Kehidupan, perjodohan dan kesabaran

Kehidupan, perjodohan dan kesabaran
Mama Aku Rindu


__ADS_3

**Dalam Bilik VVIP Rumah sakit


Sherin Wiryoatmadja**


Mataku terpana melihat sosok wanita cantik tepat berdiri dihadapanku. Wanita yang aku kenal. Wanita yang selalu aku rindukan sosoknya. Wanita yang telah tiada.


"Bagaimana mungkin???" jeritku dalam hati.


"Maaf Nyonya Anda salah kamar" kata kak Rey yang belum tau siapa wanita itu.


"Sherinnn.... Kemarilah Nak!" pinta wanita itu dengan mata berkaca-kaca.


Apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus lari ke dalam pelukannya dan memaafkannya atau aku harus melarikan diri menjauh darinya tanpa aku tahu alasannya.


"Tapi kenapa hatiku merasa gelisah. Wajahnya sama tapi tak ada sedikitpun kepekaan batin terhadapnya. Siapa sebenarnya dia??? bantulah aku menemukan jawabannya Ya Tuhan. Haruskah aku berpura-pura" kataku dalam hati merasa ada yang janggal.


Kak Rey dengan wajah khawatirnya mencoba mendekat dan berusaha memegangiku.


"Sherin kamu tidak apa-apa? Sherin aku akan menyuruhnya pergi agar kamu bisa istirahat" kata kak Rey mencoba membuatku nyaman. Kupegang tangannya memberi isyarat kalau tak perlu menyuruhnya pergi.


Kak Rey mencoba memapahku ke tempat tidur.


"Aku akan tetap disini. Aku tak mau meninggalkanmu dengan orang yang belum kau kenal" katanya meyakinkan.


"Kak Rey,,," pintaku memberi isyarat padanya untuk keluar sebentar.


"Baiklah. Kalau ada apa-apa teriak saja, aku akan segera masuk" katanya khawatir.


"Hmm.. Udah sana!!" kataku mengiyakan.


Baru selangkah dia berbalik lagi.


"Mijah beneran teriak yang keras" katanya mengulangi ucapannya dengan keras sambil melirik wanita itu tajam.


"Iya. Udah cepet keluar!!!" rengekku.


Belum lagi selangkah Kak Rey membalikkan badan lalu menghampiriku lagi.

__ADS_1


"Sherin aku benar-benar tak bisa meninggalkanmu" rengeknya gantian.


"Om Tejo..." teriakku.


Diapun dengan berat hati berjalan keluar kamar ini. Sesekali berbalik arah dan menatap tajam wanita itu seakan mengancamnya.


"Silahkan duduk Nyonya" kataku canggung.


"Sherin Mama bisa jelaskan semua" kata wanita mencoba menarik simpatiku.


"Maaf Nyonya, Anda keliru. Mama saya sudah tiada sejak saya umur 5 bulan. Saya dibesarkan oleh nenek saya. Dan saya juga belum pernah mengenal wajah Mama saya. Mungkin Anda keliru mengenali anak Anda Nyonya" kataku sopan.


"Tidak. Kau anakku. Bagaimana mungkin seorang Ibu melupakan anaknya. Aku tau dengan pasti kau memang benar-benar anakku hiks hiks hiks" katanya menangis.


"Mijah... kau tidak apa-apa??" tanya kak Rey yang mendadak membuka pintu kamar ini. Ku tatap dia dengan sorot mata tajam. Karena takut, dia menutup pintu lagi dengan sangat pelan.


"Ada keperluan apa Nyonya datang menemui saya?" tanyaku.


"Nak, bolehkah Mama menjelaskan semuanya" tanyanya padaku penuh harap.


"Silahkan Nyonya!!" jawabku singkat. Padahal aku ingin sekali memeluknya, bermanja dengannya, meluapkan rasa kesal dan marah ku padanya tapi seolah semua itu masih tertahan.


