Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Kantin Yuk


__ADS_3

Pagi itu ketika Ara baru memasuki gerbang kampus dengan motornya Ara melihat Putri sedang berbicara dengan wanita yang usianya di atasnya. Ara kaget saat ia mendapati Putri ditampar oleh wanita itu sampai terjatuh. Tidak tinggal diam Ara pun menghentikan motornya di depan Putri. Ia membantu Putri bangun tapi sayangnya tangan Ara ditepis oleh Putri dengan kasar saat akan membantunya bangun.


"Pergi lo," bentak Putri pada Ara sambil mendorongnya.


Ara terjengkang mundur. Ia pun jadi bergeming.


"Dibantuin malah di usir,"


"Kamu gak papa Ra?" tanya Brian yang mendekat ke arahnya.


"Eh gak papa kak," jawab Ara sambil tersenyum.


"Lain kali bisa gak sih gak usah kasar sama Ara," tegur Brian pada Putri.


Putri pun menoleh dan memicingkan matanya. Memberikan tatapan tajam pada Ara dan Brian tanpa berucap sepatah katapun lalu pergi.


"Aku parkir motor dulu ya," pamit Ara meninggalkan Brian.


"Susah banget sih deketin kamu Ra," gumam Brian.


Ketika Ara sedang melepas helmnya Didu mendekat.


"Neng lihat Ayang Lulu gak?" tanya Didu yang mencari keberadaan Lulu.


"Gue baru dateng ini, mana gue tempe," jawab Ara asal.


"Yagh apa hari ini dia gak masuk ya," tanyanya lagi.


"Eh gue bukan emaknya ya, lagian kenapa gak ditelpon aja sih ribet amat,"


"Udah neng berkali-kali malah tapi yang jawab malah operator," keluh Didu.


"Ya udah si ditunggu aja barangkali bentar lagi dia dateng, oya betewe elo naik apa ke kampus?" tanya Ara.


"Naik ojek," jawab Didu jujur.


"Nah lo tahu gak Lulu kemaren bilang ama gue kalau dia pengen punya pacar yang bisa anter jemput dia pake mobil," Ara memanas-manasi Didu.


"Gak usah kompor neng, meskipun Lulu anak orang kaya tapi gak suka beda-bedain kasta ko,"


"Itu kan kalau temenan ya bedalah kalau nyari jodoh," imbuhnya membuat Ara tertawa kecil.


"Masa sih neng," tanya Didu yang tidak percaya pada omongan Ara.

__ADS_1


"Eh mau kantin nih lo mau ikut?" pertanyaan Ara memancing Didu untuk tidak mengikutinya.


"Masih pagi neng kuliahnya jam berapa ko udah ngantin?" tanya Didu basa-basi padahal dirinya berjalan mengekori Ara.


"Jam 8, gue belum sarapan," bohong Ara.


Sesampainya di kantin Ara hanya memesan teh hangat sedangkan Didu memesan nasi rames, es teh dan gorengan.


"Ini yang mau sarapan siapa jadinya?" tanya Ara saat melihat pesanan Didu yang baru datang.


"Eh hehe gue juga belum sarapan, laper nungguin Lulu gak dateng-dateng," Didu tertawa sambil mengaduk-ngaduk makanan yang ada di depannya.


"Eh elo inget gak sama cowok yang mukanya mirip sama Radith pas di kafe Lulu kemaren itu?" tanya Ara.


"Inget tapi dia bukan Radith itu kembarannya," kata Didu dengan mulut penuh makanan.


"Serius? Radith gak pernah cerita kalau dia punya kembaran," seru Ara.


"Gue aja baru tahu kemaren pas dia ngenalin diri ke kita, eneng sih kabur duluan," jawab Didu setelah itu menyendokkan makanan ke mulutnya.


"Tapi habis itu dia nolongin gue Du, pas gue digangguin sama geng motor," terang Ara mengingat kejadian waktu itu.


"Are you serius?" tanya Didu memakai logat sok Inggris.


"Iya gue pulangnya lewat jalan sepi, tapi gak nyangka juga kalau mau ketemu geng motor untungnya dia waktu itu nolongin aku," Ara mengingat-ingat kejadian waktu itu.


"Seneng ya di tolongin?" sindir Didu.


