
Ara sudah berada di luar kafe sedang menunggu jemputan. Ia berdiri sambil memainkan kakinya. "Kok lama sih?" ucapnya gelisah sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Lima menit kemudian seseorang dengan membawa motor matic merk D-Max berhenti tepat di hadapannya. Ara mengembangkan senyum di wajah cantiknya.
Rasya menghentikan motornya lalu membuka penutup helm yang ia kenakan. "Udah lama nunggunya?" tanyanya sambil memberikan helm pada istrinya.
"Gak juga," jawabnya singkat.
Ara mencoba memakai helm tapi entah kenapa ia merasa kesulitan. Rasya kemudian membantu memakaikan helm pada istrinya itu. "Biar aku bantu," ucapnya seraya mengunci helm sampai bunyi klik.
Rasya melepas jaket yang ia bawa kemudian memakaikannya pada sang istri. Ara yang melihat perlakuan manis suaminya jadi bersemu merah. Rasya memang bukan tipe cowok yang suka memberi bunga atau cokelat untuk menunjukkan keromantisannya. Namun, perhatian serta kepedulian yang selalu ditunjukkan sudah menjadi bagian dari sisi romantis sang suami.
"Mau langsung pulang apa mau mampir dulu?" tanya Rasya pada istrinya yang baru naik ke belakang motor.
"Emm mampir kemana?" tanya Ara ragu.
"Dedek gak pengen makan apa-apa gitu?" Rasya balik tanya.
"Gak pengen apa-apa sih sebenarnya,"
"Kalau gitu kita langsung pulang, tapi seumpama nanti di jalan ada tukang jajanan yang pengen kamu beli kita bisa berhenti," ucapan Rasya membuat Ara senang. Suaminya itu memang selalu mengerti kebutuhan istrinya.
Rasya pun mengendarai motornya pelan sembari menikmati angin sepoi-sepoi. Ara mengamati jalanan sekitar sambil melihat-lihat barangkali ada sesuatu yang bisa ia makan, sayangnya malam ini jalan begitu sepi mungkin karena waktunya sudah terlalu malam. Tak lupa ia melingkarkan tangannya di perut Rasya. Sesekali ia juga menyandarkan kepalanya.Mereka pun mengobrol ringan di atas motor untuk mengurangi kepenatan.
"Jangan ngantuk ya Ra," ucap Rasya tanpa menoleh ke arah istrinya.
"Iya," jawab Ara malas sambil menyandarkan kepalanya.
"Tadi acara di kafenya Lulu gimana?" tanya Rasya basa basi.
"Lancar, lumayan rame lho kak tadi, ini kan hari Valentine, banyak yang yang ngasih bunga ke pacarnya, ada juga yang ngasih cokelat," ucap Ara antusias.
"Kenapa kamu mau seperti itu juga?" tanya Rasya sambil mengelus tangan istrinya yang melingkar di perutnya.
"Buat aku tiap hari udah jadi hari kasih sayang, gak perlu nunggu hari valentine buat ngungkapinnya, apalagi pake ngasih bunga sama cokelat segala, yang penting kakak udah perhatian sama aku aja udah seneng," jawab Ara dengan mengeratkan pelukannya.
"Kamu peluknya jangan kenceng-kenceng, kasian yang di tengah nanti kegencet," Rasya mengkhawatirkan perut Ara.
"Eh iya lupa, habisnya masih datar-datar aja nih perut, cepet besar ya kamu," seru Ara dengan mengelus perut datarnya.
"Nanti kalau udah lewat enam belas minggu udah keliatan gede Ra, kamu siap keliatan gendut?" ejek Rasya.
"Ih kak Rasya gak tahu aja cewek yang lagi hamil itu seksi lho," perkataan Ara membuat Rasya terkekeh.
__ADS_1
"Iyain aja deh biar cepet," jawaban Rasya membuatnya mendapatkan pukulan kecil dari Ara.
Ketika Rasya berhenti di lampu merah, Ara tidak sengaja melihat tempat duduk kosong di taman dengan penerangan lampu warna merah.
"Kak lihat deh, kalau di film drakor tempat kaya gitu udah paling romantis buat ngobrol sama pacar," pandangan Rasya mengarah ke tempat yang ditunjuk oleh Ara.
"Kamu pengen ke sana?" tanya Rasya.
Ara melihat jam di pergelangan tangannya. "Gak, udah larut, next time aja," tolaknya.
Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumahnya. Rasya membunyikan klakson berhenti sejenak untuk menunggu satpam membukakan pintu gerbang.
"Makasih pak," kata Rasya pada penjaga rumahnya. Pak Satpam hanya membalas dengan anggukan kepala.
Setelah memasuki garasi dan memarkirkan motornya dengan sempurna, Ara turun terlebih dulu dari motor.
