Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
LULU


__ADS_3

Sesampainya di rumah Rasya melepas sarung tangan yang ia kenakan saat berkendara. Terlihat sedikit memar dan darah di bagian ruas jari-jarinya setelah menghajar para penjahat yang mencoba melukai Ara tadi.


Bibirnya sedikit tertarik ke atas saat mengingat Ara yang tiba-tiba memeluknya tadi. Bayangan wajah Ara juga berada dalam pikirannya sekarang.


Lalu ia mengarahkan wajahnya ke kaca besar yang ada di sudut kamarnya. Ia menoleh ke kanan lalu ke kiri untuk melihat apakah ada bagian wajahnya yang memar. Namun sepertinya tidak karena saat perkelahian tadi wajahnya hampir tidak tersentuh.


Rasya pun mengambil kotak obat yang ada di laci mejanya. Karena tidak bisa membalut sendiri luka di tangan nya itu, Rasya memanggil adisten rumah tangganya.


"Tangan aden kenapa bisa sampai berdarah gini?" tanya wanita yang usianya jauh berbeda dengannya.


"Saya gak papa," ucap Rasya sambil tersenyum.


Sang ART melilitkan perban beberapa kali ke tangan Rasya untuk membalut lukanya sampai tetutupi.


Sementara itu Ara yang sedang berada di kamarnya sibuk menatap langit-langit atap rumahnya. Rumah yang sangat sederhana. Atapnya yang tidak dilapisi sekat membuat Ara bisa melihat cahaya bulan dari genteng kaca yang terpasang di antara genteng lainnya.


Malam itu susah baginya memejamkan mata meski raganya sudah lelah. Bayangan wajah Radith selalu hadir tiap kali ia memejamkan matanya. Di dalam benaknya masih bertanya-tanya siapa sebenarnya laki-laki yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya itu.


Ara tidak tahu mengenai keluarga Radith karena mendiang kekasihnya itu tidak pernah menyinggung soal keluarganya.Bahkan dulu Ara pernah dikerjai oleh Radith karena mengira Andrea itu istrinya. Waktu itu Radith mengaku Cibul sebagai anaknya.


Lewat tengah malam Ara baru tertidur dengan posisi masih memakai sepatu. Karena semalam gadis itu langsung merebahkan tubuhnya meski tidak langsung tertidur.


Keesokan harinya ponselnya berbunyi. Ara meraba dengan mata yang masih terpejam.


"Hallo," Ara menjawab dengan suaranya yang parau.


"Ara" teriakan Lulu membuat Ara menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Apaan?" Ara mengubah posisi tidurnya yang semula tengkurap menjadi telentang.


"Kapan ngerjain tugas kelompoknya?" ucapan Lulu membuat Ara mengerjapkan matanya beberapa kali.


Ia ingat ada tugas kuliah yang belum diselesaikan dan waktu pengumpulannya besok.


"Oke cusslah dimana ngerjainnya?" tanya Ara pada Lulu.


"Gue ke rumah lo?" tambahnya lagi karena tidak juga mendapatkan jawaban dari Lulu.


"Eh jangan di sini ada keponakan gue yang lagi nginep, anaknya super rempong, bisa gak selesai nanti," ucap Lulu yang masih berbicara melalui sambungan telepon.


"Trus dimana dong di cafe lo?" tanya Ara lagi.


"Ya kali minggu gini kan rame banget," jawaban Lulu membuat Ara jadi bingung.


"Ya udah ngerjain di rumah gue mau gak?" Ara memberi pilihan lain.

__ADS_1


"Gitu juga boleh Ra,1 jam lagi gue ke tempat lo," Lulu kemudian menutup sambungan telepon.


"Bu nanti Lulu mau ke sini," ucap Ara yang berjalan menuju kamar mandi dengan handuk yang ia kalungkan di leher.


"Mau ibu beliin sesuatu?" tanya Bu Mia.


"Emm gak usah bu, nanti Ara aja yang belanja di indoapril," katanya sebelum benar-benar menutup pintu kamar mandinya.


Setelah selesai mandi Ara cepat-cepat berganti pakaian dan mengeluarkan motornya untuk keluar membeli camilan.


"Pagi Bu," sapa Lulu yang ternyata sampai lebih cepat dari perkiraan.


"Eh temennya Ara ya?" tanya Bu Mia.


"Iya," jawab Lulu yang masih berdiri di teras.


"Tunggu ya Ara ke indoapril katanya mau beli camilan buat kamu," Bu Mia kemudian mempersilahkan Lulu duduk di kursi teras rumahnya.


Lulu memperhatikan rumah Ara yang begitu sederhana namun sangat bersih. Ia memindai sekeliling rumah temannya itu. Ada banyak tanaman yang ditanam di sekitar rumah membuat rumahnya begitu teduh dan asri.


