
"Habis ini kita kemana sayang?" tanya Rasya seusai mereka puas menonton film.
"Cari makan yuk kak laper nih habis ketawa terus tadi di dalam," ujarnya setelah menonton film komedi sesuai pilihan Ara.
"Ketawa emang nguras tenaga ya," ledek Rasya.
Mereka pun mencari restoran terdekat. Rasya memundurkan kursi agar Ara bisa duduk. Rasya kemudian menduduki kursinya sendiri. Setelah membuka menu makanan yang diberikan oleh pelayan restoran. Mereka memesan makanan. Rasya heran saat Ara menyebutkan beberapa makanan pada pelayan yang sedang mencatat menu pesanannya.
"Kamu makan berat Ra siang ini? sebanyak ini apa bisa habis, kamu gak takut gemuk?" tanya Rasya melihat banyak makanan yang dipesan oleh istrinya.
"Ya ampun kak Rasya mau makan aja banyak aturan kita pengen ya makan gak pengen ya jangan dimakan, simple kan?" ucap Ara dengan santainya.
"Kalau aku gemuk kak Rasya gak suka?" tanya Ara iseng pada Rasya.
"Suka, apa sih yang gak aku suka dari kamu, kakak cuma heran aja istri kakak makan sebanyak ini," Rasya mengacak rambut Ara gemas.
"Kan berdua sama kakak, yuk habisin nanti jalan lagi habis makan baru kita pikirin mau jalan kemana," Ara sudah bersiap memasukkan makanan nya ke dalam mulut.
Tiba-tiba di luar restoran terdengar keributan. Ara menoleh ke sumber suara.Ara kaget saat seseorang yang usianya lebih tua memaksa Putri ikut bersamanya.
"Ayo ikut," bentak laki-laki paruh baya yang mengenakan setelan jas itu pada Putri.
Putri menolak tapi tangannya ditarik oleh laki-laki itu secara terpaksa.Ara jadi tidak bisa tinggal diam melihat kejadian seorang lelaki yang menyakiti perempuan di depan matanya.
"Gak bisa dibiarin," Ara menggebrak meja lalu berdiri, keluar menghampiri Putri.
Rasya hendak mencegah Ara namun Ara lebih dulu melangkah. Rasya jadi menggelengkan kepala. Ia menghabiskan makanannya kemudian keluar.
"Heh lepasin," teriak Ara saat mendekati Putri dan laki-laki yang bersamanya.
"Siapa kamu?" tanya laki-laki yang kini sedang menggenggam tangan Putri dengan erat.
"Gak pentinglah siapa gue, yang penting anda jangan menyakiti perempuan," jawab Ara.
"Kamu tidak perlu turut campur, ini urusanku dengan wanita ****** ini," laki-laki itu menoleh ke arah Putri.
__ADS_1
"Selesaikan dengan baik-baik bukan menarik tangannya seperti kambing," ledek Ara.
"Sialan cewek songong itu ngatai gue kambing," batin Putri yang kesal.
Sementara itu Rasya masih melihat apa yang akan dilakukan oleh istrinya itu untuk menolong Putri. Ia tahu Ara tidak akan gegabah. Kalaupun ada yang menyakitinya Rasya siap menolong.
"Minggir jangan halangi jalanku atau kau akan tahu akibatnya," ancam laki-laki itu.
"Aku ingin tahu akibatnya," tantang Ara.
Rasya tersenyum mendengar ucapan Ara yang menantang laki-laki yang memaksa Putri. Ada rasa bangga dalam hatinya pada istri yang pemberani namun sok pahlawan itu.
Beberapa orang berbadan tegap mendekat ke arah laki-laki yang masih memegang tangan Putri dengan paksa.
"Hajar wanita itu," perintah laki-laki tersebut pada anak buahnya.
Ara masih tenang. Dengan bekal ilmu bela diri yang ia kuasai ia tidak takut melawan bodyguard-bodyguard itu. Ada tiga orang yang bersiap menangkap Ara. Mereka pun mempercepat langkahnya. Rasya masih diam melihat istrinya itu. Ia tahu Ara tidak akan mudah kalah. Maka dari itu ia biarkan istrinya itu bermain-main dengan mereka.
