
"Lu gue bisa minta tolong sama lo," ucap Rasya pada sahabat tunangannya itu.
"Apa?" ketus Lulu.
"Lo ajak Ara ke car free day besok, bisakan?" pintanya dengan muka memelas.
"Kenapa gak langsung lo ajak ndiri aja, kenapa mesti minta bantuan gue? asal llontahu ya gue sibuk persiapan pencalonan ketua BEM lusa,"
Rasya menggeleng,"Temen Ara ini minta ditabok uang kali ya mulutnya," batin Rasya.
"Nanti gue dukung lo pas pemilihan, tenang aja gue jamin lo pasti menang, gue bantu sebarin poster lo ke anak-anak beneran," Rasya mengacungkan tangannya membentuk huruf V
"Oke siap kalau gitu," Lulu menyetujui kesepakatan mereka.
Kemudian Lulu merogoh ponsel yang ada di tasnya dan mengirim pesan kepada Ara.
"Gue tunggu besok di car free day,"
Keesokan harinya Ara berniat datang ke car free day bareng Lulu jadi ia memutuskan untuk menjemputnya. Daripada di car free day dia sendirian, pikirnya. Pukul enam pagi dia berangkat dari rumah.
Ting tong
Ara menekan bel pintu beberapa kali tapi lama sekali tidak dibukakan. Setelah itu ia berniat menghubungi Lulu lewat telepon. Tapi belum sampai Lulu menjawab pintu rumah Lulu terbuka.
"Mbak Lulunya ada?" tanya Ara pada wanita paruh baya yang ditemuinya.
"Masuk dulu mbak, mbak Lulunya masih tidur langsung masuk aja mbak ke kamar," ucap asisten rumah tangga Lulu dengan sopan.
Ara membuka pintu kamar Lulu yang tidak di kunci. Terlihat Lulu masih tidur dengan posisi tengkurap.
"Woy bangun woy anak cewek tapi tidur kaya kura-kura," Ara sengaja berteriak di samping telinga Lulu. Tapi Lulu hanya melenguh.
"Yee dia yang ngajakin ke car free day malah dia yang masih molor," cibir Ara.
Ara menggoyang-goyangkan badan Lulu beberapa kali tapi tidak ditanggapi.
"Ya udah deh gue ikut tidur di sini aja," Lulu masih tak merespon omongan Ara.
Ara pun naik ke atas ranjangnya dan merebahkan badan di samping Lulu. Satu jam kemudian Lulu terbangun. Tangannya menyentuh kulit seseorang lalu ia pun menoleh. Lulu kaget tapi lebih kaget lagi karena jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 lebih.
"Mampus gue janjian sama Rasya mau bawa Ara ke sana malah lupa," Lulu merutuki dirinya sendiri.
__ADS_1
"Nagapain lo tidur di sini, bangun woy," Lulu menggoyangkan tubuh Ara.
Ara tampak membiarkannya. Dia sengaja membalas perbuatan Lulu. "Emh..."
"Ee ni bocah," Lulu beranjak dari tempat tidurnya lalu mengambil gayung berisi air. Dicipratkannya sedikit-sedikit ke muka Ara.
"Wuits hujan," Ara pun bangun seketika. Dirinya tidak menyangka tindakan temannya itu begitu ekstrim.
"Sialan lo, gue udah mandi ngapain lo siram pake air kobokan Dijah," omel Ara.
"Sembarangan lo ganti nama, orang nama cantik gini disebut Dijah, dasar Painem," Lulu mengerucutkan bibirnya kesal.
"Eh apa lo berani lo sama gue," ancam Ara.
"Apa?" Lulu mengejek.
"Sini lo gue ceburin juga lo ke ember, lo yang ngajakin elo yang mau batalin sendiri," geram Ara.
"Mandi lo, terus berangkat," imbuhnya.
Seusai bersiap-siap Lulu dan Ara sampai di lokasi car free day. Mereka memarkirkan mobil tidak jauh dari tempat keramaian.
"Sumpah amazing banget lihat orang ramai kaya gini," ungkap Lulu.
"Lo duluan gue mau jajan dulu, cacing di perut gue udah pada demo," Lulu tersenyum kemudian pergi meninggalkan Ara.
Ara menggeleng melihat tingkah sahabatnya," katanya mau olahraga malah ngisi perut duluan, kalau gendut baru tahu rasa," gerutu Ara sambil berlari mengitari taman.
Sudah sepuluh kali Ara berlari mengelilingi taman tapi Lulu belum balik juga. Merasa kelelahan Ara pun beristirahat di bangku taman yang kosong.
"Mau minum?" seseorang memberikan botol air mineral pada Ara. Gadis itu menoleh.
