
"Will you marry me?" Rasya mengulang kembali pertanyaannya lirih.
"Tidak," Ara memberi jeda pada kalimatnya yang membuat Rasya sedikit kecewa. Serena yang mendengarnya pun tidak menyangka Ara akan menolaknya.
Rasya memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya berat. Ara melihat kekecewaan di mata Rasya. Sedetik kemudian Ara meneruskan kata-katanya yang tertunda.
"Aku tidak bisa menolakmu," ucapan yang sukses membuat Rasya tersenyum lebar. Begitu pun Serena yang ikut bahagia melihat keduanya.
Rasya pun membawa Ara dalam pelukannya. "Makasih sayang," seru Rasya sambil mencium puncak kepala Ara berkali-kali.
"I love You," ucap Ara dengan lirih namun Rasya dapat mendengarkan.
"Love you too," Rasya melonggarkan pelukannya sambil menatap wajah Ara.Rasya hendak mencium bibir Ara namun suara deheman Serena membuat keduanya tersadar.
"Terima kasih Serena berkat kau kami bisa bersatu kembali," ucap Rasya pada Serena seraya memegang bahu Ara.
Tidak mudah bagi Serena melupakan Rasya yang pernah mengisi ruang hatinya. Tapi dia sadar sekarang sudah ada Ara yang menggantikan dirinya. Tentu saja dia juga ingin melihat Rasya bahagia dengan wanita yang dicintai. Meski setiap melihat keduanya yang tampak serasi ada rasa sesak di dalam dadanya.
"Ya, sekarang belikan aku tiket aku ingin kembali ke Jerman, ingat undang aku saat acara pernikahan kalian," Serena menatap ke arah Ara. Ara pun mengangguk pelan.
"Ya baiklah, semua akan aku persiapkan, kau tenang saja nanti akan ada orangku yang mengurus penerbanganmu," seru Rasya.
Serena pun pergi meninggalkan keduanya.
"Hari ini tidak usah ke kantor, aku akan mengajakmu ke suatu tempat," perintah Rasya diikuti oleh tunangannya.
Rasya membawa Ara ke sebuah pantai yang tak jauh dari sana meski dengan membawa mobil sendiri-sendiri. Di perjalanan tadi Rasya telah menghubungi orang suruhannya untuk menyiapkan acara foto prewedding di pantai tersebut.
"Waw cantik sekali pantainya aku baru pertama kali melihat pantai secantik ini," ucao Ara yang kagum dengan keindahan di sekitarnya.
"Kamu suka?" Rasya meraih pinggang Ara agar dirinya mendekat.
"Ya aku suka," jawab Ara sambil menatap ke dalam manik Rasya.
"Sayang bergantilah pakaian karena kita akan melakukan foto prewedding," ucapan Rasya membuat Ara kaget. Lagi-lagi Rasya merencanakan sesuatu yang tidak diketahui oleh Ara sebelumnya.
"Kamu selalu penuh dengan kejutan," ucap Ara lirih.
Ara pun mengikuti seorang perias yang bertugas untuk merubah penampilannya. Sedangkan Rasya sendiri juga akan berganti pakaian. Rasya memakai pakaian serba putih, kemeja lengan panjang yang digulung sesiku dengan celana panjang warna putih.
__ADS_1
Ara yang sudah selesai berganti pakaian dan sedikit dipoles make up tipis oleh penata rias tampak sangat berbeda.
"Bagaimana penampilanku?" tanya Ara sambil memutar badannya ke kanan lalu beralih ke kiri.
Rasya tersenyum melihat tunangannya itu tampak sangat cantik dengan balutan dress selutut warna putih dan memakai topi pantai yang senada.
"Not bad," jawaban Rasya membuat Ara kecewa.
"Kau sangat cantik sayang," goda Rasya yang mendapat pukulan ringan di lengannya.
"Semuanya sudah siap pak," lapor fotografer yang bersiap mengabadikan momen foto prewedding mereka.
Pose pertama mereka berjalan beriringan sambi berpegang tangan di tepi pantai. Tak lupa senyum ditampilkan keduanya.
Kemudian pose berikutnya Rasya membawa bunga di tangannya lalu menyerahkan bunga tersebut pada Ara sambil berlutut.
Pose ketiga mereka berlari membawa balon di tepi pantai sambil tertawa riang. Ara memegangi topinya yang hampir jatuh tertiup angin, dst.
