
Pagi ini Ara berniat membawakan sarapan untuk Rasya. Ara sengaja bangun pagi-pagi untuk memasak nasi goreng special.
"Jadi demen masak dah kalau wajannya kinclong kaya gini," seru Ara seraya mengorek nasi yang telah ia beri bumbu dan kecap di atas wajan teflon baru milik ibunya.
"Berisik sekali nak," keluh Bu Mia.
"Maaf bu jadi membangunkan ibu," ucap Ara yang sedang memasukkan nasi yang telah ia goreng ke dalam wadah plastik yang harganya selangit milik ibunya.
"Kamu mau bawa bekal ke kantor?" tanya Bu Mia melihat kotak makanan yang baru dibukanya kemaren digunakan oleh putrinya.
"Emm iya bu," bohong Ara padahal nasi goreng itu untuk tunangannya.
"Bagus itu kebanyakan jajan di luar juga gak sehat menunya, besok-besok ibu yang masakin bekal buat kamu," ucap bu Mia seraya memegang pipi anaknya lalu pergi.
"Nasi udah mateng tinggal sip-siap ke kantor, mau dandan yang cantik ah mau ketemu tunangan," gumam Ara sambil terkekeh.
Seusai berpamitan dengan sang ibu, Ara menaiki mobil kemudian menyalakan mesinnya.
Hari ini dia sengaja berangkat lebih awal dari biasanya agar bisa mampir ke rumah Rasya terlebih dulu untuk memberikan sarapan yang ia buat special pake telor dan berbagai lalapan seperti krupuk, sayuran dan abon.
"Pagi pak," sapa Ara pada Pak Satpam yang stand by di depan pintu gerbang rumah Rasya.
"Eh neng sudah lama gak ke sini, ayo silahkan masuk," Satpam lalu membukakan pintu gerbang agar mobil Ara bisa masuk ke halaman rumah Rasya.
Pagi ini Ara sangat bersemangat bertemu dengan tunangannya. Senyumnya bahkan tak surut sejak bangun pagi ini. Sebelum ia menekan bel Ara merapikan penampilannya.
Ting tong
Cukup lama ia menunggu di luar tapi Rasya tak juga membukakan pintu. Ara melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Dugh lama bener bukanya, aku buka sendiri aja kali ya," ucap Ara seraya membuka engsel pintu kemudian menyembulkan kepalanya.
"Sepi sih, apa kak Rasya masih tidur?" tanya Ara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Ara kemudian melangkahkan kakinya namun baru beberapa langkah ia melihat seorang wanita berambut pirang sedang duduk di ruang tengah. Sat itu posisinya membelakangi Ara. Ara menghentikan langkahnya sejenak ketika mengetahui wanita asing masuk ke rumah Rasya pagi sekali. Kaget pastinya, karena yang dilihat itu bukanlah Andrea adik Rasya.
Tak lama kemudian Rasya keluar mengenakan handuk piyama sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil di tangannya.
Kebetulan Rasya saat itu hendak ke dapur mengambil minuman dan tentu saja dari kamarnya dia harus melewati ruang tengah terlebih dulu.
Brak
Bekal makanan yang dibawa Aa jatuh ke lantai. Ara kaget melihat Rasya yang hanya mengenakan handuk padahal di situ ada wanita asing yang seolah sedang menunggunya keluar. Dilihatnya secara bergantian Rasya kemudian wanita berambut pirang tersebut.
Rasya dan Serena melihat ke sumber suara. Sedetik ketiganya saling bertatapan. Ara kemudian berbalik badan meninggalkan ruangan itu dengan langkah cepat. Rasya yang menyadari di situ ada Serena dan apa yang dia pakai pasti membuat Ara berfikir macam-macam.
"Ah sial," umpat Rasya saat akan mengejar Ara namun tidak bisa karena ia harus berganti pakaian.
"Kau untuk apa kau ke sini jam segini?" bentak Rasya membuat Serena mengerjapkan matanya beberapa kali karena kaget.
Baru pertama kali Serena melihat Rasya marah seperti ini. Sebelumnya Rasya adalah lelaki yang lemah lembut. Tapi ia nampak takut sekali kehilangan Ara saat Ara berbalik menjauhinya pagi ini.
Seusai berganti pakaian Rasya keluar dari kamarnya. Serena masih duduk di atas sofa.
"Serena," teriak Rasya.
