
"Perlu bantuan?" Ara menoleh ke sumber suara.Dia masih diam saja karena merasa asing dengan seseorang yang berdiri di depannya.
"Ban mobilnya kempes ya?" wanita bule itu menengok ke bagian belakang mobil Ara. Ara mengangguk.
"Kamu punya ban serep?" tanya wanita blasteran Indonesia Jerman tersebut.
"Ada di bagian belakang," jawab Ara.
"Aku bantu pasang ya,kamu ada dongkrak sama kunci roda gak?" Ara menggeleng.
"Ya udah aku ambilin di mobil aku ya," Ara masih tidak mengerti kenapa wanita yang baru saja dia kenal begitu baik padanya.
Rasya yang hendak menghampiri Ara menghentikan langkahnya saat melihat Ara berbicara dengan Serena. Lalu ia memutuskan pulang.
Selang beberapa menit Serena kembali dengan membawa dongkrak dan kunci roda. Lalu ia mulai membuka bannya.Tidak disangka gadis cantik seperti Serena yang notabene dokter di keluarga Rasya itu ternyata memiliki keahlian dalam memasang ban. Ara sampai takjub melihat kepiawaian Serena yang tidak makan waktu lama saat memasangnya.
"Sudah selesai," ucap Serena sambil berdiri.
"Terima kasih banyak, bagaimana saya harus membalasnya?" tanya Ara sungkan.
Serena hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan Ara. Sejenak Ara lupa menanyakan nama perempuan yang sudah menolong dirinya.
"Alhamdulillah Ya Allah aku bisa berangkat kuliah nih, cap cuss agh keburu telat," Ara segera masuk ke dalam mobilnya
Urusan di kampus Ara hanya sebentar setelah itu ia menyempatkan diri mampir di kafe Lulu.
"Kalau ada yang nyari gue bilang gak ada," bisik Lulu pada salah seorang pegawainya.
Saat Lulu hendak bersembunyi di gudang Ara lebih dulu melihat nya.
"Sini lo," geram Ara sambil mempercepat langkahnya.
Bahu Lulu jadi meluruh, dia sudah menduga Ara akan marah padanya.
"Lo hutang penjelasan sama gue," Ara menatap tajam ke arah Lulu.
"Ampun Ra gue cuma disuruh sama kak Rasya,suer," Lulu memasang muka melas sambil memohon agar Ara memaafkan dirinya.
"Sekali lagi lo bohongin gue, gue pecat lo jadi temen gue," ancam Lulu.
"Yagh jangan gitu dong, nanti kalau gue butuh serep buat gantiin penyanyi yang gak dateng gue calling siapa Ra," rengek Lulu.
"Bodo amat," Ara menoleh ke arah lain.
"Sebagai gantinya gue traktir lo shopping yuk, gue beliin tas, baju sama sepatu," bujuknya.
__ADS_1
"Gak usah, gue mau beli sesuatu tapi gue bisa bayar sendiri ntar lo yang bawa barang belanjaan gue," pintanya
"Iya deh nurut," Lulu menurut kemauan Ara agar mendapatkan maaf darinya.
...***...
"Saya ingin bertemu dengan Rasya," ucap salah seorang wanita yang baru turun dari mobil dan mengenakan kacamata hitam.
"Den Rasya ada di dalam rumah nona," jawab Pak Satpam penjaga rumah Rasya.
Serena mengetuk pintu rumah Rasya kebetulan saat itu Rasya sendiri yang membukakan pintu.
Rasya kaget Serena datang ke rumah tanpa mengabari sebelumnya.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Rasya dengan sopan.
"Aku ke Indonesia untuk seminar tapi tante Emely juga menyuruhku mengunjungimu untuk memeriksa luka di tanganmu," Serena menunjuk ke tangan Rasya yang masih di perban.
Sudah beberapa hari tangannya sakit sejak menahan pisau saat perkelahian dengan beberapa penjahat terakhir kalinya. Meski begitu dirinya masih bisa beraktivitas seperti biasa hanya saja tangannya perlu diperban. Serena masuk begitu saja ke dalam rumha Rasya.
"Aku bawakan buah anggur untukmu," Serena meletakkan buah yang ia beli di atas meja dapur.
"Kau selalu begitu, ingat Serena kita sudah putus, aku juga sudah memiliki tunangan," Rasya mencoba mengingatkan mantan kekasihnya itu.
"Aku tahu aku masih waras, aku juga tidak akan memintaku kembali padaku, calon istrimu itu lebih cantik dan jauh lebih muda dari pada aku makanya kau suka kan?" tebak Serena.