"Agh capek sekali," Ara meneguk minuman yang disediakan di pinggir pantai tersebut.
Ara memperhatikan sekitar pantai yang hampir tidak ada manusia yang berlalu lalang kecuali mereka yang sedang bekerja untuk acara foto prewedding keduanya.
"Aku menyewa pantai ini seharian," jawaban Rasya sukses membuat Ara menggelengkan kepalanya.
"Pantas saja, anak sultan yang berkuasa," canda Ara membuat keduanya terkekeh.
"Aku antar kamu pulang ya, sekalian kita cari makan, mobil kamu biar orangku yang urus," titah Rasya dipatuhi oleh Ara.
Setelah menyelesaikan acara foto prewedding mereka hari ini, Rasya mengajak Ara ke butik langganannya untuk fitting baju pengantin.
"Untuk apa kak ke sini?" seingatnya Ara pernah sekali diajak Rasya ke butik itu.
"Mari masuk dulu kamu akan tahu setelah sampai di dalam," Rasya keluar lebih dulu kemudian memutari mobilnya guna membukakan pintu untuk Ara.
Alan menyambut kedatangan mereka yang baru saja masuk ke dalam butik.
"Eh Cin Rasya sama wanita yang waktu itu ya," ucap Alan yang mengingat wajah Ara.
Ara memberikan senyum pada Alan.
__ADS_1
"Bagaimana pesananku?" tanya Rasya dengan ekspresi wajah yang datar.
"Sudah siap cin, yee mau nikah sama gadis ini?" tunjuk Alan pada Ara.
"Yang sopan ini calon istriku," Rasya menepis jari telunjuk Alan.
"Maafin Alana ya dear, yuk ikut kita cobain gaunnya," Ara hanya ngikut gitu aja.
"Wah badan yee memang bagus, gaunnya tambah cetar pas yee pake, eke foto dulu ya, lumayan nanti buat diupload di medsos biar banyak yang datang ke toko eke buat mesen gaun yang sama," ucap Alan yang sering merubah namanya menjadi Alana.
Ara memandang dirinya di cermin. Dia begitu menyukai desain gaun pengantin yang dipesan Rasya untuknya. Benar-benar sesuai selera Ara yang simple namun elegan.
"Yuk kita ke depan," ajak Alan seraya memegang tangan Ara untuk membantunya berjalan saat mengenakan gaun yang panjang dibagian belakangnya.
"Cin lihat nih calon istri yee," teriak Alan saat memasuki ruang depan.
Rasya menoleh ke arah calon istrinya. Rasya benar-benar takjub melihat Ara begitu cantik saat didandani. Wajah Ara jadi bersemu merah ketika Rasya tak juga mengalihkan pandangannya.Rasya mengulurkan tangannya sambil berjalan mendekat ke arah Ara.
"Kamu sangat cantik, bisakah kita menikah hari ini?" goda Rasya yang membuat jantung Ara menjadi tidak karuan.
"Diamlah, kau sudah sering membuat ku terkejut, jadi kali ini tolong laksanakan sesuai rencana," pinta Ara.
Rasya yang gemas mendengar jawaban Ara jadi mengacak puncak rambut panjang itu.
"Aku hanya ingin membuatmu bahagia percayalah," ucap Rasya lirih sambil mengangkat tangan Ara lebih tinggi lalu mencium punggung tanga yang lembut itu.
Merasa diabaikan karena sejak tadi melihat. adegan mesra di depannya, Alan kembali berdehem.
"Kalian jangan pamer kemesraan sebelum resmi dan sah," Alan mencebik kesal.
"Maaf," ucap Rasya.
Seharian Rasya mengajak Ara untuk melakukan banyak hal sehingga membuat Ara kelelahan. Di dalam mobil Rasya melihat Ara tertidur lelap. Rasya jadi tidak tega membangunkan Ara. Dibelainya surai rambut Ara yang panjang kemudian tangannya turun untuk meraba bibir gadis yang sedang tertidur itu.
Cup
Rasya mencium bibir Ara dengan lembut. Ara tersentak kaget namun saat dia membuka mata bibir Rasya masih menempel di bibirnya.Ara mendorong tubuh Rasya.
"Bersabarlah sampai aku sah menjadi istrimu," ucap Ara.
__ADS_1