
"Ra mbak turut berduka ya," Diana berbela sungkawa setelah mendengar kabar Radith meninggal.
Dua hari Ara di rumah sakit lalu Diana dan Sarah beserta Rio mengunjunginya. Mereka tahu kabar Ara di rumah sakit saat ibu Mutiara mengangkat telpon dari Rio atasannya yang saat itu hendak menanyai perihal alasan Ara tidak masuk kantor.
"Makasih ya mbak," Ara menangis di pelukan Diana.
"Semangat ya Ra jalan kamu masih panjang ada kehidupan yang harus kamu perjuangkan, jangan putus asa," tambah Diana.
"Apa gunanya aku hidup mbak kalo orang yang aku sayang malah ninggalin aku," Ara menangis tersedu-sedu.
"Jangan gitu Ra masih banyak yang peduli sama kamu, ikhlasin dia yang sudah gak ada, Tuhan lebih sayang sama pacar kamu," nasehat Diana membuat Ara berfikir mungkin benar apa yang dikatakan Diana.
Ara melepas pelukannya kemudian melihat ke arah Sarah. Sarah mengangguk seolah memberikan dukungan untuk Ara. Meskipun biasanya dia jutek terhadap juniornya itu, namu kali ini sikap Saah berbeda. Ia bahkan menggenggam salah satu tangan Ara untuk menyemangati dirinya.
"Maafin saya Pak Rio tidak masuk tanpa alasan," masih dengan air mata yang berurai Ara berucap pada Rio.
"Tidak apa-apa Ra,kamu yang sabar ya Ra," Rio tersenyum pada Ara.
"Bu mereka ini teman-teman kerja Ara di kantor. Maaf ya bu selama ini diam-diam Ara bekerja sambil kuliah," akunya pada sang ibu.
"Gak papa nak asal itu tidak mengganggu kuliah mu bagi ibu tidak masalah," bu Mia duduk di depan Ara dan mengelus tangan putri kesayangannya itu.
"Makasih banyak bu," Ara jadi terharu dan kembali meneteskan air mata melihat sang ibu tersenyum padanya.
...***...
Setelah kembali dari rumah sakit Ara meminta ibunya menemani Ara ke makam Radith. Ia tidak sanggup kalau pergi sendirian.
Setibanya di area pemakaman, kaki Ara terasa lemas saat baru turun dari taxi. Hatinya masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Radith sudah pergi terlebih dulu. Setetes air mata yang jatuh cepat-cepat ia seka dengan tangannya.Ia menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Sang ibu yang melihat putrinya sedih menjadi tidak tega.
"Kamu kuat nak,ibu yakin kamu kuat," Ibu Mutiara menyemangati putrinya.
Lalu ia tiba di nisan bertuliskan nama Radithya Ramadhan. Air matanya tidak bisa dibendung lagi.Ara menjatuhkan diri di atas tanah yang masih merah dengan taburan bunga di atasya. Ara menangis sambil memeluk nisan itu.
"Kamu jahat banget Dit kenapa kamu ninggalin aku? aku gak sanggup Dit hidup sendiri tanpa kamu,aku gak sanggup," kata Ara dengan mulut bergetar dan derai air mata yang mengucur deras.
"Sudah nak ikhlasin Radith biar dia tenang di alam sana, dia akan sedih kalau melihat kamu menangis terus seperti ini," Bu Mia mencoba menenangkan diri sang putri.
Ara berbalik memeluk sang ibu.
"Mari doakan dia," ajaknya.
...***...
__ADS_1
Siang itu di kampus Lulu tidak melihat keberadaan Ara seusai kuliah selesai. Sudah beberapa hari ini Ara masuk kampus.
"Eh burung hantu elo lihat Ara gak?" Lulu menepuk pundak Didu yang tengah mendengarkan musik sendirian di taman.
"Mutiara? Gak lihat gue, eh ngomong-ngomong sekarang dia berubah ya jadi kaya kulkas jalan tahu gak, tanpa ekspresi dingin banget, gue sering manggil dia tapi dicuekin," keluh Didu sambil mengerucutkan bibirnya.
"Elo kan tahu sendiri Ara patah hati sepatah-patahnya semenjak ditinggal Radith, maklum lah gue lagi sayang-sayangnya waktu itu," timpal Lulu.
