Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Rasya


__ADS_3

6 Bulan pernikahan Rasya dan Ara dijalani dengan penuh kasih sayang. Meski ada keinginan untuk memiliki keturunan, tapi Rasya tidak menuntut istrinya segera memberikan keturunan untuknya.Tentu saja karena pertimbangan usia Rasya dan Ara yang masih muda jadi mereka berfikir masih ada banyak kesempatan untuk berusaha toh keduanya juga masih kuliah.


Tapi Ibu Emely, ibunda Rasya sering menanyakan kabar Ara sudah berbadan dua apa belum. Ia bahkan sering mengirimkan obat-obatan penyubur kandungan agar Ara bisa segera hamil anak Rasya.


"Andrea bulan ini kamu sudah minta obat penyubur kandungan pada Serena?" tanya Emely pada putrinya.


"Sudah Bu, nanti aku kirim lagi," jawab Andrea yang sedang menyuapi Bulan.


"Kenapa menantuku tidak hamil juga jangan-jangan obat yang diberikan Serena kurang bagus, nanti minta ganti obat yang paling bagus ya Andrea," ujar ibunya yang risau.


"Ck, ibu ini Ara masih sangat muda bu biarkan mereka menjalani rumah tangganya tanpa tuntutan, mereka masih punya banyak kesempatan untuk membuat adonan," seru Andrea disertai tawa kecil.


"Ih kamu ini. Tapi ibu ingin sekali punya cucu baru, biar Bulan ada temennya iya kan sayang?" tanyanya pada bocah yang belum mengerti.


"Biarlah bu toh keduanya masih sibuk kuliah, menjaga anak sambil kuliah pastilah repot, mungkin itu yang membuat mereka menunda momongan," kata Andrea.


"Ah padahal ayahmu juga berharap menantunya segera hamil," ucap Emely dengan wajah sendu.


"Ayah tidak seperti itu Bu," suara berat itu datang dari arah belakang.Emely menoleh pada suaminya.


"Sedikasihnya saja, Rasya juga harus fokus dulu pada kuliahnya sebentar lagi dia harus memimpin perusahaan," ujar Antoni pada Emely.


"Ah Ayah yang hamil kan Mutiara,Rasya numpang nanam benih doang," ucapan Emely mendapat tanggapan lucu dari suami dan putrinya. Antoni menggeleng melihat sikap istrinya yang begitu menuntut cucu baru.


...***...


"Kakak pegang apa?" tanya Ara pada suaminya yang sedang memegang paket yang baru datang pagi ini.


"Kiriman rutin dari Jerman," jawab Rasya.


"Ck, obat penyubur kandungan lagi?" Ara mencebik kesal. Mertuanya itu sudah sering mengirimkan obat yang sama. Akan tetapi Ara malas meminum obat yang tergolong vitamin itu meski aturan minumnya hanya sehari sekali.


"Iya sayang, ini buat kamu," Rasya memberikan paketnya untuk sang istri tapi Ara menolaknya.

__ADS_1


"Buat kakak aja," tolak Ara seraya bangun dari tempat duduknya.


"Aku taruh di sini ya," Rasya membuka laci yang ada di samping ranjangnya. Namun, ia kaget ternyata obat-obatan yang dikirimkan ibunya selama ini masih utuh.


"Sayang ini apa?" tanya Rasya sambil mengangkat botol obat dari dalam laci.


"Emm anu emm," Ara panik.


"Kamu selama ini bandel ya," Rasya mencubit hidung Ara.


"Kak Rasya sakit," Ara mengelus hidung bekas cubitan suaminya.


"Aku malas minum obat itu, lihat aja pilnya segede ini, auto nyangkut di tenggorokan," Ara mengeluarkan 1 pil dari dalam botol kemudian menunjukkannya pada sang suami.


"Kamu kan bisa belah pilnya terus minum dua kali, jangan-jangan kamu cuma alasan," tuduh laki-laki tampan itu pada istrinya.


"Yagh males lah kak,aku kalau sakit aja gak minum obat, minum vitamin kaya minum pil kb aja mesti tiap hari, Ara juga gak sakit, mending kalau rasanya manis, pahit itu," Ara mengerucutkan bibirnya.


"Gak kak, kalau kakak gak percaya boleh periksa lacinya," Ara menyilangkan tangannya kemudian berbalik memunggungi Rasya.


