
"Elo gak pulang Dit?" tanya Ara pada pacarnya.
"Ko ngomongnya gitu sih sayang, kalau gak ada orang ngomongnya aku kamu dong jangan elo gue?" protes Radith pada Ara.
"Kamu gak pulang Yang?" Ara mengulangi pertanyaannya dengan cara halus.
"Nah gitu dong, gak aku nginep sini aja lagian di rumah sepi juga," canda Radith tapi ditanggapi serius oleh Ara.
"Eitz apaan sih lo, gue kan harus ngurus ibu," Ara mengerucutkan bibirnya.
"Canda yaelah manisnya ilang ntar, gue pamit nih," kata Radith.
"Iya pergi sono," usir Ara.
"Gak dikasih oleh-oleh gitu," tanya Radith mencoba basa basi.
"Yagh belum belanja gimana dong jadi gak bisa ngasih apa-apa," kata Ara mengalihkan perhatian.
"Ck, ini," tunjuk Radith pada bibirnya.
"Lain kali aja ya mas saya lagi gak ada uang receh," ejek Ara.
"Dih dikira mo ngamen, ya udah balik ya sayang, muach," Radith mendaratkan kecupan singkat di kening Ara. Ara menjadi kaget dan memegang bekas ciuman Radith.
Radith pun memutari mobilnya dan masuk ke kursi kendali mobil. Laki-laki itu membunyikan klakson sebelum benar-benar menjauh.
Ara masuk menemui ibunya. Terlihat sang ibu sedang istirahat di kamar. Ara merasa lapar kemudian ia ke dapur barangkali ada mi instan yang bisa dimasak tapi sayangnya tidak ada stok makanan sama sekali di rumahnya. Yang ada hanya krupuk di toples.
"Makan ini dulu deh buat ganjel perut," Ara mulai menggigit kerupuk yang ia pegang sampai habis.
"Masak iya gue makan beginian bisa kenyang, pergi belanja dulu agh," Ara memutuskan keluar untuk mencari makan.
Ia menelusuri jalan tidak ada satu pun orang jualan yang lewat akhirnya ia menentukan pilihannya untuk mampir ke indoapril.
"Terpaksa deh gue masuk sini padahal harusnya gue bisa hemat," batinnya saat melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang sangat adem itu.
Ara pun mengambil roti tawar merk Berryroti dan air mineral lalu ia makan di teras indoapril.
Saat ia baru memasukkan satu gigitan roti ke mulutnya tidak sengaja ia melihat Putri yang sedang turun dari mobil bersama lelaki yang lebih tua darinya.
Putri kaget saat melihat Ara yang sedang makan dengan santainya di teras indoapril.
"Untung mulut gue gak ember," gumam Ara saat Putri akan membuka pintu indoapril.Tapi Putri pura-pura tidak mendengar hanya saja terlihat mengepalkan tangannya mencoba tidak menanggapi omongan Ara.
"Awas kamu Ra," ancam Putri dengan suara lirih.
Keesokan harinya Ara masuk lagi ke kampus seperti biasa. Lulu menyambutnya dengan gembira.
"Akhirnya elo masuk juga Ra, gue kangen tahu ngobrol bareng elo, eh btw ibu lo gimana?" tanya Lulu.
__ADS_1
"Baik udah bisa jalan ko kepalanya udah gak pusing lagi katanya," terang Ara.
"Eh lo ke sini naik apa?" tanya Lulu yang kemaren melihat motor Ara di parkiran rumah sakit tapi pulangnya di antar oleh Radith.
"Biasanya naik apa?" tanya Ara.
"Naik motor," jawab Lulu.
"Nah itu," jawaban Ara membuat Lulu bingung.
"Tapi motor lo gue lihat di parkiran rumah sakit kemaren lalu pulangnya dianter sama Radith jadi kapan elo ngambi motornya? tanya Lulu.
"Kepo lu yang penting gue udah nyampe sini dengan selamat,"Ara mencubit dagu Lulu karena gemas.
Ara tidak mengatakan yang sebenarnya kalo pagi ini ia dijemput oleh kekasihnya menggunakan motornya yang Radith ambil.
...***...
Pagi tadi Ara terkejut saat berada di depan gang rumahnya saat sedang menunggu angkot tiba-tiba seorang tukang ojol berhenti persis di depannya.
