Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
RIO


__ADS_3

"Pak hari ini saya bawakan makan siang buat bapak?" Ara menyodorkan bekal makan siang yang ia pesan secara online.


"Weh dalam rangka apa nih Ra?" tanya Rio kelewat senang karena dirinya belum sempat ke kantin.


"Dalam rangka membalas kebaikan bapak yang selama ini udah banyak bantu saya pak," Ara sedikit mengingat kebaikan yang Rio berikan padanya mulai dari tidak pernah mendapat SP meski sering melakukan kesalahan sampai diangkat sebagai customer servis.


"Maaf cuma bisa ngasih ini doang," tambahnya lagi.


"Ini lebih dari cukup Ara,kamu memang berpotensi jadi wajar kalau saya membantu kamu," jawab Rio dengan tulus meski awalnya dia memang naksir pada Ara namun semakin ke sini ia hanya menganggap Ara tidak lebih dari sekedar bawahan nya yang berprestasi.


Selain baik Ara di mata teman-teman satu profesinya, Ara juga dikenal customer servis yang paling ramah. Meski dia sendiri selalu pusing menanggapi keluhan pelanggan.


"Makasih ya Ra," kata Rio.


"Sama-sama pak, eh iya pak itu saya beli di kafe temen saya, cobain pak kalau enak kapan-kapan mampir ya ke sana," Ara mempromosikan kafe Lulu yang sebenarnya niat Ara menjodohkan Lulu dengan Rio atasannya.


Rio hanya mengangguk mengerti. Ara izin keluar ruangan. Setelah dari ruangan supervisornya Ara menyusul Sarah ke kantin.


"Mbak bagi dong," Ara menyerobot minuman milik Sarah yang hampir saja diminum tapi tidak jadi. Sarah masih memegang sedotan di tangannya. Sedangkan gelas yang berisi jus jambu itu diminum Ara hingga setengah.


"Ih kebiasaan kamu Ra, pesen sendiri sana," usir Sarah.


"Nanti aku ganti mbak maaf," Ara tersenyum meringis.


"Mbak ntar kapan mau mampir ke kafe temen aku?" tanyanya pada Sarah.


"Week end ini, eh besok kan ya, perasaan cepet banget ya udah hari Jumat aja," Ara membuka bibirnya setengah.


"Cepet apaan mbak rasanya waktu berjalan lambat kaya slow motion gitu, menanti malam tak kunjung datang, tapi kalau udah malam bentaran doang udah pagi," keluh Ara setelah itu memesan jus yang sama untuk Sarah.


"Kamu suka jus jambu ya habis minum ounya embak langsung beli lagi," tegur Sarah.


"Ini buat gantiin jus yang aku minum tadi mbak," pemberian Ara ditolak oleh Sarah.


"Gak usah Ra mbak udah kenyang habis makan juga, minum aja, jus jambu bagus buat nambah darah," Sarah menasehati.


"Dikira drakula apa ya nambah darah," batin Ara yang kemudian meminu jus jambu yang tidak jadi diberikan pada Sarah.


Seusai bekerja Ara benar datang ke kafe milik ayah Lulu.


"Kirain gak dateng?" sapa Lulu yang baru melihat Ara memasuki kafe milik keluarganya.


"Dateng cuma mulainya jam segini gak papa ya bu bos, baru dari kantor ini, langsung dimari," curhatnya.

__ADS_1


"Naik apa?" tanya Lulu.


"Naik mobil," jawab Ara singkat.


"Pantes lama, besok naik motor aja biar cepet, naik mobil sering kena macet," tegur Lulu.


"Siap bu bos, Ara manut dagh," jawabnya membuat keduanya tergelak.


"Eh gue ganti baju dulu ya," Ara pamit ke ruang ganti. Mengganti pakaian kerja yang formal dengan pakaian casual sesuai seleranya kemudian ia memakai celemek khas pegawai kafe.


Klunting


Suara bel berbunyi ketika pintu kafe terbuka.


"Selamat datang mari saya antarkan ke kursi anda," sambut Lulu yang saat itu menggantikan pegawai ayahnya yang tidak masuk.


Laki-laki itu tersenyum ramah pada Lulu. Seketika hati Lulu berantakan melihat senyum manis sekilas yang diperlihatkan oleh laki-laki dengan setelan jas kantor tersebut.


Lulu mulai memberikan menu makanan yang ada di kafenya.


"Mau pesan apa?" tanya Lulu pada laki-laki tampan di depannya itu sambil memegang polpen dan buku kecil untuk mencatat menu pesanan.


"Hot Chocolate satu aja dulu," jawab lelakibitu dengan suara yang terdengar merdu.


"Baik silahkan ditunggu, pesanannya akan segera kami antar," Lulu mengalihkan langkahnya menuju pantry.


