
"Didu," teriakan Lulu membuat ketiganya menoleh.
Lulu berjalan cepat ke arah Didu lalu melintir kuping laki-laki itu.
"Ampun sayang sakit," Didu memohon pada Lulu agar ia melepaskan telinganya yang dijewer.
Ara dan Rasya sontak tertawa melihat tingkat Lulu dan Didu.
"Kenapa lo diem-diem ngambil foto gue yang lagi mlongo trus lo share di medsos hah?" Lulu dalam mode marah.
"Tapi caption-nya oke kan?" Didu seolah cuek habis dimarahi.
Cewek gue tetep cantik walaupun mulutnya kebuka dikit.
"Oke pala lu," Lulu ingin memukul kepala Didu dengan buku tebal yang dibawanya namun Didu berhasil menghindar.
"Eh jam berapa nih gue mau masuk dulu," Didu mengelak.
"Gara-gara dia nih gue mesti dianter supir,padahal bokap beliin mobil baru," Lulu mengerucutkan bibirnya.
"Orang kaya mana tahu rasanya naik ojek panas-panasan," sindir Ara sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Eh gak gitu Ra gue gak ada maksud sombong sumpah," Lulu tampak menyesal dengan ucapannya lalu mengangkat tangan membentuk huruf V untuk meyakinkan Ara.
Di sela-sela percakapan dua sahabat itu Rasya berkata "Ara bisa antar saya ke ruang dosen?" Rasya berbicara dengan sopan.
"Eh iya tapi habis itu aku langsung masuk kelas ya soalnya bentar lagi ada mata kuliah," Rasya mengangguk.
"Eh gue duluan ya Ra,takut ganggu," ucapan Lulu membuat wajah Ara bersemu merah berada di samping Rasya.
Ara pun berjalan lebih dulu. Rasya mengikuti Ara dari belakang.
"Udah sampai, aku tinggal dulu ya," pamit Ara.
"Tunggu, sepulang kuliah nanti bisa kita bicara sebentar?" ajak Rasya.
"Sorry tapi gue ada kerjaan," tolak Ara secara halus.
"Oh oke next time aja kalau gitu," Rasya sedikit kecewa dengan penolakan Ara tapi ia tidak bisa memaksa gadis yang baru ia kenal itu.
Ara menuju ke kelas dimana mata kuliah sedang berlangsung seusai mengantar Rasya.
"Maaf pak saya telat," ucapnya setelah mengetuk pintu.
"Gak papa saya belum mulai kelasnya, silahkan duduk," kata Dosen yang baru saja masuk.
"Beruntung lo dosen masuknya agak telat,lagian lama banget jalannya," ucap Lulu.
"Ya kantor dosen ke sini kan emang lumayan jauh," tuturnya.
__ADS_1
Selesai kuliah temen satu angkatan Lulu mendekat padanya.
"Eh Lu foto lo yang lagi mlongo viral tau," cibirnya.
"Sialan lo," umpat Lulu yang merasa kesal.
"Tu kan Ra gue jadi gak punya muka deh gara-gara Didu masang foto gue yang salah angle itu," keluhnya.
"Itu sih angle nya udah pas elonya aja yang salah gaya," ejek Ara.
"Sialan lo, gue marah sama lo," Lulu mencebik kesal.
"Dih marah marah aja gak usah bilang," Ara tertawa pelan melihat tingkah laku Lulu yang seperti anak-anak.
"Gue balik dulu ya Lu, oh ya lo kalau mo marah jangan lama-lama semester depan gue udah gak bisa bareng lo," Ara mulai berdiri dan mengalungkan tali tasnya ke bahu.
"Loh kenapa Ra elo pindah kampus?" tanya Lulu penasaran.
"Gue disuruh Pak Rio buat jadwal ulang kuliah gue biar bisa fokus kerja soalnya mbak Diana udah mulai cuti," ucapan Ara membuat Lulu merasa kecewa.
"Yagh sayang banget padahal kita udah klop,tapi kita masih bisa temenan kan?" wajah Lulu berubah sendu.
"Bisa kok gue juga akan sering mampir ke kafe lo kalo ada waktu luang," Ara melambaikan tangan lalu pergi meninggalkan sahabatnya.
Ara kemudian menuju tempat parkiran. Saat ia akan mengenakan helm Brian datang dengan membawa satu buket bunga mawar merah yang ia sembunyikan di belakang punggungnya.
"Ara," panggil Brian.
Brian memberikan buket bunga yang ia bawa."Gue suka sama lo," Brian mengungkapkan perasaannya saat itu juga.