Mula-mula Ara mundur di saat ketiga bodyguard itu maju ke arahnya. Kemudian Ara mengambil langkah cepat dan menendang dengan kakinya.Tubuh bodyguard itu terhuyung namun tidak sampai jatuh.
Ara menempel pada punggung Rasya. Keduanya bersiap mengahdapi serangan tiga orang yang memiliki badan besar. "Kamu siap sayang?" tanya Rasya yang berada di balik punggungnya.
"Ya," jawaban Ara memberikan kode Rasya untuk menyerang lebih dulu.
Tidak mudah menumbangkan ketiganya karena mereka kalah badan. Namun Rasya berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkan mereka. Yang terpenting dirinya tidak sampai terkena pukulan para bodyguard itu.
Ara juga mendapat serangan dari salah seorang lawannya. Ia dapat menghindar setidaknya ia tak sampai terpukul. Sekali saja kena pukulan pasti ia akan tumbang mengingat kepalan tangan yang begitu besar dari para penjahat itu.
Ketika salah seorang mendapat kesempatan untuk memukul Ara. Rasya pasang badan.Ia memeluk istrinya sehingga dirinyalah yang mendapatkan pukulan. Darah segar mengalir dari ujung bibirnya. Ara yang melihat suaminya terluka kemudian tidak tinggal diam.
Ia melonggarkan pelukan sang suami. Setelah itu ia melepaskan ikat pinggangnya untuk digunakan sebagai senjata dalam memukul lawannya. Ara benar-benar geram. Ia maju kemudian memecut ikat pinggangnya ke udara.
Cetar
Suara pukulan ikat pinggang itu membuat ketiga lawannya mendadak ngeri. Mereka mundur selangkah meski tangannya bersiap memukul.
__ADS_1
"Berani kalian nyakitin suamiku, sini maju aku buat kalian jadi perkedel," geram Ara.
Ancaman itu membuat nyali ketiganya menciut. Meski mereka menyerang tapi Ara berhasil menumbangkan mereka. Ia memukul lawannya dengan ikat pinggang hingga ketiganya merintih kesakitan. Saat lawannya terkapar di lantai Ara menginjak salah satu dari mereka dengan kakinya.
"Mengaku kalah?" tanya Ara dengan nafas tersengal-sengal karena kelelahan berkelahi dengan tiga orang yang begitu kuat.
Ketiga lawannya itu mengangguk. Lalu Ara menoleh ke arah laki-laki yang memegang tangan Putri.Ia menyipitkan matanya untuk menakuti laki-laki itu. Lalu laki-laki yang tak dikenal namanya itu melepaskan tangan Putri. Ia lari terbirit-birit karena takut pada Ara. Ara jadi tertawa melihatnya tingkah laki-laki yang menantang nya tadi.
"Huu cemen," ejek Ara.
Rasya mengampiri Ara. Ia bangga melihat aksi Ara. "Kamu ada keturunan mafia Ra?" pertanyaan Rasya sontak membuat Ara membelalakkan mata.
"Iya kenapa emang?" jawab Ara selengekan.
"Sadis banget ngajar penjahat tadi, baru tahu ternyata kamu galak banget," Rasya tak serius mengatakannya. Ia hanya bercanda agar mencairkan suasana.
"Kak Rasya muji apa ngeledek, awas ya jangan tidur di kamar malam ini," ancam wanita cantik itu.
"Ah kamu gitu aja ngambek dong sayang," bujuk Rasya.
"Rasya makasih ya sudah nolongin aku," ucap Putri sembari menggelayutkan tangannya di lengan Rasya.
Ehem
Ara berdehem keras di depan Putri.
"Tidak tahu malu padahal udah ditolongin malah rangkul-rangkul suami orang," gumamnya lirih seraya menatap tajam ke arah Putri.
Rasya yang menyadari istrinya sedang cemburu melihat Putri bergelayut manja menepis tangan Putri kasar.
"Lain kali kalau ditolongin bilang terima kasih," tegur Ara pada Putri. Wanita yang sudah sah menjadi istri Rasya itu kemudian berbalik meninggalkan Putri.
Rasya segera mengejar istrinya. Tak lama kemudian dua orang satpam datang untuk menangkap penjahatnya.
...***...
__ADS_1