Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Meeting di Kafe Lulu


__ADS_3

"Ara mana sih lama bener?" protes Lulu yang sedang menunggu temannya di kafe milik sang ayah.


Klunting


Bunyi pintu kafe terbuka, menandakan ada customer yang masuk ke dalam kafe.Lulu melihat ke arah pintu. Ia mendapati Mutiara datang bersama dua orang berjas hitam yang mengikuti dirinya di belakang.


"Hai," sapa Ara yang baru sampai dan duduk di samping Lulu dan Didu tanpa permisi.


Didu menyemprotkan minuman dari mulutnya ke muka Lulu setelah melihat dua orang berbadan besar yang mengikuti istri Rasya tersebut.


"Setan, kena muka gue nih," teriak Lulu.Ia lalu mengambil tossu basah dari dalam tasnya.


Ara tertawa melihat tingkah kedua temannya itu."Hati-hati jerawatan, muka lo yang habis kena semprot Didu," ejek Ara pada sahabatnya.


"Ngomong-ngomong siapa mereka neng?" bisik Didu.


"Bodyguard gue," jawab Ara santai.


"Sombong amat, banyak gaya lo," cibir Lulu.


"Bukan gue yang mau, orang kak Rasya yang maksa," Ara menjulurkan lidahnya.


"Pasti gara-gara kejadian kemaren ya?" tebak Didu. Ara mengangguk pelan.


"Lu pesen makanan dong," rengek Ara yang merasa lapar.


"Apa?" ketus Lulu.


"Big burger pake kecap sama jus alpukat biasa," Ara menaik turunkan alisnya.


"Hue rasanya kaya apa tuh?" Lulu sejenak berfikir.


"Ya manislah," tukas Ara.


"Dasar bumil aneh," cibir Lulu.


"Anak gue yang mau," Ara mengelus perutnya yang datar.


Lulu memanggil pelayannya kemudian meminta untuk membawakan pesanan Ara.


"Kalian boleh pesan makanan, sementara saya akan meeting bersama teman-teman saya, " usir Ara secara halus pada dua orang yang mengawalnya.


"Lo kenapa gak milih yang mudaan dikit sih, gue kan bisa TP-TP sama mereka,"


"Ck, ayang Lulu hati abang sakit tahu dengernya," Didu memegang dadanya yang pura-pura sakit.


"Bodo amat," cuek Lulu.


"Tu dengerin curhatan Didu, lama-lama gue kasian deh sama dia," kata Ara.


"Dah biarin aja dia, eh elo mau minta bantuan apa sama kita," tanya Lulu.


"Pinter lo bisa nebak pikiran gue," puji Ara pada Lulu.

__ADS_1


"Udah kebaca," jawab Lulu dengan percaya diri.


Di tengah obrolan ketiga sahabat itu Rasya dengan penampilannya yang memakai kemeja namun lengannya digulung sampai siku membuat mulut Lulu menganga melihat suami Ara yang begitu keren pikirnya.


"Gak usah segitunya kali liatin suami orang," sindir Didu pada Lulu.


"Sayang kalian lagi ngumpul tapi gak ngajak-ngajak," protes Rasya yang baru datang ke kafe Lulu.


"Kakak tahu dari mana aku ada di sini?" pertanyaan Ara hanya dijawab Rasya dengan menoleh ke arah bodyguardnya.


"Kamu tuh gak bisa bohong sekarang," Rasya mencolek hidung mancung Ara.


Ehem


"Gak usah pamer kemesraan deh, jiwa jones gue meronta-ronta nih," Lulu mencebik kesal.


"Yagh elo sih ditembak Didu malah ditolak mulu," sindir Ara.


"Lagian dia tu cuma mau manfaatin orang aja," balas Lulu.


"Ko ngomongnya gitu sih Yang," ucap Didu dengan nada sendu.


"Iya buktinya tadi ke sini aja elo numpang mobil gue," Lulu mengingatkan.


"Ya ampun besok aku minta dibeliin mobil baru sama nyokap," kata Didu dengan lantang.


"Kalau boleh," imbuhnya lirih.


"Jadi kalian lagi ngobrolin apa di sini?" tanya Rasya.


"Oh ya?? Rio tidak memberitahukan padaku,"


"Hana baru melaporkan padaku siang ini katanya banyak driver yang berhenti karena susahnya mencari penumpang, rata-rata mereka menggunakan kendaraan pribadi," terang Ara panjang lebar.


"Kamu benar Ra, akhir-akhir ini ada peningkatan penjualan mobil di kantor ayah, selain itu kemungkinan banyak orang yang membeli motor sendiri," Rasya membenarkan omongan istrinya.


