak beneran sama Sherin. Memangnya Ibu mau kalau Sherin nikah ma orang lain apalagi seumuran sama Ayah" jawabku kesal.
"Maksudmu Sherin dijodohin ama Om Om gitu?" tanya Ibu melotot.
"Bukan tapi diculik Om Om yang suka daun muda" jelasku malas.
"Kamu udah lapor polisi?" tanya Ibu.
"Ngapain lapor polisi. Rey bisa kok nyelametin Sherin. Lagian Rey sudah tau yang nyulik Sherin. Pengusaha Tua Angga Prayuda. Om Om yang suka gonta-ganti cewek SMA" jelasku.
Kulihat Ayah mengernyitkan dahinya seakan tak percaya.
"Rey, kamu yang bener jangan gosip ah. Cari buktinya dulu!! Om Angga itu temen Ayah lho" jelas Ayah yang membuatku kaget.
Kuambil bukti-bukti yang sudah kukumpulkan. Ku berikan pada Ayah.
"Lihat sendiri saja!!" kataku menegaskan.
"Gimana Yah, bener itu suruhan Angga?" kata Ibu penasaran.
__ADS_1
"Benar ini mobil anak buah Angga" kata Ayah yang membuatku sedih dan juga senang.
"Gini aja Rey. Nanti sore Kita kerumah Om Angga, Kita cari tau dan kita buktikan apa Sherin benar-benar diculik Om Angga" ajak Ayahku.
"Yah... sekarang aja napa!! kelamaan kalau nanti sore" rengekku.
"Pagi sampai siang Ayah ada meeting penting. Habis meeting kita kesana!!" jawab Ayahku yang tak tau pikiranku sudah kalut. Gimana keadaan Sherin, Dia makan apa tidak.
"Aarrgghhh Ayah..." kuacak-acak rambutku yang sedikit karena frustasi.
"Udah jangan cemas. Om Angga gak suka anak SMA kok" ejek Ayah.
"Bu, Ayah berangkat dulu ya!! Assalamu'alaikum" pamit Ayah.
"Wa'alaikumsalam", jawab Ibu dan aku bareng.
"Rey ke kamar dulu Bu!! Ibu dianter mang Asep aja ya!!" pintaku lesu.
**Sore Hari di Kediaman Angga Prayuda
Sherin**
Ceklekk...
Dengan sisa-sisa tenaga yang kukumpulkan kuambil pecahan vas yang ada untuk melindungi diriku setelah pintu kamar yang menyekapku ada yang membuka.
"Pergi Tuan!!! Jangan mendekat!!!" teriakku padanya.
"Sherin, dengarkan saya!! Beri saya 30 menit untuk menjelaskan semuanya!! Turunkan kaca itu, jangan lukai dirimu lagi. Saya sakit jika kamu sakit. Percayalah!!! Ku mohon,, saya akan tetap berdiri didekat pintu ini, saya tak akan mendekat" bujuknya yang membuatku luluh.
"Apa yang Tuan ingin katakan!!" kataku tegas.
"Lihatlah ini" katanya sambil mendorong laptop yang berisi file cctv-nya saat aku tak sadarkan diri.
"Lihatlah!!" pintanya seraya duduk didepan pintu.
Akupun melihat rekaman itu.
"Alhamdulillah Alhamdulillah segala puji hanya Milikmu. Engkau menyelamatkan aku. Ya Allah ampunilah aku yang berburuk sangka padanya dan pada diriku. Ya Allah terima kasih. Aku masih suci. Aku masih belum ternoda" batinku. Tak terasa air mata pun jatuh membasahi pipiku.
"Kenapa Tuan menculikku?" tanyaku tegas.
"Maafkan saya Sherin. Saya tidak ingin menyulikmu. Saya ingin menebus kesalahanku padanya. Seorang wanita yang sangat-sangat saya cintai dengan membawamu kesini. Membiarkanmu hidup berkecukupan dan mendapatkan banyak kasih sayang yang tidak kau dapatkan dari Armanto" katanya mencoba menjelaskan.
Kulihat Diapun menangis. Dia terlihat bukan seperti orang jahat.
"Maafkan saya Sherin. Maaf membuatmu menderita" katanya pilu.
"AKU AYAH KANDUNGMU...hiks hiks hiks" katanya kepadaku tapi aku masih tak mengerti dan suara itu terdengar samar-samar.
Terdengar suara keributan diluar kamar ini juga. Sungguh suara yang tidak asing bagiku, sungguh suara yang kukenal. Seketika itu pandanganku kabur dan berubah gelap, tak ada cahaya.
"Aku tetap seperti ini. Tak ada lagi sakit menyakiti. Tak ada tangis dan pilu. Aku ingin tidur yang lama. Aku ingin kedamaian. Jangan bangunkan aku lagi...." ucapku sebelum tak sadarkan diri.
__ADS_1
Author ucapkan terima kasih atas atensi dan dukungannya. Semoga bisa menjadi pembelajaran dan diambil sisi positifnya saja.
Tunggu kejutan di Bab selanjutnya. 😍😍😄😄🙏🙏🙏