
"Selamat siang dengan Mutiara ada keluhan yang ingin disampaikan?" tanya Ara pada seorang pelanggan melalui sambungan teleponnya.
"Mbak tolong dong bilangin sama drivernya suruh ganti belanjaan saya yang berantakan,"
"Mbak gimana nih ada ibu-ibu yang komplain gegara belanjaanya jatuh katanya," tanyanya pada Diana dengan menutup ujung telepon dengan tangannya.
"Dengerin dulu komplainnya," bisik Diana Ara pun mengangguk.
"Bisa dijelaskan secara rinci bu bagaimana kejadiannya?" tanya Ara.
"Jadi tadi tu drivernya nabrak mobil di depan mbak, trus belanjaan saya jadi berantakan," katanya.
Deg
Sedetik Ara teringat kejadian yang sama saat ia pertama kali bertemu dengan Radith. Dadanya terasa sesak hingga ia ingin sekali menangis. Namun ia coba menenangkan diri dengan menepuk dadany yang sesak.
Diana dan Sarah jadi mengerutkan dahinya. Entah apa yang sedang terjadi pada juniornya itu. Diana melempar pandang ke arah Sarah. Sarah hanya mengangkat bahunya.
"Trus yang ditabrak minta ganti rugi berapa bu?" tanya Ara pada sang penelpon.
"Lho mbaknya ko malah jadi peduli sama drivernya sih, kan yang rugi itu saya mbak," sebelum si ibu meneruskan omongannya Ara terlebih dulu memutus sambungan telepon miliknya.
"Kok ditutup Ra, emangnya udah selesai komplainnya?" tanya Diana. Ara menjawabnya dengan menggeleng.
"Mbak mau ke toilet bentar," ijinnya meninggalkan ruangan.
Ara mempercepat langkahnya menuju ke toilet. Namun ia sempat menabrak bahu Rio ketika berpapasan dengannya.
"Maaf pak," Ara berjalan sambil menunduk.
Rio yang khawatir berniat mengikutinya tapi ia memutar langkahnya menuju ruang customer servis.
"Din Ara kenapa?" tanyanya pada Diana.
"Gak tahu pak habis nerima komplain dari pelanggan terus izin ke toilet," seru Diana.
Beberapa saat kemudian Ara datang. Membuat teman-teman Ara melihat ke arahnya.
"Ra kamu kenapa? matamu jadi merah gitu?" tanya Rio yang masih di ambang pintu.
"Oh gak papa pak saya habis kelilipan tadi," bohong Ara.
"Mbak ada obat mata gak mataku perih nih?" Ara pura-pura agar yang lain tidak mengkhawatirkan dirinya.
__ADS_1
"Bentar Ra mbak ambilin di tas mbak," Diana mengambil obat mata yang ada di dalam tasnya lalu memberikannya pada Ara.
Rio kemudian keluar setelah memastikan keadaan bawahannya itu baik-baik saja.Ara duduk di kursinya lagi dan meneteskan obat mata yang diberikan Diana meski sebenarnya matanya tidak sakit karena kelilipan.
"Tasnya kaya kantong ajaib doraemon aja mbak apa-apa ada?" ucap Ara.
"Iya dong Ra, jadi kalau kita lagi butuh gak usah jauh-jauh beli tinggal ambil aja di tas, mbak udah gak kuat jalan," bisiknya ke telinga Ara hingga mereka jadi tertawa.
"Maaf mbak Ara bohong yang sakit gak mata aku mbak tapi hati aku mbak, sakit banget mbak pas keinget sama dia yang udah ninggalin aku," batin Ara.
Saat waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB Ara, Sarah dan Diana membereskan meja kerjanya. Mereka bersiap pulang. Seperti biasa Diana dijemput oleh sang suami. Sedangkan Sarah biasanya memakai mobil pribadi namun tidak untuk hari ini.
"Mbak Sarah gak bawa mobil ya?" tanya Ara saat melihat Sarah berdiri untuk menunggu taxi.
"Bareng aku aja mbak, aku bawa mobil ko," Ara menawarkan tumpangan.
