Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Morning Kiss


__ADS_3

"Kamu tiada hari tanpa pulang malam ya Ra," omel Bu Mia pada putrinya.


"Maklum bu mahasiswa teladan jadi banyak kegiatan di kampus," Ara mencium tangan ibunya saat baru sampai.


"Mandi gih habis itu makan," pinta ibunya.


"Nanti bu Ara ganti baju dulu mau nyuci motor tuh beberapa hari gak dicuci," katanya.


"Dah malem lho ini nanti kamu masuk angin," kata Bu Mia.


"Gak papa bu besok pagi udah dipakai lagi, malu kalo yang naik cantik tapi motornya jelek hehe," Ara tertawa meringis.


"Oh iya ibu lihat kamu pakai baju formal gitu," belum selesai ibunya meneruskan kalimatnya Ara sudah kabur ke kamar duluan.


"Hufh untung gue bisa menghindar dari pertanyaan ibu," Ara mengelus dadanya.


Sampai saat ini ia memang belum memberitahukan kepada ibunya perihal pekerjaannya. Setiap pulang malam Ara hanya beralasan karena banyak kegiatan di kampus.


Ara memasang selang air kemudian menyalakan keran. Ia juga sudah menyiapkan kain dan sabun untuk mencuci motornya. Ia mencuci sambil mendendangkan lagu.


"Goyang dombret... goyang dombret,"


"Woy nyanyi apaan lu Ra?" teriak seorang gadis yang berlalu mengendarai motor bersama pacarnya.


"Sialan lo ganggu orang aja, dasar ABG labil lo," umpat Ara.


"Dicari mak lo noh," tambahnya lagi.


"Ara jangan teriak-teriak," suara ibunya dari dalam rumah.


"Yagh katanya disuruh jangan teriak tapi ibu teriak sendiri," omelnya.


Selesai mencuci motor ia pun mandi tapi saat hawa mulai terasa dingin ia ingin memasak air panas. Akan tetapi gas di dapurnya habis.


"Yagh gak bisa mandi pake air anget dong," keluh Ara.


"Males mandi ah cuci muka aja terus tidur," katanya.


Keesokan harinya Radith sudah bersiap di depan rumah Ara.


"Eh nak Radith, Aranya masih siap-siap di dalam," kata Bu Mia menyambut kedatangan Radith.


"Gak papa Bu saya tunggu,"


Tak lama kemudian Ara keluar dengan pakaian casual dan tas ransel. Ara tersenyum saat melihat Radith. Radith pun membalasnya.


"Udah lama ya?" tanya Ara.


"Ah baru aja,"


"Berangkat dulu ya Bu," Ara mencium punggung tangan ibunya.


"Titip Ara ya nak Radith," kata Ibunya.

__ADS_1


"Siap Bu," Radith memberikan senyuman sebelum benar-benar pergi.


"Eh gak papa ya kita berangkat bareng gini? kalau anak-anak tanya kita jawab apa?" tanya Ara yang sedikit khawatir.


"Kamu tenang aja sayang, kalau ada yang tanya kita terus terang aja lagian gak ada alasan buat lama-lama bohongin mereka," Radith tiba-tib menepikan mobilnya.


"Kok berhenti kan belum nyampe?" tanya Ara kebingungan.


"Hari ini kamu yang bawa mobilnya ya," Radith melempar kunci ke Ara.


"Tapi aku kan baru diajarin kemaren,mana bisa" protes Ara.


"Bisa, sambil jalan sambil belajar," Radith mengerlingkan matanya sebelah.


Ara terpaksa menerima tantangan Radith. Aslinya ia sangat gugup, gimana nanti kalau nabrak pikirnya. Tapi saat menoleh ke arah kekasihnya, ia percaya Ara bisa melewati jalanan ramai.


"Nanti kita ambil jalur yang agak sepi tapi rada molor dikit nyampe kampus gak papa ya," Ara hanya membalasnya dengan anggukan saking tegangnya.


"Santai sayang jangan tegang," Radith memasangkan sabuk pengaman yang ia lihat belum dipasang oleh Ara.


Saat itu wajah Ara dan Radith hampir tak berjarak. Ara bisa merasakan hangat nafas Radith yang keluar dari hidungnya.


Cup


Sedetik jantung Ara berhenti saat Radith menciumnya.


"Morning kiss," kata Radith dengan santainya.


"Ya udah ayo jalan injek gasnya," baru sebentar menginjak gas kepala Radith kepentok kaca depan.Dia pun mengaduh sambil memegang kepalanya.


