
Setelah mengantar Ara ke kantor Rasya pergi ke kampus. Ia berbohong pada Ara bahwa dirinya bolos kuliah. Aslinya jam kuliahnya diundur karena dosen baru bisa mengisi mata kuliah pada jam sembilan.
Ketika Rasya melintas di gerbang kampus. Ia melihat dua orang yang mencurigakan sedang menunggu seseorang. Tak lama kemudian datang laki-laki yang dia kenal menghampiri dua orang berbadan tambun itu.
Rasya menjadi curiga. Sesaat ia berfikir apa mereka ada hubungannya dengan kematian saudara kembarnya, secara Brian menyukai Mutiara. Mingkin saja Brian ingin menyingkirkan Radith saat itu agar hubungannya dengan Ara tidak terhalang siapa pun. Begitu asumsi Rasya pada saat itu.
"Eh bray ngelamun aja?" Didu menepuk pundak temannya itu.
"Btw lo mau gak jadi agen rahasia?" tawar Rasya.
"Kedengarannya keren nih?" jawab Didu bersemangat.
"Lo lihat dua orang yang lagi ngobrol sama Brian?" Rasya menunjuk ke arah orang yang dimaksud.
"Cari tahu siapa mereka, gue akan bayar lo mahal untuk jasa lo ini," Rasya berjanji.
"Asiap bos," Didu mengangkat tangannya hormat.
"Ingat jangan sampai ketahuan," saran Rasya sebelum temannya itu pergi.
Didu pun segera pergi meninggalkan Rasya. Kini dirinya mencoba lebih dekat dengan Brian dan kedua orang yang tidak dikenal itu agar bisa mendengar percakapan mereka.
Sayangnya baru saja Didu mendekat ketiganya sudah bubar. Tak kehabisan akal, Didu mengikuti kedua orang itu.
"Eh pergi lagi," tampak raut muka kesal Didu. Lalu dia melihat seorang mahasiswa kampus yang sedang menimang kunci motor miliknya. Didu pun menyambar kunci itu.
"Gue pinjam motor lo," Didu mendorong pemilik motor itu sampai jatuh tersungkur.
"Woi balikin motor gue," teriak sang pemilik motor.
"Sialan cepet juga larinya, gue harus ikutin mereka, ini tugas negara," Didu sibuk bermonolog sambil mengendarai motor yang ia pinjam tanpa seizin yang punya itu dengan kecepatan tinggi.
Setelah beberapa menit kemudian dua orang tersebut berhenti di sebuah gudang tempat persembunyian mereka. Sementara Didu berhenti tak jauh dari sana. Kemudian ia melapor ke Rasya.
"Lapor bos gue udah nemuin tempat persembunyian dua orang yang bicara sama Brian tadi," setelah mendapat jawaban dari Rasya untuk menunggu tak lupa Didu membagikan lokasi terkini dirinya berada.
__ADS_1
Tidak menunggu waktu lama Rasya menyusul Didu ke tempat yang ia maksud.
Didu masih menunggu Rasya di atas motor. Tanpa dia sadari salah satu dari orang tersebut melihatnya saat akan menutup pintu gudang. Merasa dicurigai anggota penjahat itu pun menghampiri Didu.
"Mampus gue kayanya gue ketahuan, bos Rasya lama bener dagh ah," umpat Didu yang merasa panik akan kehadiran orang asing yang diikutinya.
"Mau apa lo?" bentak salah seorang penjahat yang mengampiri Didu.
"Woy santai bang, gue cuma nyasar di sini mau cari jalan pulang tahunya muter-muter doang di daerah sini," Didu beralasan. Wajahnya sedikit panik.
"Banyak bacot lo," orang itu memberikan bogem mentah pada wajah Didu
"Ampun bang, ancur deh nih muka," Didu jatuh tersungkur dan memegangi wajahnya yang terkena pukulan.
Tak lama kemudian Rasya sampai. Setelah mematikan motornya ia langsung memukul penjahat yang menyerang Didu itu dengan balok dari belakang.
"Sialan," umpat penjahat tersebut yang merasakan sakit di bagian kepalanya.
Mendengar kegaduhan yang terjadi di luar, para komplotan yang lain keluar menuju sumber suara.Melihat temannya dipukul salah seorang penjahat mengintruksi untuk menyerang Rasya dari belakang. Untungnya Didu melihat komplotan yang datang sehingga laki-laki itu pun berteriak pada Rasya.
