
"Mau lo bawa kemana temen gue?" teriak Lulu yang melihat Ara dibawa pergi begitu saja oleh laki-laki yang dikenal sebagai sahabat Radith.
"Gue pinjam temen lo dulu," jawab Didu sambil berteriak.
"Lepasin," Ara mencoba melepaskan tangannya.
"Tunggu," Brian datang mendekat ke arah keduanya.
"Mau kemana Ra?" laki-laki jangkung itu menoleh ke arah Ara.
"Sorry bro temen gue lagi sekarat dia butuh Mutiara," bohong Didu agar langkahnya tidak dicegah oleh Brian.
"Hah Radith kenapa?" tanya Ara khawatir.
"Apa dia sakit sepulang dari rumah gue ya,"batin Ara jadi merasa bersalah.
"Oke gue ikut lo," tanpa menghiraukan Brian, Ara malah mengikuti Didu.
"Motor lo mana?" tanya Didu.
"Noh," tunjuk Ara dengan dagunya.
Didu pun memberikan helm kepada Ara. Ara menerimanya lalu naik di belakang karena Didu mengambil kunci motornya.
Awalnya Didu melajukan motor Ara dengan kecepatan tinggi. Namun, setelah jauh dari kampus ia malah melambankan laju motor yang ia kendarai.
"Bensinnya habis ya?" tanya Ara yang tidak mengerti kenapa motornya semakin lamban.
"Gak neng, kita jalannya nyantai aja biar kaya di pantai," jawab Didu dengan santainya.
Pletak
Ara memukul helm Didu.
"Tadi kenapa ngajak buru-buru?" kesal Ara.
"Tadi abang takut eneng kabur," Didu memberi alasan agar Mutiara tidak marah lagi.
"Jadi ini mau jenguk Radith apa enggak, kalau gak lo turun sini," ancam Ara.
"Jadi neng," Didu akhirnya menaikkan laju kendaraannya.
Sesampainya di depan gerbang rumah Radith Didu memanggil Satpam agar membukakan pintunya.
"Hallo pak," sapa Didu seolah sudah kenal begitu lama dengan penjaga rumah Radith sahabatnya.
Saat Didu memarkirkan motor Satpam tersebut berjalan mendekati nya. Ia melihat ke Mutiara yang sedang melepaskan helm yang ia kenakan.
"Eh mbaknya yang waktu itu nganterin makanan kan?" tanya Satpam tersebut. Ara memilih diam ia hanya menangguk.
"Loh kenal pak?" tanya Didu.
"Gak den waktu itu mbak ini makanannya tidak jadi dibayar sama den Radith," jelas Satpam.
"Oh elo punya bisnis catering Ra," Didu asal menerka.
__ADS_1
"Udah ayo masuk," Ara mendorong tubuh Didu agar segera masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam bro," sapa Didu pada Radith yang baru membukakan pintu rumahnya.
"Assalamualaikum bego," tegur Radith membenarkan salam Didu.
Saat ia melihat Ara Radith mengembangkan senyum di wajahnya. Hati Ara jadi meleleh sehingga Ara pun membalas senyum Radith.
"Sakit lo?" mood Ara tiba-tiba berubah.
"Iya gue sakit gara-gara lo ngusir gue samalam," sindiran Radith membuat Ara membulatkan matanya. Ia tidak mau Didu mendengar.
"Apa bro lo ngapel ke rumah neng Mutiara?" Didu memastikan pendengarannya.
"Itu gak seperti yang lo dengar," Ara mencoba meluruskan.
"Itu seperti yang lo dengar," jujur Radith.
"Wah wah wah elo ndisiki kerso bro?" kata-kata Didu tidak dimengerti oleh Radith.
"Apaan tuh?" tanya Radith.
"Mendahului kehendak Tuhan," terang Didu.
"Mendahului kehendak lo kali?" Radith tertawa geli.Ara jadi ikut tertawa.
"Ngapain lo ketawa?" ketus Radith.
"Emang ketawa dilarang ya di sini, ya udah gue pulang aja, lagian bego amat gue mau diajak ke sini," Ara memutar badannya namun Radith mencegahnya pergi dengan menarik tangan Ara.
