Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Lawan Aku


__ADS_3

Rasya mendudukkan Ara di sofa panjang di ruang kerjanya."Sayang,apa perlu aku panggilkan dokter?" tanya Rasya khawatir.


"Tidak, aku sudah baikan," tolak Ara dengan halus.


"Apa yang membuatmu pusing, hm?" selidik Rasya.


"Aku mencium bau parfum yang sangat menyengat," jawab Ara.


Rasya ingat ketika istrinya berada di dalam satu lift dengan Ernest, ia berfikir mungkin saat itu ia mencium bau parfum yang dipakai oleh laki-laki itu. Kemudian saat Adli masuk, Rasya langsung memerintahkan dirinya agar memberitahukan pada seluruh karyawan untuk tidak memakai parfum ketika masuk kantor.


"Kak itu terlalu berlebihan," cegah Ara.


"Tidak, aku hanya ingin membuatmu nyaman ketika berkunjung ke sini," ucap Rasya seraya tersenyum pada sang istri.


"Aku juga tidak sering-sering main ke kantor ini," elak Ara.


"Lalu apa yang membuatmu ke sini hm?" tanya Rasya penasaran.


"Aku...aku hanya ingin minta penjelasan dari kakak, siapa wanita yang kakak temui saat makan siang tadi?" tanya wanita cantik itu.


"Kau mengabaikanku," gumam Ara lirih.


"Dia klienku sayang," jawab Rasya.


"Tapi kenapa kakak begitu akrab dengannya?" Ara merasa cemburu.


"Kami hanya mengobrol soal kerjaan," Rasya berusaha meyakinkan istrinya itu.


"Kakak bahkan tidak menyapaku ketika di sana," protes Ara.


"Aku tidak tahu sayang, aku baru tahu setelah kamu melangkah keluar, maafkan kakak ya Ra," ucap Rasya seraya menggenggam tangan wanita yang ia cintai.


Hati Ara jadi menghangat. Genggaman tangan Rasya membuat emosinya mereda. Ara melihat ke dalam mata Rasya namun tidak ditemukan kebohongan.


"Iya, tapi lain kali kakak tidak boleh menemui klien wanita, cari tahu dulu siapa klien yang akan bertemu dengan kakak, kalau wanita suruh Adli yang menghandle meeting," titah Ara pada suaminya.


"Jadi kamu cemburu?" goda Rasya.


"Tidak aku hanya tidak suka melihat kakak tertawa bersama wanita lain," Ara mencebik kesal.


"Itu namanya cemburu Ra," Rasya mencubit hidung Ara karena gemas.Ara mengusap hidungnya yang sakit namun terkekeh juga.


"Kakak masih lama pulangnya?" tanya Ara pada sang suami.


Belum sempat Rasya menjawab Adli meminta izin masuk untuk menyerahkan berkas-berkas salinan yang Rasya minta.


"Kamu bisa lihat sendiri kerjaanku menggunung, aku tidak tahu kapan aku bisa pulang," ucapnya sendu.

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan menunggu," kata Ara dengan yakin.


"Sayang sebaiknya kamu pulang duluan, di sini kamu akan merasa jenuh," Rasya memeberi saran.


"Tidak aku akan menemani kakak di sini,ada yang bisa aku bantu agar pekerjaan kakak cepat selesai?" tawar wanita yang sedang hamil muda tersebut.


"Tidak kamu duduk saja, bumil kesayangan aku gak boleh capek-capek," Rasya mengelus perut Ara sayang.


"Baiklah," jawab Ara.


Ketika Rasya sibuk dengan pekerjaannya Ara hanya duduk dan memainkan ponselnya. Lalu beberapa saat kemudian Rasya melihat Ara tertidur di sofa. Setelah itu, ia membetulkan posisi tidur Ara agar ia bisa tidur dengan nyaman. Semenjak hamil Ara mudah sekali tertidur bahkan dia bisa tidur di manapun.


