
"Assalamualaikum bu," Ara melangkahkan kakinya di teras rumah.
"Eh Ara ko baru pulang nak, temennya udah nungguin kamu dari tadi lho." Perkataan Bu Mia sukses membuat Ara penasaran.
"Siapa bu?" tanya Ara.
"Hai Ra," sapa Radith dengan mengangkat satu tangannya.
"Elo ngapain ke sini?" Ketus Ara.
"Lho ko ngomongnya gitu, ada temennya bertamu malah gak sopan nanyanya," tegur ibunya.
"Gak papa tante," Radith terlihat sopan di depan ibu Ara.
"Kalau gitu ibu tinggal ke dalam dulu ya," Bu Mia pamit ke kamar.
"Elo ngapain ke sini, gue belum ada uang," kata Ara sambil memalingkan mukanya.
"Gue ke sini gak minta duit ke elo, gue mau minta maaf soal waktu itu," kata Radith.
"Waktu itu? waktu itu yang mana? Banyak kesalahan elo," cibir Ara.
"Iya ya gue tahu, gue minta maaf waktu itu gue marah-marah pas elo nabrak mobil gue sampe lecet, gue juga minta maaf pas gue nyium lo di depan umum,gue..."
"Ssstt ngomongnya jangan keras-keras entar kedengeran ibu lagi," Ara bicara sambil berbisik.
"Udah cukup, gue maafin," kata Ara.
"Syukur deh," kata Radith yang merasa lega.
"Oh iya makasih buat bantuannya tadi udah ngebasmi tu penjahat." Ara tersenyum di depan Radith.
"Lagian kenapa harus ngojek sih Ra? elo kan bisa cari kerjaan lain," kata Radith dengan suara meninggi.
"Ssstt, jangan keras-keras," Ara lagi-lagi melarang Radith berbicara lantang.
"Gue gak mau ketahuan ibu, ibu gak tahu kalau gue kerja selama ini, dia tahunya gue kuliah sampe malam," jujur Ara.
"Alasan lo apa?" Tanya Radith tidak mengerti.
"Alasan yang mana kamsud lo," Ara sengaja memplesetkan kata-katanya.
"Alasan elo gak ngasih tau ibu lo kalo elo kerja jadi tukang ojek," Radith memperjelas pertanyaannya.
"Gue gak mau ibu gue khawatir, selama ini gue janji akan kuliah tanpa nyusahin ibu gue, kalau dia tahu gue kerja dikira uang yang dikasih ibu gue gak cukup, gue gak mau jadi beban buat ibu gue di masa tuanya," perkataan Ara membuat Radith tertegun.
"Cewek ini gue makin kagum sama dia," batin Radith.
"Elo kerja di perusahaan gue."
"Apaan lo main mutusin gue mau kerja dimana." Ara ingat ia tidak harus berbicara lantang maka ia menutup mulutnya.
"Ogah," tolak Ara.
__ADS_1
"Gue cuma gak mau elo dijahatin kaya tadi," Radith menunjukkan kekhawatirannya.
"Ngapain dia sok care segala sih sama gue, tapi gue ko seneng ya kalo dia perhatian," batin Ara sambil tersenyum.
"Ngapain lo senyum-senyum sendiri? Gila lo." Radith kembali membuat Ara ingin bergelut dengannya.
"Kalau mo ngajak gelut jangan di sini," kesal Ara
"Trus dimana?" Tanya Radith asal.
"Tau agh," Ara terlihat malu menjawab pertanyaan Radith sampai membuang bantal ke muka cowok tampan yang ada di depannya itu.
"Udah malam gak balik lo?" Usir Ara.
"Gak gue mo nginep sini," goda Radith.
"Sinting lo," umpat Ara.
"Haha takut ya lo," Radith tertawa melihat ekspresi wajah Ara yang menggemaskan.
"Ya iyalah emang elo mau kita diarak satu kampung."
"Gak papa, dikawinin sekalian gue mau," kata Radith.
"Emm lagak lo mau kawin sama gue, cari cewek yang lain sono."
"Gak, gue maunya sama elo," kata Radith sukses membuat jantung Ara berdisko.