"Nah kan kualat sih sama pacar, masangin sabuk pengangan orang tapi lupa pasang sabuk pengaman sendiri," ejek Ara.


"Hemm yang kaya gini nih minta dihukum," Radith mendekatkan wajahnya bersiap mencium tapi tangan Ara menangkap wajahnya.


"Tadi udah ya morning kissnya," Ara mencebik kesal.


"Sekali lagi boleh?" tanya Radith sambil memasang muka melas.


"Besok masih ada hari," ketus Ara.


"Ck, ya udah ayo jalan, ijek gasnya jangan injek kakiku," Ara melihat ke bawah.


"Ups maaf sayang," Ara tersenyum meringis.


Dengan laju yang sangat pelan Ara menjalankan mobil Radith. Ia masih belum lancar saat mengendarai mobil. Namun Radith mengajarinya dengan penuh kesabaran.


"Alhamdulillah akhirnya sampai kampus juga," kata Ara setelah mematikan mesin mobil yang ia kendarai.


"Kamu berkeringat sayang," Radith mengusap kening Ara yang berpeluh.


"Tangan kamu juga dingin," Radith memegang tangan Ara yang masih memegang kendali setir.


"Agh gak papa," gugup Ara menanggapi sikap Radith yang membuat jantungnya sempat berhenti.

__ADS_1


"Wajahmu juga merah, kamu sakit?" tanya Radith khawatir.


"Aku cuma tegang tadi," Ara mulai melepas sabuk pengamannya.


Keduanya turun secara bersamaan. Tak jauh dari tempat mereka parkir. Brian dan temannya yang masih di dalam mobil sedang mengawasi keduanya.


"Gebetan lo tuh bray, bakalan kalah tarohan lo kalo gini," teman yang duduk di samping Brian memanas-manasinya.


"Emang udah jelas mereka pacaran?" tanya Brian.Temannya itu hanya mengangkat bahu.


"Gue gak kan kalah sama Radith," Brian menyipitkan matanya.


"Eh guys kalian berangkat bareng?" tanya Luku yang menghampiri Ara.


"Eh Lulu baru dateng ya?" tanya Ara basa-basi.


"Dit gue lihat lo kerajinan jemput temen gue, curiga jadinya kalian udah jadian ya?" tanya Lulu.


"Eh Dit elo ada kuliah kan masuk sana ntar keduluan sama dosen," usir Ara agar Radith tak sempat menjawab.


"Kalau mau PJ bilang aja ke Ara," bisik Radith sebelum dia pergi.


Lulu jadi kaget sampai menutup mulutnya dengan tangan. Setelah itu ia menanyakan pada Ara untuk memastikan."Kalian udah jadian beneran?" tanyanya.


"Yagh gimana ya?" Ara pura-pura berfikir.


"Serius dong gue penisirin nih?" Lulu sengaja memplesetkan omongannya.


"Gue gak," Ara berjalan lebih cepat meinggalkan Lulu.


"Sejak kapan kalian jadian," tanya Lulu.


"Pas nyokap gue di rumah sakit," jawab Ara.


"Oh ya gimana kabar nyokap lo maaf ya gue belum sempat mampir lagi ke rumah lo,"


"Gak papa Lu, ibu gue udah baikan, itu semua berkat Radith juga dia yang bayar uang buat operasi ibu gue, kalau gak ada dia jual motor pun duit gue kurang Lu," Ara bercerita panjang lebar.


"Ih baik banget ya Ra ternyata Radith, tapi dianggap hutang gak tu jangan-jangan entar dia nagih ke elo lagi,"


"Jangan suudzon lo, tau gak dia bilang apa pas gue nanya kaya gitu, Dit gue kan masih hutang sama elo kok elo bayar biaya administrasi nyokap gue? dia jawab bayar pake sayang," Ara menirukan omongan Radith saat itu.


"Ah masak si Ra, emang sih Radith keturunan anak sultan, elo udah taghu belum kalau bokapnya penyumbang dana terbesar di kampus kita ini?"


"Agh serius lo?" Lulu mengangguk.


"Wah gue bakal jadi mantunya sultan dong kalo gitu," canda Ara membuat keduanya tertawa.


...***...


Maaf ya readers server malam tahun baru mendadak pulang kampung jadinya author baru bisa upload.


Jangan lupa kasih dukungan ya vote yang banyak

__ADS_1


__ADS_2