Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Ara Ketahuan


__ADS_3

Hampir satu jam Ara baru tersadar.


"Aduh kepalaku," Ara memegang kepalanya yang masih pusing.


"Ra elo udah sadar?" tanya Lulu khawatir.


"Gue dimana Lu?" tanya Ara lagi.


"Elo di poliklinik, elo pingsang tadi," terang Lulu.


"Hah gue pingsan," Ara mencoba bangun dan Lulu membantunya.


"Yang bawa gue ke sini siapa tadi?" tanya Ara penasaran.


"Kakak senior," jawab Lulu singkat.


"Elo kenapa sih Ra sampai pingsan segala? kalau lagi sakit jangan dipaksain masuk kuliah," Lulu memberi saran.


"Gue kehujanan kemaren, gue juga belum sarapan tadi pagi Lu," jujur Ara pada teannya itu.


"Hah elo ngapain hujan-hujanan segala, emangnya elo pergi kemana kemaren sampai elo jadi sakit kaya gini?" tanya Lulu seolah menginterogasi Mutiara.


"Balik aja yuk," Ara tidak menjawab pertanyaan Lulu ia malah ingin pulang walau badannya masih lemas.


"Gue anterin ya Ra," Lulu menawarkan bantuan.


"Gak usah ntar motor gue gimana?" kata Ara.


"Nitip aja sama pak Satpam di sini,"


"Enggak Lu entar kalau mak gue tanya gue jawab apa?" Ara ngeles.


"Terus mau lo gimana? Apa lo kuat naik motor dengan badan lo yang lemes kaya gini?" Luku tidak tega melihat Ara yang pucat pasi.


"Gue gak papa Lu, jadi orang jangan parnoan deh," goda Ara.


Ara dan Lulu pun keluar dari ruangan poliklinik. Lulu mengantar Mutiara sampai di halaman parkir.


"Elo yakin Ra bisa naik motor sendiri," tanya Lulu sekali lagi.


"Yakin Lulu sayang,"

__ADS_1


Di sisi lain seseorang memperhatikan Ara dari tadi dari dalam mobil. Ia bermaksud mengikuti Ara. Dan benar saja saat Ara mulai menyalakan mesin motornya dan keluar dari halaman parkir, mobil itu pun ikut keluar.


Seperti biasa sepulang dari kampus Ara mampir ke kantor ojek online dimana ia bekerja. Namun, kali ini Ara berniat untuk izin tidak narik penumpang mengingat kondisinya yang sedang sakit.


Saat Ara memasuki kantor ojek online. Mobil Radit parkir tepat di seberang jalan. Ia bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan Mutiara di dalam sana. Ia sangat penasaran.


Tok tok tok


Ara mengetuk pintu ruangan supervisor.


"Ya masuk," suara itu terdengar dari balik pintu.


"Permisi pak Rio, hari ini saya izin tidak ngojek dulu ya," kata Ara dengan sungkan.


"Lho memangnya kenapa Ra?" tanya Rio.


"Saya tidak enak badan Pak," jujur Ara.


Kemudian Rio berjalan mendekat dan menempelkan tangannya ke dahi Ara.


"Kamu demam ya Ra?" tanya Rio.


"Iya pak," jawab Ara dengan suara lemas.


"Makasih banyak Pak, kalau gitu saya permisi," pamit Ara meninggalkan ruangan Rio.


"Tunggu Ra, apa kamu bisa pulang sendiri?" tanya Rio khawatir.


"Bisa pak," jawab Ara.


"O ya sudah," Rio pun tidak melanjutkan keinginannya untuk mengantarkan Ara. Ia takut kalau Ara merasa sungkan kepadanya.


Setelah itu, Ara kembali memakai helm dan pulang ke rumah. Diam-diam mobil Radith masih mengikuti Ara dari kejauhan. Ia tidak mau Ara sampai tahu apa yang sedang dilakukan Radith.


Setengah jam kemudian Ara sampai di halaman rumahnya.


"Ini tho rumahnya," gumam Radith. Setelah ia memastikan Ara pulang dengan selamat, mobil Radith pergi menjauh. Ara sempat melihat mobil Radith tapi ia tidak menaruh curiga sama sekali. Mungkin ia kebetulan lewat pikirnya saat itu.


