Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Aksi Rasya


__ADS_3

Maaf ya my belove readers part sebelumnya banyak yang typo, tapi udah aku benerin kok. Jangan lupa like dan koment ya setelah membaca.


...❤️❤️❤️❤️...


Rasya baru saja memarkirkan mobilnya dengan sempurna. Ia kemudian turun dan mengunci mobil miliknya.


"My brother," sapa Didu saat bertemu Rasya.Ia mengalungkan tangannya ke leher Rasya tapi Rasya menepis tangan Didu pelan.Didu tak mengambil hati.


"Eh gimana kabar neng Ara?" tanya Didu basa-basi.


"Baik," jawab Rasya singkat. Ia masih fokus berjalan. Didu mengikuti di samping Rasya mensejajarkan langkahnya.


"Yaelah irit amat ngomongnya lagi sariawan ya, bray?" canda Didu namun tidak juga membuat Rasya tertawa.Rasya hanya menggeleng.


"Eh bray mau jajan di warung bakso depan gak,gue mendadak laper nih, lo jangan khawatir kali ini gue yang traktir, kebetulan kartu ATM full isinya," Didu mengelurkan kartu ATM di dalam dompetnya lalu menunjukkan pada temannya.


"Aku sudah sarapan Du," tolaknya.


"Yagh sekali ini, temenin gue makan degh kalau gak mau, kuliah masih sejam lagi dosennya bakalan datang telat, gue udah cek jadwal nya hari ini,percaya deh sama gue," Didu membujuk Rasya dengan segala daya upayanya.


"Oke, elo yang traktir," ucapan Rasya membuat Didu mengembangkan senyumnya.


"Kuy lah jalan," ajak Didu.


Saat Didu dan Rasya sedang berjalan menuju ke warung bakso depan kampus, mereka tak sengaja melihat seseorang merampas paper bag milik laki-laki yang baru keluar dari toko perhiasan yang ada di seberang jalan.Orang itu mengenakan jaket dan helm berwarna hitam dan mengendarai motor.


Melihat kejadian yang ada di depannya, Rasya yang mulanya diam ketika menjawab pertanyaan Didu memilih berlari mengejar orang yang merampas paper bag yang sudah dipastikan berisi perhiasan tersebut.Didu kaget melihat temannya tiba-tiba mengambil langkah seribu untuk mengejar penjahat itu.

__ADS_1


Merasa tidak akan bisa mengejarnya, Rasya mengambil sepeda yang terparkir di jalanan.


"Woy sepeda gue," teriak sang pemilik sepeda. Rasya menoleh,"saya pinjam," ucapnya seraya melambaikan satu tangan.


Rasya kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Ia tidak ingin kehilangan perampok tadi. Laki-laki tampan itu terus mengayuh sepeda yang ia bawa dengan menambah kecepatan.


Saat perampok yang membawa motor itu merasa diikuti oleh seseorang dari belakang, ia menambah berbelok ke sebuah gang sempit agar orang yang mengikutinya kehilangan jejak.Ia membelah orang-orang yang sedang berjalan dengan motornya. Untungnya tidak ada korban saat perambok itu menerobos para pejalan kaki.Sebagian dari mereka kaget dan ada beberapa wanita yang berteriak ketakutan.


Lalu Rasya memiliki ide untuk memotong jalan dengan mengabaikan gang tersebut dan beralih ke gang lain agar bisa bertemu di satu titik.Ia menuruni anak tangga dengan sepedanya. Berbelok ke kiri kemudian ke kanan mengikuti jalanan sempit itu berharap bisa berpapasan dengan perampok itu.


Saat mereka bertemu di perempatan jalan yang menghubungkan antara gang satu dengan gang lainnya, perampok itu kaget dan mengerem secara mendadak. Rasya sengaja melepas sepedanya sehingga sepeda tersebut meluncur ke arah perampok itu.


Brak


Motor yang dikendarai perampok yang beraksi sendirian itu terjatuh. Ketika ia mencoba untuk lari, Rasya melayangkan tendangannya di wajahnya.Meskipun hanya terkena helm yang ia pakai, perampok itu pun jatuh tersungkur. Namun, ia tidak menyerah begitu saja. Laki-laki yang masih memakai helm tersebut mengeluarkan pisau belati dari dalam jaketnya.


