
"Apah? Kak Rasya dikeroyok?" seru Ara saat menerima panggilan dari Didu.
"Gak bisa tinggal diem nih, share lokasi lo sekarang," setelah Ara menerima pesan berupa peta lokasi dimana Didu berada, Ara pergi menggunakan ojek online yang kebetulan sedang parkir di depan kantornya.
"Mas anterin saya ya," Ara mengambil helm kemusian memakainya.
"Kemana Ra? gak order pakai aplikasi?" tanya kang ojol itu.
"Gak usah kelamaan, nanti aku bayar double, tapi ngebut ya," kata Ara yang sudah pada posisi di belakang.
Sepuluh menit kemudian Ara sampai di lokasi yang Didu beri tahu melalui pesan di ponselnya.
"Kak Rasya," panggil Ara saat melihat tunangannya berada di lokasi kejadian.
Baru saja mendekat pada Rasya. Salah seorang penjahat mencoba melukai mereka. Tapi tangan Rasya berhasil menangkis senjata tajam yang hendak mengenai Ara.
Ara kemudian menghajar para penjahat itu. Tentunya ia tidak sendiri beberapa rekan seprofesinya dulu ikut membantu manangani para penjahat itu.
Sebelum mereka dibawa ke kantor polisi. Rasya menyempatkan diri untuk bertanya pada salah satu di antara mereka
"Ada urusan apa kalian dengan laki-laki yang bernama Brian?" tanya Rasya pada salah seorang penjahat yang ia ketahui tadi pagi berbicara denga Brian.
Penjahat itu masih bungkam.
"Jawab lo di tanya malah diem," bentak Didu yang mulai kesal.
"Kami disuruh oleh Brian untuk menghabisi nyawa seseorang," Rasya mencoba menahan emosinya.
"Nyawa siapa yang kalian habisi?" tanya Rasya dengan tenang.
"Kami tidak tahu namanya tapi wajahnya mirip denganmu," kata pria yang tangannya dipegang oleh salah seorang teman Ara.
Rasya meraup mukanya kasar. Ia tahu yang dimaksud oleh orang itu adalah saudara kembarnya,Radith. Ara yang mendengar hal itu bisa menyimpulkan kalau biang kerok dari kecelakaan yang menimpa Radith adalah karena ulah Brian. Sedih sudah pasti. Kejadian yang hampir bisa dilupakannya seolah berputar-putar di kepalanya lagi.
"Tolong bawa mereka ke pihak yang berwenang," perintah Rasya diikuti teman-teman Ara yang masing-masing membelenggu tangan para penjahat itu.
"Kak Rasya tangan kamu luka, kita ke rumah sakit ya," Ara mengatakan dengan mulut bergetar.
Rasya melihat kesedihan di wajah Ara. Bagaimana tidak ternyata mantan kekasihnya itu meninggal akibat kecelakaan yang disengaja oleh orang yang dianggap baik selama ini.
"Aku tidak apa-apa Ra ini hanya luka kecil," Rasya menatap mata Ara yang berkaca-kaca.
"Ini tidak sebanding dengan luka yang ada di hati kamu karena kehilangan orang yang kamu cintai Ra," batin Rasya dalam hati.
Ara menyeka air matanya. "Kak nanti malam ibu Emely jadi datang?" Rasya mengangguk pelan.
__ADS_1
"Gak ada waktu lagi ayo kita le rumah sakit, jangan biarkan luka ini semakin parah, Du elo bisa bantu gue kan ngurusin motornya kak Rasya?" tanya Ara singkat.
Ara memesan taxi online kemudian membawa Rasya ke rumah sakit.
"Sakit banget ya?" tanya Ara sambil meniup bagian tangan Rasya yang terluka.
"Kamu tidak perlu sepanik ini Ra," Rasya malah tersenyum melihat wajah Ara yang menggemaskan.
"Gak panik gimana kak, orang luka gini, nanti kalau ibu tanya aku jawab apa?" panik Ara.
"Jangan bilang kita berkelahi ya Ra, ibu paling gak suka anaknya berantem kalau panik kelewat batas, nanti kita yang repot," Ara mengangguk mengerti.
Setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit Rasya meminta pulang karena hanya tangannya yang terluka. Ara mengantar Rasya sampai ke rumah.
"Nanti malam kita makan dimana?"tanya Ara yang berdiri di depan rumah pemuda tampan itu.