"Awas bray belakang lo," teriak Didu yang menyadari saat temannya itu hendak dipukul dari belakang.
Kemudian sebagian dari mereka mulai menyerang Rasya bergantian. Didu tidak bisa membantu karena ilmu bela diri pun dia tidak punya. Akhirnya dia hanya bisa melihat temannya itu diserang berulang kali.
Tidak tinggal diam Didu menghubungi Mutiara. Ia pun merogoh ponsel yang ada di saku celananya. Dengan tangan yang bergetar ia menekan tombol panggil pada nama yang ia tuju.
"Lo buruan ke sini neng bawa bala bantuan, cowok lo lagi dipukuli," Didu tidak berbicara banyak ia lalu mengirimkan lokasinya saat ini ke ponsel Ara.
Sayangnya salah satu dari anak buah penjahat itu melihat Didu berinteraksi dengan orang lain. Kemudian orang itu merampas hp milik Didu dan membantingnya.
"Yagh handphone dapat kredit juga, belum lunas woi," tak menggubris omongan Didu, dirinya malah mendapat tendangan dari anggota komplotan itu.
Melihat temannya dipukuli Rasya beralih untuk menyerang lawan yang menghajar Didu. Pemuda tampan itu menepuk pundak penjahat itu kemudian memukulnya di bagian wajah saat penjahat itu menoleh.
Sebagian dari mereka sudah terkapar akibat pukulan-pukulan yang dilayangkan oleh Rasya.
__ADS_1
"Elo gak papa Du?" tanya Rasya sambil membantu temannya itu berdiri.
"Kak Rasya," suara teriakan itu jelas sekali dikenali olehnya.
Ara datang sendiri ke tempat itu dengan menumpang ojek temannya.
"Kakak gak papa?" Ara melihat Rasya dari atas sampai bawah. Rasya hanya tersenyum di balik helm yang masih ia pakai.
Di tengah keharuan itu salah seorang penjahat mencoba menyerang dengan senjata tajam ke arah Ara. Namun, serangan itu bisa ditangkis oleh Rasya dengan menahan pisau menggunakan tangannya.
Darah sudah mengucur deras dari tangan Rasya. Ara sampai tidak tega melihat tunangannya iti kesakitan. Akhirnya Ara memberikan tendangan pada bagian perut penjahat tersebut.
"Biadab kalian semua beraninya keroyokan," umpat Ara kesal.
Rasya memegangi tangannya yang terluka. Sedikit menahan sakit akibat sayatan yang ditimbulkan. Didu membantu Rasya memapah tubuhnya yang terhuyung.
"Jangan banya bacot lu cewek, lo gak bakalan menang ngelawan kita," ejek salah seorang penjahat sambil tertawa.
"Ayo kita buktikan siapa yang jatuh terlebih dulu," tantang Ara.
"Sayang jangan," larangan Rasya sepertinya tidak digubris oleh gadis cantik itu.
Panik melihat Ara yang maju sendirian, kang ojek yang mengantar Ara tadi menelpon teman-temannya.
Satu per satu Ara melayangkan bogem mentahnya. Ia mendapatkan serangan dari berbagai arah namun gadia yang pandai bela diri itu mampu menangkis setiap pukulan yang di arahkan kepadanya.
"Gila gue baru tahu neng Ara sehebat itu," kagum Didu saat melihat Ara beraksi. Rasya menarik ujung bibirnya.
Lalu segerombolan orang yang memakai jaket dan helm berwarna hijau membantu Ara menghajar lawannya itu sampai babak belur.
"Neng kita bawa aja ke kantor polisi sekarang," tawar teman Ara yang berprofesi sebagai ojek online tersebut.
"Tunggu, saya ingin tanya sesuatu sebelum mereka dibawa ke kantor polisi," Rasya menahan niat mereka.
"Ada urusan apa kalian dengan laki-laki yang bernama Brian?" tanya Rasya pada salah seorang penjahat yang ia ketahui tadi pagi berbicara denga Brian.
__ADS_1
...***...
Maap-maap nih kalau upnya mesti malem banget. Kalau kurang seru adegan perkelahiannya kalian bisa sranin gimana adegan perkelahian versi kalian di kolom komentar yaw