
"Kamu kenapa Ra?" tanya Sarah yang melihat Ara berkali-kali melirik ke arah handphonenya.
"Gak papa mbak," mengetahui dirinya ditegur Ara pura-pura fokus menatap layar komputernya kembali.
Sarah menggeser kursinya mendekat pada Ara. Dilihatnya benda pipih itu lalu melihat ke arah Ara. "Kamu lagi nunggu telpon seseorang ya?" selidik Sarah sambil menatap dengan tajam.
"Gak mbak," Ara bersikap acuh tanpa menoleh ke arah Sarah.
"Alah boong?" goda Sarah sambil menepuk lengan Ara.
Bahu Ara meluruh. Akhirnya dia buka suara."Lulu gak ada kabarnya mbak biasanya di rajin banget kirim pesan ke aku," ungkapnya.
"Heleh Lulu apa pak Rasya?" Sarah tertawa mengejek.
"Wajarlah kalau kamu ngarepin ditelpon namanya juga kangen sama tunangan ya kan? Kalau gitu kamu aja yang telpon duluan," perintah Sarah.
Ara menggeleng. Bagaimana bisa dia menelpon kalau dia sendiri memblokir nomor Rasya.
"Kenapa enggak, dia lagi sibuk?" seru Sarah seraya kembali ke meja kerjanya tanpa menunggu jawaban Ara terlebih dulu
"Iya sibuk sama cewek lain," ucap Ara lirih hingga Sarah tak sampai mendengarnya. Ara mengerucutkan bibirnya mengingat kejadian di parkiran mall kemaren.
Sarah hanya menggelengkan kepala melihat tingkah aneh Mutiara.
...***...
Jam pulang kantor sore ini padat sekali di perjalanan. Ara terjebak di tengah kemacetan. Sembari menunggu mobilnya jalan, Ara melihat kembali ponselnya. Diambilnya benda pipih itu lalu diputar-putar. Cukup lama ia menunggu tapi tak ada yang menghubunginya sejak kontak Rasya diblokir. Lalu Ara berfikir hendak membuka blokir kontak Rasya tapi tiba-tiba dia urungkan saat mobil dibelakangnya membunyikan klakson mengkode agar mobil yang dikendarai Ara maju.Ara pun mulai menginjak gas mobilnya dan kembali melaju menuju ke rumah.
Sesampainya di rumah Ara melihat ibunya sibuk membuka kotak-kotak. Ara duduk di samping ibunya seraya meletakkan tas dan mencopot sepatu haknya.
"Banyak banget bu, ibu belanja online?" tanya Ara saat mengetahui isi paket itu berupa peralatan makan plastik yang harganya selangit dan beberapa alat masak seperti wajan teflon dan semacamnya.
__ADS_1
"Bukan ibu yang belanja, ini sebagai ganti rugi atas kejadian kebakaran di dapur ibu beberapa hari yang lalu, kamu ingat kan?" ucap Bu Mia sambil memegang cutter untuk menyobek kardus-kardus pembungkusnya.
"Oh emangnya siapa bu yang berani bakar dapur ibu?" Ara tertawa pelan.
"Tunangan kamu," Bu Mia menoleh ke putrinya.
"Hah kak Rasya? kok bisa?" kaget Ara saat mendengar jawaban sang ibu.
"Waktu itu ibu juga kira dia ke sini pagi-pagi mau jemput kamu padahal kamu sudah berangkat kerja duluan, ternyata nak Rasya pengen tahu banyak soal kamu melalui ibu," ungkap Bu Mia.
"Kamu tahu gak waktu itu dia bantu ibu goreng bawang tapi entah kenapa dapurnya bisa jadi meledak kaya gitu,padahal ibu tinggal sebentar ke depan waktu itu buat ngambil jemuran, kamu kalau liat mukanya nak Rasya saat itu pasti tertawa orang mukanya item-item kaya kucing belang," Bu Mia tertawa saat menceritakan soal Rasya Ara jadi ikut tertawa karenanya.
"Ya ampun lucu banget si gak bisa berhenti ketawa ini bu aku sampai sakit perut," Ara memegang perutnya yang sakit akibat membayangkan muka Rasya yang cemong.
