
Setelah tindakannya mempermalukan Ara di kantin kampus, Radith bertanya-tanya pada dirinya sendiri."Kenapa gue harus nyium dia segala sih? Aaaa," ia mengacak rambutnya.
"Sialan kenapa gue jadi merasa bersalah gini sama dia?" gumam Radith.
Ia lalu berjalan mendekat ke jendela kamarnya. Malam itu gerimis sedang turun. Tiba-tiba Radith ingin makan camilan.
"Gue jadi pengen makan hujan-hujan gini," katanya.
Lalu ia memesan makanan lewat aplikasi online food yang ada di hpnya.
Sementara itu Ara sedang menepi di pinggir jalan karena hujan lebat mulai turun sambil menunggu orderan yang datang.
"Dugh kenapa hujan segala sih? Mana baru dapat penumpang sedikit hari ini," gumam Ara sambil menyilangkan tangannya karena kedinginan.
Klunting
Hpnya berbunyi menandakan ada orderan yang masuk.Lalu ia pun mengecek orderan yang masuk.
"Ada yang pesan makanan, gue ambil aja kali ya, bismillah semoga ini rejeki aku," katanya dengan optimis.
Ara pun mulai mengambil jas hujan yang ada di dalam jok motor lalu memakainya. Ia bersiap untuk menuju restoran yang dituju lalu mengantarkan makanan pesanan customer.
Setelah ia berhasil mendapatkan makanan yang dipesan oleh customer, Ara segera mengantarkan pesanan tersebut ke rumah customer.
"Permisi,permisi," teriak Ara agar seseorang membukakan pintu gerbang untuknya.
"Iya mbak ada apa?" tanya Pak Satpam penjaga rumah itu.
"Saya mau nganterin pesanan makanan pak," kata Ara.
"Oh ya tunggu sebentar mbak, saya tanya orang rumah dulu," katanya.
Penjaga rumah itu kemudian masuk sedangkan
Ara masih menunggu di luar sambil kehujanan.
"Mas Radith pesan makanan lewat online ya?" tanya Satpam rumah Radith.
"Batalin aja pak aku udah gak laper," kata Radith.
Penjaga rumahnya pun kembali menghampiri Ara yang sudah menunggu dari tadi.
__ADS_1
"Gimana pak?" tanya Ara saat Satpam rumah Radith mendekat ke arahnya.
"Mbak kata masnya di cancel aja,"
"Lho lho lho gak bisa gitu pak," tolak Ara.
"Maaf ya mbak," Satpam itu mendorong tubuh Ara agar tidak mendesak masuk.
"Pak pak," panggil Ara namun sia-sia larena gerbang rumah Radith sudah tertutup. Akhirnya mau tidak mau ia harus membawa makanan itu kembali.
"Mau diapakan makanan ini?" gumam Ara di bawah derasnya hujan.
Ara sangat kecewa ingin rasanya ia menangis karena pesanannya dibatalkan oleh pelanggannya. Padahal ia harus membayar mahal makanan itu dengan uang dua ratus ribu yang menurut Ara sangatlah banyak. Tapi mungkin bagi seorang Radith uang segitu tidak ada apa-apanya.
Radith memang berasal dari keluarga yang berada. Bahkan kekayaan keluarganya tidak akan habis tujuh turunan tujuh tanjakan,eh.
Sementara itu Ara pulang dengan basah kuyup. Meskipun ia membawa jas hujan tapi malam itu hujan turun cukup lebat. Bu Mia sudah menanti di depan teras rumah. Saat dilihat sorot lampu motor Ara mulai nampak ia sedikit lega.
"Kamu kehujanan nak, ibu sudah siapkan air panas untuk kamu mandi," kata bu Mia sambil memberikan handuk kepada Ara selesai mencopot jas hujan yang ia pakai.
Tentu saja sebelumnya ia sudah menyembunyikan jaket dan helm ojol miliknya.
"Buk ini aku bawa makanan buat ibu," Ara menyerahkan plastik makanan yang tidak jadi diambil oleh Radith tadi.
"Ada temen yang ngasih tadi bu," bohong Ara.
Kemudian Ara pun masuk. Setelah ia mandi dan berganti pakaian, Ara naik ke atas tempat tidur.
