Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Bayar Pakai Cinta


__ADS_3

Lama menunggu akhirnya lampu yang ada di depan pintu ruang operasi mati. Kalau author liat di pilem-pilem mah gitu, tandanya operasi udah selesai.


"Dok gimana keadaan mertua saya?" tanya Didu yang terlebih dulu maju mendahului Radith dan Ara.


"Anda suami anaknya?" tanya Dokter heran yang masih memakai baju operasi di badannya.


"Sembarangan tu dokter kalo ngomong," protes Radith lalu ia pun maju ke depan.


"Saya dok suaminya," Radith mengaku-ngaku.


"Bukan dok," elak Didu.


"Elo juga bukan bego," umpat Radith sambil meraup kasar muka temannya itu.


Tanpa menghiraukan kedua laki-laki yang sedang bergelut itu Sang Dokter mendekati Mutiara.


"Ibu anda baik-baik saja, operasinya berjalan lancar, masa kritisnya juga sudah lewat," kata Dokter yang membuat hati Ara merasa lega.


"Jadi mana di antara mereka yang menjadi suami mbak?" tanya dokter sambil berbisik.


"Pengen kena bogem gue juga tu dokter berani-beraninya deketin Ara," Radith yang tampak mengepalkan tangannya itu hanya membatin ucapannya.


"Bukan keduanya dok," kata Ara membuat tawanya pecah bersama dokter spesialis yang usianya masih muda tersebut.


"Saya permisi," pamit dokter dibalas dengan anggukan oleh Ara.


Tak lama kemudian Bu Mia dipindahkan ke ruang perawatan. Ara tidak menghiraukan Radith dan Didu.Ia ingin fokus mengurus ibunya.Ia pun berjalan mengikuti para perawat yang sedang mendorong bankar yang ditiduri oleh ibunya menuju ruang rawat pasien.


"Ra gue ke administrasi dulu ya," teriakan Radith membuat semua orang yang mendengarnya menoleh.


"Kemana bro ikut gua," Didu mengekori Radith.


"Cih gak di kampus gak di rumah sakit nempel mulu lo kaya benalu," Radith mencebik kesal.


"Ko benalu sih bro jahara mulut lo, biasanya mah perumpamaan pake kata perangko bukan benalu," Didu mencoba membenarkan istilah yang dipakai Radith.


"Perangko ogah gue gak belok ya," Rdith mencebik kesal.


"Gak belok gimana ini belok," mereka sedang mampir ke ruang administrasi.


Radith tidak menghiraukan omongan Didu ia sedang mengurusi pembayaran uang untuk operasi dan perawatan ibunya Ara. Radith mengeluarkan black card dari dompetnya.Mata Didu langsung silau saat ia melihat kartu yang dipegang oleh sahabatnya itu.


"Bro habis dari sini traktir gua makan," Didu menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Gue kan udah bilang elo tu emang benalu," meski dicibir Didu seolah cuek.


Setelah mengurusi pembayaran ke administrasi Radith menghampiri Ara ke ruang rawat pasien.


"Ra bentar lagi nyokap lo mau dipindahin ke ruang VIP ya," kata Radith.


"Ko dipindah si gue kan bayarnya pake BPJS kelas 3 masa iya bisa pindah ke ruang VIP gitu aja?" Ara mengernyit heran.


"Gue udah urus semua pembayarannya lo tenang aja," kata Radith sambil tersenyum.


"Yagh Dit gue hutang lagi dong sama lo, uang ganti rugi buat mobil lo aja belum gue cicil,"


"Bayar pake cinta," sela Radith.


"Trus ini uang perawatan ibu gue,"


"Bayar pake sayang," selanya lagi.


"Weh enak bener bro duit buat beli jam tangan yang pernah gue pinjem kemaren gue bayar pake cinta ya bro," kata Didu sambil menempelkan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk hati.


"Stroberry mangga apel, sorry gak level," tolak Radith yang membuat Ara terkekeh.


"Yagh neng Ara yang harusnya bayar lima belas juta tiba-tiba lo suruh bayar pake cinta masak jam gue yang harganya cuma lima ratus ribu gue bayar kontan bro," protes Didu.