"Saat kecelakaan hari itu, mama ingin bertemu dengan ayah Kandungmu. Tapi ditengah jalan rem mobil tidak berfungsi. Entah rusak atau ada yang merusaknya Mama benar-benar tidak tahu. Yang terlintas dalam pikiran adalah Mama harus selamat. Mama tak bisa meninggalkanmu sendirian di dunia yang kejam ini. Sherin maafkan mama, karena peristiwa itu Kau banyak menderita hiks hiks hiks" katanya menjelaskan.


Kuberikan selembar tisu padanya. Aku sebagai anak juga tak bisa menyalahkannya. Yang aku tahu semua itu terjadi karena sudah kehendak-Nya tanpa bisa ditawar lagi.


"Nyonya tidak apa-apa?" tanyaku pelan di jawabnya dengan anggukan. Setelah sedikit tenang Wanita itu melanjutkan ceritanya.


"Saat itu kubanting setir mobil ke kiri berharap tak akan ada yang menjadi korban. Mobil Mama terjun bebas ke dasar sungai yang dalam. Setelah Mama sadar dari koma selama 10 tahun. Mama kehilangan ingatan akibat benturan keras. Entah siapa yang menolong dan membiayai Rumah sakit Mama. Mama terus berusaha mengingat masa lalu Mama tapi nihil. Yang selalu terlintas dalam mimpi Mama adalah senyumanmu saat Mama pamit pergi dan itu menjadi pertemuan terakhir Mama denganmu sampai kehendak Allah mempertemukan Mama denganmu lagi. Sherin,, bisakah kau memaafkan Mama? Bisakah suatu saat nanti kau mau memanggilku Mama lagi?" tanyanya yang membuatku bingung. Entahlah, sepertinya sulit dipercaya.


"Lalu siapa yang di kubur dimakam Mamaku? Baiklah. Untuk saat ini aku akan menganggapmu mamaku sampai saatnya tiba. Setiap kebenaran akan terungkap pada akhirnya. Jika saat itu kau memang mamaku maka aku sepenuhnya akan sayang terhadapmu tapi jika kau hanya menipu demi keuntunganmu maka kau akan menanggung akibatnya" kataku dalam hati memberinya kesempatan.


"Bolehkah aku bertanya Nyonya?" tanyaku canggung.


"Tanyakan apapun. Mama akan menjawab semuanya" jawabnya dengan tersenyum senang.


"Apakah aku lahir sebagai anak haram?" tanyaku pelan. Mama pun terkejut dengan pertanyaanku.

__ADS_1


"Nak tidak ada namanya anak haram. Yang ada itu adalah murni kesalahan orangtuanya. Sebenarnya Mama dan Ayah Kandungmu sudah menikah secara Agama. Kami dulu kawin lari karena kakekmu tidak pernah menyetujui hubungan Mama dengan Ayah kandungmu. Begitu juga sebaliknya Kakek dari Ayahmu juga tidak setuju.


Baru setelah ingatan Mama kembali Mama tau alasan mereka menentang pernikahan kami. Kakekmu tidak menyukai Kakek dari Ayahmu begitu juga sebaliknya karena mereka sama-sama mencintai wanita yang sama. Dan wanita itu adalah nenekmu.


Dalam pelarian bersama Ayahmu tidak sengaja Mama bertemu suruhan kakekmu tepatnya setelah Mama pulang dari memeriksakan kandungan dan kebetulan Ayahmu tidak ikut karena sedang bekerja. Saat itu usia kandungan Mama sekitar 3 Minggu. Ayahmu belum tau Mama hamil. Pikir Mama, kabar kehamilan ini akan menjadi berita yang baik tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Suruhan Kakekmu membawa Mama pulang. Kakek mengurung Mama di bawah tanah dan dijaga beberapa bodyguard. Sama sekali tak ada celah. Selama itu Mama putus komunikasi dengan Ayahmu.


