Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Ribut


__ADS_3

"Sayang kapan jadwal periksa ke dokter?" tanya Rasya saat sedang menyetir. Sesekali menoleh ke arah istrinya.


"Seminggu lagi kak," jawab Ara.


"Lama sekali padahal aku pengen lihat anak dalam perutmu ini," Rasya mengelus perut Ara sayang. Semenjak Ara hamil, Rasya suka sekali mengelus perut istrinya yang masih datar itu.


"Sabar ya papa, aku juga pengen ketemu papa tapi belum saatnya," ucap Ara menirukan suara anak-anak lalu ia terkekeh sendiri.


"Oh ya Yang besok tidak usah ikut aku ke kantor, nanti kamu digoda banyak laki-laki," Rasya memberi peringatan pada istrinya.


"Kakak cemburu?" tanya Ara pada suaminya.


"Tentu saja, kamu kan milik kakak," jawab Rasya tegas.


"Ya ampun kakak posesif banget sih, terus aku harus ngapain dong kalau lagi gak kuliah?"


"Kamu istirahat aja di rumah,"


"Justru gak bagus kalau kurang gerak, aku besok main ke kantor ojek online ya, aku kangen sama mbak Sarah sama mbak Diana," mohon Ara.


Rasyaa berfikir sejenak."Baiklah, kamu juga bisa menggantikanku sementara waktu di sana, untuk saat ini aku akan memegang perusahaan ayah, apa kamu keberatan?"


"Suatu kehormatan bagi hamba baginda," jawab Ara dengan bahasa ala-ala pengawal kerajaan.


"Kamu ada-ada saja," Rasya mengacak rambut istrinya karena gemas.


"Kak Rasya kebiasaan deh, rambut aku acak-acakan nih, nyatoknya lama tau," Ara mencebik kesal.


"Ya udah ayo mampir ke salon," ajaknya.


"Gak ah pengen ngemall aku pengen lihat sesuatu," pinta Ara.


Rasya pun menuruti kemauan istri kecilnya itu. Setelah sampai di parkiran mall, Ara menarik tangan Rasya agar mempercepat langkahnya.Ara mengajak Rasya memasuki stand yang menjual baju-baju bayi.


"Ih lucu-lucu ya kak, lihat deh," kata Ara bersemangat sambil menunjuk salah satu baju bayi yang sangat imut baginya.


"Mama jadi gak sabar pengen belanjain kamu nak," ucapnya pada bayi dalam perutnya.


Rasya terlekeh melihat tingkah istrinya yang menggemaskan itu."Ya udah pilih yg kamu mau?"

__ADS_1


"Eh mana boleh belanja sekarang, kita kan belum tahu jenis kelaminnya apa," tolak Ara.


"Lalu untuk apa kita ke sini?" tanya Rasya bingung.


"Liat-liat doang," jawab Ara sambil nyengir.


Rasya mencubit kedua pipi Ara karena gemas sehingga Ara mengaduh. Rasya yang merasa bersalah jadi mengelus pipi istrinya itu. Pemandangan itu jadi pusat perhatian orang-orang yang berbelanja di toko tersebut.


"Kak, malu ih, banyak yang liat," lirih Ara.


"Kamu sih bikin kesel, habis ini kita kemana?" tanya Rasya yang menyadari mereka tidak memiliki tujuan yang jelas.


"Aku ingin membeli beberapa baju yang sedikit longgar, sebentar lagi perutku ini akan membesar, tidak mungkin aku memakai celana jins yang ketat seperti ini," pintanya.


Rasya pun mengabulkan keinginan istrinya itu.Ia menemani Ara untuk membeli beberapa baju yang bisa menutup perutnya yang mulai membesar.


"Kak ini bagus gak?" Ara menunjukkan setelan sweeter oversize pilihan nya pada samg suami.


"Kenapa gak pilih dress aja sayang?"


"Gak mau, aku malu kalau pakai dress atau daster gitu kaya ibu-ibu," keluh Ara. Rasya jadi tertawa mendengar ocehan istrinya."Kamu sebentar lagi juga akan jadi ibu sayang,"


"Tapi aku gak mau kelihatan jelek walau sedang hamil," kata Ara dengan wajah sendu.


"Kamu tenang saja kakak gak akan tertarik dengan wanita manapun, kecuali..." Rasya menggantung kalimatnya.


