
"Neng yang kemaren tu hebat banget dah, belajar ilmu bela diri dimana?" puji Didu mengingat aksi berantem Ara kemaren saat menghajar lawan-lawannya.
"Bawaan dari orok Du, sudah pinter dari lahir," jawab Ara asal sambil tertawa kecil.
"Ah si neng bisa aja, bang Didu pas di dalem perut emak juga bisa nendang-nendang tapi pas lahir malah anteng, kalem kaya yang sekarang," sanggahan Didu membuat semuanya tertawa, dia bahkan menerima tonyoran di kepalanya dari Lulu.
Ara melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangannya."Kak aku ke kantor dulu ya," pamit Ara setelah kejadian penangkapan Brian di kampus.
"Mau aku anter?" tawar Rasya sambil memegang tangan Ara.
"Gak usah kak, aku ke sini naik mobil ko," tolak Ara secara halus.
"Ya udah hati-hati Ra," Rasya mengacak rambut kekasihnya.
Ara kemudian pergi meninggalkan ketiganya. Rasya tersenyum dan melambaikan tangan untuk tunangannya itu. Ara balas melambai dari jauh sambil tersenyum.
"Oh my God mata gue tercemar," seru Lulu yang melihat kemesraan Rasya dan Ara.
"Baru gitu doang Yang, aku sering lihat orang pacaran sampai cium-ciuman, kamu mau juga?" seloroh Didu.
"Didu," teriak Lulu. Dia pun mulai memukul Didu dengan buku tebal yang dipegangnya.
"Bray gue dipukulin nih, bantuin dong," adu Didu pada Rasya.
"Awalnya mang gitu Du lama-lama Lulu juga bakalan cinta sama lo," Rasya tergelak melihat Didu bertengkar dengan Lulu.
"Ih najis tralala," umpat Lulu kemudian pergi meninggalkan kedua laki-laki itu.
"Jan galak-galak Yang ntar gak laku akhirnya balik juga ke abang," Didu tertawa mengejek.
...***...
"Ra elo ko telat lagi kemana aja?" tanya Sarah pada Ara yang baru datang.
"Maaf mbak aku harus nyelesaiin urusan aku dulu, lagian pak Rio udah tahu ko mbak tadi aku udah izin sama dia," kata Ara yang baru meletakkan tasnya di atas meja.
"Kalau mbak boleh tahu urusan apa Ra?" tanya Sarah penasaran.
"Lain kali Ara ceritanya mbak ada telepon masuk nih," kata Ara beralasan.
__ADS_1
Seusai Ara bekerja, Ara memborong martabak manis yang jualan di depan kantornya.
"Mas Edi," teriaknya pada kang ojek yang sedang ngopi di warung depan.
"Tolong bagikan ini ke teman-temannya yaang bantu Ara kemaren ya," Ara menyerahkan beberapa kotak martabak telor yang ia bawa.
"Maaf ya mas saya baru bisa kasih ini, makasih buat bantuannya yang kemaren," imbuhnya.
"Oh iya mbak," Edi menerima martabak pemberian Ara.
"Jangan lupa dibagi-bagiin ya mas, salam buat mereka yang udah bantu saya," kata Ara dengan tulus.
"Iya mbak nanti saya sampaikan ke temen-temen, makasih banyak mbak," Ara mengangguk.
Setelah itu Ara berniat mengunjungi makam Radith.Lokasi pemakaman lumayan jauh dari kantor Ara. Sore itu begitu macet karena berbarengan dengan jam pulang kantor.Ara membawa mobil jadi dia tidak bisa selap-selip.
"Agh pake macet segala nih," Ara memukul kemudi setirnya.
Setengah jam menunggu namun mobilnya tidak bergerak sedikit pun.Lalu kepalanya menyembul untuk sekedar menengok keadaan di depannya.
"Ada apaan si pak ko rame banget?" Ara mencoba bertanya kepada salah seorang pengendara motor yang ada di samping mobil nya.