Mama sama sekali tidak tau kabar tentang Ayahmu. Mama kira Mama boleh keluar saat penjara itu terbuka, ternyata Mama salah. Hari itu Mama dinikahkan dengan seorang Pemuda bernama Armanto. Ingin rasanya Mama bunuh diri kalau tidak mengingat ada kamu didalam rahim Mama.


Mama harus menikah dengan orang asing. Mama tidak tau siapa dia, bagaimana dan mengapa dia mau menikahi wanita yang belum pernah ditemuinya.


Sebelum ijab qobul pada hari itu, Mama memohon pada Kakek supaya bisa bicara Empat mata dengan Armanto. Kakekpun menyetujuinya. Mama menceritakan semuanya. Mama bilang kalau Mama sudah punya suami siri dan Mama bilang sedang mengandung anaknya. Dia tak peduli sama sekali. Dia menikah karena paksaan orang tuanya juga" jelas Mama panjang lebar dengan terisak-isak mengingat kenangan pahit itu.


"Siapa yang menyelamatkan mama saat itu?" tanyaku yang mulai tersentuh bagaimana Mama mempertahankanku disaat masalah yang dihadapinya tidak sesederhana yang dikira. Ku lihat matanya berkaca-kaca dan bibirnya tersenyum saat aku memanggilnya Mama.


"Ayah Kandungmu yang menyelamatkan Mama. Ternyata secara diam-diam Ayahmu menyuruh orang untuk mengawasi Mama dan saat Mama ingin bertemu dengannya kecelakaan itupun terjadi.


Meskipun Mama lupa ingatan dengan sabar Ayahmu merawat Mama. Itupun dilakukannya secara diam-diam tanpa diketahui kakekmu sampai kakekmu tiada barulah Ayahmu merawat Mama dirumahnya" jelasnya.


"Sherin maukah kamu memaafkan Mama nak?" tanya mamaku menangis.


"Tentu Ma. Mama Sherin kangen mama... hiks hiks hiks" jawabku sambil memeluk Mama erat.


"Jangan tinggalin Sherin lagi Ma..." kueratkan pelukanku pada Mama untuk melepas rindu ku selama 17 tahun yang tidak pernah mendapatkan pelukan hangat dari seorang Ibu. Tapi disisi lain ada perasaan berbeda yang membuatku menolak kehadirannya.


Kak Rey masuk dengan wajah kusut, mata merah dan ada bekas air mata yang tersisa di pipinya. Dia pasti mendengarkan semuanya.


"Mijah... jangan nangis lagi, aku benar-benar tidak bisa melihatmu menangis. Hatiku benar-benar sakit. Pipi chubbymu nanti kempes hu hu hu" ucapnya yang ikut menangis dan mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk ikut memeluk Mama dan aku.


"Aku rindu Ibu hu hu hu" ucapnya sambil memeluk kami lagi. Ku injak kakinya agar tak ikut memeluk wanita yang baru saja mengaku sebagai mamaku.


"Haduhhh sakit Tante... Mijah menindasku hu hu hu" rengeknya tak tau malu.


"Ini Mamaku. Om Tejo kalau mau meluk sana pulang peluk tante!!" godaku.


"Ahhh... Mijah jahat!!! Nakal nakal nakal..." katanya yang membuatku geli. Dan kamipun bertiga menangis bahagia dan juga tertawa bersama.


"Sherin siapapun dia kau tidak boleh memperlihatkan ketidaksukaanmu padanya. Kali ini anggaplah ia Mamamu. Perlakukan ia seperti dia benar-benar Mamamu. Berjuanglah Sherin.... berjuang!!!" kataku mengingatkan untuk bersabar dan kuat.

__ADS_1


Di dunia ini sejak nenek tiada, aku sudah terbiasa merawat dan menjaga diriku sendiri. Aku hanya percaya pada apa yang kulihat dan kupercaya benar sesuai kata hatiku. Jika ada yang tiba-tiba masuk dalam kehidupanku berusaha melindungiku maka haruskah kupercaya pada mereka??? Haruskah kusandarkan hidupku pada mereka????


__ADS_2