"Saya gak pesan ojol mas," kata Ara.
Lalu kang ojol membuka helmnya. Ara jadi tersenyum melihat seseorang yang ia kenal mengenakan jaket dan helm khas kang ojol.
"Kamu ngapain jadi kang ojol?" tanya Ara. sambil tertawa.
"Ayo neng saya antar sampai KUA," canda Radith.
"KUA aja deh biar kamu resmi jadi milik aku," Radith tersenyum meringis.
"Ada-ada aja kamu," Ara memukul bahu Radith pelan kemudian naik ke kursi boncengan.
"Yuk Bang berangkat," canda Ara.
"Siap nyonya," balas Radith.
"Elo gak malu pakai beginian Dit?" tanya Ara sambil membonceng.
"Ngomongnya dibiasakan aku kamu dong sayang, jangan elo gue, gak enak dengernya," protes Radith.
"Iya," jawab Ara.
"Iya sayang, gitu," kata Radith.
"Mobil kamu kemana ko pakai motor, btw ini motor aku ya?" tanya Ara memastikan.
"Iya sayang ini motor kamu, mobil aku ada di rumah," kata Radith sambil mengendarai motor.
"Makasih ya udah diambilin motorku," Ara memeluk Radith dari belakang.
__ADS_1
Tangan kiri Radith kemudian menyentuh tangan Ara yang melingkar di perutnya. Ara jadi tersenyum.
"Enakan pake motor bisa pelukan kaya gini,hah dunia rasa milik berdua," Radith merasa bahagia.
Ara tidak menjawab tapi ia ikut tersenyum. Ara menempelkan kepalanya di punggung Radith. Radith bisa merasakan kehangatan yang diberikan oleh Ara. Angin kencang yang menerpa mereka saat berkendara tidak mereka hiraukan.
"Eh udah sampai aja," kata Ara saat motor yang dikendarai memasuki gerbang kampus.
Saat Radith membuka helmnya seseorang mengejek Radith dengan terang-terangan tapi Radith tidak menanggapi hal itu.
"Bokap lo bangkrut Dit sampai lo jadi tukang ojek," Ara jadi kesal mendengar ejekan mahasiswa itu.
"Makanya jangan temenan sama kang ojol," mahasiswa lain menimpali.
"Jangan diambil hati ya Dit, mereka gak tahu aja kalau kamu pake jaket aku," Ara mencoba menghibur.
"Gak sayang harusnya mulut mereka tu dikasih pelajaran tapi biarlah mereka kaya gitu karena gak tahu," kata Radith dengan santai tanpa terpengaruh olokan orang lain.
"Hey bro kenapa lo pake beginian?" tanya Didu yang mendekat ke arah mereka.
" Ceritanya panjang," kata Radith.
"Singkat aja!" ucap Didu.
"Gue jadi tukang ojeknya Ara," perkataan Radith ditanggapi serius oleh Didu.
"Sumpah demi apa gue gak bisa nebeng lo lagi dong," Didu mendapat pukulan kecil di kepalanya.
"Sekali benalu tetep benalu," umpat Radith.
"Eh gue masuk ya,makasih udah bawa motoe aku hari ini,kalian kalo mo gelut lanjutin aja," pamit Ara sambil terkekeh.
"Bye neng Mutiara hatiku,"
"Mutiara hatiku," Radith menirukan omongan Didu.
"Syirik tanda tak mampu," ejek Didu.
"Mampu buat apa dulu?" tanya Radith.
"Mampu milikin hatinya neng Mutiara lah," kata Didu yakin.
"Elo yakin gue belum bisa milikin hatinya Ara?" Didu mengernyit heran.
"Maksud lo apa bro?" Didu mengejar Radith yang lebih dulu berjalan.
"Nanti lo tanya sendiri sama orangnya," kata Radith yang semakin membuat Didu penasaran.
Radith dan Didu memang tidak pernah akur. Tapi itu hanya candaan mereka saja. Mereka sudah berteman sejak masuk kuliah pertama kali.
__ADS_1
...***...
Jangan lupa kasih dukungan buat karyaku ya, boleh dengan cara like kirim hadiah ato share ke media sosial kalian. Makasih.