"Di rumah kamu aja, ibu Emely bilang dia ingin bertemu dengan calon besannya,"
"Kakak yakin ibu Emely mau berkunjung ke rumahku yang jelek itu," Ara merendah.
"Aku yakin ibu tidak keberatan," kata Rasya yakin.
"Ya sudah apa yang harus aku persiapkan untuk menyambut kedatangan ibu kak?" tanya Ara.
"Ya sudah aku pulang duluan ya kak nanti kabari aku kalau mau dateng," pamit Ara.
"Tunggu Ra," Rasya memberi kecupan singkat di kening Ara.
"Kamu keren hari ini," pujian Rasya membuat wajah gadis yang berdiri di depannya itu memerah.
Ara berbalik kemudian pergi begitu saja meninggalkan Rasya karena malu.
"Dasar gadis lucu," Rasya tersenyum menatap kepergian Ara.
Ara memesan ojek online setelah keluar dari gerbang rumah Rasya. Dia tidak langsung pulang. Sesuai saran Sarah tadi pagi, ia sempatkan mampir ke sebuah toko bunga yang searah dengan jalan menuju rumahnya.
"Tunggu sebentar ya bang, aku cuma mau beli bunga terus pulang, gak lama kok," kata Ara pada kang ojek yang mengantarkan dirinya.
"Mbak Nuna," sapa Ara pada seorang gadis cantik yang usianya dua tahun lebih tua darinya.
"Eh Ara, habis ngojek ya?" tanya Nuna* sang pemilik toko bunga.
*Kalian bisa baca kisah Nuna yang berjuang sendiri sejak ditinggal mati kedua orangtuanya di novelku yang berjudul "Maafkan Adikku".
"Eh gak mbak sekarang aku gak ngojek lagi," tatapan Nuna mengarah oada helm yang dipakai Ara.
__ADS_1
"Ini aku yang jadi penumpang," terang Ara.
"Oh makanya kamu mbak udah gak lihat kamu ngojek akhir-akhir ini. Mau apa ke sini?" tanya Nuna dengan lembut.
"Aku mau beli bunga,"
"Buat siapa Ra?" tanya Nuna.
"Camer mbak," Ara sedikit ragu saat menyebutnya.
"Oh, mbak saranin kasih bunga lily aja pasti dia suka, mbak bungkusin ya,"
Setelah selesai dengan pesanannya Ara berpamitan pada Nuna.
Ara kembali menaiki ojek. Untung saja petang itu jalan masih lengang karena sudah lewat jam pulang kantor. Jadi Ara bisa sampai di rumah tepat waktu.
"Eh mampus belum pesen makanan," Ara menepuk jidatnya sesaat setelah membayar ojek yang ia tumpangi.
Gadis itu lalu mengambil handphone yang ada di dalam tasnya.
"Lu kirim makanan terenak yanga ada di kafe lo ke rumah gue pakai ojek online ya,"Ara berkata pada temannya dari ujung telepon.
"Tumben-tumbenan lo pesen makanan, ada acara apa Ra?"
"Nyokapnya kak Rasya mau dateng,"
"Wih mau kedatangan camer yang diimpor langsung dari Jerman ya,"
"Lo kira barang apa? udah cepetan sejam lagi nih, totalnya kirim ke gue, transfer deh kalau udah clear," Ara menutup telepon kemudian memberi tahu Bu Mia bahwa mereka akan kedatangan calon besan.
"Ibu masak apa nak buat mereka?" tanya bu Mia yang panik karena Ara memberi tahu secara mendadak.
"Gak usah bu,aku sudah pesan makanan dari kafenya Lulu bentar lagi dateng ko, aku mandi dulu ya bu," pamit Ara ke belakang.
Setengah jam kemudian seseorang mengetuk pintu rumah Ara.
"Bu itu mungkin makanan yang aku pesan, bisa tolong bukakan pintunya, sudah aku bayar jadi ibu gak perlu ngasih uang lagi," kata Ara yang baru keluar dari kamar mandi.
Bu Mia pun berjalan ke depan lalu membukakan pintu.
"Siapa bu yang datang?" teriak Ara dari dalam kamarnya.
...***...
Yang bilang seru jangan lupa kasih hadiah ya readers ku tercintah. Jan pelit2 ya, gratis ini tinggal pilih di antara bunga, love apa kopi. Makasih sebelumnya
__ADS_1