
"Ra kamu gak mau berangkat kuliah?" teriak Bu Mia dari luar pintu kamar Ara.
"Hari ini aku libur bu," bohong Ara tanpa membukakan pintu.
"Ya sudah kalo gitu ibu tinggal sebentar," pamit Bu Mia yang akan bekerja.
"Gue gak mau balik ke kampus, udah gak punya muka gue,Radith sialan semua orang jadi tau kan kalo gue tukang ojek," Ara sibuk bermonolog.
Sementara itu di kampus Radith mengedarkan pandangannya.
"Cari siapa lo?" Didu menepuk bahu sahabat nya itu.
"Lo lihat Mutiara gak?" tanya Radith.
"Pagi ini belum sih, eh tu temennya Mutiara kan?" Didu menunjuk ke arah Lulu yang sedang berjalan sendirian.
Radith segera menghampiri Lulu.
"Eh lo gak bareng sama Mutiara?" tanya Radith.
"Ngapain lo nyari dia lagi? Belum puas lo mempermalukan dia kemaren, bisa jadi Ara gak mau ngampus tu gara-gara elo, dasar gak tahu diri," cibir Lulu kemudian pergi meninggalkan kedua mahasiswa itu.
"Yee ngomongnya biasa aja kali gak usah ngegas," geram Didu.
"Tapi gue gak bermaksud mempermalukan dia," Radith tampak frustasi dan mengacak rambutnya sendiri.
"Elo sih bro ngapain coba elo pakai umumin ke semua orang kalau kerjaan doi tu jadi ojol wanita, kalo gue jadi dia gue milih bunuh diri tahu, secara gue udah gak punya muka lagi di depan semua penghuni kampus," kata-kata Didu membuat Radith pergi meninggalkannya.
"Eh bro gak sopan banget main tinggal-tinggal orang, pamit kek," gerutu Didu.
Radith berniat mengunjungi rumah Ara. Hari ini dia membawa mobil yang sudah dia ambil kemaren dari bengkel.
Dengan langkah yang cepat ia memutari mobil menuju kursi kendali. Radith pun segera memacu kuda besinya. Ia melaju dengan kecepatan tinggi.Namun, di tengah perjalanannya ia terkena macet.
"Tunggu gue Ra elo jangan mati dulu," gumam Radith yang sedang mencemaskan Mutiara. Beberapa kali ia membunyikan klakson mobilnya. Ia termakan kata-kata Didu sehingga ia khawatir dengan gadis yang ia cintai.
Saat tiba di halaman rumah Ara, Radith segera turun sambil membanting pintu mobilnya. Dia berlari. Lalu ia memanggil-manggil nama Mutiara tapi tidak ada sahutan. Akhirnya ia menggedor pintu karena pintu rumah Ara terkunci.
Saking takutnya ia sampai mendobrak pintu rumah Mutiara.Mendengar suara keributan dari luar Ara berencana melihatnya. Radith yang berhasil membuka pintu secara paksa nampak kaget saat salah satu tangan Ara sedang memegang pisau.
"Ra gue mohon lepasin pisau itu, biar gue aja yang pegang," Radith mendekat dengan hati-hati.
__ADS_1
"Ngapain lo dateng ke sini?" teriakan Ara membuat Radith makin yakin kalau Mutiara mencoba bunuh diri.
Lalu dengan sigap Radith mengambil pisau di tangan Mutiara. Sayangnya pisau itu malah mengenai tangannya. Darah mengalir dari telapak tangan Radith. Ara terlihat panik melihat tangan Radith yang berlumuran darah.
"Elo gak papa?" tanya Ara yang menekan tangan laki-laki itu supaya darah bisa berhenti mengalir.
"Aw perih banget Ra," Radith merasa kesakitan.
"Tunggu di sini ya gue ambil kotak P3K," Ara berlari ke ruang tengah untuk mengambil obat.
"Duduk sini gue obatin," Ara memegang tangan Radith sambil membawanya duduk di kursi.
"Lo ngapain sih pakai ambil pisau gue segala, gini kan jadinya," Ara masih mengoleskan obat merah ke luka Radith secara pelan.
"Aw pelan-pelan Ra," keluh Radith.
"Gue kesini buat cegah lo bunuh diri," seketika Ara menghentikan aktivitasnya.
"Bunuh diri kata lo?" Ara malah terkekeh mendengarnya.