"Seneng lah bisa pulang dengan selamat coba kalau dia gak nolongin gue pasti pulang tinggal nama,"


"Astaghfirullah," Didu memegang dadanya pura-pura terenyuh.


"Makanya gue mau berterima kasih sama fia tapi gimana caranya ya?" Ara berfikir sambil mengetuk bibirnya dengan satu jari.


Saat Ara memindai sekeliling kantin ia tidak sengaja melihat sosok yang baru saja ia bicarakan.


"Eh panjang umur tu orang?" Ara menepuk tangan Didu.Didu pun menoleh ke arah yang dimaksud.


"Bray," teriak Didu sambil melambaikan tangan ke arah Rasya.


Rasya membalas lambaian tangan itu dan berjalan mendekat.


"Eh ngapain lo teriak-teriak, orangnya jadi ke sini kan, ya elah," Ara jadi panik. Ia pun berdiri berniat untuk kabur.

__ADS_1


"Eitz jangan coba-coba kabur ya neng," Didu memberikan kode pada Ara untuk duduk kembali.


"Hay," Rasya bertos ria dengan Didu.


"Dia ko akrab si sama Didu," batin Ara pura-pura tidak melihat kedatangan Rasya sambil meminum es teh.


"Kalau bohong jangan sampai ketahuan," sindir Rasya yang melihat gelas Ara yang hanya berisi potongan es batu.


"Eh ketahuan ya," Ara tertawa mringis.


Rasya dan Didu pun ikut menertawakan Ara. Namun ada yang berbeda ketika Rasya memperhatikan senyum Ara yang terlihat sangat manis meski dilakukannya dengan terpaksa. Sedetik pandangannya terpaku pada gadis cantik yang ada di depannya itu.


"Cantik pantas saja Radith tergila-gila pada gadis ini," tutur Rasya dalam hati seraya tersenyum tipis sampai Ara tak bisa melihatnya.


Ara menoleh ke arah Didu dan menggerakkan matanya seolah bertanya apa yang terjadi pada Rasya. Didu mengangkat bahunya.


"Btw gue mau bilang terima kasih sama lo udah nolongin gue kemaren," ucapan Ara membuyarkan lamunan Rasya.


"Iya sama-sama aku kebetulan lewat aja waktu itu, oya aku pindah kuliah di sini," kata Rasya.


"Serius bray?" tanya Didu dengan wajah yang berbinar.


"Gue jadi punya temen lagi dong," tambahnya lagi.


"Kenapa?" pertanyaan Ara membuat Rasya bingung alasan mana yang ia tanyakan, kepulangannya ke Indonesia ataukah alasan dirinya kuliah di kampus. Tapi intinya sama Rasya ingin menyelidiki kematian Radith yang dirasa ganjil.


Meskipun polisi menutup kasus kematian saudara kembarnya itu. Namun rasanya Rasya tidak rela adiknya mati secara tidak wajar. Rem blong karena kerusakan mobil, mana mungkin? Karena mobil Radith termasuk mobil mewah keluaran baru yang rajin diservis.


Polisi juga sudah memeriksa kamera CCTV mobilnya tapi tidak ditemukan keganjilan. Orang bayaran Brian waktu itu sudah mengantisipasi kemungkinan yang terjadi agar polisi tidak bisa menemukan pelaku dengan mematikan kamera mobilnya kemudian menyalakan kembali setelah mereka selesai memotong kabel remnya.


Hening. Meski keadaan kantin saat itu ramai tapi suara-suara itu seolah tak terdengar setelah Ara mengajukan pertanyaan pada Rasya. Rasya hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dari Ara.


Mata gadis itu sudah berkaca-kaca. Melihat kecanggungan antara Ara dan Rasya, Didu berhasil menghangatkan suasana.


"Bray makan dulu yuk nanti neng Ara yang bayar," seketika Ara menoleh ke arah Didu dan memberikan tatapan yang tajam.


"Neng Ara habis gajian," bisiknya pada Rasya membuat Rasya tertawa.


"Didu," teriakan Lulu membuat ketiganya menoleh.


...***...


Nunggui kontrak beberapa hari eh setelah di ganti covernya langsung di acc sama noveltoon.

__ADS_1


Makasih ya dears yang masih setia menanti kisah Ara dan Rasya. Salam dari Radith yang udah duluan ke surga.


__ADS_2