
"Ra mata lo kenapa? item gitu kaya kurang tidur," tanya Lulu yang melihat mata Ara seperti mata panda.
"Gue begadang semalaman buat bikin tugas kuliah," jawab Ara sambil menunjukkan tugas yang ia tenteng.
"Harusnya lo ngerjain dari sore," kata Lulu.
"Gue gak bisa Lu gue sibuk," Ara mulai duduk di kursi.
"Sok sibuk lu Ra," Lulu meletakkan tasnya di atas meja.
"Beneran gue sibuk kerja," jawab Ara dengan lesu.
"Hah lo kerja apa Ra?" tanya Lulu penasaran.
"Gue...gue kerja paruh waktu, gitu deh," Ara malu untuk jujur kepada Lulu karena di antara semua orang yang kuliah di Universitas itu Ara termasuk orang miskin jadi ia takut Lulu menjauhinya.Apalagi kalau Lulu tahu Ara hanya bekerja sebagai tukang ojek.
"Owh, dimana Ra?" tanya Lulu lagi.
"Kepo lo," Ara mengetuk kening Lulu dengan pena yang ia pegang.
"Emang, btw lo bukannya masuk lewat jalur beasiswa ya," Lulu mencoba mengingat perkataan Mutiara.
"Iya kan mesti beli buku-buku juga," Ara beralasan lain padahal alasannya bekerja untuk membayar uang ganti rugi kepada Radith.
"Gitu ya Ra," kata Lulu seolah mengerti maksud Ara.
"Iya maklumlah Lu gue kan bukan anak orang kaya," wajah Ara berubah sendu.
"Lo jangan ngomong gitu dong Ra, kalau lo butuh pinjaman uang buat bayar kuliah lo bilang aja ke gue," Lulu menawarkan bantuan.
"Makasih Lu, tapi gue lebih seneng pake uang hasil jerih payah gue sendiri," Ara pun mengakhiri percakapan mereka.
"Oke class cukup materi yang saya sampaikan hari ini, silahkan kumpulkan tugas minggu depan," Dosen pun selesai memberikan kuliah.
"Gue mau ke toilet duluan ya Lu, mau cuci muka biar gak ngantuk," Ara berdiri sambil menggendong tasnya.
"Gue ikut deh," Lulu pun melingkarkan tangannya ke lengan Ara.
Saat mereka berdua menuju ke toilet tanpa diduga mereka bertemu dengan Radith dan Didu di koridor kampus.
"Hai Mutiara," sapa Didu sambil melambaikan tangan ke arah Ara sedangkan Radith pura-pura cuek.
Didu menaik turunkan alisnya.Tapi Ara tidak menanggapi. Didu jadi kecewa.
"Jutek amat," umpat Didu.
__ADS_1
"Baru tau lo kalau dia jutek?" tambah Radith.
"Mungkin karena dia lihat lo kali bro, secara kalian kan gak akur," kata Didu.
Sementara itu di toilet.
"Eh Ra kenapa sih tiap ketemu Radith elo cuek gitu? Sebenarnya elo ada masalah apa sih sama dia?" jiwa kekepoan Lulu beraksi.
"Gue nabrak mobilnya sampai bempernya lecet," jujur Ara sambil mencuci muka.
"What? Ko elo baru bilang ke gue?" Lulu kaget mendengar pengakuan Ara.
"Iya jadi dia tu tiap kali ketemu nagih uang ganti rugi ke gue, padahal gue udah bilang gue akan bayar tapi nyicil," kesal Ara.
"Emangnya dia minta berapa?" tanya Lulu lagi.
"Lima belas juta," Lulu tidak kaget mendengar jumlah uang yang disebutkan oleh Ara.
"Segitu mah wajar Ra buat bawa mobilnya ke bengkel, apalagi mobil Radith kan tergolong jenis mobil mewah, biaya perawatannya emang mahal," perkataan Lulu membuat Ara kesal karena tidak berpihak kepada Ara.
"Uang segitu kalau buat kalian gak seberapa Lu, tapi buat gue itu butuh pengorbanan buat dapetin uang sebanyak itu, mungkin setahun gue baru bisa lunasin uang ke Radith," Ara selesai mencuci mukanya.
"Apa jangan-jangan elo kerja buat dapetin uang biar bisa bayar ganti rugi ke Radith?" Lulu asal menebak.Tapi ia kaget saat Ara menganggukkan kepalanya.
