Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Wisuda


__ADS_3

Dua bulan kemudian


"Kamu udah siap Yang?" tanya Rasya sebelum ke acara wisudanya.


Ara berdandan cantik hari ini memakai baju warna lilac yang serasi dengan setelan jas yang dipakai oleh Rasya.


"Berlian mana?" tanya Rasya.


"Dia lagi digendong sama ibu di depan," jawab Ara sambil memasang dasi suaminya.


"Yuk berangkat sekarang," ajak Rasya setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


...***...


"Selamat ya kak," Ara mencium bibir Rasya singkat saat ia baru keluar dari gedung setelah diwisuda.


"Kira-kira dong kalau mau c*po*an,mata gue tercemar nih," protes Didu pada pasangan suami istri yang ada di depannya.


Tanpa menghiraukan ucapan Didu, Rasya malah menarik pinggang Ara lalu mengulangi c*uma*nya sedikit lebih lama.Rasya sengaja melakukan itu untuk memanas-manasi Didu.


"Shiiiitt sengaja ya kalian," umpat Didu salah tingkah melihat adegan 22+ live di depan matanya.


"Neng Luluuuu," panggil Didu pada wanita yang ia taksir. Ia kesal ingin segera mempraktekannya.


"Apaan?" jawab Lulu ketus.


Entah darimana datangnya Lulu tiba-tiba berada di samping laki-laki yang memanggilnya itu. Didu jadi kaget tapi senyumnya mengembang sempurna.


"Kamu di sini honey?" tanya Didu mesra dengan panggilan yang berubah-ubah.


"Cih jangan geer, gue ke sini buat nyelametin kak Rasya," elak Lulu.Matanya menoleh ke suami Ara.


"Eleh lo kalau mau bohong jangan mpe ketahuan, kapan gue ngundang elo buat dateng ke acara wisuda suami gue," cibir Ara cengengesan.


"Lo ko ngomongnya gitu sih Ra, jahat banget mulut lo, sumpah, kita kan sahabatan udah lama," sahut Lulu.


"Heleh gak pinter akting lo," ejek Ara yang mendapat pelototan dari Lulu.


"Yang, Didu dan Lulu butuh ruang kita tinggalin mereka," Rasya mengajak Ara pergi.


Setelah kepergian suami istri yang sudah memiliki seorang buah hati itu, Lulu memberanikan diri untuk memberi selamat pada laki-laki yang membuatnya nyaman meski dirinya selalu bertengkar setiap kali bertemu.

__ADS_1


"Nih bunga buat lo," Lulu memberikan buket bunga untuk Didu.


"Beneran ini buat abang?" tanya Didu meyakinkan.


"Iya, buat siapa lagi, demit?" cibir Lulu. Begitulah cara bicara Lulu yang selalu ceplas-ceplos.


"Makasih Yang, itu artinya hari ini kita resmi jadian," Didu memeluk Lulu tanpa aba-aba.Ia mengambil keputusan sepihak sehingga membuat Lulu memukul lengannya.


"Lepasin ogeb gue engap," protes Lulu.


"Salsabiluna gue mohon elo mau jadi pacar gue," pinta Didu sambil berjongkok lalu menyodorkan buket bunga yang ia pegang untuk Lulu.


"Lah nih buket kan gue yang ngasih kenapa lo balikin ke gue?" bingung Lulu dengan sikap Didu yang sedikit lebay menurutnya namun dia suka.


"Terima gak?" Didu mendongak ,Lulu masih di posisi berdiri.


"Kalau gak diterima gue gak mau bangun," ancamnya.


Lulu berfikri sejenak. Ia melihat ke dalam mata Didu lalu memberikan kepastian pada teman satu jurusan Rasya itu.


"Ya gue terima," jawaban yang sangat ingin didengar Didu itu akhirnya tericap dari bibir seorang Lulu yang telah berulang kali menolaknya.


"Serius kan? gak ngeprank?" tanya Didu setelah berdiri.Lulu hanya mengangguk. Wajahnya merah merona karena malu.


"Makasih honey," ucapnya seraya mengecup pucuk kepala Lulu layaknya sikap Rasya pada istrinya.


...***...