"Kasian banget kamu Ra tinggal di rumah yang sekecil ini," batin Lulu.


Tak lama kemudian terdengar suara motor yang datang. Ara turun dari motor dengan membawa satu kresek camilan. Ia tahu ini cara membuat Lulu betah di rumahnya.


"Eh cepet banget nyampenya Lu," sapa Ara yang baru menginjakkan kakinya di teras.


"Tapi gue gak lihat mobil lo?" Ara menoleh ke belakang mencari keberadaan mobil temannya.


"Gue minta dianterin sama supir," jawab Lulu.


"Darimana lo? gue nyampe elu gak ada?" tanya Lulu seraya melihat ke bungkusan kresek yang dibawa temannya itu.


"Gue habis beli jajan buat lo," ucapan Ara membuat senyum Lulu mengembang seperti anak kecil yang mendapatkan jajan dari orang tuanya.


"Bakalan betah nih kalau kaya gini," ucapnya membuat keduanya tertawa.


Ara pun mulai mengambil laptop dan beberapa buku di dalam kamarnya. Selang beberapa saat kemudian Bu Mia keluar membawa dua gelas es teh dalam gelas yang lumayan tinggi.


"Diminum dulu nak ibu cuma bisa kasih ini," Bu Mia meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja.


"Iya bu makasih," ucap Lulu dengan sungkan.


"Ibu tinggal ke belakang ya," pamitnya.


"Ibu lo baik banget Ra,beda sama ibu gue kerjaannya ngomel mulu kalau di rumah heran gue, gue berasa kaya anak tiri tahu gak," Lulu jadi curcol di depan Ara.

__ADS_1


"Huss gak boleh ngomong gitu, ibu lo ngomel bukan tanpa alasan kan?" ucapan Ara membuat Lulu berfikir.


"Iya juga sih, tapi ya kenapa cara nyampeinnya itu gak kaya ibu lo gitu, ngomongnya baik-baik gitu kan bisa," Lulu membanting bukunya di atas meja membuat Ara sedikit kaget.


"Lah napa lo ngomelnya ke gue, ngomong langsung depan nyokap lo," sindir Ara sambil mengetik di laptopnya.


"Gak berani gue," Lulu menutup sebagian wajahnya dengan buku tebal yang ia pegang.


"Dasar," Ara menggelengkan kepalanya.


Seusai mengerjakan tugas di rumah Ara. Lulu minta di antar pulang oleh temannya itu menggunakan motor.


"Seru juga ya naik motor, seumur-umur baru kali ini gue naik motor bareng lo, biasanya gue naik mobil kalau gak ya naik taxi kebetulan gue gak pernah naik ojek," kata Lulu dalam posisi membonceng Ara.


"Enakan naik mobil Lu, gak panas-panasan kaya gini,"keluh Ara yang merasakan hawa panas yang menyengat di kulitnya.


"Ya elah udah bosen gue naik mobil, gue jadi kepikiran buat punya cowok yang bisa boncengin gue tiap hari ke kampus,"


"Ntar gue bilang sama Didu," sindir Ara membuat Lulu memukul bahunya.


"Gak usah ya bawa nama-nama dia, yang lain napa?" Lulu mencebik kesal.


"Lah bukannya kalian jodoh, buktinya waktu itu kalian janjian di kafe," Ara jadi tertawa.


"Gue juga gak nyangka kalau itu dia padahal gue juga punya nomornya tapi ternyata dia pake nomor yang lain,"


"Dih kaya elo gak aja," ejeknya.


Ara menepikan motornya setelah sampai di depan rumah Lulu. Ia tak sampai masuk ke dalam rumah Lulu.


"Wih rumah lo gede banget Lu," puji Ara melihat pagar yang menjulang tinggi di depan.


"Bukan rumah gue," Ara mengernyitkan dahi.


"Rumah bokap gue maksud nya bego," Lulu melepaskan helm milik Ara.


"Betewe pegel juga ya boceng di belakang," Lulu menggerakkan kepala sambil memegang salah satu bahunya.


"Yee udah gue bilangin elo tu gak cocok naik motor," cibir Ara.


"Iya sekali ini doang, gue ralat deh kalau gitu gue gak mau punya cowok yang gak punya mobil,"


"Sok pilih-pilih kasta lo, ntar gak laku lagi hehe," canda Ara.


"Ara," Lulu berteriak namun Ara sudah melajukan motornya.

__ADS_1


...***...


Jangan lupa tinggalin jejak ya, kalau ada penulisan typo maklumin aja ya yang penting masih bisa dipahami maksudnya. Author ngebut bab tuntutan editor hehe


__ADS_2