Rasya menggeleng, mengelus rambut Ara dengan sayang lalu memberikan kecupan singkat di keningnya. Setelah itu ia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Setelah lewat jam kantor Adli mengingatkan agar Rasya pulang ke rumahnya.


"Baiklah aku akan menyelesaikan sisanya besok," Adli mengangguk.


Kemudian Rasya mencoba membangunkan Ara. Ia mengguncang lengan Ara pelan agar terbangun. Namun wanita yang sedang hamil itu hanya melenguh. Rasya tidak tega membangunkan Ara. Akhirnya ia menggendong tubuh sang istri sambil berjalan keluar.


Adli yang masih setia mengikuti bosnya itu membantu Rasya membukakan lift. Ia juga membawakan tas Ara. Tangan Rasya mulai gemetar saat menggendong istrinya sampai lantai bawah. Adli sebenarnya berniat menawarkan bantuan tapi ia tidak mau dibilang lancang menggendong istri bosnya itu. Maka Adli memilih diam saja.


Saat lift terbuka, Rasya berjalan sambil menggendong istrinya sampai di depan mobil. Adli membantu membukakan pintu agar Rasya dapat mendudukkan Ara di kursi penumpang.


"Pak, apa perlu saya yang menyetir?" Adli berniat baik menawarkan bantuan pada atasannya itu.


Walau dalam keadaan lelah Rasya tetap menyetir. Ia melajukan mobilnya pelan. Di tengah perjalanan ia mampir ke pom bensin untuk mengisi bahan bakar mobilnya. Lalu ia mampir ke sebuah minimarket yang masih satu area dengan tempat pengisian bahan bakar tersebut. Rasya meninggalkan Ara di dalam mobil dalam keadaan tertidur.


Ara yang sudah lama tertidur akhirnya bangun. Ia kaget karena dirinya sudah berada di dalam mobil.Namun ia bertanya-tanya kemana suaminya. Kenapa tidak ada yang menyetir. Untuk itu ia putuskan keluar dari mobil dan mencari Rasya.


Saat Ara baru berjalan beberapa langkah. Beberapa orang yang mengendarai motor mendekati Ara. Ara jadi cemas. Ia memang pandai bela diri tapi kondisinya sekarang berbeda. Kini ia sedang hamil. Ara takut terjadi sesuatu yang bisa membahayakan bayi yang ada di dalam perutnya.


Ara menoleh ke kanan dan kiri keadaan saat itu sangat sepi hanya ada karyawan yang bertugas mengisi bensin di pom tersebut.Ia tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa.


"Mau apa kalian?" bentak Ara saat dua motor itu mendekati dirinya dan berputar-putar mengelilingi Ara.


Mereka malah tertawa mendengar pertanyaan Ara. Lalu sedetik kemudian mereka menghentikan motornya. Salah seorang dari preman tersebut turun dan mencengkeram dagu Ara.


"Rupanya elo lupa sama gue," kata preman itu dengan penuh penekanan.


Ara mencoba mengingat-ingat wajah pria yang berambut panjang itu tapi sama sekali tidak ada dalam bayangannya.


"Lepaskan aku tidak kenal kalian," Ara mencoba memberontak.


"Gadis sombong," pria itu melihat ke teman-temannya lalu tertawa terbahak-bahak membuat Ara bergidik ngeri.


"Aku akan membalas perbuatanmu malam itu, ketika kau bersama temanmu menghajar diriku dan teman-temanku," ancam pria tersebut.

__ADS_1


Saat tangan preman itu hendak memukul Ara berteriak sekencang-kencangnya menyebut nama suaminya. "Kak Rasya......"


Pletak


Rasya melempar kaleng minuman ke kepala salah satu preman tersebut. "Hei kalian, beraninya sama cewek," bentak Rasya.


"Cih dasar laki-laki sombong, waktu itu aku boleh kalah darimu tapi sekarang aku pastikan kau akan tertanam di kuburan," seru preman yang pernah dihajar Rasya.