"Assalamualaikum bu, Ara pulang," teriak Ara.


"Tumben pulang cepat nak?" tanya Bu Mia.

__ADS_1


"Hari ini Ara izin bu soalnya Ara lagi gak enak badan," kata Ara sambil menyeret tasnya ke dalam kamar.


"Mesti gara-gara kehujanan kemaren, ibu buatin teh anget dulu ya," Bu Mia pun bergegas ke dapur.


Saat Bu Mia mengantarkan teh ke dalam kamar Ara, ia melihat anaknya itu sudah tertidur lelap. Namun, sepertinya Ara belum sempat berganti pakaian dan melepas sepatunya.


"Anak ini," Bu Mia menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku anaknya itu.


Ia pun berbaik hati melepaskan sepatu Ara dan mengambil tas yang dibuang seenaknya.


Hari berikutnya Mutiara bersiap kembali ke kampus dan seperti hari-hari biasanya selesai ia mengikuti kuliah Ara absen ke kantor ojol.


Karena penasaran dengan apa yang dilakukan Ara kemaren, Radith kembali mengikuti Ara sepulang dari kampus.


Setelah absen Ara pun memakai jaket dan helm ojol. Radith kaget ketika mengetahui pekerjaan Ara yang sebenarnya. Ia tidak menyangka Ara memilih bekerja sebagai tukang ojek online untuk mendapatkan uang guna membayar hutanganya.


"Salut gue sama ni bocah, gue jadi makin penasaran sama dia," Radith tersenyum menyeringai.


Setelah tahu pekerjaan Ara, Radith pergi karena dia tidak mau Ara curiga kalau dia sedang diikuti. Laki-laki itu tidak mau Ara berfikir macam-macam kepadanya. Sudah cukup dengan masalah kecelakaan yang mengakibatkan mereka selalu bertengkar apabila sedang bertemu. Namun siapa sangka sepertinya Radith menaruh hati pada Ara.


"Eh dia ko belum hubungin nomor gue ya, jelas-jelas dia punya hp. Apa nomor yang gue tulis di tanganny waktu itu hilang ya? Ck, dasar cewek ngeselin," Radith jadi ngomong sendiri sambil menyetir.


Lalu laki-laki yang bernama lengkap Radithya Ramadhan itu memarkirkan mobilnya di sebuah kafe. Ia sudah janjian dengan temannya siapa lagi kalau bukan Didu.


"Hei bro," Didu melambaikan tangannya. Ia telah sampai terlebih dahulu untuk memesan tempat duduk. Radith berjalan mendekat ke arah Didu.


"Kirain lo gak dateng, bingung kan ane bayar ini semua," rupa-rupanya Didu sudah memesan makanan bermacam-macam tanpa menunggu kedatangan Radith.


"Sialan lo mesan makanan segini banyaknya emangnya perut gue tampungan apa?" umpat Radith.


"Tenang aja bro kalau elo gak habis kita bisa bungkus semua makanan ini tapi gue yang bawa balik," ocehan Didu membuatnya dilempar serbet oleh temannya itu.


"Eh Du gue mau nanya sama lo?"


"Apaan bro tanya aja yang banyak gue punya stok jawaban yang cukup," kata Didu sambil mengunyah makanannya.


"Ih jorok lo, emm seumpama elo punya hutang ke gue gimana cara elo nglunasin hutang?" pertanyaan Radith membuat Didu tersedak. Sebelum ia menjawab pertanyaan itu ia meminum segelas air putih yang ada di depannya.


"Kenapa jadi gue yang hutang bro? Selama elo menjamin hidup gue kaya gini gue gak perlu hutang sama elo iyakan?" jawaban Didu malah melenceng dari pertanyaan.


"Elo ya bisanya cuma morotin gue aja," kesal Radith.

__ADS_1


"Yagh bro secara elo kan kaya raya berbagi sedikit bolehlah, itung-itung amal," Didu menaik tirunkan alisnya.


Radith memutar bola matanya jengah. Sepertinya ia salah mengajukan pertanyaan pada Didu. Sudah pasti ia tidak akan mendapatkan jawaban yang ia inginkan.


__ADS_2