"Pulang lo, pulang gak pulang gak." Ara mendorong badan Radith
"Igh...," Ara mendorong tubuh Radith keras. Ia bahkan mengambil sandal yang dia pake untuk dilemparkan ke Radith.
"Gak kena wek," ejek Radith yang menghindar dari lemparan sandal milik Ara.
"Dasar cowok sinting." Ara pun berbalik badan dan segera mengunci pintu rumahnya.
"Ko gak ada taksi yang lewat jam segini ya di daerah sini," kata Radith sambil melihat jam yang melingkar di tangannya.
Radith masih menunggu namun tidak juga ada taxi yang lewat.
Duar⚡
Suara petir menyambar bersamaan dengan hujan yang turun dengan lebat.
"Pake acara hujan segala sih," keluh Radith.
Lama menunggu akhirnya ada seseorang yang lewat dengan mengendarai motor.
"Bang ojek ya?" Radith menyetop laki-laki yang memakai jas hujan itu.
"Ia den tapi lagi hujan nih saya gak bawa jas hujan double," kata tukang ojek itu.
"Gak papa bang anterin saya pulang, saya udah nunggu taxi gak ada yang lewat," katanya.
__ADS_1
"Baik den."
Radith terpaksa pulang dengan mengendarai ojek tanpa memakai jas hujan. Tubuhnya pun basah kuyup karena kehujanan.
Setelah sampai di depan gerbang rumahnya yang menjulang tinggi, ia turun.
"Bang tunggu sebentar ya nanti satpam saya yang akan bayar saya gak pegang uang kecil," kata Radith sambil meraup mukanya yang basah terkena guyuran hujan.
"Pak bukain gerbangnya!" perintah Radith kepada Satpam rumahnya.
"Aden basah kuyup, sebentar den saya ambilin payung." Belum sempat ia mengambil payung Radith sudah menyela.
"Gak usah pak, oh iya Pak tolong bayarin ojek ya nanti uangnya saya ganti," perintah Radith pun dituruti oleh Satpam rumahnya.
"Baik den." Satpam segera menghampiri tukang ojek dan membayar upahnya.
"Hacih hacih."
Radith tidak berhenti bersin. Sepertinya ia kedinginan karena terguyur hujan.
"Gara-gara Ara nih gue jadi kehujanan gini, eh gue gak boleh nyalahin dia emang gue yang mau sendiri ko buat nyamperin dia, lagipula mana dia tahu kalo bakal turun hujan," Radith ngomong sendiri seraya mengambil handuk yang ada di dalam lemarinya.
Ia pun segera mandi air hangat agar badannya tidak sakit.
Keesokan harinya Didu tidak mencari sahabatnya itu namun tidak juga ia jumpai.
"Kemana ni orang, di telpon juga gak nyambung," kesal Didu sambil melihat hpnya.
Lalu Ara dan Lulu tidak sengaja lewat di depan laki-laki berkulit sawo mentah itu.
"Eh neng Mutiara," sapa Didu. Seperti biasa Ara hanya cuek.
"Eh neng lihat bang Radith gak?" Didu menghalangi langkah Ara dengan merentangkan satu tangannya.
"Salah lo nanya ke gue, biasanya situ kan yang nempel sama dia kaya perangko, lemnya udah copot ya," cibir Ara.
"Dugh neng jangan galak-galak nanti tantiknya ilang lho bang Didu jadi sedih." Didu masih saja menggoda Ara meski Ara tidak menanggapi.
Lalu hp Didu berbunyi. Ia mendapatkan telpon dari Radith orang yang sedang dia cari.
"Weitz bro kemana aja bro gue nyariin elo, bolos nih?" kata Didu.
"Iya gue gak enak badan nih," kata Radith dari ujung telepon.
"Wah neng katanya bang Radith sakit." Didu bicara pada Ara tapi belum menutup telpon dari Radith.
"Du sini lo jenguk gue, bawa Mutiara sekalian," perintah Radith di amini oleh Didu.
Didu lalu menarik tangan Ara. Ara jadi kaget dengan langkah yang terseret-seret ia mengikuti kemana Didu pergi.
"Eh mo bawa kemana temen gue?" teriak Lulu.
...***...
__ADS_1
Kalian bisa dukung othor dengan menonton iklan 3 detik ya. GRATISS