
Reynan Gunanto, itulah namaku. Seorang tentara berpangkat kapten. Usiaku masih terbilang muda 27 tahun. Dengan tubuh tegap, tinggi 180cm, dan berkulit putih bersih meskipun aku selalu ditugaskan didalam dan luar negeri.
Ayah seorang pengusaha di bidang property dan furniture, beliau Gunanto Darmawan. Ibu bernama Meyriska Damayanti. Beliau seorang Kepala sekolah di salah satu Taman Kanak Kanak di Jakarta.
Hari itu, baru saja aku mengantarkan ibu ke sekolahnya, tidak sengaja mata ini terus saja menatap dia.
Iya dia, Seorang gadis SMA. Di usianya yang masih belia, sungguh tak bisa ku ucapkan dengan kata-kata. "Mata ini, tak salahkah aku melihat bidadari surga??" (sambil ku kedipkan mataku berkali-kali).
"Di pagi buta ini??" tanyaku seakan belum bisa percaya. Wajahnya begitu cantik, putih berseri, bersih dan menyejukkan secerah mentari pagi.
Dari kejauhan kulihat dia dengan ramahnya tersenyum ceria menyapa orang orang yang dilewatinya sepanjang jalan menuju halte bus tepat di depanku.
Dia, sosok yang belum aku tau namanya membantu seorang Kakek tua mendorong gerobak saat ditanjakan yang memang berat bagi Kakek itu diusianya yang sudah tua.
Bukan hanya itu saja, dia dengan bahagianya membantu anak-anak SD itu menyeberang jalan. "Ah.. senyuman itu membuatku diabetes", kataku tersenyum.
Sebenarnya jiwa dan mataku menolak meninggalkan pemandangan langka ini. Tapi apa mau dikata tugas sudah memanggil. Segera aku menemui ibu untuk pamit.
"Bu, Reynan pergi dulu, Assalamu'alaikum", pamitku pada ibu seraya mencium punggung tangannya.
"Wa'alaikumsalam, nak. Hati-hati, Ndak usah ngebut-ngebut nyetirnya!!", pinta ibu.
__ADS_1
"Oke Bu", kataku segera bergegas menuju mobil yang terparkir di depan sekolah.
BRAKKKKK... Suara yang begitu keras mengagetkanku.
Segera aku berlari keluar. Betapa kaget dan tak percayanya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Astaghfirullah, astaga, Inalillahi...", hanya itu yang keluar dari mulutku. Gadis itu, terbaring berlumuran darah di jalan raya sambil memeluk seorang anak laki-laki yang masih kecil. Kaki ini lemas, tak bisa beranjak kemana-mana dan mata ini, hanya terpaku memandang dari kejauhan dengan pikiran kosong. Lima menit selama itu aku terpaku terus menatapnya dengan pikiran kosong.
"Om Om, permisi Om, maaf Om, bisa minta tolong jagain adik ini sebentar saja?", tanyanya berhasil mengembalikan kesadaranku seketika.
Dia melepaskan tangan anak itu dan memberikannya padaku. Tak bisa berkata dan tak bisa menolak seakan tubuhku terhipnotis begitu saja menuruti semua keinginannya. Diapun berlari meninggalkan kami seperti sedang terburu-buru.
Seakan terhipnotis dengan senyumannya, aku pun lupa menanyakan keadaannya, padahal tadi kulihat darah segar keluar dari tangan yang tertutup seragam putihnya. "Apa dia baik-baik saja??", tanyaku menerka.
"Oh iya dek, Om sampai nggak ngeh ada kamu disini, sudah sudah, cup cup jangan nangis lagi!!, kita tunggu mamamu disana ya !!", kataku menenangkannya seraya menunjuk ke arah halte bus tepat diseberang jalan.
Tak berapa lama kami duduk di halte, mamanya datang. "Mama...", katanya sambil berlari senang memeluk mamanya.
"Maaf ya mas ganteng, saya lupa kalau anak saya masih disini", kata ibu itu tanpa rasa bersalah.
"Lain kali, jangan tinggalkan anaknya sendirian Bu, apalagi inikan pinggir jalan raya. Biarpun pagi masih sepi, mobil malah menambah kecepatannya, Untung aja gak ketabrak" omongku ketus.
__ADS_1
"Ihhhh.. masnya tambah ganteng dech kalau lagi marah, membuatku semakin cinta, aku suka", kata ibu itu menggoda.
Tanpa ba bi bu kutinggalkan mereka menuju mobil yang terparkir di depan sekolahan ibu.
"Ganjen banget tu ibu ibu, gak inget umur kali,," gerutuku kesal.
Baru saja 5 menit kupacu mobil, mata ini disuguhkan pemandangan tak terduga "Ohh Astaga..", teriakku tak percaya.
Gadis itu dengan rok panjangnya berusaha melompat pagar sekolah tepat dibelakang pos satpam.
"Anak ini. Bagaimana kalau dia jatuh??", pikirku.
Tak membutuhkan waktu lama segera kuhampiri dia.
" Dek.. dek... cepat turun!!!", teriakku.
"Astaga... Om tentara tadi", pekiknya menoleh ke arahku dengan malu.
"Apa mataku sudah rabun??", katanya sambil mengedipkan matanya berkali-kali masih tak percaya.
"Kenapa Om Om itu disini, gawatt??!!" ucapnya membuatku tersenyum kecut.
__ADS_1
"Gadis ini. Sungguh gadis langka dan unik" gumamku tersenyum penuh arti.