"Ngapain juga gue bunuh diri, belum nikah ini,sia-sia aja,denger kata ibu aja gue ngeri banget," imbuhnya lagi.
"Trus ngapain lo bolos kuliah pagi ini?" tanya Radith yang tangannya selesai dibalut.
"Ya sorry, tapi sumpah Ra maksud gue kemaren tu baik, biar elo dapat banyak orderan dari anak-anak kampus, dengan gitu lo gak harus pulang malam tiap hari hanya untuk bisa mencapai target," kata Radith panjang lebar kali tinggi.
"Iya tapi cara lo tu salah pakai ngumumin ke semua orang bego, turun deh pasaran gue," gerutu Ara.
Krucuk krucuk
Tiba-tiba perut Radith berbunyi. Ia merasa lapar karena habis buang tenaga untuk mendobrak pintu rumah Ara.
"Laper lo?" pertanyaan Ara dibalas dengan anggukan oleh Radith.
"Kalau gitu bantuin masak!" Ara berdiri.
"Tapi tangan gue kan lagi sakit," Radith mengangkat tangannya yang diperban.
"Lo masih punya tangan yang satunya lagi kan?" ketua Ara.
Dengan langkah gontai Radith pun mengikuti Ara ke dapur. Ini untuk pertama kalinya ada yang meminta dirinya untuk memasak. Biasanya dia hanya butuh menyuruh asisten rumah tangga untuk mengerjakannya.
__ADS_1
"Masak apa lo? emangnnya elo nisa masak?" tanya Radith yang sedang melihat-lihat bahan makanan yang akan dimasak oleh Ara.
"Wah ngremehin, chef Renata aja kalah. Kalau lo udah ngerasain masakan gue auto nambah deh lo," sombong Ara yang membanggakan dirinya sendiri.
"Buktiin," Radith menantang Ara.
Selesai masak Ara dan Radith menghidangkannya di meja yang tidak begitu luas yang ada di ruang tengah.
"Hmm wangi banget baunya," Rdaith tidak sabar mencicipi masakan yang dibuat Ara. Ia pun duduk sebelum dipersilahkan oleh yang punya rumah.
"MasyaAllah, ni pintu rumah siapa yang dobrak?" kaget Bu Mia yang melihat pintunya tidak menempel lagi pada engselnya.
"Ara kamu kemana nak?" teriak Bu Mia dari luar.
Ara yang mendengar suara ibunya lalu menghampiri.
"Waalaikumsalam bu," Ara sengaja membalik kalimat salamnya.
"Kamu gak papa nak? Apa tadi ada perampok yang masuk?" tanya Bu Mia cemas.
"Ara baik-baik aja bu, lagian gak ad tampok yang masuk," jawab Ara dengan tenang.
"Lalu kenapa pintunya bisa rusak begini nak?" tanya ibunya lagi.
"Tuh ada tikus besar yang masuk," dagu Ara mengarah ke Radith yang sedang lahap menyantap masakan buatan Ara.
Entah itu masakan Mutiara yang enak ataukah Radith yang kelaparan membuat ia melahap habis makan siang buatan Ara.
"Pinter juga calon pacar masaknya," batin Radith yang puas menikmati masakan gadis yang dia taksir.
"Eh ada nak Radith," Radith lansung berdiri dan menyalami Bu Mia saat beliau mendekat.
"Maaf bu saya yang merusak pintunya, saya janji nanti saya suruh tukang untuk perbaiki pintunya," kata Radith yang ingin bertanggung jawab atas kesalahannya.
"Ya nak Radith, ibu maafkan lain kali jangan diulangi lagi ya," kata Bu Mia dengan lembut.
Setelah mendengar penjelasan Radith, Bu Mia membereskan ruang yang berantakan. Radith pun iku membantu sayangnya Bu Mia tak mengizinkan setelah melihat tangan kiri Radith yang diperban.
"Tangannya kenapa nak sampai diperban gitu," tanya Bu Mia penasaran.
"Oh ini habis kena kecelakaan kecil bu," kata Radith sambil menunjukkan tangannya yang diperban.
__ADS_1
"Oh lain kali kalau naik motor jangan ngebut jadi gak bakalan jatuh pas di jalan," Bu Mia mengambil kesimpulan sendiri hingga membuat Ara terkekeh mendengarnya.
Bagi likenya ya maksih buat yang koment2 lope lope lah buat kalian