"Hacchih" Rasya menggosok hidungnya yang gatal setelah membuka helm.
"Kakak pasti kedinginan gara-gara jaketnya aku pinjam," tebak Ara yang merasa khawatir.
"Gak papa sayang, cuma bersin biasa, yuk masuk," ajak Rasya seraya menggenggam lembut tangan istrinya.
Ara melihat ke arah tangannya yang sedang bertaut dengan tangan sang suami. Jantungnya serasa berdesir. Ada perasaan hangat yang menyelimuti.Ia pun tersenyum.
"Kak aku buatin minuman hangat ya buat kakak," Ara melepas jaket Rasya kemudian berlalu ke dapur untuk membuat sesuatu yang hangat.
"Diminum kak," ucapnya seraya memberikan cangkir yang ia bawa pada suaminya.
"Apa ini sayang? rasanya tidak enak," tanya Rasya dengan ekspresi wajah tidak suka.
"Itu jahe hangat, kakak gak pernah minum sebelumnya?" pertanyaan Ara hanya dijawab Rasya dengan menggeleng.
"Ya ampun ini enak tahu, bisa menghangatkan badan, ayo kak diminum lagi biar gak jadi flu," pintanya sedikit memaksa.
"Nanti saja," tolak Rasya.
"Nanti kapan ini udah waktunya istirahat kakak gak mau naik ke atas?" tanya Ara mengingatkan karena sudah terlalu malam untuk sekedar ngobrol di ruang TV.
"Baik, tapi sedikit saja ya," dengan terpaksa Rasya meminum minuman jahe hangat buatan Ara.
"Habisin kak," Ara mendorong gelas agar Rasya meminumnya sampai habis.
Rasya pun terpaksa meminum minuman yang rasanya tidak enak baginya. Setelah meminum habis ia pun menjulurkan lidah.
__ADS_1
"Aku jamin habis ini badan kakak jadi enakan, ya sudah yuk naik aku udah ngantuk banget," Ara menutupi mulutnya saat menguap.
Rasya mengangguk. Kemudian ia pun menuntun istrinya menaiki tangga."Pelan-pelan sayang," ucapnya dengan memegang bahu sang istri.
"Ya ampun kakak berlebihan, aku bisa jalan sendiri," protes Ara.
"Tapi kamu kan lagi hamil, hati-hati kalau lagi jalan di tangga,"
"Tapi gak gini juga, mungkin nanti kalau perut aku udah gede," Ara terkekeh membayangkan perutnya yang besar.
"Ah kelamaan," Rasya menggendong tubuh Ara ala bridal style.
"Eh kak Rasya hati-hati, bahaya tahu," Ara malah khawatir saat dirinya berada di atas kedua tangan Rasya.
"Tenang aja sayang kamu gak akan jatuh,"
"Tapi nanti kakak yang capek,"
"Ada tukang pijitnya,"
"Hah, siapa?" tanya Ara penasaran.
"Kamu," jawab Rasya terkekeh setelah itu menurunkan tubuh Ara karena mereka telah sampai di depan kamar.
"Berani bayar berapa?" pertanyaan Ara membuat Rasya mengerutkan dahi.
"Berapa pun kamu mau?" jawabnya enteng.
"Apaan sih aku gak minta uang ko, tadi cuma becanda, nanti aku pijitin ya coba bilang mana yang sakit?" Ara mengajak suaminya duduk di atas ranjang.
"Sini," Rasya menunjuk pipinya.
Ara jadi menggelengkan kepalanya. Ia tahu apa yang diminta sang suami. Lalu Ara pun memberikan sebuah kecupan singkat di pipi kirinya.
"Sini juga," Rasya menunjuk pipi kanannya.Ara kembali memberi ciuman pada pipi laki-laki yang duduk di depannya itu.
"Mana lagi?" Ara sengaja bertanya.
"Ini," kali ini Rasya menunjuk bibirnya.
"Ih kak Rasya mesum," cibir Ara yang merasa malu.
Ara hendak berdiri untuk menghindar tapi Rasya lebih dulu meminta haknya. Ia mulai mencium bibir Ara. Menarik tengkuknya untuk memperdalam ciumannya.Ciuman lembut itu berubah panas semakin lama semakin menuntut. Ara hanya pasrah dengan perlakuan suaminya.
__ADS_1
"Sayang bolehkan? Aku janji akan melakukannya dengan lembut," tanyanya meminta izin pada sang istri.
Mana mungkin Ara menolak. Mau tak mau ia mengikuti kemauan sang suami untu bercinta malam ini. Ara mengangguk pelan menjawab pertanyaan Rasya. Rasya pun tersenyum dan mulai melakukannya dengan lembut.