"Eh Ra lama banget ganti bajunya, anterin pesanan ya ke meja 18," perintah Lulu dipatuhi oleh Ara.


"Siap bu bos," Ara mengambil pesanan yang harus ia antarkan.


"Silahkan hot..." kalimat Ara tidak ia selesaikan saat ia melihat atasannya itu duduk di meja 18.


"Ara, kamu kerja di sini?" tegur Rio yang sedikit kaget melihat anak buahnya di kafe yang ia kunjungi.


"Iya pak, saya kerja part time selama libur semester pak, habisnya saya lagi gak ada tugas kuliah pak jadi daripada banyak waktu nganggur lebih baik saya kerja, lah kalau mo ngojek lagi kan gak mungkin jadi saya minta temen saya buat nerima saya kerja di kafenya ini," Ara bercerita panjang lebar tapi gak dikali tinggi ya soalnya gak lagi ngujur luas tanah yang mau jadi warisan.


Rio hanya mengangguk "Temani saya sebentar," perintah Rio.


"Dugh maaf pak saya baru kerja hari pertama di sini ada bosnya saya takut langsung dipecat," bisik Ara pada Rio tapi tidak sampai menempel ke telinga laki-laki yang menjadi atasannya di kantor.


"Yang mana bosnya?" tanya Rio, Ara lalu berteriak pada sahabatnya.


"Lu sini," Ara memanggil Lulu.

__ADS_1


Lulu pun mendekat. Gadis yang memakai celemek yang sama dengan milik Ara itu diyakini Rio pernah dilihatnya di depan pintu masuk.


"Ini Salsabiluna pak, panggilannya Lulu, anak pemilik kafe," Ara memperkenalkan Lulu pada Rio.


"Oh ini supervisor nya Ara, ganteng banget, mapan matang lagi," saat Lulu masih sibuk melamun Rio mengulurkan tangan terlebih dahulu.


"Rio," uluran tangan Rio dibalas oleh Lulu tapi dengan paksaan Ara karena Lulu sibuk menatap wajah tampan laki-laki yang berdiri di depannya.


"Lu sadar woi," Ara melambaikan tangannya ke depan wajah sahabatnya itu.


Lulu mengerjapkan matanya beberapa kali. "Maaf, sampai mana?" tanya Lulu yang abru sadar dari lamunannya.


"Sampai mati," cibir Ara.


"Ish Ara," Lulu mencebik kesal.


"Pak saya tinggal dulu ya tolong jaga sahabat saya supaya gak kerasukan, habisnya ngelamun terus heran saya," Ara bergumam sambil berjalan.


"Sialan si Ara gue ditinggalin sendirian pake baju seadanya kaya gini lagi," batin Lulu.


"Meskipun seadanya kamu manis juga ya," puji Rio yang seolah membaca pikiran Lulu.


"Buset punya telepati apa ya nih orang bisa baca pikiran, ngeri gue jadinya,"


"Kok bengong? saya ke sini atas rekomendasi Mutiara, saya penasaran sama kafe yang katanya milik temannya," jujur Rio sambil menyesap minuman hangat di tangannya.


"Bagaimana apa anda suka dengan menu di kafe saya?" tanya Lulu antiusias kemudian mendudukkan pantatnya di kursi persis di samping Rio.


"Suka, makanannya enak-enak, harganya juga lumayan terjangkau untuk ukuran kafe se elite ini," puji Rio.


Lulu menopang pipinya bertumpu di atas mwja kafe dan tubuhnya di arahkan ke laki-laki yang ada di sampingnya.


Atasan temannya itu dia sadar cukup tampan,kulitnya yang putih bersih dengan janggut yang sedikit ia sisakan membuat wajahnya tidak bisan saat dilihat. Terlebih lagi saat Lulu melihat senyuman Rio yang membuat dirinya gagal fokus. Namun Rio sendiri merasa tidak nyaman dengan sikap Lulu.


"Apa ada yang salah dengan muka saya?" tanya Rio polos.


"Eh gak kak, kakak ganteng banget jadi saya susah mengalihkan pandangan saya ke orang lain," kata-kata Lulu membuat Rio sedikit enek pasalnya gadis yang baru saja dikenalkan oleh Ara tersebut sudah berani merayunya.


Rio hanya tersenyum. Ia nampak tenang dan berusaha cuek dengan gombalan yang dilancarkan Lulu.


"Sayang nunggunya lama?" tanya gadis yang ditaksir usianya lebih tua daripada Lulu.


...***...

__ADS_1


Hayoo tebak siapa ya kira-kira yang manggil sayang ke Rio?


Kasih hadiahnya dong, vote ny jangan sampe kendor ya


__ADS_2