"Berapa lama kau tinggal di Indonesia?" tanya Rasya.
"Sampai seminarku selesai," Serena mukai membuka perban di tangan Rasya.
"Oh iya kau harus berterima kasih padaku karena aku membantu wanitamu mengganti ban mobilnya pagi ini," Rasya mengerutkan dahinya.
"Kau sengaja ke lokasi car free day hari ini?" Serena menatap curiga pada Rasya.
"Apa kau selalu mengawasi wanitamu kemana dia pergi hm? Segitu besarnya cintamu padanya, dulu kau tidak pernah seperti padaku," protes Serena.
"Tidak tadi pagi aku sempat bersamanya di sana, tapi dia pergi terlebih dulu karena dia akan kuliah," jawab Rasya dengan ekspresi wajah datar.
"Itu hanya alasan mu saja, bilang saja kau ditinggalkan," Serena tertawa kecil.
"Ck kalau kau tidak percaya kau boleh tanyakam padanya," Rasya merasa kesal.
"Lukamu sudah kugantikan perbannya, aku akan menanyakan itu lain kali, sekarang tunjukkan aku restoran Eropa yang terkenal di sini, aku kurang cocok dengan makanan Indonesia,"
"Eitz kau tidak bisa menolak, hari ini aku sudah banyak menolongmu," imbuhnya.
__ADS_1
"Baiklah, aku ambil kunci mobil sebentar," saat Rasya hendak berbalik Serena mencegahnya.
"Tidak pakai motor saja lebih cepat aku takut jalannya macet," tolak Serena.
"Baiklah, tapi untuk kali ini saja, aku tidak mau sampai Ara melihatku berdua denganmu," balas Rasya.
Berbeda dengan Rasya, Serena justru ingin sekali Ara melihatnya berboncengan dengan Rasya. Ia ingin tahu seberapa besar cinta Mutiara kepada mantan kekasihnya ini. Hingga dia memutuskan hubungan mereka padahal hubungan mereka sudah terjalin cukup lama.
"Kaya motornya kak Rasya, tapi dia bocengan sama siapa ya?" batin Lulu melihat dari jendela mobil.
Ketika mereka berhenti di lampu merah, Lulu tidak sengaja melihat seseorang yang seperti dia kenal berhenti di dekat mobil yang ia kendarai.
"Lu jalan dong, udah hijau tuh," Ara menepuk bahu Lulu yang sedang memperhatikan pengendara motor yang dia pikir itu Rasya.
"Eh iya," Lulu mulai menekan gas mobilnya. Kali ini dia yang harus menyetir mobil Ara.
Setelah melewati belokan mereka memasuki pelataran mall. Lulu terlebih dulu memarkirkan mobil temannya itu.
"Kita kemana dulu nih?" tanya Lulu setelah turun dari mobil.
"Katanya besok kamu ada acara pemilihan ketua BEM, elo udah siapin baju buat besok?" Ara balik nanya. Lulu menggeleng.
"Baju gue emang banyak sih tapi kayanya gak ada yang pas buat dipakai besok," ungkap Lulu.
"Ya udah kita belanja buat keperluan lo aja,habis itu baru kita belanja buat keperluan gue," Ara memberi usulan.
"Oke," Lulu merangkul tangan Ara.
Mereka menaiki eskalator berdua. Lulu kembali melihat Rasya bersama seorang gadis yang wajahnya sedikit bule yang berjalan berlawanan arah.
"Eh Ra cowok lo tuh," Lulu menunjuk ke arah keduanya. Ara pun menoleh.
"Mana Lu gak ada," Ara mengedarkan pandangannya tapi tidak menemukan orang yang Lulu maksud.
"Udah ayo buruan pilih belanjaan, kak Rasya pasti lagi di rumah, lo kan tahu biasanya kalau dia mau pergi ngajak gue," ucap Ara Dnegan bangga.
"Yakin lo," Lulu memicingkan matanya.
"Yakin dong," Ara tertawa pelan.
Setelah selesai berbelanja Lulu dan Ara berjalan ke parkiran mobil. Lagi-lagi Lulu melihat Rasya sedang berjalan bersama seorang wanita dan dia pastikan wanita itu sama dengan yang dia lihat saat dirinya baru naik melalui eskalator.
Lulu menepuk pundak Ara beberapa kali lalu mengarahkan pandangannya ke arah Rasya dan seorang wanita yang berjalan di sampingnya."Ra," panggil Lulu agar Ara menoleh.
Ara kaget dengan apa yang dia lihat. Entah kenapa dadanya terasa begitu sesak. Tangannya sudah mengepal.
__ADS_1
...***...