"Kecuali apa kak?" tanya Ara yang penasaran.


"Kecuali kalau anak kita nanti cewek, mungkin kakak akan jatuh cinta lagi,"


Di tengah obrolan mereka, Putri tiba-tiba datang menghampiri keduanya.Ia kebetulan sedang belanja di tempat yang sama.


"Ya ampun Ayang Rasya ada di sini?" Putri mencoba meraih tangan Rasya tapi Ara lebih dulu menepisnya.


"Dasar cewek ganjen, sudah tahu laki punya orang masih saja nempel," cibir Ara.


"Sya kamu gak malu jalan sama cewe dekil ini?" tunjuknya ke arah Ara.


"Cih ngatain orang tapi situ gak ngaca sendiri, noh noh kaca banyak dimana-mana," balas Ara yang kesal setelah dikatai oleh Putri.

__ADS_1


"Elo takut kalau Rasya berpaling sama gue Ra?" tantang Putri.


"Cih, PD banget sih jadi orang, emang kak Rasyanga mau sama elo yang bekasnya om-om," balas Ara.


Putri mengepalkan tangannya."Jaga ya omongan lo," teriak Putri dengan nafas menggebu menahan marah.


"Elo tu yang mesti jaga kelakuan lo, cari laki-laki lain yang mau sama lo," Ara menarik tangan Rasya.


"Kalau ada," lirih Ara.


Putri yang mendengar cibiran dari saingannya itu jadi tidak terima. Lalu ia menarik rambut panjang Ara hingga Ara mengaduh kesakitan. Rasya menggeleng melihat kelakuan dua wanita itu. Tapi ia juga membantu Ara agar Putri melepaskan rambut istrinya yang dijambak.


"Kamu gak papa Yang?" tanya Rasya pada istrinya.


"Gak papa gimana, sakit tahu dijambak," keluh Ara sambil terisak.


"Sudah ayo pergi saja tidak usah diladeni, ini tempat umum biar dia malu sendiri," ucap Rasya seraya mellihat ke sekitar yang menyadari pertengkaran antara istrinya dan Putri sudah menjadi lusat perhatian para pengunjung lainnya.


Rasya pun merangkul bahu Mutiara agar menjauh dari Putri. Tidak ada gunanya ia menanggapi kelakuan gila Putri. Putri yang merasa diabaikan menjadi kesal.


"Eh mau kemana lo?" Putri melangkah maju.


"Cukup, lebih baik kamu pergi atau aku akan membuat dirimu menyesal sudah mempermalukan Ara," ancam Rasya dengan tatapan membunuh pada Putri.


Sebenarnya nyali Putri sudah menciut tapi ia tidak mau kelihatan takut di depan siapa pun.Ia berusaha tenang menghadapi kembaran Radith tersebut.


"Kamu ngomong apa sih Yang?" Putri mencoba menggoda Rasya dengan menyentuhnya. Tapi Rasya menepis kasar tangan Putri hingga wanita yang menjadi teman kuliah Rasya itu merasa kesal.


"Baik kita lihat saja siapa yang akan rugi, aku atau kamu?" balas Putri kemudian pergi meninggalkan keduanya.


"Huu dasar cewek gila," umpat Ara setelah kepergian Putri.


"Maafkan kakak ya Ra gara-gara kakak kamu jadi kena jambak sama Putri," ucap Rasya dengan penuh penyesalan.


"Kakak ngapain minta maaf orang yang salah kan Putri harusnya dia dong yang minta maaf ke aku bukan kakak," Ara menaikkan nada bicaranya.


"Kalem sayang kamu jangan sampai stres itu akan mempengaruhi perkembangan janin yang ada di dalam kandungan kamu," Rasya mengingatkan.


Ara menarik nafas dari hidung lalu mengeluarkan nya secara perlahan melalui hidung. Terus ia lakukan tiap kali ia ingin marah. Setidaknya ia dapat mengontrol emosinya.

__ADS_1


"Kamu gak papa kan sayang, mama takut kamu kena sawan dari nenek lampir itu," ucap Ara pada janin dalam perutnya.


Rasya kembali melihat tingkah gemas istrinya hingga dia pun tidak bisa untuk tidak mencubit pipi Ara yang sudah mulai cabi itu.


__ADS_2