"Ya sudah kakak percaya sama istri kakak yang cantik ini," Rasya mengacak rambut Ara gemas.


Ara melihat jam yang ada dipergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.Seperti biasa Ara berangkat kuliah setiap hari Sabtu dan Minggu. Semester lalu ia mengajukan jadwal kuliahnya kembali seperti semula tapi permintaannya tidak bisa dikabulkan karena menurut peraturan di kampusnya ia hanya bisa menukar jadwalnya sekali saja.Satu jam lagi ia akan ada mata kuliah yang harus diikuti.


"Kuy lah antar Ara kuliah," pintanya pada sang suami.


Keduanya menuju ke garasi. Ketika Rasya mendekat ke arah mobil Ara menegurnya."Kak naik motor aja lebih cepet," rengek Mutiara.


"Hari ini kakak mau mampir ke kantor sayang, pakai mobil ya, janji nanti kakak ngebut buat Ara," tolak Rasya secara halus.


"Ya udah," Ara berjalan gontai memasuki mobil sport milik Rasya.


"Jangan cemberut gitu dong sayang,"ucapnya pada Mutiara yang sejak perdedebatan tadi tidak juga mengembangkan senyum di wajah cantiknya.

__ADS_1


"Habisnya kakak nyebelin pagi-pagi udah minta anak, buatnya udah tiap hari kalau belum dikasih mau apa?"


Rasya menghembuskan nafasnya kasar. Ia tahu istrinya itu sedang dalam mode ngambek jadi ia memilih diam saja agar tidak ada pertengkaran di antara mereka.


Rasya memang tipe suami yang selalu sabar. Ia sangat mengerti usia Ara yang masih muda sehingga Rasya harus bisa lebih sabar menghadapinya. Rasya begitu menyayangi istrinya. Ia tidak mau bersikap kasar sehingga membuatnya kehilangan istri yang begitu ia cintai. Semarah-marahnya Rasya dia tidak akan membentak Ara. Rasya memilih diam saat istrinya sedang mengomel.


Ketika berhenti di lampu merah, Rasya melihat ibu-ibu yang kesulitan menyebrang jalan saat menggendong bayinya sembari membawa tas besar yang ia tenteng. Karena kasian ia pun turun untuk membantu ibu-ibu muda itu.


Pandangan Ara yang sedari tadi melihat keluar jendela beralih menatap Rasya yang tiba-tiba turun dari mobil tanpa permisi.Matanya mengikuti kemana suaminya pergi. Ia pun kagum saat Rasya menolong seorang wanita yang sedang butuh bantuan.


"Terima kasih mas," ucap wanita yang menggendong bayi tersebut pada lelaki berwajah campuran itu.


"Sama-sama lain kali bawa teman saat bepergian," kata Rasya dengan lembut.


"Saya memang selalu sendiri suami saya bekerja jadi kemana-mana saya hanya berdua sama anak," jawabnya seraya tersenyum.


"Kalau begitu saya permisi, istri saya sudah menunggu," pamitnya pada wanita yang telah ia tolong.


Kemudian Rasya menyeberang dengan hati-hati karena lampu sudah berubah hijau. Akan tetapi mobilnya berada di seberang jalan. Ia mengayunkan tangan saat menyeberang. Lalu sesampainya di mobil ia membuka pintu kemudian duduk dan memasang sabuk pengamannya.


"Kak Rasya dari mana aja sih, Ara udah telat nih," Ara marah karena ia menunggu lama di mobil.


"Maaf sayang, tadi kakak kasian sama ibu-ibu itu jadi kakak tolongin," ucapnya sambil memutar kendali mobil agar melaju. Sesakali ia menoleh ke arah istrinya.


"Kakak kenal sama wanita tadi? jangan-jangan itu selingkuhan kakak?" tuduh Ara.


"Ya ampun sayang kok ngomongnya gitu, emang kamu pernah lihat kakak jalan sama cewek lain selain kamu?" Ara menggeleng.


"Hari ini Ara kenapa sih sensi amat, apa dia sedang menstruasi jadi moodnya berubah-ubah," batin Rasya sambil melirik istrinya.


...***...


Yuk berbagi poin buat author. Berbagilah biar nampang di beranda lagi hehe. Yang suka bagi-bagi poin aku doain rejekinya lancar.

__ADS_1


__ADS_2