
"Ra elo kenapa?" tanya Lulu yang melihat Ara sedang duduk sendiri di taman sambil memegang botol air mineral.
"Duit gue hilang Lu," Ara menghembuskan nafasnya kasar. Dia masih belum bisa menerima karena kehilangan gaji pertamanya.
"Hilang dimana Ra?" Lulu duduk di samping Ara.
"Gue juga gak tahu dimana," Ara terlihat murung. Air matanya sudah mulai menetes namun ia berusaha menahannya.
"Yang sabar ya Ra, ntar pasti diganti..." belum selesai Lulu berkata Ara sudah menyelanya.
"Huaaa siapa yang mo ganti uang gue Lu, zaman sekarang mana ada orang yang mau ngasih duit cuma-cuma," Ara menangis tersedu-sedu di samping sahabatnya.
Lulu segera mengambil tissu yang ada di tasnya untuk diberikan kepada Ara.
"Itu hasil jerih payah gue selama ini Lu. Gue rela pulang malam tiap hari sampai hujan panas juga gue jabanin kenapa duitnya malah orang lain yang nikmatin huaaaa," Ara semakin keras menangisnya hingga Radith mendengar saat sedang lewat.
"Gadis cengeng, gitu aja nangis nih gue ganti uang lo yang hilang," Radith menyodorkan ATM kepada Ara tapi Ara malah tambah menangis.
"Huaaa dia kenapa si Lu selalu nyakitin hati gue, bilangin sama dia Lu gue gak butuh uangnya gue mau duit gue balik," Ara berbicara sambil memeluk Lulu.
Sreett
Ara mengeluarkan ingusnya lalu mengusapnya dengan tissu. Lulu dan Radith yang mendengar suara itu jadi illfeel.
"Jorok lu," cibir Radith pada Ara.
"Udah ya udah malu tuh dilihat mahasiswa lain," Lulu mencoba menenangkan Ara dengan menepuk punggungnya.
"Dikasih duit malah gak mau," gumam Radith. Lulu yang mendengarnya membelalakkan matanya supaya Radith bisa menjaga omongannya.
Radith pun meninggalkan kedua cewek itu. Setelah itu Ara tampak lebih tenang setelah menangis. Matanya terlihat sembab.
"Makasih ya Lu elo udah mau nemenin gue," Ara mengusap pipinya yang basah.
"Iya sama-sama, mau gue anter pulang?" Lulu menawarkan tumpangan.
"Gak usah Lu gue gak mungkin balik ke rumah sedangkan mata gue masih sembab gini," Ara menunjuk matanya yang sembab karena habis menangis.
"Trus rencana lo apa?" tanya Lulu.
"Gue mau muter-muter bentar trus lanjut kerja," kata Ara seraya berdiri dan menenteng tasnya.
__ADS_1
"Gue duluan Lu," pamit Ara meninggalkan Lulu.
Lalu saat Ara lewat di sekitar kampus banyak orang yang melihatnya dengan tatapan yang dingin. Mereka lebih seperti menjauhi Ara dan tampak membicarakannya di belakang.
"Apa mata gue terlalu kentara ya habis nangis tadi sampai orang-orang merhatiin gitu," batin Ara.
Dia pun berusaha cuek dan mengambil helmnya kemudian meninggalkan gerbang kampus.
Malamnya setelah Ara selesai bekerja ia mendapatkan notifikasi yang masuk di layar hpnya.
"Ra elo harus lihat video ini," Lulu mengirimkan sebuah video ke hp Ara yang membuat Ara kaget saat melihatnya.
"Elo lagi diomongin Ra di grub kampus, udah baca belum lo?" begitulah isi chat Lulu.
Ara pun segera membuka grub chat yang ada di aplikasi hijau nya. Ia kaget sampai menutup mulutnya saat membaca koment-koment netizen yang budiman.
"*Dasar orang miskin,"
"Malu-maluin aja kalo gue jadi dia gue malu kuliah sambil ngojek,"
"Ke pengkolan neng*,"
"Kurang ajar siapa yang nyebarin video ini," geram Ara. Ia mengepalkan tangan seakan sedang menahan amarahnya
Ara masuk ke kamarnya begitu saja tanpa menjawab pertanyaan ibunya. Ia lalu menjatuhkan badannya ke atas kasur.