"Kak Rasya," Rasya tersenyum.
"Ko tahu kalau aku ada di sini? Lulu yang bilang ya," tebak Ara setelah itu ia menerima meminum air mineral itu.
"Bukan," Rasya tidak sepenuhnya berbohong. Dia hanya tidak mengungkap bahwa dirinya yang menyuruh Lulu membawa Ara saat car free day.
"Lulu kemana ya ko belum balik?" gumam Ara. Oa melihag ke kanan kiri tapi temannya itu tidak juga muncul.
"Kamu berkeringat Ra," Rasya menyeka peluh yang ada di dahi Ara.
__ADS_1
Ara tertegun. Jantungnya merasa berdebar setiap Rasya menyentuhnya. Rasya tersenyum tipis saat melihat wajah Ara mulai memerah.
"Kak biar aku aja?" Ara mengambil handuk kecil dari tangan Rasya.
"Kenapa kamu malu?" tanya Rasya sambil tersenyum tipis.
"Sedikit, banyak orang juga jadi gak usah pamer kemesraan," ketus Ara.
"Siapa yang pamer kemesraan, kamu yang ge er Ra," elak Rasya.
"Ck, kak Rasya cari-cari kesempatan," Ara berdiri dan berjalan lebih dulu. Matanya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru tapi Lulu tidak juga ditemui.
"Eh sialan bener si Lulu malah ninggalin gue, awas aja kalau ketemu gue bejek-bejek tu anak," geram Ara lirih namun Rasya mendengarnya sehingga membuat Rasya tertawa mendengar umpatan Ara.
"Beli jajan yuk aku yang traktir, kamu pasti belum makan pagi-pagi gini," ajaknya dengan ramah.
"Hayuk lah nunggu Lulu keburu keroncongan ni perut," tiba-tiba mood Ara berubah saat Rasya mengajaknya membeli makanan.
Rasya merasa senang berada di dekat Ara. Meski mereka sudah bertunangan nyatanya Ara belum bisa move on dari Radith. Karena sejatinya Radith dan Rasya bukan orang yang sama hanya saja wajah mereka yang kembar identik.
Entah apa yang membuat Ara begitu mencintai Radith. Mungkin saja Ara belum lama mengenal Rasya jadi dia tidak bisa menjatuhkan hatinya untuk sembarang orang. Terlebih saat itu pertunangannya atas keputusan sepihak. Ara bahkan tidak tahu rencana pertunangannya dengan Rasya saat itu.
"Aku masih belajar untuk menerima kakak, dan kakak tolong ajari aku supaya aku bisa belajar mencintaimu," perkataan Ara membuat Rasya yakin dia punya peluang untuk mengambil hati Ara sebelum pernikahan mereka berlangsung sebulan lagi.
Kata-kata gadis pujaannya itu masih berputar-putar di otaknya. Dengan alasan itulah Rasya yakin masih memiliki kesempatan untuk meluluhkan hati gadis yang sudah resmi menjadi tunangannya itu.
"Kak kok malah diem, ayok," Ara memanggil Rasya yang diam di tempat.
Gadis berambut panjang itu berhenti di stand burger. Dulu saat Radith masih hidup ia sering dibelikan burger. Padahal awalnya aara belum pernah memakannya namun saat Ara mencicipi rasanya untuk pertama kali ia langsung suka. Selain enak juga cukup mengenyangkan.
"Kita beli ini aja ya kak?" panggilnya pada Rasya. Laki-laki yang berdiri di sampingnya itu mengangguk.
Setidaknya Rasya masih bisa memakannya karena lidahnya belum tentu cocok dengan makanan asli Indonesia. Maklumlah baru beberapa bulan lalu dirinya menginjakkan kaki di sini. Sedangkan dia sejak kecil dibesarkan di Jerman.
"Aku makan ini sekalian sarapan nanti habis ini aku ada kuliah jadi aku pulang duluan ya," pamit Ara meninggalkan Rasya begitu saja setelah membayar burger yang dipesannya.
Ara makan sambil berjalan menuju ke parkiran mobil. Namun, ia masih kepikiran dengan Lulu. Ara mencoba menghubungi temannya itu tapi malah yang jawab operator. Ara jadi geram.
"Ni anak hp pakai dimatiin lagi, gue tinggal aja udah jam segini juga ntar telat ke kampus," batin Ara lalu memasukkan hpny ke dalam saku.
Saat Ara sampai di parkiran ternyata ban mobil belakangnya kempes. Ara jadi frustasi karena tidak ada yang bisa dia lakukan padahal sebentar lagi dia harus mengikuti mata kuliah di kampusnya.
__ADS_1
"Perlu bantuan?"