
Pagi ini Radith sudah bersiap-siap berangkat ke kampus.Beberapa kali ia melihat layar di hpnya. Namun Ara tidak juga menghubungi. Padahal ia sudah berpesan untuk menjemputnya kemaren.
"Apa gue aja yang nelpon dia?" Radith berfikir sejenak.
"Agh nanti dia jadi GR dikira gue butuh banget tumpangannya," gumam Radith.
Hampir satu jam ia menunggu Ara tidak juga menghubungi akhirnya ia memakai motor sport miliknya agar ia tidak terlambat sampai ke kampus.
Radith memakai helm hitam dan motor sport merah. Ia melaju dengan kencang menuju ke kampus. Sesampainya di pelataran parkir banyak mahasiswa lain yang memperhatikan. Tidak banyak yang membawa motor sport seperti milik Radith.
Saat ia membuka helmnya semua mahasiswi mengelu-elukan cowok tampan itu.
"Aaa Radith I Love You."
"Sumpah ganteng banget."
"Pliss tembak gue."
Begitulah kiranya suara-suara yang terdengar dari mulut gadis-gadis yang berkuliah di Universitas tersebut. Ketampanan Radith tidak perlu diragukan lagi sejak dulu ia memang sudah populer di sana.
Radith tak menghiraukan gadis-gadis itu. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Ara.
"Nah tu dia anaknya," Radith menambah kecepatan langkahnya untuk menghampiri Mutiara.
"Mut gue mau ngomong sama lo," kata Radith yang berdiri di depan Mutiara yang sedang asyik berbincang dengan Lulu sahabatnya.
"Mut mut apaan nama gue Mutiara bukan mut-mutan emang gue permen apa?" celoteh Ara membuat Radith semakin jengkel.
Laki-laki tampan itu kemudian menarik tangan Ara. Ara pun terpaksa berdiri. Radith menggelendeng Ara berjalan menjauhi Lulu.
Radith berhenti tiba-tiba sehingga membuat Ara menabrak punggungnya. Lalu Radith mendorong Ara sampai Ara terhimpit dengan satu tangan Radith yang menempel di tembok.
"Kenapa elo gak dateng buat jemput gue?" Radith marah.
"Jadi elo udah tahu kalau yang ngebonceng elo kemaren itu gue?" tanya Ara balik.
"Dikasih pertanyaan malah balik nanya,"
"Trus mau lo apa? Mau bilang ke semua orang kalau gue tukang ojek gitu?" bentak Ara.
Radith memutar bola matanya jengah."Dasar cewek gak tau terima kasih, gue tu ngasih kerjaan ke elo eh elonya malah sewot,"
"Harusnya yang marah sama elo tu gue, elo udah nolak makanan yang elo pesen waktu itu, gue jadi harus ngeluarin uang dua ratus ribu buat beli makanan doang," Ara mencebik kesal.
"Mana gue tahu kalau yang nerima pesanan itu elo," Radith beralasan.
__ADS_1
"Ara," seseorang memanggil namanya.
"Brian," Ara menyebut namanya hingga membuat Radith mengepalkan tangannya seolah menahan marah.
Brian menggandeng tangan Ara kemudian berjalan melewati Radith. Namun, Radith menarik tangan Ara yang satu lagi. Ara jadi bingung harus berjalan kemana.
"Kita ke kantin yuk Ra," kata Brian.
"Gak, dia bareng sama gue," kata Radith dengan tegas dan penuh penekanan.
"Biar Ara yang memilih," kata Brian.
"Gue ikut kak Brian," kata Ara sambil tersenyum ke arah Brian.
Lalu saat Ara dan Brian mulai melangkah meninggalkan Radith seketika Radith mengungkapkan isi hatinya.
"Gue suka sama lo," sepertinya Radith tidak mau keduluan sama Brian.
Ara sangat kaget. Radith mengatakan itu secara tiba-tiba hingga membuat bibir Ara kelu.Ia tidak tahu harus berbicara apa. Oleh karena itu Ara memilih meninggalkan Radith. Radith terlihat kecewa.
"Elo baik-baik aja bro?" tanya Didu yang sempat mendengar Radith mengatakan perasaannya pada Ara.
Radith diam saja. Ia berjalan dengan gontai. Ara bahkan tidak memberikan jawaban atau menolaknya.
Sedangkan Ara yang berjalan bersama Brian memilih diam. Brian mengamati wajah Ara yang terlihat bingung sehingga ia mulai membuka percakapan.
"Mana mungkin dia suka sama gue, paling dia mau ngerjain gue doang, tapi..." batin Ara dalam hati.