"Serius Ra?" tanya Sarah dengan wajah yang berseri.
"Iya mbak atau mbak yang bawa mobilnya juga boleh soale aku gak tahu rumah mbak dimana?" kata Ara sambil tersenyum.
"Boleh deh daripada kelamaan nunggu taxi keburu malem juga,"Ara menyerahkan kunci mobil pada Sarah.
Mereka bersiap pulang melaju dengan kecepatan sedang.
"Katanya gak suka burger mbak?" sindir Ara seingatnya waktu itu Sarah menolak pemberian Ara.
"Suka ko," sedetik Sarah melihat ke arah Ara kemudian beralih ke jalanan.
"Trus waktu itu,,," Sarah menyela perkataan Ara.
"Waktu itu mbak gengsi nerima pemberian dari kamu, mbak minta maaf ya Ra soal sikap mbak yang selalu jutek sama kamu,"
"It's oke mbak aku gak masalah ko," Ara tersenyum pada Sarah.
"Aku kira dulu kamu ada affair sama Pak Rio,habis pak Rio perhatian banget sama kamu," sangkanya.
"Pak Rio emang orangnya baik mbak sama semua orang," kata Ara.
"Tapi sama kamu beda Ra ,buktinya kamu yang anak baru aja dapat banyak fasilitas,"
"Agh mbak bisa aja," kata Ara.
Ketika Ara melihat keluar jendela mobil ia tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang mengendarai motor dan memakai helm yang biasa dipakai oleh Radith sedang berhenti persis di samping mobil Ara saat lampu merah.
__ADS_1
Lalu Ara melihat plat nomor kendaraan motor sport tersebut setelah jalan duluan. Benar saja motor itu milik Radith. Tapi siapa yang mengendarai motornya, tanya Ara dalam hati.
"Kamu kok ngelamun kenapa Ra?" pertanyaan Sarah membuyarkan lamunan Ara.
"Eh gak papa mbak," Ara mengerjap kaget.
Tak jauh dari lampu merah tersebut Sarah menepikan mobil yang dikemudikan.
"Udah sampai Ra, kamu gak mampir dulu?" kata sarah sambil melepas sabuk pengamannya.
"Emm gak usah mbak next time aja udah mau gelap soalnya," tolak Ara secara halus.
"Ya udah kalau gitu kamu pulangnya hati-hati ya, ingat sama jalannya gak?" tanya Sarah.
"Weh inget dong mbak, kalau gak inget bisa tanya sama mbah Geol," Sarah jadi mengerutkan dahinya.
"Mbah Geol siapa Ra?" tanya Sarah yang sudah turun dari mobil.
"Yang ngasih petunjuk jalan mbak," katanya sambil tertawa.
"Ada-ada aja kamu," Sarah melambaikan tangan saat Ara mulai menjalankan mobilnya.
"Orang tadi siapa ya bikin penasaran aja? Apa jangan-jangan Didu yang pinjem motornya Radith," gumam Ara sambil menyetir.
Tak lama kemudian mobil Ara tiba-tiba mogok.
"Eh eh kenapa ni mobil?" Ara jadi panik.
Kemudian ia turun untuk melihat orang di sekitarnya.
"Yagh mana gak ada orang yang bisa diminrai tolong lagi, gue telpon siapa ya Didu apa pak Rio? eh gak-gak nanti ngrepotin pak Rio, ntar dia baper lagi," Ara sibuk bermonolog sambil memegang handphone nya.
Kemudian dia mencoba membuka bagian depan mobil. Ia sempatkan melihat tutorial memperbaiki mobil yang mogok dari kanal Yousuf.
"Dugh kaya gini aku gak ngerti nyerah deh gue," di saat keputusasaannya, seseorang datang mendekat.
"Mobilnya kenapa?" suara bariton itu membuat Ara menoleh ke arahnya.
...***...
Makasih ya buat banyak readers yang udah komen dan kasih like karyaku hingga masuk recomendasi kategori Genre : karya yang sedang berkembang.
Dukung terus karya aku supaya naik level dan peringkat ya dears. 🙏
__ADS_1