Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Dasar Mesum


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi Mutiara dan juga Rasya laki-laki yang sudah sah menjadi suami Ara. Ara duduk di depan meja riasnya setelah seharian melayani tamu undangannya. Dia tampak kesulitan membuka hiasan di atas kepalanya. Kemudian Rasya mendekat setelah selesai berganti baju.


"Sini aku bantu melepaskan," Rasya mengangkat hiasan di kepala istrinya kemudian meletakkannya di meja rias yang ada di hadapan Ara.


"Terima kasih," ucap Ara.


Rasya mengangkat bahu Ara setelah itu membalikkan tubuhnya agar sang istri menghadap kepadanya.


"Kamu cantik sekali sayang," Rasya menarik pinggang Ara agar istrinya itu mendekat. Kini tubuh mereka tak berjarak. Ditatapnya lekat-lekat wajah cantik sang istri, kemudian menyusuri wajah oval itu dengan jarinya perlahan. Bulu mata yang lentik, hidung mancung dan bibir bawah yang tebal membuat Rasya tidak bosan menatap gadis yang telah resmi dinikahinya itu.


Mereka saling bertatapan. Sorot mata Rasya begitu tulus, dan lembut. Sedangkan Ara mendadak jadi salah tingkah saat Rasya menggodanya.


Wajah Ara bersemu merah. Jantungnya juga sudah berdegub kencang berada sedekat itu dengan suaminya. Perlahan Rasya mendekatkan wajahnya. Namun Ara menghindar saat Rasya akan menciumnya.


"Aku ganti baju dulu ya," Ara mendorong tubuh kekar sang suami.


"Aku bantu ya," Rasya menarik tangan Ara saat Ara menghindar. Namun, Ara menepis dengan lembut.


"Sebentar saja," tolak Ara sambil tersenyum.


"Loh kok keluar Ra?" Tanya Rasya heran.


"Aku ganti bajunya di kamar mandi aja kak," ucap Ara dengan gugup.


"Di sini saja," Rasya menghadang pintu kamar agar Ara tidak keluar.


Ara menghembuskan nafasnya kasar. Suaminya itu benar-benar menyebalkan."Malu lah kak," Ara mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa harus malu, aku kan suamimu," Rasya masih berusaha untuk menahan Ara.


"Ih dasar mesum," Ara memukul dada bidang suaminya pelan.


"Kakak tunggu di sini sekalian nanti aku buatin teh hangat buat kakak," Ara mendudukkan Rasya di atas tempat tidurnya.


"Kok belum tidur nak?" tanya bu Mia yang melihat putrinya berada di dapur.

__ADS_1


"Lagi buatin teh buat kak Rasya bu, ibu sendiri kenapa belum tidur?" tanya Ara yang selesai mengaduk gula dalam cangkir.


"Ibu beresin ini sebentar," ucap Bu Mia seraya memberesi sisa acara tadi.


"Kita beresin besok saja bu, sekarang ibu istirahat saja, sudah larut," ucap Ara.


Setelah itu Ara masuk ke kamarnya lagi. Sesuai janjinya tadi ia juga membawakan secangkir teh untuk suaminya.


"Diminum kak," Ara menyodorkan cangkir tersebut pada Rasya. Rasya menerimanya seraya tersenyum pada istrinya.


"Kak Rasya mau makan sekalian biar aku ambilin," ucap Ara. Rasya menggeleng.


"Aku makan kamu aja," Rasya meletakkan cangkir itu kemudian menggendong tubuh Ara dan membaringkannya di atas ranjang.


Ara sudah berada dalam kungkungan laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya hari ini. Rasya melu*at bibir Ara dengan rakus. "Kak emm..." Ara kesulitan bernafas lalu ia pun memukul dada Rasya agar ia menghentikan ciumannya.


"Nafas sayang," Rasya memberi jeda agar Ara bisa bernafas.


"Kak Rasya ada yang ingin ku sampaikan," ucap Ara pada sang suami seraya menorong tubuh Rasya agar menjauh.