"Aelah, btw elo mo sampe kapan bro di sini gak pulang lo?" tanya Didu.


"Nah lo sendiri ngapain di sini udah berapa lama lo ngikutin kita?" tanya Radith.


"Mampus gue ninggalin mak gue bro, gue cabut ya," teriaknya sambil berlari.


"Kamu gak pulang?" tanya Ara kembali menggunakan sapaan halus.


"Iya aku pamit ya sayang, Andrea sudah nelponin aku dari tadi katanya minta diantar ke bandara dia mau balik ke Jerman," kata Radith yang habis mengecek hapenya.


"Yagh gak bisa ketemu Cibul lagi dong," keluh Ara.


"Nanti aku kasih nomor hape kamu ke Andrea, atau lain kali kita kunjungi mertua kamu yang ada di Jerman," Radith langsung menerima sapuan kecil di bahunya.


Belum ada sehari mereka jadian Radith sudah sebucin itu. Setelah berpamitan ia pun mendaratkan ciuman di kening pacarnya. Ara tampak tegang saat Radith menempelkan bibirnya.


"Balik dulu ya sayang," Radith mengambil tasnya lalu keluar dari ruang rawat Bu Mia.


Tak lama kemudian dua orang perawat datag untuk memindahkan ibunya ke ruang VIP. Sementara itu Didu yang baru balik menemui ibunya di ruang poli untuk berobat malah mendapatkan pukulan saat laki-laki itu kembali.

__ADS_1


"Dasar anak durhaka, ibu dibiarin nunggu berhari-hari di sini sampai berakar," protes ibunya.


"Jangan lebay deh Bu baru juga beberapa jam," elak Didu.


"Beberapa jam juga capek Diduuuu," ia menonyor kepala anaknya.


"Maaf bu maaf besok gak lagi-lagi," Didu mohon ampun.


"Ayo antar ibu pulang," perintah ibunya kemudian dipatuhi oleh Didu anak kurang ajar itu.


Di rumah Radith.


"Bang lama banget si baru pulang tahu gitu tadi Andrea pesen taxi aja, Bulan udah nangis nih gara-gara nunggu kelamaan," protes Andrea.


"Ya maaf jalannya macet," Radith memindahkan koper Andrea ke bagasi mobil.


"Gimana kabar mertua lo Bang," tanya Andrea sambil memakai sabuk pengaman. Sedangkan Bulan didudukkan di car seat baby.


"Udah lewat masa kritis," kata-kata Radith ditanggapi lain oleh Andrea.


"Mertua lo koid Bang?" tanya Andrea.


"Huss sembarangan, udah baikan tadi sempet kritis habis dioperasi trus baikan," terang Radith pada adeknya.


Setengah jam kemudian mereka sampai di bandara. Andrea menggendong Bulan yang tertidur lelap. Tapi sempat mengigau menyebut panggilan Mami untuk Mutiara.


"Nih anak udah klop apa ya sama maminya?" gumam Radith.


"Gue jadi cemburu Bang. Bulan aja gak pernah nyebut nama gue pas lagi tidur gini," protes Andrea.


"Tenang Cibul nanti papi bawa mami ke Jerman,"


"Serius lo Bang," Andrea jadi kaget.


"Ya gak dalam waktu dekatlah, lagian gue juga baru jadian sama dia," jujur Radith.


"Jadian di rumah sakit? wah gak romantis lu Bang, bawa ke hotel bintang lima dong kalau perlu elo sewa restoran buat nembak dia," cibir Andrea.


"Gue yang mo nembak kenapa elo yang ribet, berangkat sono," usir Radith.


"Gue berangkat Bang," pamit Andrea sambil mendorong kereta bayi milik Cibul.


Setelah dari bandara Radith pulang ke rumah untuk sekedar merebahkan badannya.

__ADS_1


"Gila tidur di rumah sakit bikin badan gue pegel-pegel," keluh Radith sambil memukul-mukul bahunya yang sakit.


__ADS_2