
Reynan Gunanto
Sudah lebih dari tiga jam tapi Sherin belum kelihatan Batang hidungnya. Perasaanku yang semula senang berubah menjadi khawatir. Feeling seorang laki-laki terhadap wanitanya memang tak bisa dianggap sepele. Aku yakin pasti ada yang terjadi dengan Sherin.
Segera kutemui Aldo di ruangannya.
"Al, loe tadi kan sama Sherin, sekarang dia dimana??" tanyaku cemas.
"Bukannya tadi dia bilang mau balik ke kamar loe. Emang belum balik sampai sekarang.
"Aldo...... Kemana coba tu Sherin??" teriakku frustasi semakin cemas memikirkannya.
"Rania, pasti Rania!!!" kataku mengira Ranialah dalang dibalik hilangnya Sherin.
"Apaan sih loe, Rey. Gila kali loe ya??? Mana ada hubungan adek gue sama Sherin??? Udah bucin ni anak" teriak Aldo kesal.
"Loe yang gak tau Al. Tadi Rania liat loe sama Sherin dikantin. Dia mau nyamperin kalian dan buat perhitungan sama Sherin. Bukan cuma sekali ini aja dia mengancam tapi udah berkali-kali. Loe kakaknya tapi gak tau sifat adek loe sendiri. Adek loe tu udah dicuci otaknya sama Adira" teriakku sama kesalnya dengan Aldo.
Bugggg.......... Tangan Aldo melayangkan tinjunya tepat ke wajahku.
"Jaga ucapan loe. Rania adek gue. Gue tau dia dari kecil seperti apa. Jangan tuduh adek gue sembarangan kalau gak bakal gue tonjok tu mulut sekali lagi!!" teriaknya mengancam.
"Ahhhh... terserahlah kalau loe gak percaya. Gue buktiin. Ikut gue!!" kataku jengkel.
Segera aku bergegas ke ruangan Rania. Dengan hati-hati kudekati pintu ruangan itu diikuti Aldo. Betapa terkejutnya kami, ternyata disana ada Adira juga.
__ADS_1
"Bagaimana Ran?? Loe kerjain tu anak di bekas kamar mayat ha ha" tanya Adira sambil tertawa penuh kemenangan.
"Yoi. Sumpah dia beneran ketakutan tu. Gue kunci tu pintu. Gak bisa kemana-mana tu anak. Salahnya sendiri ngerebut cowok gue. Biar mampus sekalian ha ha" tawa senang mereka berdua.
BRAKKKKK....
"Rania!!!" teriak Aldo marah. Mukanya sudah merah kayak kepiting rebus.
"Kakak!!!" tawa mereka terhenti. Mereka berdua tak menyangka akan tertangkap basah.
"Begini ya, kelakuanmu??? kakak salah mendidik kamu??? Senang kamu jadi orang jahat!!! Mulai besok kamu kakak scors. Renungkan salahmu dirumah!!!" teriak Aldo semakin marah.
Aldo kemudian mengambil tali untuk mengikat Adira dikursinya.
"Kak Aldo apa-apaan ini??? lepaskan!!" teriak Adira.
Sementara itu Rania berusaha menjelaskan.
"Tapi kak, bukan Rania yang jahat tapi Sherin yang jahat. Sherin sudah merebut kak Reynan dariku...... Kakak jangan salahin Rania. Bukan cuma Rania saja yang dijahati tapi Adira dan ibunya juga sampai diusir gara-gara tu anak sialan" jelas Rania membela diri.
PLAKKKKK..... tamparan keras berhasil mendarat di pipi Rania.
"Kakak???" teriak Rania tak percaya ditampar kakaknya.
"Cukup Rania. Dengarkan ini baik-baik" kata Aldo mencoba meredam amarahnya.
__ADS_1
Aldo pun memutar rekaman suara Adira yang berbicara sewaktu Sherin dirawat dirumah sakit ini dulu.
"Bagus Rania. Semakin kamu membenci Sherin semakin mudah jalanku untuk menghancurkannya. Kau benar-benar bodoh Rania, akulah yang selalu berbuat jahat pada Sherin. Akulah yang merampas semua miliknya. Dan terakhir akan kubuat hidupnya menderita lewat dirimu. Akan kuhancurkan dia, akan kurebut Reynan dari tanganmu dan dia ha ha ha ha" mata Rania memerah. Menahan amarah yang besar ke Adira.
PLAKKKKK... Pemandangan yang sungguh mengejutkan. Rania berani menampar pipi Adira sangat keras.
"Jahat kau Dir. Aku selalu menjadi teman baikmu. Tapi apa??? inikah balasanmu??? Dasar kau wanita licik!!! Bisa-bisanya kau memperalatku selama ini. Kau tak ayal seperti seekor rubah yang tak pantas hidup" teriak Rania berlari ke kamar mayat tempat dia mengunci Sherin.
Kuikuti Rania dari belakang begitu juga dengan Aldo. Kami bergegas masuk kedalam setelah pintu besi terbuka.
"Sherinnn.... Bangunlah!!! Sherinnn. kau bodoh!!! Sherinnnnnnn......." teriakku menangis berusaha membangunkannya.
"Rey, biar Sherin diperiksa Rania dulu!!!" kata Aldo memintaku agar Rania memeriksa keadaan Sherin.
"Jangan sentuh!!! Biar dokter wanita yang lain yang memeriksa Sherin!!!" kataku sambil membopong Sherin ke ruang gawat darurat.
Kulihat Rania menangis menyesali perbuatannya terhadap Sherin. Tapi aku tak peduli. Dia yang menyebabkan Sherin menjadi seperti ini. Jika sampai terjadi apa-apa dengan Sherin maka aku takkan pernah memaafkannya.
"Kumohon Bertahanlah Sherin!!! Kamu pasti kuat!!! Ya Tuhan jangan biarkan Sherin pergi, selamatkanlah Sherin!!! Bertahan Sherin!!! Bertahan!!!" doaku penuh harap.
Aku hanya bisa melihat dokter berusaha memberikan kejut pada jantungnya dengan defibrilator. Betapa sakitnya itu.
"Bradycardia pacing, 50 J 1-2-3 duggg" kata dokter memberi aba-aba.
"Cardioversion, 100 J 1-2-3 Duggg" kata dokter sekali lagi membuatku terduduk lemas.
__ADS_1
"Kumohon Bertahanlah Sherin!!! Bertahanlah!!! Bagaimana aku menjelaskan pada Papa mu tentang ini!!! Kau harus bertahan!!! Mong Mong aku mencintaimu!!!" kataku lesu.