
BRAKKKKK... Suara keras pintu itu menyadarkanku.
"Ahh.." desahku pasrah dengan wajah tertunduk.
PLAK... PLAK... PLAK... Tiga tamparan keras sukses mendarat di pipiku.
"Kak, apa salah Sherin?? Kenapa kakak tampar Sherin?" teriakku sambil memegang pipi yang sakit.
PLAKKK... sekali lagi kak Dira menamparku keras.
"Tutup mulutmu!! Berani kamu bilang, apa salahmu?? Kenapa kamu kerumah sakit, Ha..!!??" bentak kak Dira.
"Sherin cuma berobat kak" jelasku.
"Dasar gila. Tidak ibu tidak anak sama-sama jalang, (sambil mendorong kepalaku berkali-kali). Tidak puaskah ibumu merebut ayahku, sekarang kau ingin merebut Roy dari sisiku, iya??!!" teriaknya.
"Cukup kak. Aku sama sekali tak tertarik dengan yang namanya Roy. Tak apa jika kakak mencaci, menghina bahkan membunuhku. Tapi ingat, jangan menghina mamaku!!!" jawabku marah.
"Sudah berani kau menjawabku??? Dasar anak jalang" teriak kak Dira mendorongku jatuh tersungkur di lantai.
__ADS_1
"Apa salah Sherin kak, bukannya setelah nenek tiada, apa yang kalian mau sudah Sherin berikan. Kenapa kakak masih menghina mamaku?? hiks hiks hiks. Kak Dira jelas tau, kalau papa menikahi mamaku karena mereka dijodohkan. Mama tidak tau kalau papa sudah menikah siri dengan Mama kak Dira, apa kakak lupa?? Mama meninggal juga karena kalian, jangan pikir Sherin diam karena Sherin tidak tau apa-apa" teriakku marah.
Aku tak berani memandang kak Dira yang duduk di kursi tepat di depanku. Bisa saja aku langsung ditendangnya.
"Tutup mulutmu... dasar kau jalang!!" pekiknya sambil menarik kepalaku.
"Sabar Sherin, belum saatnya. Kau hanya harus kuat sekarang!!!" batinku mencoba bersabar.
"Baiklah,, akan kuberitahu sekalian. Benar yang menikah resmi adalah mamamu. Dan mamaku cuma menikah siri. hehh... Da yang salah?? (nada mengejek), tapi apa kau tau, mamamu pantas mati karena merebut papa dariku, kau dengar itu??" teriak kak Dira tertawa dan mendorong kepalaku keras sekali lagi.
"Dasar nenek sihir, kau akan dapat balasan yang lebih kejam dari ini. Aku hanya harus bertahan. Kau pasti bisa Sherin. Berpura-puralah dan jadilah yang tertindas" batinku terus menguatkan.
"Ha ha ha, tak salah ternyata kau cerdas juga" katanya merendahkanku.
"Astaghfirullah kak, kenapa kalian kejam sekali?? tak sadarkah kalian, seorang bayi yang belum genap berusia 5 bulan harus menjadi piatu, tak pernah bisa merasakan kasih sayang seorang mama, memeluknya pun tak bisa?? Apa kalian masih bisa disebut manusia!!!??" jeritku menangis marah. "Itulah hukuman merebut suami orang, kau dengar itu??" teriaknya.
"Dulu papa sangat mencintai mamaku, karena mamamulah papa tak bisa menikahi mamaku secara resmi, kau dengar itu!!" teriaknya padaku semakin marah.
"Apa kau tau rasanya menjadi anak dari nikah siri, apa kau tau bagaimana ibuku dihina keluarga ayah dulu karena kami miskin, hanya untuk meminta menghentikan perjodohan itu, ibuku meninggalkan harga dirinya untuk memohon pada keluarga besar papa tepat di hadapanku. kau tau bagaimana rasanya, hah??!!" pekiknya.
__ADS_1
"Bukankah ini semua salah papa dan keluarganya, kak?" jawabku tak mau kalah.
"Papa yang membohongi mamaku, papa yang tak jujur pada nenekku, kenapa bukan kau membalasnya pada papa dan keluarganya??" tangisku pecah seketika itu.
"Dengar baik-baik,,, tak mungkin jika mamaku dan aku kembali ke keluarga besar papa, kenapa? karena warisan peninggalan nenekmu bahkan 10 kali lipat banyaknya dari harta keluarga besar papaku. Jika Mama dan aku tak merusak rem mobil mamamu, apa mungkin papa akan menikahi mamaku secara resmi?? Dan apa mungkin seluruh harta nenekmu jatuh ke tangan papa dan kami, ha ha ha", katanya senang dengan cara liciknya.
Seketika itu aku pun bangkit, ku kumpulkan keberanianku, PLAKKK...
"Tamparan ini dari mamaku", teriakku meninggalkan kak Dira yang masih tak percaya dengan apa yang kulakukan.
Di lorong rumah sakit yang sepi, aku tertunduk lesu memegang kedua lutut. Entah dimana, entah, terserah apa yang akan terjadi. Tangisku pecah sudah tak bisa kutahan lagi. Pikiranku kosong, hampa, seakan detik inipun aku bisa menjadi lebih jahat dari mereka. Tapi apakah aku sama seperti mereka, iblis berwujud manusia.
"hahhhh", teriakku frustasi.
"Ya Allah, kenapa semuanya seperti ini? masih adakah kesabaran dari diriku untuk menghadapi mereka? tidak bisakah aku membalas mereka?" tanyaku dalam hati.
"Ma, nek, maafkan Sherin. Sherin tidak tau harus bagaimana? Ma,, Nek,, Sherin baik-baik saja. Sherin tidak menangis,, lihatlah !! Sherin bahagia jadi mama.. nenek.. harus bahagia di sana!! hiks hiks hiks,, Sherin gadis yang kuat, ada Allah bersama Sherin (kataku menguatkan diri). Mama ... Nenek ... Sherin kangeennn......" tangisku pecah di koridor rumah sakit yang sepi.
Tanpa kutau dari ujung koridor rumah sakit ada sepasang mata yang terus memandangi ku...
__ADS_1