"Apa yang kamu lakukan di sini cepat susul Ara jelaskan padanya agar dia tidak salah paham," perintah Rasya.
"Tapi aku ke sini untuk berpamitan denganmu jadwal penerbangan ku satu jam lagi,"
"Jangan pulang sampai kau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada tunanganku, atau aku akan buat dirimu tidak bisa praktek di rumah sakit mana pun," ancam Rasya.
Serena mencebik kesal. Tapi ia pun terpaksa menurut perintah Rasya jika tak ingin izin prakteknya dicabut. Serena kemudian mengejar Mutiara dengan mobilnya. Dengan laju yang tinggi Serena mengemudi agar mobil Ara terkejar. Saat terlihat mobil Ara di depannya, Serena menambah lajunya hingga melewati mobil Ara kemudian menghentikan mobilnya di depan mobil Ara. Beruntung saat itu jalan raya yang dilewati masih sedikit lengang karena mereka melewati jam kantor.
Ara mengerem secara mendadak sehingga kepalanya terbentur setir mobil.Gadis itu membunyikan klakson berkali-kali agar mobil di depannya segera minggir. Namun pemilik mobil malah turun.Terlihat seorang wanita memakai hak tinggi dan kaca mata hitam menghampiri Ara.
Dengan tenang Serena mengetuk pintu kaca jendela mobil yang dikendarai oleh Ara. Ara kemudian membukakan kaca jendela mobilnya.
__ADS_1
"Bisa kita bicara sebentar," pinta Serena baik-baik.
Ara tidak kenal dengan wanita itu tapi dia mencoba turun agar dia tahu maksud wanita yang di depannya itu. Diingat-ingat lagi wanita itu seperti wanita yang baru saja duduk di ruang tengah rumah Rasya pagi ini.
Serena membuka kaca matanya kemudian memberikan senyum manis pada Ara. Ara mengerutkan keningnya.
"Aku Serena kau ingat?" ucap Serena seraya mengulurkan tangannya.
Ara terdiam sejenak. "Kau yang menolongku waktu itu saat ban mobilku bocor bukan?" Ara mencoba mengingat kembali saat pertemuannya dengan Serena pertama kali.
Serena mengangguk pelan. "Aku ingin menjelaskan bahwa aku tidak lagi memiliki hubungan dengan Rasya, tadi pagi aku hanya mampir untuk berpamitan karena aku akan kembali ke Jerman pagi ini. Tapi aku jadi melewatkan penerbangan ku karena kau," ucapan Serena membuat Ara tidak mengerti.
"Kenapa aku?" tanya Ara.
"Kau cemburu pada Rasya padahal di antara kami tidak terjadi apa-apa tolong percayalah padaku kalau tidak dia akan mencabut izin praktekku di rumah sakit manapun," curhat Serena.
"Apa?"
"Rasya begitu mencintaimu walau berkali-kali aku memintanya kembali padaku dia menolaknya, percayalah kamu pelabuhan hatinya yang terakhir," Serena memegang tangan Ara untuk meyakinkan gadis itu.
Mata Ara sudah berkaca-kaca. Ucapan Serena membuat rasa cemburunya menguap begitu saja. Entah mengapa dia percaya begitu saja dengan kata-kata wanita bule itu meski baru ditemuinya dua kali.
Tak lama kemudian sebuah mobil sport berhenti di samping mobil Ara. Ara tahu siapa pemilik mobil sport warna merah tersebut.Serena juga menatap ke arah mobil itu.
Rasya keluar dengan membawa bunga yang dia sembunyikan di belakang punggungnya. Pemuda itu berjalan tenang ke arah tunangannya. Kemudian di hadapan Ara Rasya berlutut dan menyodorkan bunga mawar merah yang dibawanya.
"Will you marry me?" Rasya mengucapkan itu dengan tulus.
Dengan tangan gemetar Ara menerima buket bunga yang lumayan besar itu. "Kak Rasya tidak perlu seperti ini?" salah satu tangannya membantu Rasya berdiri.
Rasya berdiri dan menatap manik mata kekasihnya."Ra aku tahu ibu sudah menentukan tanggal pernikahan kita, tapi aku ingin mendengar jawaban dari mulutmu ketika aku melamarmu secara langsung," Rasya menunggu jawaban Ara dengan perasaan harap-harap cemas.
...***...
__ADS_1