"Jadi apa rencana lo?" tanya Lulu.


"Bantu gue promosilah,"


"Lewat apa? nyebar pamflet gitu?" tanya Lulu.


"Itu salah satunya, selain itu sebarin iklan di sosmed kalian, nanti rencananya aku juga mau gunain jasa endorse, kak Rasya siapin dananya," kata Ara.


"Oke, apapun rencana kamu, aku dukung sepenuhnya," Radya mengusap rambut istrinya sayang.


"Terus gue ngapain?" tanya Didu.


"Elo bantu Lulu lah Du, jadi asistennya, mau kan lo?" tanya Ara.


" Weh siaplah kalau gitu, btw ada ininya gak?" Didu memainkan jari telunjuk dan ibu jarinya.


"Tenang aja ini gak gratis," kata Rasya meyakinkan.

__ADS_1


"Kalau gitu kapan-kapan kita shooting video tok-tok, elo pakai aplikasi itu kan Lu?" tanya Ara pada Lulu. Lulu menggeleng.


"Tenang neng, abang pakai kok, followers juga lumayan," sahut Didu.


"Weh joss," Ara memberi tepuk tangan.


"Akhirnya elo bisa diandelin Du," puji Ara.


Didu mengangkat kerahnya sombong. Lulu mengerucutkan bibirnya.


"Ya udah pulang yuk Ra, udah malam besok kan kamu kuliah," ajak Rasya. Ia menarik tangan Ara agar segera keluar.


"Eh burger aku belum dimakan kak,"


"Nanti aja di mobil," kata Rasya.


"Yaudah kita balik dulu ya Lu, Du," pamit Ara. Mereka mengangguk.


"Hati-hati kak bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut," teriak Lulu. Rasya mengangkat tangannya.


Sesampainya di parkiran kafe, Rasya mengajak Ara menaiki mobil sport yang ia bawa. Rasya menyuruh kedua bodyguardnya mengikuti mereka dari belakang.


Ketika mobil Rasya berhenti di lampu merah, Ara tidak sengaja melihat ibu-ibu muda menggendong anaknya akan menyeberang jalan. Tanpa diduga mata anak bayi itu mengarah ke Ara.


"Ya ampun lucunya tu anak, jadi inget sama Cibul, sekarang dia lagi ngapain ya kak?" tanya Ara sambil memandang anak kecil itu dari jauh.


"Kamu kangen ya sama Bulan?" Ara mengangguk pelan.


"Sayangnya kita belum bisa ke sana," ucap Ara sendu.


"Kita kan bisa video call kalau kamu mau?" ucapan Rasya mendapatkan respon baik dari Ara. Senyum mengembang di wajah Ara. Kenapa dia tidak kepikiran untuk menghubungi Cibul. Sungguh dia kangen dipanggil mami oleh anak yang baru belajar jalan itu.


Sesampainya di rumah Ara mengambil ponsel Rasya untuk menghubungi Andrea.Rasya yang awalnya mau mandi setibanya di rumah jadi ia urungkan karena mendapat perintah dari istrinya yang kangen berat dengan Bulan.


"Hallo" sapa Andrea.


"Bulan mana?" tanya Ara saat wajahnya berhadapan dengan Andrea.


"Lagi tidur siang," Andrea mengarahkan ponselnya ke ranjang Bulan, terlihat anak kecil itu tertidur pulas.


"Yagh aku kangen banget sama dia," ucap Ara yang kecewa tidak bisa ngobrol dengan Bulan.


"Kehamilan kamu baik-baik saja kan Ra?" tanya Andrea.


"Iya, bagaimana kabar Ayah dan Ibu?" tanya Ara balik.


"Mereka baik,"


"Ya sudah Andrea aku tutup telponnya ya, besok video call lagi kalau Bulan udah bangun," kata Ara sebelum menutup teleponnya.


"Kak, kak Rasya," Ara memanggil Rasya tapi tidak terlihat dimanapun. Lalu ia mendengar suara dari kamar mandi. Rupanya Rasya sedang mandi selama Ara bervideo call dengan Andrea.


Setengah jam kemudian Rasya keluar dari kamar mandi. Ia mendapati Ara tengah meringkuk di atas ranjang. Padahal ia belum membersihkan diri. Karena tidak tega Rasya membiarkan istrinya tetap tertidur. Ia membetulkan posisi tidur Ara agar lebih nyaman.

__ADS_1


Rasya naik ke atas ranjang lalu memeluk Ara dari samping. Namun sebelumnya ia mencium bagian perut Ara. "Selamat tidur anak papa," ucapnya pada calon anak yang sedang dikandung oleh Ara.


__ADS_2