"Lepaskan dia dan lawan aku," tantang Rasya.


Salah satu dari kelompok preman itu masih memegang Ara. Lalu tiga lainnya menghajar Rasya. Ketiganya langsung maju secara bersamaan. Rasya yang sudah bersiap menahan serangan bisa menangkis tangan ketiganya. Ia menangkap dua tangan preman yang berbeda lalu menendang salah satunya. Ketiga preman itu memundurkan langkah.


Tidak sampai itu saja, Rasya memukul wajah preman tersebut satu persatu. Tapi ketiganya belum juga jera. Lalu satu dari mereka mencoba melayangkan pukulan. Namun,Rasya memutar tubuhnya melewati punggung preman lain sehingga preman tersebut malah memukul temannya sendiri. Akhirnya satu dari kelompok tersebut jatuh tersungkur akibat pukulan keras dari temannya.


Kini Rasya tinggal menghajar dua orang preman yang ada di hadapannya. Ia maju lebih dulu, berlari dan menendang bagian dada pria tersebut sampai pria jahat itu terjerembab. Bahkan laki-laki yang mendapatkan tendangan dari Rasya itu sampai batuk darah.


Melihat dua orang temannya kalah. Laki-laki jahat yang tersisa mencoba melawan Rasya dengan menaiki motornya. Ia menggeber gasnya keras lalu mencoba menabrak Rasya. Sayangnya Rasya dapat menghindar. Ketika motor tersebut mendekat ke arahnya, Rasya melompat seakan terbang melewati pemotor tersebut. Dengan satu kakinya ia menendang pemotor gila yang mencoba mencelakai dirinya.


Akhirnya tiga dari kelompok preman tersebut berhasil dikalahkan. Sekarang tinggal satu dari kelompak itu yang masih mencengkeram tangan Ara.


Ia mencoba menyeret Ara. Ara menahan langkahnya. Lalu wanita yang terancan nyawanya itu memanggil-manggil nama Rasya. Rasya menoleh dan segera menyusul istrinya.


"Lepaskan dia," teriakan Rasya tidak digubris oleh pria yang menyeret Ara.


Karena takut pada Rasya, ia lalu berbalik badan dan mencengkeram leher Ara dengan lengannya.Ara kesulitan untuk bergerak. Namun, Ara memiliki ide untuk melepaskan diri.Ia menggigit lengan pria jahat itu dan menginjak kaki pria yang menahannya sehingga Ara bisa terlepas kemudian berlari ke arah Rasya.


Ara bersembunyi di balik punggung Rasya. "Kakak hati-hati," Ara memberi peringatan.Rasya mengangguk.


Pria tersebut berlari ke arah motornya lalu Rasya dengan cepat menendang motor itu agar pria jahat yang mencoba melukai Ara itu tidak bisa menaiki motor tersebut.


"Sial," umpat preman itu.


"Kau sudah kalah,menyerahlah kalau tidak mau terluka seperti teman-temanmu ini," seru Rasya mengarahkan pandangannya pada ketiga anggota kelompok itu yang sudah terkapar tidak berdaya.


"Cih," laki-laki itu meludah ke samping.


"Kau pikir kali ini aku akan kalh darimu hah?" teriak pria itu.Ia mencondongkan dadanya berlagak sombong di depan Rasya.


Tanpa Rasya sadari pria itu memanggil bala bantuan. Beberapa pemotor datang mendekat pada laki-laki bule tersebut. Rasya jadi tidak siap. Ara yang sigap lalu mengambil mobil dan membunyikan klaksonnya.


"Kak masuk," teriak Ara dari belakang kursi kendali mobil.


...❤️❤️❤️...


Maaf ya update selalu di atas jam tidur biar apa? biar pas bangun tidur kalian bisa baca kelanjutan serunya.


Dukung terus karya aku ya biar author kaya teman-teman lainnya naik level hehe

__ADS_1


__ADS_2