"Ra inget ya kamu harus baik-baik sama nak Rasya. Dia tuh udah ganteng, kaya,sopan lagi sama ibu, udah gitu keluarganya juga nerima kamu meskipun kamu cuma anak orang miskin kaya ibu," wajah Bu Mia berubah sendu.
"Ibu ko ngomongnya gitu," Ara mengerutkan keningnya.
Sampai di kamar Ara terus merenungkan ucapan ibunya. Tidak seharusnya dia mengabaikan kebaikan Rasya. Apalagi pemuda itu tulus mencintai dirinya. Meski Rasya tahu Ara dari keluarga yang sederhana tapi tak menyurutkan tekadnya untuk menjadikan Ara sebagai pasangan hidup.
Ada rasa penyesalan dalam dirinya setelah Ara tidak memberi kesempatan Rasya masuk ke dalam hatinya. Mungkin sudah saatnya untuk move on. Toh Radith di atas sana pasti akan bahagia jika dirinya juga bahagia apalagi Ara akan menikah dengan saudara kembarnya, begitu pikir Ara.
Tapi mengingat kejadian di parkiran mall kemaren Ara kembali merasa kesal. Namun ia juga tidak boleh salah sangka sebelum mendengar penjelasan dari Rasya.Untuk itu ia akan menanyakan itu besok.
Setelah ia pertimbangkan saat itu juga Ara mengambil benda pipih itu yang ia letakkan di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Kemudian mencari kontak Rasya dan membuka blokir di kontak tersebut.
Baru lima menit setelah membuka blokir di kontak Rasya, hp Ara mendapatkan banyak notifikasi yang masuk. Ara kemudian melihat notifikasi di layar ponselnya. Senyum mengembang di wajah Ara ketika mendapat chat dari Rasya.
Tanpa membalas pesan dari Rasya terlebih dulu, Ara memberanikan diri untuk menelpon tunangannya itu. Ditempelkan benda pipih itu di telinganya. Ketika telpon mulai tersambung Ara malah merasa gugup ia tak tahu apa yang ingin dia bicarakan dengan Rasya.
"Hallo," kata Ara dengan gugup.
__ADS_1
"Ya hallo," balas Rasya.
Mendengar suaranya saja hati Ara berbunga-bunga. Tapi masih sedikit gugup pasalnya ini pertama kalinya dia menelpon Rasya. Biasanya mereka hanya berbalas chat. Itu karena Ara merasa malas jika ditelpon kalau tidak benar-benar penting.
"Maaf," kata kedua yang muncul dari bibir Ara setelah menyapa tunangannya.
"Untuk apa?" jawab Rasya.
"Gue gak mungkin jawab kalau nomornya habis gue blokir," batin Ara.
"Maaf belum bisa balas chat kamu,"
"Aku tahu kamu pasti sedang sibuk saat itu, it's oke," jawaban yang tak terduga yang keluar dari mulut Rasya membuat Ara sedikit lega.
"I miss U Ra,"
Deg
Kata-kata yang dilontarkan Rasya sukses membuat jantung Ara berdisko. Ara menutup mulutnya supaya ia tidak terdengar sedang menahan senyum saking senangnya. Sebuah kalimat yang pendek namun bisa bikin setiap pasangan yang mendengar menjadi kangen berkelanjutan.
"Miss U too," tanpa sadar Ara menjawabnya.
Menyadari kalimat yang terlontar dari mulutnya, Ara malah menutup telepon. Tentu saja wajahnya sudah bersemu merah karena saking malunya. Kalau diingat-ingat sudah sering kali Rasya menyatakan perasaannya dengan kata-kata yang manis tapi Ara selalu bersikap cuek terhadap pemuda itu. Baru kali ini Ara membalasnya itupun seperti refleks begitu saja.
"Bego banget si kenapa sampai keceplosan," Ara menepuk mulutnya yang ember.
"Besok gimana kalau ketemu sama kak Rasya, maku banget dah gue," Ara mengacak rambutnya lalu membenamkan wajah ke bawah bantal.
...***...
Makasih buat pembaca setia yang udah komen maaf gak bisa balas satu-satu ya, makasih juga buat yang ngasih like sm hadiahnya
__ADS_1