"Ada perbaikan jalan mbak," jawabnya singkat.
"Sumpah parah banget macetnya," gerutu Ara di dalam mobil.
Tak lama kemudian dia sampai di lokasi pemakaman. Ara turun setelah memarkirkan mobilnya dengan sempurna.Tak lupa ia membeli bunga untuk taburan di atas makam.
"Dit gue dateng," Ara duduk di depan pusara Radith.
Hening. Ara mulai membersihkan makam Radith, membuang daun yang jatuh di atas makamnya. Kemudian menabur bunga dan air yang ia beli tadi.
"Gue kangen sama lo, lo apa kabar?" tanya Ara pada tanah gundukan yang ada di hadapannya.
"Gue udah nemuin penjahat yang buat lo jauh dari gue," kini air mata Ara sudah mulai lolos.
Ara mulai terisak. Dadanya terasa sesak menengok orang yang pernah singgah di hatinya namun kini orang itu sudah terkubur di dalam tanah.
"Dit elo udah tahu gue sama kakak lo tunangan? elo pasti udah lihat dari atas ya kan? maafin gue Dit ini semua di luar kendali gue, gue gak tahu kalau kakak lo suka sama gue, apa gue ini pengkhianat Dit buat lo?" air mata Ara semakin deras membanjiri pipinya.
__ADS_1
"Gue gak bisa nolak pertunangan itu Dit walau gue sebenarnya gak cinta sama kakak lo, tapi kalau gue nolak akan banyak hati yang tersakiti, biarin gue belajar mencintai kakak lo Dit, gue anggap itu elo," Ara menepis air matanya.
Krek
Ara tersentak kaget. Suara ranting terinjak membuatnya takut pasalnya hari itu sudah mulai petang.
"MasyaAllah, gue tiba-tiba merinding gini ya, mana lagi sepi lagi," lirih Ara.
Tanpa menoleh ke belakang ia berdiri dan setengah berlari meninggalkan makam Radith.Sedangkan seseorang di sana tidak jadi memanggil Ara melihat Ara lari ketakutan.
...***...
"Apaan ya itu tadi hii mendadak serem gini ya, mau gelap lagi, pulang aja ah daripada ada penampakan," Ara buru-buru masuk ke dalam mobil namun sayang kunci mobil yang ia bawa tidak tahu hilangnya kemana.
"Dugh kemana kunci mobil gue?" Ara mencari di sekitar mobilnya. Ia pun mencari di kolong mobil tapi tak juga dia temukan.
"Di tas gak ada di kolong mobil juga gak ada, masa iya jatuh di sekitar makam?" Ara bermonolog dengan dirinya sendiri.
Ia coba mengingat-ingat tapi tak berhasil karena pikirannya yang sedang kalut.
"Gue balik ke makam aja kali ya daripada gue gak bisa pulang," batin Ara.
Belum sampai ia melangkah jauh seseorang memberikan kunci mobil yang mungkin saja tadi jatuh di makam Radith.
"Cari ini Ra?" seseorang mengayunkan kunci di tangannya.
"Kak Rasya,"
"Nih kuncinya," Ara hendak mengambilnya tapi Rasya lalu menutup tangannya.
"Kunci ini sekalian buat buka hati kamu ya," Rasya melayangkan gombalan recehnya.
"Apaan sih," wajah Ara sudah bersemu merah.
"Aku janji bikin kamu jatuh cinta sama aku," batin Rasya.
"Ya kalo bisa coba aja," Ara seolah memberikan kode pada Rasya untuk membuka hatinya.
Meski saat ini Ara belum bisa move on dari Radith yang telah tiada. Tapi dirinya berusaha membuka kesempatan untuk Rasya.
__ADS_1
"Aku masih belajar untuk menerima kakak, dan kakak tolong ajari aku supaya aku bisa belajar mencintaimu," perkataan Ara membuat Rasya yakin dia punya peluang untuk mengambil hati Ara sebelum pernikahan mereka berlangsung sebulan lagi.
"Oke deal,"