Suara Brian membuyarkan lamunan Ara. "Nih minum," Brian memberikan segelas es teh manis untuk Ara.
"Gak usah dipikirkan, kamu gak harus menerimanya kalau tidak suka," kata Brian.
"Ra gue cariin kemana-mana tahunya di sini," kata Lulu yang baru datang.
"Masuk yuk kita kan masih ada satu mata kuliah lagi,"
"Kak duluan ya," pamit Ara meninggalkan Brian.
"Bro lo beneran suka sama Ara?" tanya Didu penasaran.
"Gue gak tahu sejak kapan gue jadi suka sama dia Du," Radith terlihat frustasi.
"Lo gak lagi becanda kan?" Didu memegang dahi Radith dan membandingkan dengan dahinya.
"Gak panas,"
__ADS_1
"Gue gak lagi sakit bego," umpat Radith.
"Cinta emang gak tahu kapan datangnya bro, bedanya benci sama cinta bener-bener tipis buktinya elo yang dulu benci sama Ara sekarang cinta sama dia,"
"Ngomong apa sih lo," Radith kesal mendengar ocehan Didu ia memutuskan pergi.
Selesai kuliah seperti biasa Ara bekerja menarik ojek online. Tanpa diduga di tengah perjalanan ia dihadang oleh sekelompok orang yang berniat jahat kepadanya.
"Mau apa kalian?" bentak Ara.
"Galak banget neng, sini main dulu sama abang," kata salah seorang kawanan yang mencoba menggoda Ara.
Lalu Ara menendang orang itu sampai jatuh tersungkur. Kemudian teman-teman penjahat itu berusaha menyerang Ara tapi Ara bisa menghindar. Ia kemudian turun dari motor untuk melawan para penjahat itu.
Mereka berjumlah lima orang, di antara mereka ada yang membawa senjata. Sedangkan Ara hanya bertangan kosong. Ia hanya mengandalkan pukulannya.
Radith kebetulan lewat di jalan itu. Ia melihat Ara sedang berkelahi dengan para preman. Ia pun menghentikan motornya untuk membantu Ara.
Dari arah yang berlawanan Radith menendang badan salah seorang di antara mereka.
"Lo gak papa Ra?" tanya Radith saat sedang bersandar dengan punggung Ara.
"Ya gue gak papa," jawab Ara sambil ngos-ngosan.
"Lo siap Ra," kata Radith. Ara pun mengangguk seolah mengerti apa yang dimaksud oleh Radith.
Lalu Ara memegang tangan Radith dan memutar badannya dan menjadikan Radith sebagai tumpuan untuk menendang preman-preman itu. Radith lalu bergantian menendang preman yang datang dari arah berlawanan.
Radith terus menggenggam tangan Ara sehingga membuat jantung Ara berdegub kencang.Ada perasaan nyaman yang menyelimuti hatinya.
Beberapa orang mulai maju menyerang kedua muda-mudi itu. Namun serangan mereka mampu ditangkis oleh Ara dan Radith.
Penjahat lain menyerang Radith dari belakang, tapi pemuda tampan tersebut bisa menghindari serangan. Tangan penjahat yang menyerangnya ditarik maju lalu Radith menyikut kuat ulu hati yang posisinya saat itu berada di belakangnya. Alhasil senjatanya terjatuh dan penjahat itu membungkuk menahan sakit hingga darah segar keluar dari mulutnya.
Tidak berhenti di situ, gantian Ara yang berbalik badan menghadap para penjahat yang menyerangnya dari arah lain. Ara memberikan pukulan dan tendangan kepada mereka sehingga semuanya mengeram kesakitan. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang sudah menjadi babak belur akibat pukulan-pujulan yang dilancarkan Ara dan Radith.
Dalam waktu sekejap keduanya membuat sebagian besar para preman itu pingsan tak berdaya. Kemudian di antara mereka yang tersisa berfikir ulang apakah mereka akan menyerang atau tidak. Sebab berbagai cara serangan yang di arahkan kepada dua remaja itu selalu berhasil ditangkis dengan sempurna.
"Lo hebat juga," puji Radith dengan denyum yang menawan.
"Lo juga keren," puji Ara tapi dalam hatinya.
Setelah para penjahat itu pergi Radith mengambil tasnya yang terjatuh lalu memakai helm dan menyalakan mesin motornya. Ara tidak sempat mengucapkan terima kasih. Ia hanya bisa menllihat kepergian Radith.
...***...
__ADS_1
Jangan lupa like ya