"Gue jadi kasian lihatnya, andai dia mau berpaling membuka hatinya sedikit, biarin gue masuk ke dalam hatinya mengisi relung hatinya yang kosong dan mengobati hatinya yang luka," kata Didu sok puitis.
Lulu pura-pura muntah mendengar ocehan Ddu yang mendadak menjadi seorang pujangga.
"Eh cowok kaya lo mau gantiin Radith ngaca Lo ngaca, elo sama Radith bagai bumi dan langit, jauh," cibir Lulu.
"Tu mulut makan berapa cabe pedes amat," Didu meraup mulut Lulu, tapi berhasil ditepis oleh tangan Lulu.
"Radith tu gak tergantikan buat Ara, elo gak tahu aja Ara sering nangis sendirian kalau lagi ingat temen lo itu, tapi parahnya lagi dia sengaja nangis sambil hujan-hujanan," tambahnya lagi.
"Biar apa coba kan malah bikin sakit," kata Didu.
"Bego lu ya biar orang-orang gak tahu kalau dia lagi sedih. Dulu Ara yang gue kenal itu cewek yang tangguh tapi semenjak kepergian Radith dunianya hancur, sedih gue ngeliatnya," Lulu malah memeluk Didu sambil menempelkan pipinya.
Sedetik kemudian Lulu menyadari kemudian mendorong Didu sampai jatuh.Ia pun mengaduh kesakitan.
Setelah itu Lulu melihat Ara berjalan menuju area parkir kampus. Seminggu setelah kepergian Radith, Ara mulai menjalani hari-hari nya seperti biasa.
"Ra elo mau nemenin gue gak?" ajak Lulu.
Ara yang sudah berada di samping mobilnya tidak sampai membuka pintu setelah melihat Lulu menghampirinya.
"Kemana?" tanya Ara.
"Kopi darat," jawab Lulu singkat.
"Idih ogah, kan yang mau ketemuan elo kenapa bawa-bawa gue segala, ajak Didu tuh," Ara tertawa geli.
"Dih ntar gak jadi gue ngedate sama gebetan gue kalau bawa dia dikira kita pacaran lagi,"
"Ya kalau gitu pacaran aja sama Didu kalian cocok ko," Ara tertawa kecil mengejek Lulu.
"Mutiara," omelnya.
"Mau ya Ra," bujuknya lagi sambil menarik-narik baju Ara.
__ADS_1
"Hmm kapan?" jawaban Ara membuat Lulu tersenyum.
"Besok ya kan week end gue ngajak ketemuannya juga di kafe gue kok," kata Lulu senang.
"Ya lihat ntar," Ara kemudian pergi.
Seusai pulang kuliah seperti biasa Ara bekerja di kantor ojek online sebagai customer servis.
"Siang pak," sapa Ara pada pak Satpam setelah menutup pintu mobilnya.
"Eh neng Ara, seneng neng Ara udah balik kerja lagi," katanya yang baru melihat Ara setelah ia tidak masuk beberapa hari.
"Iya pak, kangen ya pak?"canda Ara membuat pak satpam yang usianya lebih tua dari Ara tersebut menjadi tertawa.
"Masuk dulu ya pak," pamit Ara.
Baru beberapa langkah ia menginjakkan kaki di kantor. Ia melihat teman satu profesi nya berjalan bersamaan.
"Mbak Diana," teriak Ara yang melihat Diana habis dari kantin bersama Sarah.
"Ara," Diana tampak senang melihat teman kerjanya sudah kembali.
"Kangen mbak," Ara memeluk Diana dan begitu pula sebaliknya.
Diana memang sudah menganggap Ara seperti adiknya sendiri. Bahkan tidak jarang Ara bersikap manja terhadap Diana.
"Lo gak kangen sama gue Ra?" sindir Sarah.
"Kangen mbak," Ara beralih memeluk Sarah.Kali ini Sarah membalas pelukannya
"Gak ada lo jadi sepi Ra," imbuhnya.
"Ah yang bener mbak, maaf ya mbak Ara bolosnya agak lama," kata Ara sambil melepaskan pelukannya.
"Gak papa kita paham," jawab Sarah.
"Mbak aku ke ruangan pak Rio dulu ya, mungkin dia kangen sama aku," kata Ara membuat Sarah kesal mendengarnya.
...***...
Maafkan author yang baru update karena server lagi-lagi bermasalah. Hari ini double ya updatenya ditunggu aja.
Jangan lupa kasih vote ya udah masuk recomendasi lho dari noveltoon.
__ADS_1