"Tapi,..."
"Pliss Ra terima gue," Brian menyodorkan bunga yang belum diterima oleh Ara.
Sejenak Ara berfikir lalu menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar."Aku belum bisa membuka hati kak,maaf," ucapan Ara membuat Brian kecewa tentunya.
Dengan penolakan Ara sudah pasti ia kalah tarohan dan sebagai gantinya ia harus menyerahkan mobil pada temannya.
Brian berusaha tenang dan mencoba todak marah di depan Ara.
"Beri aku satu kesempatan Ra agar aku bisa nunjukin ke kamu kasih sayang aku," mohon Brian sambil memegang tangan Ara. Namun Ara menepisnya perlahan
"Kakak berhak mendapatkan gadis yang lebih baik dari aku," tolaknya sekali lagi.
Ara kemudian memakai helmnya dan pergi meniggalkan Brian.Sementara Brian meremas bunga yang ia pegang kemudian membuangnya secara kasar.
"Elo kalah taruhan Bro," ejek teman-teman Brian sambil menertawakan dirinya.
"Gue gak terima," Brian kesal dan meninggalkan teman-temannya.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari Rasya memperhatikan interaksi antara Ara dan Brian. Ia menarik ujung bibirnya saat Ara menolak ungkapan cinta laki-laki itu. Namun Rasya sedikit khawatir dengan Ara karena ia memiliki feeling Brian akan melakukan sesuatu pada gadis itu.
Rasya memutuskan untuk mengikuti Ara. Ia segera mengambil helm dan memakai lalu ia nyalakan motor dan melaju dengan kecepatan tinggi sebelum kehilangan jejak Ara.
Sebenarnya Rasya penasaran kenapa Ara menolak permintaannya untuk sekedar ngobrol seusai kuliah.Setelah Ara berbelok ke kantornya barulah pertanyaan dalam hati Rasya terjawab.
Rasya membuka kaca helmnya kemudian membaca plang nama perusahaan. "Mungkinkah dia kerja di sini?" batinnya.
"Siang pak," sapa Ara pada Pak Satpam.
"Siang neng, hari ini gak bawa mobil ya?" tanya Pak Satpam.
"Gak pak lagi hemat bensin," ucap Ara asal.
"Neng dianter sama pacar tapi ko bawa motor sendiri-sendiri," Ara menoleh ke belakang memindai sekitar tapi tak dilihat seorang pun yang berhenti di sana.
"Saya sendirian ko pak," jawabnya.
"Lha itu tadi yang pake motor gede kayanya pernah nganter eneng ke sini waktu itu," Pak Satpam tidak tahu kalau Radith sudah meninggal karena kecelakaan.
"Pake motor yang sama? masa iya Rasya ngikutin aku?" tanya Ara dalam hati.
Kemudian Sarah memanggil Ara saat baru saja turun dari mobil."Ra baru sampai?" tanyanya.
"Eh iya mbak," ia jadi tersadar dari lamunannya.
"Masuk yuk," ajak Sarah.
"Mbak Sarah darimana?" tanya Ara yang berjalan beriringan dengan seniornya itu.
"Mbak habis ngambil mobil yang ada di bengkel, oh ya makasih ya buat yang kemaren udah di anterin sampe rumah, kamu gak nyasar kan pulangnya?" tanya Sarah.
"Ya enggak dong mbak, loh mbak Diana mana?" Sarah mengangkat bahunya karena tidak tahu keberadaan Diana.
"Kamu nyariin aku Ra?" tanya Diana yang baru saja masuk ke ruangan mereka.
"Darimana mbak?" Ara meletakkan tasnya di atas meja.
"Dari ruangan pak Rio habis ngajuin cuti," ucap wanita yang sedang hamil besar itu.
"Yagh berasa sepi kalau gak ada mbak Diana," rengek Ara.
"Kan masih ada Sarah," jawabnya.
"Tapi biasanya kan bertiga mbak,aku jadi gak semangat kalau denger komplainan customer, tiap hari dicurhatin sama orang jadi berasa kaya Mamah Dedeh,curhat dong mah," keluhnya sambil menirukan jargon acara tersebut.
Sarah dan Diana jadi tertawa mendengar kalimat yang dilontarkan Ara.
...***...
__ADS_1
Part ini sudah direvisi ya karena banyak yang typo maaf nulisnya sambil ngantuk.
Jangan lupa kasih vote sama hadiah ya, like sama komentar nya ditunggu