Sekitar tiga puluh menit perjalanan dari kampusnya, Rasya sampai di rumahnya. Saat memasuki ruang tamu, ia melihat putri kecilnya sedang berada dalam gendongan sang mertua


"Anak papa," Rasya hendak memeluk Berlian tapi Ara melarang suaminya itu.


"Kak cuci kaki sama tangan dulu, kamu habis dari luar," saran Ara.


Rasya segera naik ke kamarnya lalu berganti pakaian. Ia turun dengan tergesa. Baru beberapa jam meninggalkan putrinya, Rasya sudah begitu kangen.


"Yang aku jatuh cinta lagi," ucapan Rasya membuat Ara dan ibunya membelalakkan mata.


"Aku jatuh cinta pada putriku yang menggemaskan ini," imbuh laki-laki blasteran Jerman itu.


Ara dan Ibunya jadi bernafas lega. Hampir saja ia berfikir kalau Rasya memiliki cinta selain pada istrinya.

__ADS_1


"Jantungku hampir copot mendengar kalimatmu yang menggantung," protes Ara.


Rasya membalasnya dengan senyuman. "Lihatlah dia tertidur pulas di dalam gendonganku," ucapnya bangga dapat membuat bayi kecilnya tidur.


Namun semenit kemudian Berlian manangis. Rasya yang tidak dapat menghentikan tangisnya lalu menyerahkan gadis kecilnya itu pada sang istri.


...***...


"Yang," panggil Rasya pada Ara yang sedang sibuk meny*s*i anaknya.


"Apa?" jawab Ara tanpa menoleh ke sumber suara.


"Gantian dong masa Berlian mulu yang dis*s*in, giliran aku kapan?" rengek Rasya.


"Ssstt dia lagi bobo nih, jangan berisik dulu," bisik Ara.


Bahu Rasya meluruh, tak ada yang bisa dia perbuat saat anaknya sudah menempel pada p*t*ng ibunya.


Ketika Ara melihat bayinya mulai tertidur lelap karena kekenyangan minum ASI, Ara memindahkannya ke box bayi yang ada di samping ranjangnya.


Wajah Rasya berubah sumringah saat Ara berjalan ke arahnya. "Ayo," ajak Ara dalam artian yang diinginkan Rasya.


Rasya pun menarik pinggan Ara. Ia menempelkan bibirnya di bibir mungil milik istrinya. Ciuma yang awalnya lembut berubah menjadi ciuman yang mengandung nafsu di antara keduanya.Setelah itu Rasya mengubah posisinya. Kini Ara sudah ada dalam kungkungan laki-laki bertubuh kekar tersebut.


Rasya mulai menjamah bagian leher Ara. Menyesap setiap inchi bagian tubuh istrinya. Ara menggigit bibir bawahnya agar suara-suara e*o*is itu tidak terdengar. Karena bayi mereka akan terbangun saat mereka belum selesai menuntaskan hasratnya.


Rasya turun ke bagian inti Ara sambil mengulum gundukan gunung kembar milik istrinya.Tangannya begitu liar. Ara merasakan gelenyer aneh yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Setelah puas memainkan setiap inchi tubuh Ara, Rasya membuka bawahan yang ia pakai.


"Sudah siap?" bisik Rasya.


"Oeeee oeeee," suara tangisan bayi dua bulan itu begitu nyaring.


"Kak pause dulu," ucapAra mendengar suara tangisan bayinya.


"Ck," Rasya menjatuhkan badannya ke atas kasur karena frustasi.


Ini bukan pertama kalinya ia gagal menjalankan misi untuk mencetak penerus generasi bangsa berikutnya. Semenjak lahirnya Berlian ke dunia, Rasya sangat jarang berhubungan suami istri dengan Ara disebabkan Berlian yang selalu rewel saat papanya sedang ehem-ehem dengan mamanya.


Hari-hari Rasya dan Ara dipenuhi dengan kebahagiaan. Apalagi dengan hadirnya Berlian yang semakin hari semakin menggemaskan. Gadis itu tumbuh dengan baik di bawah kasoh sayang Rasya dan istrinya.


...❤️***❤️...

__ADS_1


Doakan mereka selalu bahagia ya readersku tercinta.


Author mau lanjutin cerita Berlian di novel baru author yang akan aku tulis mulai besok. Jangan lupa kasih dukungan terus ya. Komentar dan like dari kalian sangat lah berarti.


__ADS_2