"Gak usah, gue masih bisa kerja, oh ya udah waktunya gue kerja nih, udah dulu ya," pamit Ara.
Setelah itu Ara menuju ke kantor untuk absen seperti biasa. Tapi di perjalanan ia malah terjatuh dari motornya karena ia masih mengantuk. Kemudian seseorang menghentikan mobilnya di dekat Ara dan turun dari mobil lalu menolongnya.
"Kamu gak papa?" tanya laki-laki yang umurnya tidak jauh dari Ara.
"Iya gak papa," Ara melihat tangan dan lututnya lecet.
"Bukannya kamu yang pingsan kemaren di ruang dosen," tanya Brian.
"Oh ko tahu," Ara jadi bingung.
"Iya kebetulan aku yang gendong kamu ke poliklinik, badan kamu berat juga ya," Brian sedikit malu mengatakannya.
"Oh jadi ini mahasiswa senior yang nolongin gue kemaren," ucap Ara dalam hati.
"Oh sorry gue gak tahu," Ara berusaha untuk bangun tapi ia gagal. Lalu Brian membantunya berdiri.
"Ayo gue anter ke klinik, kita obati lukamu," Brian bermaksud menolong Ara.
"Gak, gak perlu gue gak papa, sumpah," padahal Ara menahan rasa sakit di bagian tubuhnya yang terluka.
__ADS_1
"Kalau gitu kita obati lukamu di mobilku saja," kata-kata Brian yang sopan membuat hati Ara luluh sehingga ia menuruti perkataan Brian.
Brian pun mengajak Ara ke mobilnya. Lalu mengambil kotak obat yang ada di dasboard. Dengan hati-hati ia mengoleskan obat ke luka Ara setelah itu menempelkan plester di siku dan lututnya yang terluka.
"Aw pelan-pelan," kata Ara yang merasa kesakitan.
"Kenapa kamu bisa sampai jatuh sih?" tanya Brian sambil melihat ke dalam mata Ara.
"Gue sedikit ngantuk," Ara berkata apa adanya.
"Kalau ngantuk istirahat, tapi kenapa malah bekerja," perhatian Brian membuat Ara semakin jatuh hati padanya.
Belum pernah ada laki-laki yang sebaik Brian.Brian bahkan tidak malu menolong Ara yang bekerja sebagai tukang ojek.
"Mungkin kalau Radith yang lihat gue jatuh udah ditinggalin gitu aja kali," batin Ara yang tiba-tiba membayangkan Radith.
"Eh kamu ko melamun," tanya Brian yang melihat ke mata Ara yang tidak fokus.
"Ah enggak," Ara menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Udah selesai, oh ya aku Brian, siapa nama kamu?" tanya Brian sambil mengulurkan tangannya.
"Gue Mutiara," Ara membalas uluran tangan Brian.
"Dia beda banget sama Radith, dia gak malu deket sama gue, eh kenapa kepikiran cowok belagu itu terus sih," batin Ara.
"Btw makasih kak udah nolongin gue, gue gak tahu gimana balesnya," Ara sedikit malu mengatakannya.
"Hp kamu mana?" Brian meminta handphone milik Ara.
"Buat apa?" Ara seakan terbius oleh kebaikan Brian ia memberikan hpny begitu saja.
Untungnya Brian orang baik, kalau orang jahat bisa raib tu hpmu Ra. Lalu Brian menulis no hpnya di hp Ara.
"Untuk sekarang aku gak ada permintaan, tapi mungkin suatu saat aku akan minta balasan dari kamu," kata Brian lalu mengacak rambut Ara.
Setelah itu Brian memutari mobilnya menuju kursi kendali. Ia pun mulai menyalakan mobil dan melambaikan tangan ke gadis yang ia tolong.
Entah apa yang membuat Ara lagi-lagi tidak bisa menolak Brian hingga ia pun membalas lambaian tangannya. Namun, cepat-cepat ia menurunkan tangannya setelah tersadar. Takut dibilang GR pikirnya.
Ara jadi tersipu malu. Pipinya merah merona dan terasa panas.Ia pun mengipas-ngipaskan tangan ke wajahnya. Kemudian Ara kembali menyalakan motornya tetap bekerja meski siku dan lututnya masih sakit.
...***...
Dukung terus karyaku ya minta kembang sam kopinya dong hehehe
__ADS_1