Shut shut


Saat sudah tidak ada lagi perlawanan, Rasya mengambil paper bag dan memeriksa isinya. Orang-orang yang melihat kejadian tersebut menangkap penjahat itu dan menggiringnya ke kantor polisi.


Tak lama kemudian pemilik paper bag itu turun dari mobilnya setelah sempat mengikuti Rasya."Itu punya saya," ucapnya ketika paper bag tersebut ada di tangan Rasya.


Rasya memberikan paper bag yang berisi satu kotak perhiasan emas tersebut pada pemiliknya."Lain kali hati-hati pak, oya silahkan cek isinya," ucapnya sebelum pergi.


"Tunggu, saya belum berterima kasih pada anda," teriaknya.


Rasya menuntun sepedanya dan melambaikan tangan untuk menjawab perkataan pemilik paper bag tersebut. Ia memilih untuk mengembalikan sepeda yang ia pinjam tanpa meminta izin dari pemiliknya terlebih dulu.

__ADS_1


"Saya kembalikan sepedanya, maaf merepotkan anda," Rasya mengeluarkan tiga lembar uang lembaran merah dari dalam dompetnya kemudian memberikan uang itu pada pemilik sepeda.


Pemilik sepeda itu menganga, padahal ia tidak meminta uang pada Rasya, tapi suami Ara itu malah memberikannya secara cuma-cuma.


"Tidak usah, saya tahu anda tadi sedang mengejar penjahat, ambil kembali uang anda," tolak bapak-bapak pemilik sepeda.


"Terima saja pak, anggap ini sebagai shodaqoh dari saya, rejeki anda dan keluarga,"Radya memaksa agar laki-laki itu menerima uang pemberiannya.


"Baiklah saya akan terima, makasih banyak nak," Rasya mengangguk. Kemudian ia meninggalkan pemilik sepeda itu dan kembali ke Didu.


"Wah bray salut gue sama elo, bela-belain ngejar penjahat," ucap Didu seraya memberikan semangkuk bakso pada Rasya.Ia juga memberikan botol saus dan kecap ke hadapan Rasya.


Sesuai janjinya tadi ia akan mentraktir temannya itu. Ia juga sadar kondisi Rasya yang capek setelah melakukan aksi kejar-kejaran dengan seorang penjahat.


"Gue cuma niat nolongin orang aja Du," kata Rasya setelah suapan pertamanya.


"Eh gimana-gimana perampoknya ketangkap gak?" tanya Didu penasaran sebab ia malah sibuk memesan bakso disaat temannya sedang sibuk mengejar penjahat.


"Ketangkep, udah dibawa ke kantor polisi juga," kata Rasya masih sambil makan bakso.


"Gue kalau udah gede mau jadi kaya elo, jago bela diri," Didu membayangkan keinginannya.


Rasya jadi menggelengkan kepalanya. Tidak tahu maksud perkataan Didu."Elo ini udah gede, kurang gede gimana lagi, tiga empat tahun lagi elo juga tuaan," ejek Rasya seraya terkekeh.


"Sialan lo," Didu memberikan tonyoran ke bahu Rasya. Namun Rasya yang tidak terima langsung memberikan tatapan tajamnya. Nyali Didu mulai menciut.


Sedetik kemudian Rasya malah tertawa melihat ekspresi wajah Didu yang menyebalkan. "Elo emang kaya anak kecil, ditatap dengan tatapan tajam aja nyali ko udah ciut," ejeknya.

__ADS_1


"Sialan lo malah ngajak temen sendiri," umpatnya.


Didu dan Rasya sudah biasa bercanda. Tapi Didu masih belum bisa membedakan candaan Rasya. Beda dengan Radith dulu. Ya itu karena Didu dan Radith sudah berteman lama. Layaknya anak kecil yamg memiliki sahabat, Didu pun merasa demikian dengan keduanya.Meskipun salah satu di antara mereka sudah berpulang lebih dulu.


__ADS_2