"Apes banget gue hari ini, sudah kehilangan duit kehilangan muka pula," Ara menutup wajahnya dengan bantal.
Keesokan harinya ia sampai di pelataran parkir.Ia pun mulai melepaskan helmnya. Kakinya berat untuk melangkah tapi mau bagaimana lagi ia tidak mungkin bolos kuliah hanya karena malu.
"Elo bisa Ra,yuk bisa yuk bisa,"Ara menyemangati dirinya sendiri sebelum melangkahkan kaki.
Tiba-tiba seseorang menabrak bahunya sampai buku-buku yang dibawa Ara jatuh ke tanah. Ara pun segera memungut buku-bukunya.
"Eh cewek udik bangun lo!" teriak Putri yang berdiri di depan Ara yang sedang berjongkok untuk memungut buku-bukunya yabg terjatuh.
Ara menengok ke atas. Ia menatap tajam kepada Putri.
"Apa lo lihat-lihat?" bentak Putri.
"Sebenarnya kakak punya masalah apa sih sama saya kok tiba-tiba bentak-bentak saya kek gini?" tanya Ara baik-baik yang tidak mengerti dengan sikap Putri padanya.
__ADS_1
"Salah lo kuliah di University Elite kaya di sini," kata Putri sambil mendorong dada sebelah kiri Ara dengan jari telunjuk miliknya.
"Emangnya salah kalau saya kuliah di sini?" tambahnya lagi.
"Jelas salah lah di sini mana ada yang bekerja sebagai ojol kaya elo" cibir Ara.
"Ow jadi kakak yang nyebarin video saat saya sedang mencari penumpang di area mall kemaren?" Ara maju beberapa langkah sampai Putri mundur.
"Jangan asal ngomong ya lo," Putri malah berbalik menyalahkan Ara lalu ia berusaha menamparnya.
Untungnya Radith menangkap tangan Putri dan membuangnya.
"Jangan keterlaluan lo Put, Ra kita pergi dari sini,"Radith menarik tangan Ara dan berjalan menjauh dari Putri.
Ara melihat ke arah tangannya yang sedang dipegang oleh Radith. Awalnya Radith memegang bagian pergelangan tangan Ara tapi ia mengubahnya dengan menelusuk ke jari-jari Ara hingga membuat jantung Ara berdegub kencang. Ara mencoba menenangkan jantungnya dengan memukul pelan beberapa kali di bagian dada.
"Kenapa lo?" tanya Radith yang melihat tingkah laku Ara.Ara hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Lalu Radith membawa Ara ke parkiran motor.
"Kunci lo mana?" tangan Radith menadah.
"Buat apaan?"
"Udah kasih aja,sini!" Ara pun mengambil kunci motor dari dalam tasnya.
"Gue gak bawa helm dua," Radith tersenyum mendengar perkataan Ara.
"Siapa yang mo ngajak lo jalan-jalan, GR," Radith mencolek hidung Ara yang mancung.
"Trus lo mo ngapain?" tanya Ara penasaran.
"Naik lo," pinta Radith.
"Hey kalian semua kalau butuh tumpangan bilang saja ke Mutiara anak semester satu, dia bisa nganterin lo kemana aja, atau pengen pesan makanan online minta bantuan sama dia aja, oke," teriak Radith sambil muter-muter kampus.
"Lo gila ya Dit, berhenti gue bilang berhenti gak berhenti," Ara memukul punggung Radith beberapa kali sampai ia menghentikan motornya.
"Lo jahat banget Dit, sumpah," Ara mengambil alih motornya lalu pergi.
Radith menghembuskan nafasnya kasar.Ara bahkan tidak berpamitan padanya. Ia tidak bermaksud untuk mempermalukan Ara justru sebaliknya ia ingin membantu agar Ara bisa mendapatkan orderan yang banyak ke depannya.
__ADS_1
"Gue gak bermaksud jahat Ra sama lo,"lirih Radith dengan wajah sendu.