Radith mah gitu kalau udah ngeluarin kata-kata manis banget susah buat Ara berpaling apalagi othor,eh.
Blush
Wajah Mutiara berubah merah merona karena malu mendengar kata-kata laki-laki yang sedang menarik tangannya itu.
"Hei hei ada gue ya di sini jangan coba-coba jadiin gue obat nyamuk, kalian kaya film India aja tarik menarik tangan, sini gue iket sama kain abis itu muterin api suci," perkataan Didu membuat Radith dan Ara merasa malu.
"Ayo Ra duduk dulu," ajak Radith yang masih memegang tangan Ara.
Akhirnya Ara duduk.
"Dit gue haus nih suruh pembantu lo buatin minuman," kata Didu yang sedang duduk di atas sofa panjang.
"Pembantu gue lagi mudik, gue sendirian di rumah," kata Radith.
"Yagh tapi gue haus jadi siapa dong yang harus ngebuatin minuman," mata Didu melihat ke arah Ara.
"Apa lihat-lihat?" tantang Ara.
"Ra elo bisa bantu buatin kita minum gak?" pinta Radith dengan lembut.
"Dapur lho dimana?" tanya Ara yang tidak keberatan membuatkan minuman.
"Tu di sana," tunjuk Radith pada sebuah ruangan yang berada di pojok.
__ADS_1
"Sirupnya ada di kulkas ya Ra," teriak Radith.
"Bro elo beneran main ke rumahnya Mutiara?" tanya Didu lagi barangkali tadi ia salah dengar.
"Iya," jawab Radith singkat.
"Tau dari mana lo alamat rumahnya," jiwa kekepoan Didu memuncak.
"Nyari di google map," jawab Radith asal.
"Kata kuncinya apa bro?" tanya Didu pura-pura bego.
"Wah lu bener-bener bro, gak percaya gue," tambahnya lagi.
"Gue pernah ngikutin dia habis pulang kuliah," kata Radith.
"Segitu penasarannya ya lo sama dia sampai mau kenalan sama calon mertua," kata Didu.
"Breng sek lo," Radith melempar bantal ke arah Didu dan mengenai mukanya.
"Btw gimana caranya Mutiara mau lo ajak ke sini?" Radith mengalihkan pembicaraan agar Didu tidak banyak bertanya.
"Gue bilang elo sekarat," jawab Didu dwngan santainya.
"Sialan lo dasar temen gak tahu di untung," umpat Radith.
"Gue kehabisan ide bro buat ngajak Mutiara, asal elo tahu ya tadi sebelum berangkat Brian mau ngalanging gue," Didu merubah posisi duduknya.
"Trus-trus," belum sempat Didu menjawab pertanyaan dari Radith Ara keluar dari dapur.
"Nih sirupnya," Ara meletakkan nampan berisi dua gelas sirup di atas meja.
"Ko cuma dua Ra?" tanya Radith.
"Katanya elo habis kehujanan jadi gak usah minum yang dingin-dingin nanti tambah flu," Didu yang mendengar perkataan Ara jadi tersenyum.
"Cie cie ada yang perhatian nih," sindir Didu.
"Eitz jangan salah paham gue cuma gak mau dia bawa virus ke kampus," cibir Ara.
"Iya gue bawa virus cinta, biar yang jomblo bisa segera jadian," kata Radith asal.
"Neng jadian yuk sama abang," Didu malah menembak Ara di depan Radith. Tapi itu hanya sekedar candaan. Siapa yang tidak kenal Didu karakternya seperti Dodit.
Radith lalu mengepalkan tangannya kemudian menunjukkannya pada Didu seolah sedang mengancam.
"Mulut lo," Ara geli mendengar rayuan Didu yang menurut Ara gak penting.
"Ya ya bro gue tahu maksud lo,gue mah orangnya suka ngalah," kata Didu.
"Huu dasar lo," Radith menonyor bahu Didu.
"Btw udah sore nih gue mau pulang sekarang," pamit Ara.
...***...
__ADS_1
Kira-kira gimana reaksi Radith pas Ara minta izin pulang.