"Hari ini apes banget Ya Allah melayang deh duit dua ratus ribu gue,huaaaa," Ara pura-pura nangis karena sedih kehilangan uang untuk membeli makanan itu.
"Gue harap besok gue gak nemuin pelanggan kaya gitu lagi, banyak banget cobaannya," doa Ara sebelum ia tidur.
Keesokan harinya Ara bangun kesiangan padahal Ara harus berangkat pagi karena ada mata kuliah yang harus dia ikuti.
"Ara bangun sayang," panggil Bu Mia sambil mengetuk pintu kamar Ara.
"Jam berapa ini?" masih dengan matanya yang sepet ia mengambil hp miliknya yang ia letakan di samping bantal.
"Jam 7 mati gue setengah jam lagi ada kuliah," dengan terburu-buru Ara bangun cepat-cepat ia mandi bebek supaya tidak terlambat mengikuti kuliah.
"Ara sarapan dulu!" pinta ibunya.
__ADS_1
"Gak sempet bu," pamit Ara sambil mwncium tangan Sang Ibu.
Dengan kecepatan tinggi Ara mengendarai motornya. Untungnya jalanan pagi ini lancar jadi ia bisa sampai ke kampus meski mepet banget sama jam mata kuliah yang akan dimulai.
Setelah melepas helm ia segera berlari ke gedung dimana kuliah akan berlangsung.Lulu sudah terlebih dulu sampai di sana.
"Gue telat ya Lu?" tanya Ara dengan nafas ngos-ngosan.
"Enggak Ra dosennya belum masuk, beruntung lo," kata Lulu.
"Selamat pagi," sapa dosen yang baru masuk.
Selama kuliah berlangsung Ara terlihat lemas. Ia terus menaruh kepalanya di atas meja sampai kuliah selesai. Dosen memperhatikan tingkah laku Ara sedari tadi.
"Kamu," tunjuk dosen ke arah Ara.
"Ra lo ditunjuk tuh," Lulu menyenggol tangan Ara. Ara pun menegakkan badannya.
"Tolong bawakan buku-buku ke ruangan saya," perintah Pak Dosen kepada Ara. Ara pun menjawab dengan mengangguk.
"Gue bantu Ra," Lulu menawarkan bantuan. Ia curiga Ara sedang sakit karena sedari tadi Ara sama sekali tidak fokus mengikuti kuliah.
Ketika sampai di ruangan dosen. Ara mendapatkan teguran dari dosen yang mengajarnya tadi karena tidak memperhatikan mata kuliah yang disampaikan. Ara hanya meminta maaf.
Bruk
Tubuh Ara jatuh ke lantai. Ia pingsang. Lulu pun panik. Lalu seorang mahasiswa berbaik hati menggendong Ara dan membawanya ke poliklinik. Lulu mengekor di belakang sambil membawakan tas Ara yang terjatuh.
Radith kebetulan lewat di depan ruangan dosen bersama Didu. Mereka melihat Ara yang sedang pingsan.
"Bro itu Mutiara bukan sih?" tanya Didu memastikan.
Radith diam saja. Dia mengepalkan tangannya karena menahan amarah seolah tidak terima Ara digendong oleh laki-laki lain selain dia. Radith pun berbalik pura-pura acuh dengan apa yang ia lihat. Didu menjadi bingung dengan sikap Radith temannya itu.
Sementara itu laki-laki yang menggendong Ara kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang disediakan.Ara masih tidak sadarkan diri untuk beberapa saat. Lulu terus menemani sampai Ara sadar ia tidak mau terjadi apa-apa dengan temannya itu.
"Temen kamu kenapa sampai dia pingsan?" tanya laki-laki tampan yang bernama Brian. Slaah seorang mahasiswa senior semester 4 di kampusnya yang merupakan mahasiswa populer di kampus karena anak Rektor Universitas dimana ia kuliah.
"Kalau gitu gue tinggal dulu ya," kata Brian.
"Makasih kak," Lulu sampai menganga melihat ketampanan Brian.
__ADS_1
...***...
Apa yang akan terjadi pada Ara selanjutnya simak terus ceritanya ya. Jangan lupa kasih hadiah dan votenya makasih.