Setelah Rasya puas bermain dengan bibir Ara ia kemudian turun ke bagian lehernya. Mencium leher putih itu dengan lembut di setiap incinya. Ara merasakan hembusan nafas hangat yang keluar dari hidung Rasya di lehernya. Ada sensasi geli yang ia rasakan namun begitu menyenangkan dan membuat nafasnya memburu. Tanpa sadar ******* dan lenguhan lolos begitu saja dari mulut Ara. "Kak Rasya, emm..."


Ara mendorong kuat tubuh Rasya namun bagi Rasya dorongannya seperti sapuan halus di dadanya.


Ara sudah menggeliat tak tertahan saat Rasya mencium setiap inchi tubuhnya. Karena Rasya tidak juga menghentikan aktivitasnya menggoda Ara, akhirnya Ara memilih untuk mencubit lengan Rasya agar dia berhenti.


"Aw sakit sayang," Rasya mengelus tangannya yang sakit. Rasya pun menghentikan aktivitasnya. Ara kemudian bangun dan mencoba berbicara pada Rasya. "Tolong dengarkan aku," pinta Ara dengan lembut. Rasya mengangguk mencoba mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh istri cantiknya itu.


"Apa?" tanya Rasya. Tangannya masih bermain-main di dalam piyama Ara.


"Kita tunda dulu malam pertama kita," ucapan Ara sukses membuat Rasya mengerutkan dahi.


"Kau menolakku?" tuduh Rasya.Lalu menjauhkan badannya dari sang istri.


"Bukan kak, tapi aku sedang kedatangan tamu," bisik Ara sambil terkekeh saat menyampaikannya.

__ADS_1


Bahu Rasya jadi meluruh. Rasya tahu apa yang dimaksud istrinya dengan istilah kedatangan tamu. Rasya terduduk di kursi di depan meja rias Ara. Ara yang melihat suaminya begitu sedih mencoba menghiburnya.


"Tenanglah kak tidak sampai seminggu," Ara kembali terkekeh.


"Ck, kenapa harus sekarang sih," Rasya mengacak rambutan kasar.


"Aku pinjam kamar mandi ya," Rasya beranjak dari tempatnya duduk. Sial sekali baginya malam ini ia benar-benar frustasi.


"Kak tunggu," Ara mendekat kemudian memberikan handuk pada suaminya.


Ara terkekeh saat melihat wajah suaminya yang menggemaskan.


Sementara menunggu Rasya mandi Ara paking untuk persiapan kepindahannya besok ke rumah Rasya.


Setengah jam kemudian Rasya memasuki kamar Ara kembali. Kini Rasya memakai kaos rumahan dan celana pendek.


"Cepat sekali mandinya," seru Ara.


"Aku biasanya malah lebih cepat dari ini," jawab Rasya sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.


Ara berdiri kemudian menghampiri suaminya. Kecupan singkat dilayangkan ke pipi Rasya. "Iya sudah wangi," godanya.


"Sudahlah aku tidak mau mandi malam untuk yang kedua kali," Rasya mencebik kesal.


Kemudian berbaring di atas kasur busa milik Ara yang ukurannya tidak sebesar ranjang king size yang ada di rumah Rasya.


Rasya menutup matanya dengan satu tangan. Malam ini tidak akan ada acara ***-*** setelah resmi menikah. Ara yang selesai merapikan pakaiannya kemudian merebahkan diri di samping Rasya.


"Maaf," ucap Ara dengan lirih saat menghadap suaminya.


Rasya tidak merespon jadi Ara pikir dia sudah tertidur. Ara lalu tidur dengan membelakangi Rasya. Namun, Rasya malah memeluk istrinya dari belakang sehingga membuat Ara tersentak kaget. Ara mencoba melepaskan pelukan Rasya tapi Rasya malah mengeratkan pelukannya.


"Jangan bergerak, aku ingin seperti ini," pinta Rasya. Ara pun tidak menolak. Gadis itu menyesal karena tidak bisa melayani suaminya. Tapi bagaimana lagi ia tidak bisa mengusir tamu bulanannya.


...***...

__ADS_1


Maaf ya unboxingnya ditunda dulu author mesti cari inspirasi dulu. Makasih buat yang udah dukung, jangan lupa kasih poin ya di karyaku ini soale masuk kriteria lomba. Daripada poinnya mubadzir pula gak di gunain ya kan.


__ADS_2